Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_64. Mengaku Salah


__ADS_3

Karina memandang semua orang yang ada di sana. Bi Eni yang tadi tidak ada saat ini sudah kembali. Wanita itu bersembunyi di balik pohon sambil diam-diam mendengarkan apa yang dikatakan Bisma dan Karina. Bi Eni bergarap kali ini masalah antara keduanya akan selesai. Tetapi ia hatus berjaga jika pada akhirnya Karkna memilih untuk tidak memberi Bisma maaf. Saat itu terjadi, ia akan keluar dan menemani Karina. Karina tidak boleh dibiarkan sendiri.


"Nak Karina, bibi rasa apa yang dikatakan nona ini benar. Apa yang kita lihat belum tentu seperti kenyataan." Ucap Bi Eni ketika Karina menatap matanya.


"Karina, aku mohon kembalilah padaku. Apa kamu tahu betapa tersiksanya aku tanpamu?" Bisma mengeluh. Karina memang memperhatikan jika Bisma lebih kurus sekarang ini. Apalagi rambut-rambut di sekitar dagunya yang memanjang. Sejak hubungannya dengan Bisma menjadi lebih baik, Karina lah yang akan mencukur bersih dagu Bisma karena Bisma maupun Karina tidak suka dengan penampilan yang tidak rapi. ia akan dengan senang hati duduk di pangkuan Bisma dan membantunya mencukur untuknya. Mata Bisma juga terlihat lebih cekung. Ada waŕna hitam di sekitar matanya. Suaminya memiliki mata panda yang berkantung!


"Apa aku bisa percaya kali ini?" Tanya Karina sedikit ragu.


"Percayalah padaku sayang. Kalau kamu tidak percaya, aku akan membawamu untuk menemui Jihan. Anak Vera. Awalnya aku ingin memgajakmu menemuinya. Tetapi ternyata aku terlambat. Maafkan aku. Percayalah, aku mencintaimu Karina, istriku." Bisma meraih tangan kiri Karina. Sedangkan tangan kanannya sejak tadi sudah ia genggam saat menahan Karina untuk mendengarkan penjelasannya.


Karina menatap mata Bisma dengan penuh haru. Mata Bisma memancarkan keseriusan. Karina mengangguk dengan lembut. Bisma segera menariknya ke dalam pelukannya. Tangannya mengelus kepala belakang Karina. Sudut matanya meneteskan setitik air mata kebahagian. Hatinya merasa lega. Beban di pikirannya seakan terangkat. Hidungnya dengan rakus menghirup dalam-dalam aroma tubuh Karina yang hangat. Yang selalu ia rindukan.


"Auch. Hei sayang. Kamu sudah tumbuh lebih besar sekarang. Kamu juga bisa protes ya." Bisma kaget saat merasakan tendangan dari perut Karina yang bisa ia rasakan dengan kuat. Ia pun mengelus perut Karina yang sudah semakin besar.


"Dia pasti iri mas belum menyapanya. Dia pasti kangen pada papanya juga." Ucap Karina.


"Apakah benar sayang?" Bisma menurunkan kepalanya. Menempelkan telinganya di permukaan buncit perut Karina hingga ia dapat mendengar suara samar gerakan bayi di dalamnya.


"Tuh kan mas." Karina mengelus kepala Bisma saat merasakan gerakan anak mereka yang semakin terasa saat Bisma berbicara padanya.


Bi Eni melihat semuanya dengan air mata yang mengalir di pipinya. Ia bahagia melihat keduanya bersatu kembali. Ia melihat sendiri bagaimana menderitanya Karina selama ini jauh dari Bisma. Meskipum Karina tidak mengatakan apa-apa padanya, dari tatapan matanya saja bi Eni sudah dapat melihat jika Karina sebenarnya sangat merindukan Bisma.


"Syukurlah semuanya kembali normal. Aku ikut bahagia melihat kebahagiaan kalian. Selamat ya." Kata  Vera dengan tulus.


Bisma dan Karina memandang Vera penuh terima kasih. "Terima kasih sudah datang." Ucap Bisma.


