
Mata Abimanyu menggenang air mata saat ia mendekati Karina dan mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Karina sebelum ia mulai menyentuh wajah Karina. Melihat ini, Andra dan Bisma memandang keduanya dengan haru.
"Kenapa papa menangis? Apa papa tidak senang melihat Michel kembali?" Karina mengusap air mata Abimanyu yang akhirnya menetes dari sudut matanya.
"Ini air mata bahagia." Abimanyu berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir. Bagaimanapun, di depan putrinya ia harus menjaga sedikit harga dirinya. "Papa sangat senang nak. Papa tidak percaya papa bisa bertemu kamu kembali." Namun lagi-lagi airmata natal itu keluar. Membuat Karina tersenyum dan tidak segan menghapusnya lagi.
"Papa Sudah menjadi seorang kakek sekarang. Mana boleh menangis?"
"Iya. Papa tidak menyangka jika cucu pertama papa akhirnya adalah anak kamu." Abimanyu memandang Karina dengan bahagia. Ia kembali mengingat mendiang Maria yang terlihat mirip dengan Karina.
"Apa papa senang?"
"Tentu saja." Abimanyu menjawab dengan semangat.
Karina kemudian menceritakan apa yang dia alami saat ia belum sadarkan diri pada Abimanyu. Ia juga menyampaikan pesan Maria untuk menjaga papanya.
"Apa mama benar-benar mirip denganku?" Tanya Karina setelah ia selesai bercerita.
"Ya. Sebentar, papa punya fotonya." Abimanyu mengeluarkan ponselnya dan menyerahkan pada Andra agar putranya itu mencarikan foto yang ia maksud. Dia masih enggan melepaskan Karina. Sejak awal ia tidak melepaskan tangan Karina meskipun hanya sebentar.
Tidak banyak foto yang ada di galeri ponsel Abimanyu karena ia memang jarang mengambil foto. Dan foto keluarga ada di daam album terpisah dan juga hanya ada beberapa. Itu sudah pasti foto lama. Karena sejak Maria meninggal, keluarga itu hampir tidak pernah berfoto bersama selain setiap tahun pada acara ulang tahun perusahaan dan itu selalu tidak pernah lengkap.
Andra mengembalikan ponsel Abimanyu setelah ia membuka galeri yang berisi khusus foto keluarga. Abimanyu mencari foto Maria yang berdiri seorang diri dan dengan antusias menunjukkan foto itu pada Karina.
Karina menutup mulutnya tidak percaya. Bisma juga penasaran dan ikut melihat. Sosok yang ada di dalam foto memang sama dengan sosok yang menemuinya di bawah alam sadarnya. Matanya mulai berkaca-kaca tidak percaya. Ia tidak menyangka jika mamanya memang bener-bener mirip Dengannya. Terlebih lagi dia menemuinya di alam bawah sadarnya. Karina lamat-lamat mengingat wajah Maria di masa lalu. Tetapi itu hanya terlihat samar seperti ingatannya mengenai Abimanyu, Andra dan Marchel. Saat ia melihat foto-foto di dalam galeri, semua itu akhirnya bisa dengan jelas ia ingat.
"Ini Marchel?" Tanya Karina saat melihat pria muda tampan yang memiliki fitur wajah seperti Abimanyu sewaktu masih muda.
"Ya."
"Dia benar-benar meraih cita-citanya." Karina menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Cita-cita?" Abimanyu bertanya. Anaknya yang satu itu tidak bisa diandalkan sama sekali. Dia hanya bisa menggoda para gadis dan mempermainkan mereka. Jadi, cita-cita apa yang dia miliki saat ia masih kecil?
"E-hem." Karina mengangguk menahan tawanya. Bekas luka jahitannya akan nyeri saat ia tertawa. "Marchel pernah berkata bahwa sasaat ia dewasa, ia akan menaklukkan setiap gadis di dunia ini."
Jika memang itu yang menjadi cita-cita Marchel, memang benar dia telah mencapai cita-citanya.
"Hati-hati. Lukanya masih basah. Jangan bergerak terlalu banyak." Bisma dengan hati-hati mengelus kepala Karina.
