
Sore harinya, Bisma membawa Karina menemui Yuli. Dan juga Joni. Saat ini Karina menyadari bahwa ia sebenarnya tidak pernah lepas dari pengawasan Nadia. Dia beruntung memiliki mertua seperti Nadia. Karina juga akhirnya mengerti mengapa ia merasa bahwa selama ini langkahnya selalu mudah. Jika ini tanpa dukungan dari mertuanya, mungkin ia tidak akan bisa menjalani ini semua dengan baik.
"Terima kasih bibi selama ini sudah sangat baik padaku." Ucap Karina setelah ia memikirkan segalanya. Yuli tersenyum hangat padanya.
"Tidak apa-apa. Kamu sudah menikah dengan Bisma. Yang adalah adikku juga. Jadi kamu juga bukan, bukan siapa-siapa di keluarga ini. Menjagamu juga adalah tanggung jawabku."
"Ka..kakak?" Karina masih terkejut menerima informasi ini meskipun ia sudah mengetahui jika hubungan keluarga di keluarga Bisma ini rumit. Tapi ia tidak berpikir memiliki kakak yang bahkan lebih tua daru mama mertuanya.
"Iya. Hahahaha. Jangan terkejut ya. Tidak apa-apa kamu memanggilku bibi. Aku juga merasa canggung dipanggil kakak oleh orang-orang muda seperti kalian ini." Ucap Yuli. Bisma mendengarnya sambil tersenyum.
"Bibi, kami kemari untuk bertemu dengan mama Dian." Ucap Bisma kemudian. Karina terkejut mendengarnya.
"Ya. Masuklah." Yuli berdiri. Mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk. Ia juga secara pribadi memimpin jalan. Dan membukakan salah satu pintu kamar di rumah besar itu.
"Terima kasih bi." Bisma tersenyum. Ia segera masuk sambil menggendeng tangan Karina saat ia masuk. Yuli menutup pintu dari luar dan pergi ke dapur untuk memint pembantu menyiapkan makanan untuk Bisma dan Karina.
Karina memandang kamar itu. Sebuah ranjang berada di tengah. Jendelanya terbuka. Dengan teralis besi berbentuk bunga yang membingkainya ada di samping ranjang. Ada sebuah foto besar di dinding di atas ranjang. Seorang wanita muda yang cantik tersenyum manis terlihat di sana. Saat Karina menoleh, ia mendapati Bisma juga sedang memadang potret itu. Di sebelahnya, juga ada foto juragan Bondan.
Kamar ini dikhususkan untuk mengenang Dian. Jadi lebih banyak foto Dian di sana. Foto dan barang penting Dian yang ada di rumah lama Dian dipindahkan ke sana.
"Itu..." tanya Karina ragu-ragu.
"Mama Dian. Mama kandungku." Jawab Bisma tersenyum. Ia meraih kepala Karina dan menyandarkannya ke bahunya.
"Dia terlihat sangat muda."
"Ya. Saat aku lahir, usia mama Dian bahkan belum genap dua puluh tahun saat itu." Karina memandang Bisma yang terlihat sendu.
"Lalu sebelahnya?"
"Itu bapakku. Bapak Nara juga." Karina semakin bingung.
"Tidak perlu dipikirkan. Ini kisah lalu." Karina mengangguk paham. Yang terpenting adalah semua orang bersama dan menjadi keluarga yang bahagia.
Pulang dari rumah besar, Bisma mengajak Karina pergi ke rumah Joni juga. Tahun ini kemungkinan besar Bisma tidak akan bisa pulang kampung bersama keluarganya seperti biasanya karena saat itu Karina baru saja melahirkan. Dan anak mereka pasti masih terlalu kecil untuk melakukan perjalanan jauh. Jadi Bisma pasti akan tinggal untuk menemaninya.
__ADS_1
Joni dan Nita tersenyum lega saat melihat Bisma datang dengan menggandeng Karina dengan tangan kiriya. Tangan kanan Bisma dilingkarkan di pinggang Karina.
"Kami sangat senang melihat kalian bersama." Ucap Nita.
"Terima kasih bibi, paman." Balas Karina. Keduanya segera masuk setelah dipersilahkan masuk ke dalam. Karina baru pertama kali pergi ke rumah Joni. Biasanya Joni dan Nita yang akan mengunjunginya.
"Paman, bibi kami mau pamit. Besok pagi kami akan kembali ke kota." Ucap Bisma.
"Ya. Nyonya muda sudah tidak sabar bertemu dengan menantunya. Dari pagi sudah menelpon terus seperti penagih hutang."
"Nyonya muda? Siapa?" Tanya Karina bingung.
"Mama. Hahahaha." Jawab Bisma tertawa terbahak-bahak. Bisma sendiri masih merasa lucu saat mendengar orang lain memanggil mamanya dengan panggilan nyonya muda.
