Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps 8. Perutnya Terbuat Dari Karet


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Bisma berhenti di depan warung makan pinggir jalan milik mang Darman. Karina langsung turun begitu Bisma mematikan mesin mobilnya. Dengan semangat ia segera memesan dua porsi. Satu porsi untuk dimakan di tempat. Dan satu porsi lagi untuk dia bawa pulang.


Setelah memesan, Karina duduk di kursi yang disediakan. Bisma dengan ragu mendekati Karina. Sejak kecil, Bisma tidak pernah makan di warung pinggir jalan. Nadia selalu menyediakan makanan untuknya. Bahkan mamanya itu selalu membawakannya bekal.


Setelah ia dewasa dan bekerja, ia juga tidak memiliki waktu untuk makan di tempat seperti itu. Ia terbiasa makan siang di kantor atau dengan klien. Pun dengan makan malam yang selalu terbiasa makan malam bersama dengan keluarganya atau menghadiri jamuan pesta. Jadi dia sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya di warung pinggir jalan seperti ini.


“Tidak perlu khawatir. Di sini tempatnya bersih kok. Cepat duduk.” Ucap Karina saat melihat Bisma yang terlihat tidak nyaman.


“Sekarang zamannya sudah berubah. Bukan zamannya lagi jajan di pinggir jalan itu dilarang. Para pelaku usaha sudah mengerti dan menerapkan kebersihan. Konsumen sekarang sudah pandai memilih, jadi jika mereka memiliki keluhan sedikit saja, mereka akan segera pergi. Kamu lihat tempat ini ramai, itu artinya mereka tidak memiliki keluhan tentang tempat ini.” Ucap Karina panjang lebar.


“Terima kasih mang.” Ucap Karina saat mang Darman memberikan pesanannya.


“Emmm... Aromanya sangat enak. Mau coba?” Karina menawarkan nasi goreng yang sudah ia sendok kepada Bisma.


“Tidak. Kamu makan saja sendiri. Aku sudah kenyang.” Jawab Bisma tidak ragu.


“Ya sudah. Aku habiskan sendiri.” Karina mulai memasukkan sendok demi sendok nasi goreng yang terlihat menggoda dengan telur ceplok setengah matang di atasnya. Juga kerupuk sebagai pelengkapnya.


“Um ini enak sekali. Sudah lama rasanya tidak makan di sini. Rasanya semakin lezat.” Puji Karina tulus.


Bisma yang melihat Karina makan dengan lahap timbul pertanyaan di hatinya, Apakah perut gadis ini terbuat dari karet?


“Kenapa kamu melihatku seperti itu?” tanya Karina saat melihat Bisma menatapnya serius. “Apa ada yang aneh di wajahku? Apa ada nasi yang berantakan.” Tanya Karina. Gadis itu mengusap sekitar bibirnya dengan tangannya.


Sebenarnya, tidak ada nasi yang tertinggal sebelumnya, tetapi karena gerakan Karina yang berniat membersihkan malah meninggalkan sebutir dari di ujung bibirnya.


“Sini biar aku bantu.” Ucap Bisma. Ia tidak sabaran melihat gerakan tangan Karina di sekitar bibirnya. Membuat hatinya merasa aneh.


Karina mendekatkan wajahnya pada Bisma yang duduk di depannya agar memudahkan laki-laki itu membantunya. Tangan Bisma perlahan maju dan menyingkirkan sebutir nasi di sudut bibir Karina, tetapi saat ia sedang mengambi nasi itu, tangannya tidak sengaja menyentuh bibir yang terasa sangat lembut itu.

__ADS_1


Kedua orang yang baru saja menyadari apa yang terjadi saling menatap dengan canggung. Bisma segera memalingkan wajahnya ke tempat lain. Begitu juga dengan Karina yang kembali menundukkan kepalanya ke piring dan kembali menikmati nasi gorengnya yang tinggal sedikit.


Karina dan Bisma akhirnya sampai di apartemen saat malam sudah larut. Lagi-lagi Karin ketiduran di mobil. Bisma kembali menggendongnya naik dan masuk apartemen.


Melihat Bisma yang sedang menggendong Karina, bi Eni segera menghampiri.


“Bi Eni. Di mobil ada nasi goreng. Ambil dan bawalah pulang yang ada di paperbag. Sedangkan yang ada di dalam kotak masukkan saja ke lemari es .” Ucap Bisma sambil menyerahkan kunci mobil di tangannya sebelum membawa Karina masuk ke dalam kamar.


