
Bisma dan Alex meeting bersama klien mereka yang juga merupakan teman kuliah mereka. Meeting berjalan sampai siang hari. Jadi mereka memutuskan untuk sekalian makan siang. Mereka kebetulan meeting di salah satu kafe di sebuah mall karena mereka memang ingin situsai yang santai.
Andi dan Gibran sudah kembali ke kantor begitu meeting selesai. Mereka bukan bos yang masih bisa meminta orang lain mengerjalan tugas mereka. Jadi hanya tinggal Bisma, Alex dan teman mereka, Fian.
"Oh ya Lex, aku dengar kamu menikah dengan adik Bisma?" Fian memang baru pulang dari luar negeri.
"Ya. Istriku baru saja melahirkan putri kedua kami, tetapi putri pertama kami sudah tiada." Jawab Alex.
"Yah itu buruk. Bagaimana denganmu Bis?" Bisma melirik Fian tidak senang. Dari dulu, hubungan antara Bisma dan Fian memang tidak baik.
Semuanya bermula saat seorang gadis yang disukai Fian malah lebih menyukai Bisma. Gadis itu bahkan menolak Fian berkali-kali hanya untuk Bisma yang bahkan tidak menganggapnya ada. Gadis itu pun bernasib tragis karena depresi. Gadis itu bunuh diri dengan menelan banyak pil tidur hingga mengakibatkannya meninggal karena overdosis. Itulah sebabnya Fian tidak menyukai Bisma.
Fian ingin membalaskan dendam gadis pujaannya pada Bisma. Setiap kali Bisma didekati oleh seorang gadis meskipun itu hanya sedikit, Fian akan berusaha merusak hubungan itu dengan cara mencelakai gadis itu.
"Bukankah itu tidak ada hubungannya denganmu?" Sinis Bisma.
"Hei ini sudah lama berlalu. Aku dengar kamu sudah menikah dan istrimu bahkan sudah hamil besar saat ini. Apa kamu akhirnya mencintai seorang gadis?"
"Aku menikahinya hanya karena rasa tanggung jawab. Jika bukan karena mama dan papaku yang mendesakku menikah dengannya, aku tidak akan mau. Aku juga tidak mencintainya." Jawab Bisma pada akhirnya. Alex hampir memuncratkan kopi yang baru saja ia minum. Memandang Bisma dengan kecewa.
"Benarkah? Aku tidak percaya." Fian melipat tangannya dengan senyum meremehkan.
"Tidak percaya ya sudah. Itu urusanmu." Jawab Bisma kesal. Ia segera mengangkat cangkir kopinya. Menyesapnya untuk menghilangkan rasa bersalahnya. Ia sungguh-sungguh terpaksa melakukan hal itu. Jika sampai Fian tahu bahwa ia sangat mencintai Karina, ia takut jika Karina akan berada dalam bahaya.
Yang Bisma tidak tahu adalah kata-kata yang diucapkanya barusan membuat seorang istri menjadi sakit hati. Ya. Karina yang saat itu memang berada di dalam mall setelah dengan bersusah payah melupakan kejadian yang ia dengar kemarin pagi akhirnya pergi bersama dengan Nadia sesuai dengan rencananya.
Karina langsung membalikkan badan dan pergi dari tempat itu. Diikuti dengan Bi Eni. Sedangkan Nadia, ia hampir tidak mempercayai apa yang didengarnya keluar dari mulut putra kebanggaannya. Ia baru sadar setelah bi Eni mencoleknya dan mengatakan bahwa ia akan menjaga Karina.
Nadia segera menghampiri Bisma. Mengangkat tangannya dan dengan keras menampar wajah putranya itu bahkan sebelum Bisma menyadari jika Nadia ada di sini dan mendengar semuanya.
__ADS_1
"Mama?!" Pekik Bisma kaget saat melihat wajah marah Nadia.
"Apa? Tidak menyangka mama akan di sini dan mendengarkanmu mengucapkan hal seperti itu hah?!" Geram Nadia menatap Bisma dengan tajam.
"Mama, ini tidak seperti yang mama kira." Bisma berdiri dan memegang tangan Nadia. Tetapi Nadia langsung menghempaskan tangan itu.
"Diam kamu! Mama benar-benar kecewa padamu." Nadia memandang Alex sebelum ia bergegas pergi dengan diikuti Bisma. Alex akhirnya juga mengikuti mereka berdua.
"Mama tidak mau mendengar apa-apa lagi. Tidak ada alasan apapun yang membenarkan mu mengucapkan kalimat itu Bisma. Sebagai ibu aku merasa gagal mendidikmu menjadi suami yang bertanggung jawab. Aku tidak punya muka lagi untuk menghadapi bapak dan Dian sekarang."
"Mama dengarkan Bisma dulu ma." Bisma memegang lengan Nadia yang terus dihempaskan.
"Bukan mama yang berhak memberimu maaf. Tapi istrimu. Kamu sudah menyakitinya dengan parah kali ini." Bisma akhirnya menyadari bahwa mamanya membawa kantong belanja dengan tulisan salah satu toko perlengkapan bayi. Ia baru ingat pagi tadi bahwa Karina meminta izin untuk pergi bersama Nadia. Jadi, Karina juga mendengar apa yang diucapkannya tadi? Ya Tuhan! Ini buruk. Benar-benar buruk.
"Mama harus percaya padaku ma. Mama bisa tanya pada Alex yang sebenarnya terjadi." Bisma melirik Alex meminta bantuan.