**
"Bagaimana kabarmu sayang?" Tanya Nadia begitu ia melepaskan pelukannya pada Karina saat Bisma membawa Karina ke rumah Nadia begitu mereka kembali. Mereka bahkan belum pulang ke apartemen mereka.
"Aku baik ma. Terima kasih telah menjagaku. Maaf membuat mama khawatir." Karina tersenyum tulus.
"Iya ma."
"Kalau lain kali ada masalah, jangan ragu untuk memberitahu mama. Jangan dipendam sendiri. Apalagi kalau Bisma berbuat ulah."
"Tidak ma. Aku tidak akan mengulanginya." Bisma yang mendengarnya tidak terima. Ia segera menarik Karina dan memeluknya. Padahal Nadia masih belum memuaskan rindunya. Membuat Nadia mengerucutkan bibirnya. "Aku akan menjaga Karina dengan baik." Lanjut Bisma sambil mencium puncak kepala Karina.
"Huh! Jangan janji-janji kalau tidak bisa menepati. Apa yang pernah kamu janjikan dulu hah? Belum lama ini kamu juga berjanji untuk menjaga Karina. Tapi apa buktinya? Kamu malah membuat menantu mama kabur. Apa ini yang namanya menjaga?!" Sengit Nadia.
"Itu kan hanya salah paham ma. Kali ini Bisma akan menjaga Karina lebih baik." Nathan yang juga ada di sana tersenyum miring. Bisma masuk ke dalam perangkap.
"Kamu pikir mama akan percaya padamu kali ini?" Nadia menarik Karina kembali. Menariknya lepas dari pelukan Bisma dan ganti memeluknya.
"En, bawa tas Karina masuk." Nadia menoleh pada Eni yang segera mengangguk dan kembali ke mobil untuk mengambil tas Karina. Saat di desa, ia memanfaatkan waktu saat Bisma dan Karina pergi ke rumah Yuli untuk mengatur agar Karina kembali tinggal di rumah Nadia sampai melahirkan. Lagipula kandungan Karina sudah semakin besar. Jadi ia ingin merawat menantunya dengan baik. Bisma kali ini tidak memiliki kekuatan untuk melawannya. Apalagi ia juga baru saja melakukan kesalahan yang besar.
"Ma! Mama! Bisma bisa merawat istri Bisma sendiri." Bisma tidak terima.
__ADS_1
"Bisa apa? Kamu sudah menyakiti Karina."
"Tapi ma..."
"Bisma, apa kamu tidak lihat perut Karina sudah semakin besar? Di kehamilan tua, calon ibu akan merasa nyaman jika banyak orang yang menyayanginya. Dan lagi, di sini banyak orang yang akan membantumu menjaganya." Nathan ikut bersuara. Nadia tersenyum senang Nathan membantunya. Bisma tidak akan berani menentang Nathan.
Bisma memghela napas. Sepertinya ini juga baik untuk Karina. Paling tidak dengan tinggal di sini Karina tidak akan kesepian. Lagipula dulu dia memilih untuk mengajak Karina tinggal di apartemen karena ia ingin memberi kebebasan Karina. Ia tidak ingin Karina canggung. Dan yang paling penting. Ia ingin menaklukkan Karina terlebih dahulu. Membiarkan Karina terbiasa dengannya. Dengan begitu Karina akan menerimanya menjadi suaminya. Dan sekarang ia telah jatuh cinta pada Karina begitu juga sebaliknya. Jadi tujuan utamanya telah tercapai.
"Baiklah kalau begitu." Ucap Bisma.
"Nah gitu dong." Seru Nadia senang. Ia membawa Karina masuk dan meminta bi Eni untuk memasukkan tas Karina.
"Biar aku saja bi. Bi Eni istirahat saja dulu di dalam." Bisma mengambil alih tas Karina.
"Tuan, di sini nak Karina sudah ada yang merawat. Apa..." mendengar perkataan bi Eni Bisma segera memotongnya.
"Bi Eni, Karina memang sudah ada mama yang merawat untuk saat ini. Tetapi bi Eni sebelumnya juga bekerja untui membersihkan apartemen. Kembali seperti dulu. Tidak perlu datang setiap hari. Apa bibi tidak bisa melakukannya?"
"Mau tuan. Tentu saja saya mau."
"Itu bagus. Sebenarnya saya juga sudah menyiapkan rumah untuk kami. Kami tidak mungkin akan tinggal di apartemen itu setelah bayi kami lahir nanti. Dan menurutku Karina akan lebih nyaman jika ada bi Eni di sana. Apa bi Eni mau?"
"Tentu saja mau tuan."
"Bagus. Sekarang bi Eni masuk dan istirahat dulu. Nanti malam aku akan mengantar bibi pulang." Bi Eni mengangguk. Bisma lalu memanggil pembantu untuk mengantar Bi Eni untuk istirahat di kamar tamu.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😊
Maaf lama nggak update. Akohnya sibuk sekali. Harap bersabar.... ehehehehe
__ADS_1