
Bisma, Karina, Nara dan Alex baru saja sampai di bandara Soekarno Hatta untuk terbang ke lombok. Setelah satu minggu berlalu, mereka baru bisa berangkat berlibur. Alex dan Bisma memiliki posisi penti g di perusahaan yang tentu saja juga memiliki tugas yang berat. Kedua pria hebat itu baru bisa meninggalkan kantor dengan tenang untuk liburan setelah semua pekerjaan yang penting mereka selesaikan.
Sebelum berangkat, sehari sebelumnya Karina dan Nara pergi untuk memeriksakan kondisi kandungan mereka terlebih dahulu. Baru setelah semua dinyatakan aman, mereka bisa pergi tanpa rasa khawatir.
Koper bawaan mereka di bawakan oleh sopir masing-masing. Sopir itu juga yang bertugas untuk pengecekan. Sedangkan Bisma dan Alex sibuk memperhatikan istri mereka.
"Kamu kenapa Karina? Kenapa wajahmu pucat?" Tanya Bisma saat menyadari ada yang salah dengan istrinya. Wajah Karina memang agak mucat dibanding saat berangkat tadi.
Mendengar pertanyaan Bisma, Nara dan Alex juga memperhatikan Karina. Dan memang benar bahwa Karina saat ini pucat. Nara menjadi ikut panik.
"Ada apa Kar?" Nara menghampiri Karina. Menyentuh lengan sahabatnya itu. Lalu meletakkan punggung tangannya di kening Karina memastikan bahwa Karina tidak sedang sakit.
"Kamu tidak sedang sakit kan?" Tanya Nara khawatir.
"Kita tidak usah ikut saja ya. Kita kembali pulang." Bisma memegang pundak Karina. Bertanya dengan khawatir.
"Tidak tidak. Kita tetap pergi. Aku tidak apa-apa." Karina dengan cepat melambaikan tangannya. Ia sudah menunggu liburan ini sela seminggu terakhir.
"Tapi kamu sakit Karina. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang berbahaya nanti?" Bisma semakin cemas.
"Aku tidak apa-apa."
"Lalu kamu kenapa?"
"Aku...aku...aku..."
"Kamu kenapa?"
"Aku...takut." ucap Karina pada akhirnya sambil menundukkan kepalanya. Ketiga orang lainnya menjadi semakin bingung. Apa yang membuat Karina takut?
Karina kira mereka akan pergi ke Lombok dengan naik mobil lalu menyeberang dengan kapal. Seperti saat dia datang ke tempat ini. Bedanya dulu ia naik bus.
"Takut apa?"
"Aku takut naik pesawat." Karina mengangkat wajahnya. Menatap Bisma dengan malu. "Bisakah kita naik mobil saja ke sana?" Tanyanya penuh harap. Nara dan Alex saling berpandangan heran.
"Kamu baru pertama kalinya naik pesawat?" Karina mengangguk.
"Apa itu karena kamu takut ketinggian?" Tanya Bisma lagi. Kali ini Karina menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Jadi kamu takut karena belum pernah?" Karina mengangguk lagi.
"Baiklah kalau begitu tidak masalah. Kalau kamu takut nanti, aku akan memegangmu dengan erat. Seperti saat di kolam renang saat itu. Kamu percaya padaku kan?" Karina mengangguk.
__ADS_1
Belum sempat Karina berbicara suara panggilan untuk mereka terdengar. Jadi Bisma dengan cepat meyakinkan Karina bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Di sinilah mereka sekarang, mereka sudah duduk di kursi mereka masing-masing. Karina duduk sangat dekat dengan Bisma. Jika tidak ada pegangan kursi yang menghalangi, Karina sudah pasti menempel pada Bisma. Tangan Karina terasa dingin karena gugup. Bisma tak hentinya mengatakan jika semua akan baik-baik saja.
"Melihat ini aku jadi lupa bagaimana wajah beranimu saat menyelamatkanku saat itu Kar." Ucap Nara yang duduk di sebelah mereka. Wajah Karina jelas-jelas menunjukkan jika ia benar'benar sedang ketakutan.
Karina tidak membalas ucapan Nara. Apa yang bisa ia katakan? Ia takut. Dan ini bukan keinginannya. Bisma melirik adiknya dengan galak. Tatapan Bisma seperti berkata 'Jangan bicara jika tidak ingin aku hajar.' Sedangakan Nara bukannya talut malah tertawa renyah melihat kakaknya yang dingin ini menjadi begitu perhatian pada istrinya. Bukankah setiap laki-laki memang seperti itu?
Bisma mengajak bicara Karina untuk mengalihkan perhatian istrinya. Ia menanyakan tempat apa yang ingin dikunjungi Karina nantinya. Bahkan sampai menanyakan dimana ia akan bertemu dengan temannya nanti. Kali ini Bisma lebih banyak bicara dari biasanya. Namun yang dilakukan Bisma berhasil. Dengan susah payah Karina sudah merasa rilex kembali.
