
Nadia tidak bisa menahan dirinya. Mengetahui bahwa Karina diculik, ia tidak bisa merasakan seluruh tubuhnya. Kakinya terasa seperti jeli yang tidak bisa menopang beban tubuhnya. Tangannya tidak bisa ia kendalikan. Dan kepalanya, berputar hingga semuanya berubah menjadi gelap. Beruntung ada Dini yang ada di sebelahnya hingga Nadia tidak jatuh menabrak batu trotoar yang keras.
"Ma! Mama!" Teriak Dini panik. Gadis itu menepuk pipi Nadia. Seketika, semua orang segera mengerumuni mereka.
Sedangkan Gerry, ia mengejar mobil yang membawa pergi Karina dengan menggunakan motor yang ia rebut dengan paksa dari seseorang yang baru saja datang untuk membeli makanan di tempat tersebut.
"Maling woi! Kembalikan motorku!" Teriak orang itu panik.
"Ada apa mas?"
"Tolong saya, motor saya dibawa pergi pencuri!"
"Itu pasti anaknya ibu yang pingsan itu. Katanya menantunya diculik. Dia pasti mengejar penculiknya." Mendengar penjelasan orang itu, perasaan sedihnya tidak berkurang. Bagaimanapun, motornya adalah harta baginya.
Bisma yang kebetulan lewat menghentikan mobilnya Karena melihat ada keributan.
"Ada apa ini?" Bisma membuka kaca jendela dan bertanya. Dini mendengar suara kakaknya.
"Kakak! Huhuhu." Dini menangis histeris. Memandang Bisma dengan mata penuh dengan air mata. Bisma yang melihat adiknya menangis dan berada di tengah kerumunan tidak bisa untuk tidak panik. Ia segera turun dan menghampiri Dini. Kerumunan membelah memberi jalan pada Bisma.
"Mama!" Teriak Bisma kaget dan segera melihat kondisi Nadia.
"Karina Bis, dia diculik. Pergi cari Karina. Mama tidak apa-apa." Nadia yang mendengar suara Bisma berbicara tanpa membuka matanya. Ia tidak tahan melihat wajah putranya. Bisma juga tidak tega melihat kondisi Nadia.
"Apa!? Ada apa ini Din?" Bisma menatap Dini yang terus menangis.
"Tadi saat kami menunggu mama memesan makanan, ada mobil yang datang dan memaksa kak Karina masuk mobilnya. Kejadiannya sangat cepat kak. Mama pingsan. Dan kak Gerry mengejar penculik itu." Dini menjelaskan sambil menyeka air matanya.
"Kemana perginya?"
"Ke sana." Dini menunjuk arah kemana mobil itu pergi.
"Oke. Kakak akan mengejarumah mereka. Kamu hubungi sopir di rumah untuk menjemput mama." Dini mengangguk. Kemudian ia mengambil ponselnya dan menghubungi sopir di rumahnya. Sementara itu, Bisma sudah masuk ke dalam mobilnya dan bergegas mengejar Gerry dan para penculik itu.
Di dalam mobil, Bisma menghubungi Bima untuk memintanya melacak keberadaan Gerry melalui GPS yang terpasang pada liontin yang dipakai Gerry. Setiap anggota keluarga memiliki barang yang akan dilengkapi GPS untuk keadaan darurat seperti saat ini. Sedangkan Karina sendiri tidak memakai karena ia dalam kondisi hamil.
Tak lama, Bima sudah mengetahui dimana lokasinya. Ia beradati dak jauh dari tempatnya saat ini. Bisma segera melajukan mobilnya ke lokasi yang ditunjukkan Bima.
Gerry berada di depan gerbang tol. Ia berhenti karena tidak bisa masuk. Ia sudah berusaha masuk tapi dihalangi oleh petugas. Penampilan Gerry yang tidak rapi membuat petugas tol tidak mempercayai apa yang dikatakannya. Menganggap Gerry sedang mempermainkan mereka. Jadi Gerry dengan segera diusir karena ia bersikeras untuk tetap masuk ke dalam tol.
"Dimana penculiknya Ger?"
__ADS_1
"Maaf kak aku tidak bisa mengejar. Mereka masuk jalan tol. Petugas tol tidak mempercayai dan mengusirku."
"Tidak apa-apa. Masuk mobil." Bisma mengangguk paham. Gerry segera masuk setelah mengunci ganda motor yang dia bawa.
Setelah Gerry masuk, Bisma segera melajukan mobilnya. Gerry segera membuka ponselnya dan melihat foto plat nomer kendaraan yang berhasil ia ambil. Ia segera memberitahukannya pada Bisma.
"Hubungi Bima dan minta dia melacak keberadaan mobil itu." Gerry mengangguk. Ia segera melakukan tugasnya.
Bima Dengan cepat menemukan lokasi keberadaan mobil itu dan memberitahukannya pada Bisma. Dirinya sendiri sudah membawa anak buahnya untuk pergi membantu.
Bisma melakukan mobilnya dengan kencang. Gerry yang biasanya menyukai mengendarai mobil dengan kencang sampai menutup matanya karena takut. Tetapi ia tidak berani memprotes karena ia tahu bahwa kakaknya jago berkendara.
"Itu kak mobilnya." Gerry yang memberanikan diri membuka matanya melihat mobil yang membawa Karina. Mobil itu melaju dengan kencang.
Sementara itu, di mobil yang dikejar oleh Bisma dan Gerry. Karina menekan rasa takutnya dan terus bertanya pada pria tua yang duduk di sampingnya meskipun pihak lain tetap menutup mulutnya tidak bicara.
"Tuan, sebenarnya siapa anda? Dan kenapa menculik saya?" Karina menatap pria itu sambil memeluk erat perut besarnya.