"Itu tidak masalah kak. Aku yang seharusnya meminta maaf karena tanpa aku sengaja aku telah membuat hubungan kalian menjadi berantakan."


"Semua yang terjadi tidak bisa disesali. Dengan adanya kejadian ini membuatku sadar bahwa antara suami istri harus saling terbuka." Ucap Bisma.


"Mbak Vera.." panggil Karina ragu-ragu.


"Panggil saja Vera. Aku dan Nara berteman. Aku rasa kita bisa menjadi teman juga." Vera tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah. Vera aku ingin mengucapkan Terima kasih banyak. Maaf sudah merepotkanmu datang jauh-jauh ke sini."


"Itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan Kak Bisma padaku dan Jihan putriku. Karena semuanya sudah selesai, aku pamit untuk kembali lebih dulu. Tuan Andi, apakah anda keberatan untuk pulang sekarang? Aku takut Jihan akan mencariku nanti." Vera menoleh pada Andi yang diam sejak tadi.


"Tidak masalah." Andi menggelengkan kepalanya.


"Karena ada Jihan yang menunggumu di kota, kami tidak.bisa menahanmu lebih lama." Ucap Bisma serius. "Kami akan memgunjunginya nanti." Lanjutnya sambil tersenyum. Karina mengangguk setuju.


"Jihan pasti akan sangat senang bertemu dengan kalian." Vera tersenyum senang sebelum menoleh dan berbicara pada Andi. "Tuan Andi mari."


"Oke. Tuan Bisma, nyonya Karina kami pamit dulu."


"Baiklah. Hati-hati di jalan. Jangan memaksakan diri jika kamu lelah atau mengantuk. Sempatkan untuk istirahat sebentar untuk mengisi tenaga dan istrirahat." Pesan Bisma pada Andi. Tidak mudah untuk mengemudi di tengah malam tadi malam. Dan lagi, Andi belum istirahat dan sekarang sudah mau pergi lagi.


"Baik tuan. Saya akan pastikan itu." Andi menjawab dengn tegas.


Bisma dan Karina memandang keduanya yang perlahan menjauh. Memasuki mobil dan melambaikan tangan pada mereka sambil memgukir senyum di bibir.


"Sebaiknya kita juga kembali." Bisma memandang Karina yang ada di sampingnya. Karina mengangguk setuju. Kemudian ia mengajak bi Eni untuk pulang juga.


Nathan selalu mengadakan pengajian setiap mereka ke desa. Kemudian memberi para warga bingkisan berisi barang kebutuhan pokok dan juga sejumlah uang. Meskipun Bisma jarang ikut secara langsung, tapi ia akan selalu ikut saat pergi ke makam. Jadi warga desa pasti mengingat wajahnya dengan mudah.


Warga desa tidak tahu kalau Bisma sudah menikah dan istrinya adalah Karina. Wanita hamil yang tiba-tiba datang dari kota. Mereka awalnya sudah curiga saat Karina tinggal di rumah milik Nadia bersama dengan Eni. Warga desa yang sudah lama tidak pulang kampung. Mereka lalu mendatangi Joni dan bertanya padanya. Tetapi Joni mengatakan bahwa dia kerabat bi Eni yang ingin mencari udara segar selama ia hamil. Mereka pun tidak bertanya labih jauh lagi.


"Nak Bisma ya?" Seorang ibu-ibu yang mengenali Bisma bertanya dengan penasaran. Saat ini sudah agak siang. Jadi sudah banyak ibu-ibu yang menyelesaikan tugas dapurnya dan duduk santai berkumpul dengan tetangga mereka sambil mengobrol dan bergosip.


"Eh iya bu. Saya Bisma. Anaknya Nadia."