__ADS_1
"Maaf. Aku lupa. Hehehe." Karina meringis. Ia kembali fokus pada layar ponsel. Ia menggeser lagi dan menemukan satu lagi sosok yang familiar dengannya.
"Ini...bukankah ini Megan?" Karina bertanya dengan ragu. Ia beberapa kali pernah bertemu dengannya saat di awal ia mengenal Nara. Saat itu Nara sering mengajak gadis ini keluar untuk tuk sekedar menemani mengobrol. Tetapi sudah beberapa bulan sejak terakhir ia melihatnya karena kata Nara dia kuliah di luar negeri.
"Ya. Kamu mengenalnya?" Abimanyu mengangguk. Ia cukup terkejut saat mendengar bahwa Karina mengenal Megan sebelumnya.
"Kami bertemu beberapa kali dulu. Siapa dia?"
"Dia adik perempuanmu Yang lahir setelah kamu hilang saat itu. Mamamu begitu terpukul mendengar berita bahwa kamu tiada saat itu. Dia terus saja berkata padaku bahwa kamu masih hidup dan memintaku untuk terus mencarimu. Saat itu keadaan kacau. Perusahaan mengalami krisis dan membutuhkanku untuk menyelesaikan semuanya. Akhirnya aku tidak bisa menyelidiki secara pribadi mengenai dirimu dan menyerahkan kasus itu pada detektif swasta dan mendapatkan hasil bahwa kamu memang meninggal." Abimanyu mendesah. Mengingat rasa ketidak berdayaan yang dia alami dulu.
"Mamamu frustasi mendengar kabar itu. Kondisinya semakin buruk. Itulah mengapa aku berpikir Jika kami memiliki seorang putri lagi, itu akan segera menghilangkan dukanya. Akhirnya kami mengikuti program hamil dan akhirnya Megan pun hadir. Tetapi Kondisi mamamu tidak stabil saat itu dan kehilangan banyak darah saat proses persalinan hingga menyebabkannya meninggalkan kita. Ini semua memang salahku. Jika tidak mamamu..." Abimanyu tidak bisa menyelesaikan kalimatnya saat ia mulai terisak. Mengingat hal ini selalu membuatnya merasa bersalah. Jika dia tidak memaksa Maria untuk hamil lagi, Maria mungkin masih menemani hari tuanya.
"Papa, papa tidak boleh berkata seperti itu. Hidup dan mati seseorang sudah ada yang mengaturnya. Tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain." Karina memegang lengan Abimanyu.
"Semua masa lalu pa. Kita harus mengikhlaskan mama. Mama akan bahagia melihat kita bersama lagi." Andra ikut menghibur.
"Baiklah, kalau begitu nanti setelah Karina pulih, kita akan mengadakan pesta penyambutan. Kita panggil Megan dan Marchel untuk pulang." Abimanyu bertekad.
"Memangnya Marchel kemana?"
Di sebuah ruang tamu di kamar hotel di negara S, seorang pria duduk dengan seorang wanita berada di pangkuannya. Keduanya sedang bercumbu. Bibir keduanya terjalin dan berdecap penuh kenikmatan. Memagut dan saling menyesap mencari kepuasan.
"Maarr-cheell..." Suara desa-han wanita terdengar. Wanita cantik itu sudah hampir telanjang di ruang tamu yang mewah itu.
Gaun hitam yang dia kenakan sudah melorot dan memperlihatkan bahu indah yang mempesona dengan tulang selangka yang menggoda. Bukan hanya itu, bukit kembar yag menjulang tinggi dengan puncak stroberi juga sudah terpampang dengan jelas.
Wanita itu bernama Catherin, salah satu pacar Marchel di negara S. Marchel memang sering bepergian keluar negeri dan memiliki pacar di masing-masing negara yang dia kunjungi. Dan terkadang, dia memiliki lebih dari satu orang pacar di suatu negara. Dengan wajahnya yang tampan dan kemampuan merayunya yang sudah berada di tingkat dewa membuat para wanita akan sulit menolak pesonannya.
"Aku merindukanmu sayang." Marchel berkata dengan manis saat ia berbisik di telinga Catherin.