"Tuan aku mohon padamu lepaskan aku." Ucap Karina lagi setelah ia tidak menerima jawaban yang diinginkannya.
"Kamu tenanglah. Sebentar lagi semua akan baik-baik saja." Pria tua itu melirik Karina sekilas sambil mengeratkan tangannya pada tongkat yang dibawanya.
"Apa maksdud tuan?" Karina merasa kata-kata pria tua itu mengandung bahaya. Namun pria itu kembali diam tanpa memperhatikan Karina lagi.
"Aku tidak kekurangan uang."
"Lalu apa yang anda inginkan? Saya akan memberikannya. Asalkan anda melepaskan saya."
"Aku menginginkanmu, bagaimana dengan itu?" Pria itu menoleh dan menatap Karina dengan suram.
"Apa maksud anda tuan?" Tanya Karina panik. Ia menjauhkan dirinya dari pria tua yang nampak berbahaya itu.
Pria itu terkekeh melihat reaksi Karina. "Kamu sama saja seperti ibumu. Selalu menghindar jika berada di dekatku." Pria itu tersenyum sinis.
"Sebenarnya siapa tuan? Saya bahkan tidak mengetahui siapa ibu saya. Saya juga tidak mengenal tuan."
"Sebelum aku memperkenalkan diriku, aku ingin kamu mendengar sebuah kisah yang sangat indah." Pria itu mengetuk ujung tongkatnya.
"Di sebuah istana, dimana ada dua orang pangeran yang jatuh cinta pada seorang putri cantik yang sama. Satu pangeran bersikap jujur. Dan yang lainnya bersikap curang. Pangeran curang itu selalu menghasut sang putri untuk membenci pangeran yang jujur sehingga putri itu sangat membenci pangeran yang jujur."
"Akhirnya, dengan cara curangnya, pangeran curang itu menikah dengan putri dan hidup bahagia. Mereka benar-benar melupakan bahwa mereka telah menyakiti pangeran yang jujur." Mata Pria itu begitu suram dan dalam. Jelas terlihat bahwa dia begitu kesepian. Meskipun Karina tidak mengerti apa hubungannya dengan penculikan ini, ia tetap mendengarkan dengan waspada.
__ADS_1
"Pengeran jujur itu adalah aku. Dan pengeran curang itu adalah kakakku. Sedangkan putri itu tidak lain adalah ibumu. Maria." Pria itu menatap Karina dalam.
"Ibuku? Apa tuan mengenal ibuku?"
"Tentu saja, dia adalah orang yang paling aku cintai di dunia ini." Karina terkejut. Selama ini Karina tidak mengetahui siapa ayah dan ibunya. Neneknya berkata padanya bahwa ia hilang ingatan setelah tenggelam dan melupakan masa kecilnya.
Sudah Sudahlah Karina ingin mengetahui siapa orangtuanya, tetapi neneknya berkata bahwa mereka telah meninggal. Jadi, dia tidak pernah memikirkan untuk mencari mereka.
"Jika anda mengetahui dimana ibu saya, tolong beritahu saya tuan."
"Tenang saja. Kita akan segera menemuinya." Ucap pria itu sebelum ia berbicara supirnya.
"Di depan sana ada fly over. Kita akan terbang dari sana." Ucap pria itu. Karena terkejut mendengarnya. Apa yang dimaksud dengan terbang dari fly over. Karina masih belum memahami hingga ia melihat sopir itu ternyata membawa helm dan memakainya di kepala. Juga, tubuhnya dilengkapi alat keamanan.
"Tuan jangan main-main!"
"Menurutku usiaku, aku tidak mungkin akan bermain-main." Jawab pria itu santai. Ia bahkan tersenyum dengan bahagia.
"Tuan tidak bermaksud bunuh diri kan?" Karina segera panik.
"Tidak. Aku hanya akan membawa kita untuk menemui ibumu, di surga sana. Dia pasti sangat senang aku datang dengan membawa putri dan cucunya." Karina menghindar saat pria itu hendak menyentuh perutnya.
Pria itu tidak marah. Dia tertawa terbahak-bahak. "Memang benar putri Maria. Seperti itulah ibumu dulu. Sangat mirip denganmu. Dia akan ketakutan saat aku mendekati."
"Tuan, tolong jangan lakukan itu. Aku sedang hamil. Bagaimana jika tuan menunggu sebentar dan membiarkanku melahirkan. Setelah itu, aku akan menuruti semua keinginan tuan bahkan jika itu menyerahkan nyawaku." Karina menangis. Ia memeluk erat perutnya. Bayinya tidak boleh tiada. Ia harus menyelamatkannya.
"Tidak-tidak. Aku rasa ibumu akan menyukai hadiah kita. Dia sudah lama sendirian di sana. Jadi biarkan dia menimang cucunya."
"Tuan, sudah waktunya." Sopir itu menoleh menoleh ke belakang. Ia ingin memastikan untuk yang terakhhir kali pada tuannya apa ia benar akan mengakhiri hidupnya begitu saja. Tetapi, bosnya mengangguk dan tersenyum ringan. Seolah-olah, supirnya berkata padanya bahwa tujuan neraka sudah sampai.
Mengetahui jawaban bosnya, sopir yang masih muda itu segera membuka pintu mobil dan melompat keluar. Ia berguling-guling di atas aspal dan segera berdiri dan berlari menjauh. Karina berteriak histeris saat ia menyadari mobil tidak memiliki pengemudi dan melayang terbang di udara.
Pria tua yang ada di sampingnya justru tersenyum melihatnya.
"Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diriku, namaku adalah Norman. Kamu harus ingat untuk mencari ku di surga nanti." Norman menutup matanya setelah berbicara.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir ~《♡,♡》~