"Ah ternyata saya tidak salah ingat. Lalu Nak Karina ini?" Tanyanya penuh penasaran. Melihat keduanya snagat dekat dna mesra membuat para ibu-ibu ini penasaran. Tidak sedikit warga desa yang memiliki impian untuk memiliki Bisma menjadi menantu mereka. Bisma tidak hanya kaya dan tampan. Tetapi dia juga adalah putra yang diasuh Nadia. Pasti memiliki karakter yang baik. Siapa yang tidak ingin memiliki menantu seperti itu?


"Dia Karina bu. Istri saya." Jawab Bisma sambil tersenyum. Ia menggenggam tangan Karina dengan lembut sambil memandangnya penuh cinta. Karina balas menatapnya dengan senyuman yang manis.


"Oh sudah menikah? Kok tidak ada kabar?" Ibu-ibu yang lain semakin kepo.

__ADS_1


"Iya bu. Kami memang tidak mengadakan pesta. Yang penting sah." Jawab Bisma. Bisma tentu saja tahu bagaimana ibu-ibu ini. Satu kata darinya mungkin akan bisa menjadi seratus hingga seribu kata. Jadi ia harus memberikan jawaban yang tidak membuat mereka menjadikannya bahan gosip.


"Oh begitu. Memang Tidak apa-apa tidak mengadakan pesta."


"Ibu-ibu kalau begitu kami pamit kembali dulu. Sudah semakin siang. Sudah panas." Bisma memandamg matahari yang sudah agak tinggi. Panasnya juga sudah mulai terasa menyengat di kulit.


"Iya iya. Sudah siang. Kasihan nak Karinanya. Pasti kecapekan berdiri terus."


"Iya bu. Terima kasih. Mari." Bisma tersenyum. Karina juga ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya untuk meghormati mereka. Bi Eni mengikuti di belakang mereka.


Sampai di rumah, bi Eni segera pergi ke dapur untuk memasak. Karina memang sudah sarapan. Tetapi sarapan bubur tidak smaa dengan sarapan dengan nasi. Akan mudah nerasa lapar lagi. Apalagi dengan keadaan Karina yang sedang hamil. Dan Bisma, pasti juga belum makan.


Sedankan Bisma dan Karina langsung masuk ke dalam kamar. Bisma mendudukkan Karian di tepi ranjang sebelum ia duduk di sampingnya. Memeluknya erat. Lebih erat dari saat mereka di sawah tadi.


"Biarkan aku memelukmu sayang. Aku sangat merindukanmu." Ucap Bisma menikmati kehangatan yang diberikan Karina. Bibirnya juga menciumi pipi Karina yang sekarang mulai berisi. Lembut dan kenyal. Membuat Bisma tidak bisa berhenti menciumnya.


"Maafkan aku karena tidak memberi mas kesempatan untk menjelaskan." Ucap Karina. Ia berpikir dia juga slaah dalam hal ini. Seharusnya ia mencari tahu terlebih dulu.


"Bukan salahmu sayang. Jangan menyalahkan dirimu. Ini murni kesalahanku. Jika aku jadi kamu aku juga akan melakukan hal yang sama." Bisma menarik kepala Karina ke dadanya membuat Karina dapat mendengarkan detak jantung Bisma yang menenangkan.


"Mulai sekarang, mari berjanji untuk saling percaya." Karina menengadahkan kepalanya dna menatap Bisma yang tampak serius dengan ucapannya.


"Kita tidak perlu berjanji mas. Yang terpenting kita tahu satu sama lain bahwa kita saling mencintai. Sebagai manusia, lumrah untuk memiliki rahasia. Jadi jika itu memang sulit untuk mengatakannya, mas tidak perlu memaksakan diri." Ucap Karina.


Bisma memandang Karina tidak percaya. Dia sungguh beruntung bisa menjadikan Karina menjadi istrinya.


"Terima kasih banyak sudah begitu pengertian. Aku mencintaimu Karina." Bisma menarik dagu Karina dan membenamkan bibirnya di bibir Karina. Tangan kanannya menekan belakang kepala Karina. Sedangkan Karina mengalungkan tangannya di leher Bisma. Mereka berciuman untuk mengobati rasa rindu satu dengn yang lainnya.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir 😊


__ADS_2