Dengan hati-hati Bisma membaringkan Karina di atas ranjang. Kemudian dengan telaten melepaskan flat shoes berwarna biru yang dipakai gadis itu. Tanpa sadar Bisma memperhatikan tubuh Karina. Setelah diperhatikan dengan seksama, bentuk tubuh Karina sepertinya berubah.


Tubuh Karina seperti lebih berisi di beberapa bagian. Tanpa sadar Bisma menelan salivanya kasar. Ia segera memalingkan wajahnya yang memerah. Tubuh wanita ini sangat menggoda.


Bisma segera keluar dan memanggil bi Eni yang sedang bersiap untuk pulang.


“Bi Eni tolong ganti pakaian Karina. Aku lihat dia tidak nyaman tidur dengan pakaian itu.”


“Baik tuan.” Bi Eni segera masuk ke dalam kamar. Melaksanakan tugasnya.


Setelah bi Eni mengganti pakaian Karina dengan baju tidur, bi Eni segera keluar.


“Sudah malam bi. Aku akan mengantarmu pulang.” Ucap Bisma. Ia memang sengaja menunggu bi Eni untuk mengantarnya pulang. Rumah wanita itu memang tidak terlalu jauh dari apartemen nya. Tetapi ini sudah larut malam. Apalagi dia terlambat pulang karena menunggunya mengantar Karina kembali.


“Terima kasih tuan. Saya akan mengambil tas saya dulu.” Bi Eni keluar sambil membawa tas dan nasi goreng yang dibeli Bisma di restoran. Sedangkan yang dibeli Karina sendiri dimasukkan ke dalam lemari es.


Bisma juga pulang setelah mengantarkan bi Eni pulang.


Malam ini, Karina bangun di tengah malam untuk makan seperti biasanya. Ia hanya memanaskan nasi goreng yang dia beli di microwave. Biasanya bi Eni akan memasak sebelum pulang dan menyimpannya di dalam lemari es. Beberapa hari tinggal dengan Karina bi Eni sudah hampir paham kebiasaan wanita yang sedang hamil muda itu.


Pagi harinya, Karina yang merasa mual di perutnya segera bangun dan berlari ke kamar mandi. Ia kembali memuntahkan apa yang ia makan semalam.

__ADS_1


Karena malam harinya Karina makan dengan banyak, yang ia keluarkan juga lebih banyak dari biasanya. Hampir setengah jam Karina menghabiskan waktu untuk menunduk dan mengeluarkan isi perutnya.


Bi Eni yang baru datang dan mendengar suara Karina muntah segera masuk ke dalam kamar. Ia tahu jika Karina dan Bisma belum menikah, jadi Bisma tidak tidur di apartemen itu. Meskipun ia merasa bingung dengan Karina yang telah hamil, ia memilih untuk diam dan menahan rasa ingin tahunya.


Dengan pijatan di tengkuknya, Karina merasa jauh lebih baik. Tekanan yang diberikan bi Eni sangat membantunya. Membuatnya merasa nyaman.


Setelah isi perut Karina kosong dan tidak ada lagi yang keluar, bi Eni membantu memapah Karina yang sudah lemas kembali berbaring di atas ranjang.


“Istirahat dulu nak Karina. Bibi akan membuatkan teh jahe dulu.” Karina hanya mengangguk. Ia sudah tidak memiliki tenaga lagi.


Tak lama kemudian bi Eni masuk sambil membawa satu gelas teh jahe di atas nampan. Ia juga membawa mangkuk berisi air hangat.


Bi Eni menyerahkan teh jahe pada Karina setelah membantu wanita muda itu duduk. Setelah Karina menghabiskan teh jahenya, bi Eni duduk di tepi ranjang dan membantu Karina membersihkan wajahnya dengan air hangat yang ia letakkan di dalam mangkuk dengan kembut.


“Terima kasih bi Eni. Maaf sudah merepotkan mu.” Ucap Karina tidak nyaman.


“Tidak masalah nak Karina. Bibi juga pernah hamil sepertimu. Dulu bibi juga seperti ini. Bibi tahu bagaimana rasanya. Apalagi nak Karina tinggal sendirian di sini. Pasti sulit.” Bi Eni mengelus punggung tangan Karina.


“Terima kasih bi. Bibi sudah sangat membantuku.”


“Itu sudah tugas bibi. Ya sudah nak Karina istirahat saja dulu. Bibi akan keluar bersih-bersih dan masak.” Pamit bi Eni sebelum keluar dari kamar.


Karina tidak terbiasa sarapan semenjak ia hamil jadi bi Eni baru akan masak setelah selesai bersih-bersih.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir 😘


Siapa yang saat hamil pernah mengalami seperti Karina?


__ADS_2