Namun ketenangannya berlangsung singkat. Saat suara pilot yang memberitahu bahwa pesawat akan segera mengudara Karina kembali merasa tegang.
"Tidak apa-apa. Peganglah tanganku. Dan tutup matamu. Setelah naik nanti kamu akan menyukainya, hm?" Ujar Bisma. Karina mengangguk dan melakukan apa yang diminta Bisma.
Pegangan tangan Karina pada Bisma semakin erat saat pesawat menukik naik. Karina juga menutup matanya semakin erat.
"Sudah naik. Kamu bukalah matamu dan lihatlah apa yang ada di luar sana." Bisik Bisma tepat di telinga Karina yag sontak membuat Karina menoleh dan tak sengaja bibirnya menyenggol pipi Bisma.
Karin reflek menutup bibirnya dengan tangannya. "Maafkan aku. Aku tidak sengaja." Ucapnya tidak begitu jelas karena tertutup tangan.
"Tidak apa-apa. Sekarang lihatlah keluar jendela." Bisma mengulangi perintahnya. Menggeser tubuhnya agar Karina dapat dengan mudah melihat sesuatu di balik jendela pesawat yang ada di sebelahnya.
Karina menuruti Bisma dan melihat ke luar jendela. Dalam sesaat Karina terpaku pada pemandangan yang ia lihat. Awan-awan putih terlihat sangat indah.
"Itu hanya gumpalan awan. Mana bisa disentuh?"
"Sayang sekali. Padalah jika dapat disentuh pasti akan sangat menyenangkan." Gumam Karina yang masih didengar Bisma.
Bisma menggeleng mendengar ucapan Karina. "Apa ada yang membuatmu tidak nyaman sekarang?" Tanyanya saat melihat Karina yang sudah terlihat biasa lagi.
"Tidak. Aku sudah tidak apa-apa. Terima kasih ya."
"Untuk?"
"Untuk membuatku merasakan rasanya naik pesawat. Untuk mengajariku berenang juga." Kata Karina tulus.
"Aku sudah melakukan banyak hal baik untukmu. Apakah cukup hanya dengan ucapan terima kasih?" Bisma menautkan alisnya. Bertanya serius pada istrinya.
"Lalu apa yang kamu inginkan dariku?"
"Berikan tindakan. Tunjukkan jika kamu berterima kasih dengan tulus." Bisma tertawa dalam hatinya. Istrinya ini benar-benar mudah untuk dikelabuhi.
"Bagaimana caranya?" Tanya Karina bingung.
__ADS_1
"Entahlah. Aku juga tidak tahu."
"Lalu?"
"Kamu bisa bertanya pada Nara nanti bagaimana caranya seorang istri berterima kasih dengan tulus pada suaminya."
"Baiklah. Nanti akan aku tanyakan begitu kita turun."
Kinara kembali memegang tangan Bisma saat pesawat mengalami goncangan. Karina yang merasa takut hingga ia hampir mengeluarkan air matanya. Bisma segera memeluknya.
"Tidak apa-apa Karina. Hal ini biasa terjadi." Ucap Bisma.
"Bagaimana jika Pesawat ini jatuh nanti?" tanya Karina khawatir.
"Tidak akan. Jika pesawat ini jatuh pun kamu tenang saja. Aku yang akan menangkapmu."
Ucapannya membuatnya mendapatkan cubitan maut dari Karina di perutnya.
"Sakit Karina." Ucap Bisma sambil mengelus perutnya yang ngilu.
"Sukurin. Aku sedang katakutan bukannya dihibur malah digombalin." sungut Karina.
"Baiklah baiklah. Aku tidak akan melakukannya lagi." sebenarnya Bisma melakukannya agar membuat Karina tidak lagi mengingat jika pesawat mereka sedang bergerak.
Karina lagi-lagi memegang tangan Bisma dengan erat saat pesawat menukik turun. Wanita itu berkata jika ia takut jatuh. Bagaiamana jika ia jatuh dari kursi nanti?
Namun semua tidak berjalan lancar. Karina turun sari pesawat dengan dibantu Bisma. Baru saja mereka meluar dari bandara, Karina melepaskan diri dari Bisma dan menghampiri Nara. Bertanya serius lada teman sekaligu adik iparnya itu. Memohon izin pada Alex untuk memberinya waktu padanya berbicara pada Nara sebentar.
Alex hanya bisa pasrah saat istrinya ditarik menjauh darinya. Ia pun menatap Bisma bertanya apa yang terjadi. Namun Bisma hanya mengangkat bahunya memberi tanda bahwa ia juga tidak tahu. Akhirnya Alex hanya bisa memperhatikan istrinya dari jauh.
"Nara, Bagaimana cara berterima kssih dengan tindakan seorang istri pada suaminya?"
Nara berkedip beberapa kali mendengar pertanyaan karina padanya.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa sentuh tanda likenya ya...
__ADS_1