"Eh eh.. kenapa jadi melibatkan aku?" Alex terkejut saat melihat tatapan Nadia juga mengarah padanya dengan tajam. Ia tidak menyangka jika ibu mertuanya yang selalu tampak anggun dan lemah lembut memiliki sisi yang sangat menakutkan saat sedang marah besar.
"Meskipum aku tahu kamu terpaksa, tetapi aku juga tidak bisa membenarkan perbuatanmu Bisma, benar kata mama, apapun alasannya kita sebagai suami tidak boleh berkata seperti itu mengenai istri kita. Apalagi di depan orang lain." Ucap Alex sejujurnya. Ia juga meyayangkan tindakan Bisma.
"Kamu dengarkan ucapan Alex!" Ucap Nadia sebelum ia masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya dengan keras.
"Apa yang aku lakukan salah Lex?" Bisma menoleh pada Alex yang berdiri dengan canggung di sampingnya.
"Manurutku memang salah Bis. Apa kamu sangat takut pada Fian sampai harus berkata seperti itu tanpa memikirkan konsekuensinya? Kamu besar dibawah didikan papa Nathan. Apa kamu tidak belajar bagaimana caranya memperlakukan mama? Selama aku mengenal papa Nathan, di keluarga Mahardika posisi perempuan adalah yang paling tinggi. Keluarga Mahardika akan memperlakukan wanita di keluarganya seperti seorang ratu yang dijaga dna dicintai. Kekuatan Mahardika juga tidak kecil. Apalagi dengan semua orang di sekitarmu, semua ya cukup untuk melawan Fian kamu tahu? Fian juga tidak akan berani berbuat macam-macam." Jelas Alex.
"Tapi dia selalu nekat. Aku takut dia akan melakukan sesuatu yang buruk pada Karina seperti yang dilakukannya pada gadis-gadis itu."
"Itu karena mereka bukan anggota keluarga Mahardika. Karina adalah menantu Mahardika, Fian tidak akan berani menyentuhnya." Ucapan Alex menyadarkan Bisma bahwa yang ia lakukan salah besar.
__ADS_1
"Tunggu apa lagi? Cepat pulang dan jelaskan pada Karina. Jangan sampai kamu menyesal." Lanjut Alex saat melihat Bisma hanya diam.
"Baiklah. Aku akan segera menyusul Karina." Bisma segera berlari dan masuk ke dalam mobilnya. Di bagian lain, Fian tersenyum penuh kemenangan.
Ia memang tidak berani melakukan sesuatu secara langsung pada Karina seperti yang dikatakan Alex. Tetapi nasib baik berpihak padanya. Ia tidak sengaja melihat wanita yang ia kenali sebagai mama Bisma berjalan masuk ke dalam kafe. Bersama wanita muda yang tengah hamil yang ia perkirakan adalah istri Bisma dan wanita lainnya yang sepertinya pembantu. Jadi ia sengaja menanyakan hal itu.
Posisi duduk Bisma dan Alex membelakangi pintu masuk, hanya dia lah yang bisa melihat ketiga wanita itu masuk ke dalam kafe dan mendekat ke arah mereka. Awalnya ia hanya bertaruh apa Bisma akan mengatakan sesuatu sesuai yang ia perkirakan. Tidak tahunya Bisma benar-benar mengatakan hal itu. Tepat saat Nadia dan Karina ada di belakangnya.
"Aku memang tidak bisa menyakitinya. Tapi ini bahkan lebih baik dari sekedar menyakiti." Fian menepuk kedua tangannya dengan bangga sebelum ia juga pergi.
Bisma melajukan mobilnya dengan kencang. Tujuannya hanya untuk segera sampai di apartemennya dan menjelaskan semuanya pada Karina. Namun siapa yang tahu jika di tengah jalan, Vera meneleponnya bahwa Jihan demam dan mencarinya. Gadis itu tidak mau makan dan minum obatnya sebelum ia bertemu dengan Bisma. Mendengar itu Bisma menjadi tidak tega dan membelokkan mobilnya ke arah rumah sakit tempat Jihan dirawat. Ia berpikir akan pulang setelah dari rumah sakit.
Begitu sampai di rumah sakit, Bisma langsung berlari ke ke ruangan tempat Jihan dirawat.
"Ah maaf." Ucap Bisma saat ia tidak sengaja menabrak seseorang. Karena tergesa-gesa, Bisma tidak menyadari bahwa wanita yang ia tabrak hingga hampir jatuh adalah Bi Eni yang baru selesai menebus obat untuk Karina.
Dalam perjalanan kembali ke apartemen, Karina tiba-tiba merasa perutnya kram. Jadi ia meminta bi Eni untuk mengantarnya ke rumah sakit terdekat yang juga merupakan rumak sakit tempat Jihan dirawat. Setelah diperiksa, kondisi Kandungan sedikit terguncang karena syok dan harus dirawat di sana beberapa hari. Tapi Karina menolaknya hingga Dokter hanya meresepkan obat untuknya.
Bi Eni melihat jelas Bisma. Begitu juga dengan Karina. Karina langsung mengajak Bi Eni untuk mengejar Bisma secara sembunyi-sembunyi.
Bisma langsung masuk ke dalam ruang rawat Jihan dan segera membujuk Jihan untuk makan dan minum obat. Bisma melakukannya dengan terampil seperti ia sudah sering melakukan itu.
Karina melihat Bisma di dalam ruangan dengan wanita cantik dan juga anak kecil dari jendela. Air matanya tidak bisa tidak meleleh. Bi Eni segera membantunya untuk pergi dari sana.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 😊
Siapa yang kesel? Akoh juga....