
Pagi harinya Nadia memberitahu Karina bahwa ia akan menyuruh sopir untuk menjemput nya datang ke rumah. Nadia ingin mengajak Karina untuk pergi melakukan perawatan tubuh bersama dengan Nara juga. Nadia juga sudah memberitahu pada Bisma mengenai rencananya.
Saat Karina tiba di mansion Mahardika, Nadia segera menyambutnya. Senyuman tak luntur dari bibirnya. Masih dapat diingatnya bagaimana putra dan menantunya yang saling memeluk itu. Padahal kedua pelaku bahkan masih sama-sama canggung.
Baik Bisma maupun Karina tidak ada yang berniat membicarakan apa yang mereka dapati saat bangun tidur pagi ini. Kedua orang itu berpura-pura seperti kejadian di atas ranjang pagi ini tidak pernah terjadi.
Bi Eni juga memilih untuk diam meskipun mulutnya sudah gatal ingin menggoda Karina.
Tapi di sini, meskipun Nadia tidak mengatakan apapun, entah mengapa Karina merasa ibu mertuanya itu sedang menggodanya. Dan tanpa ia sadari wajahnya mulai memerah.
“Ayo sayang, duduklah dulu. Mama tadi membuat cheese cake. Kamu pasti suka.” Nadi membimbing Karina masuk dan duduk di ruang keluarga. Kemudian mengambilkan menantunya itu sepiring cheese cake buatannya.
“Ini. Cicipilah. Nara masih belum sampai. Kita berangkat bersama nanti.”
Tanpa ragu Karina mengambil sepotong kue itu. Terasa lembut dan juga harum. Gurih dan manisnya pas di lidah. Tidak membuat Karina yang sejak hamil sangat peka terhadap bau-bauan menjadi mual.
“Ini enak ma.” Puji Karina tulus. Ia mengambil sepotong lagi.
“Enak banget kamu Karina. Aku lihat kamu biasa-biasa makannya. Tidak seperti sedang hamil muda.” Nara yang baru datang heran melihat Karina. Dulu saat ia masih trisemester pertama, ia hampir tidak bisa makan.
“Eh Nara. Iya. Awalnya juga susah makan. Juga selalu mual di pagi hari. Sampai-sampai dokter Kania bilang aku kekurangan gizi.” Karina mengerutkan dahinya. Mengingat hari ini ia tidak muntah. Bahkan mual pun tidak.
“Tapi yang aku lihat kamu makan biasa-biasa saja.”
“Kemarin Bisma mengantarku periksa lagi. Lalu dokter Kania memberikan obat mual yang lain. Pagi ini tidak muntah. Juga tidak mual.”
“Itu bagus. Artinya obatnya sudah manjur. Mulai sekarang, beri makan cucu mama dengan benar. Mama ingin cucu yang menggemaskan.” Nadia mengelus perut Karina yang masih datar.
“Iya ma.” Karina mengangguk setuju.
“Baiklah. Ayo kita berangkat.” Nadia segera berdiri diikuti Nara dan Karina juga.
Nadia membawa Nara dan Karina ke salon spa yang khusus untuk perawatan itu hamil. Nadia sudah mendaftar Sebelumnya, jadi saat mereka datang, mereka sudah disambut dan diantar ke dalam ruangan VIP yang dipesan Nadia untuk anak dan menantunya.
“Lho jeng Nadia, ini siapa? Cantik sekali.” tanya pemilik spa yang sudah menunggu. Pemilik spa ini merupakan teman Nadia. Wanita paruh baya itu jelas menanyakan identitas Karina. Karena Nara hampir tiap bulan datang ke tempat itu bersama Nadia.
“Ini Karina. Menantuku. Karina perkenalkan, ini Tante Jasmin, teman mama.” Nadia menarik pelan Karina maju. Karina mengulurkan tangannya dan disambut oleh Jasmin.
“Istri...”
“Bisma lah jeng.”
“Bisma? Aku kira Gerry.”
__ADS_1
“Ya tidak lah jeng. Gerry Masih sekolah. Mana boleh menikah.”
“Iya juga. Tapi kapan Bisma menikah? Kok tidak ada undangan sih?”
“Kemauan anak-anak. Mereka Tidak mau acara besar-besaran.”
“Oh begitu. Anak sekarang mah aneh. Ya sudah. Ayo masuk saja. Semuanya sudah siap.” Jasmin segera membawa tamunya masuk untuk mendapatkan perawatan.
Pekerja spa di dalam segera menyambut Karina dan Nara dengan hangat. Sedangkan Nadia sendiri memilih pergi ke ruangan sahabatnya untuk berbincang-bincang.
Karina dan Nara diminta untuk mengganti bajunya dengan handuk putih yang halus. Dalam balutan handuk putih itu, perut Nara yang sudah membuncit terlihat jelas.
Dengan takjub Karina memperhatikan perut Nara yang membesar. Ia membandingkan perut Nara dan perutnya. Saat ini usia kandungan Nara sudah menginjak enam bulan. Sedangkan Karina masih dua bulan. Jadi perbedaan nya sangat besar.
“Perutmu akan mulai membesar setelah melewati trisemester pertama.” Nara yang menyadari arah tatapan Karina yang mengarah ke perutnya menepuk pundak sahabat sekaligus Kakak iparnya itu.
“Bagaimana rasanya?” tanya Karina penasaran. Ia masih belum merasakan sesuatu selain gerakan kecil di perutnya yang sampai saat ini masih membuatnya takjub.
“Kamu mau coba menyentuhnya? Dia sudah aktif bergerak.” Nara menyadari apa yang dirasakan Karina sebab dia juga pernah seperti itu. Menunggu perutnya membesar dengan tidak sabar.