"Aku sudah ada di sini. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau." Catherin tidak menutup diri. Dia menyatukan bibirnya dengan bibirnya. Keduanya kembali berciuman lama hingga mereka kehabisan napas. Tangan Catherin mengelus punggung Marchel yang kokoh.
Melihat kabut di mata Catherin, Marchel kembali menciumnya dengan lebih bergairah. Tangannya mulai meraba-raba dan menekan setiap bagian sensitif Catherin. Membuat Catherin mengatakan bahwa ia sangat mencintainya.
Marchel tersenyum mengejek saat melihat wanita di pangkuannya. Tangannya mulai bermain dengan salah satu gunung kembar itu saat. Ia juga menggunakan lidahnya untuk terus menggoda. Membuat Catherin mere-mas rambut Marchel dengan gemas saat ia merasakan darah naik di bagian bawahnya.
Catherin merasakan bagian di bawah tubuh Marchel mengeras dan menyodoknya dari bawah. Ia memberanikan diri untuk menurunkan tangannya dan menekan tombol kecil di sisi gasper ikat pinggang yang dipakai Marchel sehingga menghasilkan bunyi klik yang indah.
Tatapan mata berkabut Marchel seketika menghilang dan berganti dengan mata yang gak gelap dan tajam. Membuat Catherin menggigil ketakutan.
__ADS_1
"Marchel, maafkan aku. Kita sudah lama bersama. Tidakkah kita bisa melakukannya malam ini?" Wajah Catherin ketakutan. Ia sudah berkencan dengan Marchel hampir setengah tahun. Tetapi hubungan mereka tidak pernah ah lebih dari sekedar saling mencum-bu. Marchel tidak pernah menyelesaikan aksinya dan meninggalkannya dengan frustasi.
Marchel mendorong Catherin dari pangkuannya. Membuat wanita itu terhempas di atas sofa dengan tidak elit. Catherin menangis menyesali perbuatannya. Sejak awal ia tahu bahwa Marchel Tidak akan bersedia melakukan hubungan intim. Dia hanya ingin bermain-main. Tetapi, Sebagai seorang wanita, melihat tubuh Marchel yang indah membuatnya sulit untuk menahan diri.
Meskipun Marchel senang bermain-main dengan wanita, ia tidak pernah melakukan hubungan intim dengan satupun kekasihnya. Mereka hanya melakukannya untuk bersenang-senang.
"Aku sudah bilang berapa kali padamu?"
"Maafkan aku Marchel. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku mohon padamu." Catherin bahkan tidak peduli pada gaun nya yang masih berantakan saat ia memohon pada Marchel untuk tidak meninggalkannya.
"Tidak. Keluar sekarang juga." Marchel mengusirnya begitu saja. Dan orang yang mencum-bunya dan berkata bahwa ia merindukannya bukan dirinya. Dia menunjuk tajam pintu keluar saat ia melihat wanita yang setengah telanjang itu dengan marah. Lalu melempar sebuah cek kosong padanya.
"Jangan pernah lagi muncul di hadapanku."
"Marchel..." Catherin menerimanya dengan tidaku percaya. Dia hanya melakukan satu kesalahan. Dia tidak mau diputuskan begitu saja.
"Keluar kataku!" Ucap Marchel sekali lagi dengan suara rendahnya yang dingin.
Catherin dengan enggan memperbaiki gaun nya. Ia kemudian mengambil tas dan keluar dari kamar hotel itu.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ☆~(^,^)~♡
Ohohoho.....
Novel ini berakhir sampai di sini. Ngegantung? Novelnya memang sudah tamat, tetapi cerita tentang Bisma dan Karina masih akan berlanjut. Namun nanti hanya akan menjadi sampingan di cerita mengenai Marchel yang playboy.
Membaca yang di atas pasti pada kesal kan sama si Marchel ini?
Akoh juga kesel tuh. Jadi mau bikin si Playboy cap kodok loncat itu nanti menemui kesusahan saat ia menemukan cinta sejatinya.
Penasaran? Tunggu dulu ya. Akoh mau fokus dulu sama perfect daddy.
Terima kasih atas semua dukungan kalian selama ini. Tiada kata yang bisa akoh ucapkan selain maaf dan terima kasih
__ADS_1
See you later...