“Boleh. Tentu saja boleh.” Nara meraih tangan Karina dan menariknya untuk menyentuh perut besarnya.
“Ah! Dia bergerak!” pekik Karina senang. Nara mengangguk. Ia juga merasa bayinya sedang bergerak seperti ia tahu jika mamanya ingin menunjukkan dirinya pada tantenya.
“Apakah itu sakit Nara?” tanyanya khawatir.
“Rasanya tidak sabar menunggunya sebesar punyamu.”
“Hem. Baiklah, ayo keluar dan mulai perawatan nya.” Karina mengangguk setuju.
**
“Masakan mama sangat enak ya.” Ucap Karina sambil mengelus perutnya yang sedikit buncit karena makan sampai kenyang.
Di sampingnya, Bisma hanya berdehem mengiyakan. Keduanya pulang setelah makan malam. Malam ini keluarga besar Mahardika berkumpul untuk makan malam. Alex juga datang menjemput Nara.
“Kamu mau beli apa sebelum pulang?” tanya Bisma. Biasanya, Karina akan minta ini itu di malam hari. Tapi malam ini wanita itu menggelengkan kepalanya.
“Tidak ada. Aku sudah sangat kenyang sekarang.”
“Biasanya juga kenyang. Tapi masih pengen makan yang lain.”
“Iya. Tapi malam ini ku nggak pengen makan apa-apa lagi.” Karina manggut-manggut.
__ADS_1
“Ya sudah. Kalau begitu kita langsung pulang.” Karina mengangguk setuju. Rasanya malam ini perutnya sudah tidak muat lagi diisi.
Sampai di apartemen, Bisma segera menyuruh Karina masuk kamar untuk ganti baju. Sedangkan dia sendiri akan membuatkan susu hamil untuk Karina. Bi Eni sudah pulang setelah selesai masak untuk Karina makan tengah malam nanti.
Karina segera keluar setelah berganti dengan pakaian longgar yang dibelikan oleh Nadia. Jenis pakaian yang nyaman digunakan untuk ibu hamil. Karina duduk di sofa ruang televisi dan menyalakannya.
“Minumlah susunya dulu. Lalu minum vitamin dan obat dari dokter.” Bisma meletakkan nampan berisi segelas susu dan secangkir kopi di depan Karina.
“Terima kasih. Padahal aku bisa lho buat sendiri.” Karina tersenyum senang.
“Tidak apa. Aku juga sekalian bikin kopi tadi.” Balas Bisma sebelum ia masuk ke dalam kamar untuk berganti baju juga.
Gelas susu Karina sudah hampir habis. Vitamin dan obatnya juga sudah ia makan saat Bisma keluar dari kamar dan duduk di sebelahnya.
“Jangan melihat tayangan seperti ini.” Bisma merebut remote yang dipegang Karina.
“Kenapa?” tanya Karina heran.
“Sinetron seperti ini tidak ada pelajaran nya untuk bayi kita.” Bisma berdiri dan memasukkan kaset ke dalam mesin VCD.
“Tapi sinetron ini lagi seru-serunya Bis! Lagipula bayi ini kan ada di dalam perut. Belum bisa melihat.” Karina mencebik kesal saat sinetron kesukaannya diganti begitu saja.
“Bayi itu mulai belajar sejak berada di dalam kandungan.” Jawab Bisma santai sambil kembali duduk di samping Karina. “Aku kemarin mendapat rekomendasi dari dokter Kania untuk membeli kaset-kaset ini. Katanya baik untuk bayi dan juga calon orangtua baru seperti kita.” Lanjut Bisma sambil menekan tombol on untuk memulai tayangan.
Mendengar penjelasan Bisma, Karina pun hanya bisa diam merelakan sinetronnya berganti dengan hal-hal mendasar dan sederhana yang harus dilakukan calon orang tua pada bayi yang masih di dalam kandungan.
Awalnya Karina bersemangat melihatnya. Ia jadi tahu apa saja yang baik dan buruk untuknya dan bayinya. Makanan yang perlu dihindari. Dan banyak hal lain yang baru ia ketahui. Namun belum sampai berakhir tayangan itu, dengkuran halus miliknya sudah didengar Bisma bersamaan dengan kepala Karina yang menyandar di bahunya.
“Giliran nonton sinetron aja betah. Diganti yang bagus malah ditinggal tidur.” Bisma menggelengkan kepalanya pelan. Ia pun merebahkan kepala Karina di atas pahanya.
Setelah satu jam berlalu, satu kaset akhirnya selesai diputar. Bisma memutuskan untuk membawa masuk Karina dulu. Dengan perlahan Bisma mengangkat Karina dan meletakkannya di atas ranjang.
Melihat perut Karina yang sedikit terbuka, Bisma jadi mengingat bahwa sentuhan yang dilakukan orang tua dapat dirasakan oleh bayi mereka.
Bisma duduk di tepi ranjang. Mengumpulkan keberanian untuk melakukan hal yang sama. Rasa penasaran dan keinginannya sangat kuat untuk mengelus Perut Karina. Dengan perlahan Bisma mengulurkan tangannya.
Tangannya seperti terkena sengatan listrik yang langsung menjalar di sekujur tubuhnya saat tangannya mendarat di atas perut lembut itu. Dengan perlahan dan hati-hati Bisma menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah.
“Anak papa, jangan menyusahkan mamamu lagi. Kasihan mama kalau muntah setiap pagi. Jangan rewel ya nak. Sehat-sehat di perut mama.” Tanpa sadar Bisma mengecup perut Karina, menjadikan otak Bisma seperti kosong beberapa saat.
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih sudah mampir 😘