
Nathan merebahkan dirinya dengan hati-hati. Tetapi, gerakannya yang sudah sangat pelan nyatanya masih dapat dirasakan Nadia yang baru saja bisa tidur setelah ia menemani Karina di kamar menantunya itu sampai Karina dapat tidur.
"Sudah pulang mas?" Suara serak Nadia yang baru saja bangun membuat Nathan menoleh padanya.
"Maaf sayang, Aku tidak bermaksud membangunkanmu." Nathan mengulurkan tangannya dan membelai pipi Nadia dengan lembut.
"Tidak apa-apa mas. Bagaimana tadi? Apa Bisma sudah bisa pulang?"
Nathan menghela napas dan menggelengkan kepalanya. "Belum. Untuk malam ini Bisma terpaksa harus tidur di kantor polisi dulu. Kasus ini menyangkut masyarakat luas. Jadi polisi juga harus berhati-hati. Salah-salah Bisma malah terkena masalah." Nadia menganggukkan kepalanya. "Bagaimana dengan Karina?" Tanya Nathan.
"Tidak baik. Seharian ini Karina hanya menangis saja. Dia bahkan tidak mau makan sama sekali. Aku jadi khawatir."
"Suaminya terkena masalah. Bagaimana mungkin dia bisa tenang." Ucap Nathan paham.
"Mas sudah makan?"
"Sudah. Tadi aku makan dengan Alex dan Gerry sebelum aku pulang."
"Gerry masih di sana?"
"Tidak. Dia pergi ke pabrik untuk penyelidikan. Dia yang membantu Bisma. Jadi dia pasti tahu betul apa yang terjadi di pabrik."
"Berarti Bisma sendirian?"
"Tidak. Alex menemaninya di sana. Dia juga membawa pengacaranya untuk membantu."
"Kita beruntung memiliki anak-anak yang berbakti. Satu dalam kesusahan yang lainnya membantu." Ucap Nadia lega.
"Ya. Sekarang biarkan anak-anak yang bekerja. Kita sudah tua. Waktunya istirahat dan mendoakan mereka. Ayo tidur." Nathan meraih kepala Nadia dan menenggelamkan nya dalam pelukannya. Keduanya tidur dengan tenang.
Setelah mengantarkan Nathan pulang, Gerry langsung pergi ke pabrik. Sebelumnya ia meminta Andi untuk menemuinya di sana. Saat ini hanya Andi yang bisa ia percayai. Ia curiga bahwa ada orang dalam yang menjadi mata-mata dari pihak lawan.
Namun saat keduanya tiba di lokasi pabrik, polisi sudah memasang garis polisi dan ada beberapa polisi berjaga di depan gerbang. Dua orang satpam yang berjaga segera menghampiri mobil Gerry yang baru saja berhenti di depan gerbang.
"Apa yang terjadi?" Gerry segera keluar dari dalam mobil. Andi juga keluar dari mobilnya.
"Tuan, sore tadi setelah tuan Alex keluar, polisi datang dan memasang garis polisi. Melarang semua orang masuk." Jawab salah satu satpam yang melapor.
"Biarkan aku coba untuk membiarkan kita masuk." Andi segera maju dan berjalan menghampiri polisi yang berjaga. Gerry menghampirinya setelah seberapa saat dan Andi masih belum selesai.
"Bagaimana?" Andi berbalik dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak boleh. Semua barang bukti ada di dalam dan belum diperiksa. Kita tidak bisa masuk." Jawab Andi.
"Jadi bagaimana?" Tanya Gerry frustasi.
"Kita minta tolong tuan Bima. Tuan Bisma ahli strategi. Dia pasti bisa membantu kita menyelinap. Pabrik ini tuan Bima lah yang mengatur sistem keamanan di sini."
"Baiklah. Tapi sekarang sudah malam."
__ADS_1
"Aku rasa tuan Bima juga belum tidur. Ada kasus besar seperti ini. Bagaimana dia bisa tenang?"
"Benar juga. Baiklah. Cari tahu keberadaannya. Kita kesana sekarang."
"Baik." Andi mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Bima. Setelah mengetahui posisi Bima, Andi dan Gerry pergi ke sana.
Karina bangun di tengah malam mendengar suara ponselnya. Ia melihat ada telepon dari nomor asing. Bisma menghubungkannya menggunakan ponsel milik pengacara untuk menghubungi Karina. Dia baru saja selesai diinterogasi.
"Halo, siapa ini?" Suara Karina serak. Dia menangis sampai tertidur tadi.
"Sayang ini aku." Suara Bisma terdengar bergetar. Karina yang awalnya menutup matanya segera membelalakkan matanya.
"Mas. Mas Bisma ini benar-benar kamu?" Karina dengan menghapus air matanya yang tiba-tiba menetas.
"Iya sayang. Bagaimana kabarmu?" Tanya Bisma dengan suara rendah. Sejak pagi yang ia khawatirkan bukannya keselamatan dirinya atau perkembangan kasus yag menjeratnya. Tetapi dia lebih mengkhawatirkan keadaan Karina. Ia takut Karina akan terpukul atas insiden ini.
"Seharusnya yang bertanya itu aku mas. Bagaimana kabarmu sekarang?"
"Tentu saja aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir."
"Bagaimana aku tidak khawatir mas. Polisi datang pagi-pagi tadi dan membawamu pergi. Aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hiks hiks."
"Eh eh jangan menangis. Sayang kamu harus tenang sekarang oke?"
"Tidak bisa mas. Aku takut." Ucap Karina dengan kesusahan. Ia sudah tidak dapat menahan air matanya.
"Dengarkan aku baik-baik ya. Aku tidak melakukan sesuatu yang salah. Jadi tidak akan terjadi apa-apa padaku. Kamu percaya kan pada suamimu ini?"
"Polisi mungkin tidak akan dengan mudah percaya padaku. Tapi mereka juga tidak mudah dibohongi. Mereka akan mengungkap fakta dibalik kejadian ini. Jadi kamu tenang saja. Jika polisi dapat menemukan bukti yang menunjukkan aku tidak bersalah, aku akan segera bebas."
"Tapi cepatlah pulang mas. Aku takut sendirian." Karina mengangguk meskipun Bisma tidak mungkin melihatnya.
"Iya. Aku janji. Bagaimana dengan baby kita? Dia tidak menyusahkanmu kan?"
"Tidak. Tapi tadi sempat kram. Tetapi tidak apa-apa sekarang."
"Maafkan aku ya tidak bisa menemanimu saat itu."
"Aku mengerti mas."
"Kamu harus jaga kondisimu. Ingatlah di dalam perutmu d sekarang ini ada baby kecil kita yang sedang tumbuh. Jangan sampai dia memiliki keluhan pada kita nanti. Kamu harus makan tepat waktu. Istirahat yang cukup. Ya sayang?"
"Bagaimana aku.bisa makan jika kamu dalam masalah mas?" Karina mendesah pasrah.
"Tidak boleh seperti itu sayang. Apapun yang terjadi, jangan biarkan baby kita mendapatkan masalah. Kamu harus percaya bahwa semua ini akan segera berlalu."
"Iya mas. Maafkan aku. Aku terpaku takut. Aku jadi membahayakan baby kita."
"Bagus. Sekarang sudah malam. Cepatlah tidur."
__ADS_1
"Mas juga."
"Iya. Ingat pesankan tadi."
"Iya."
"Baiklah. Aku tutur dulu ya. Selamat malam."
"Malam." Sambungan terputus. Bisma menghela napas lega saat ia menyerahkan ponsel pada pemiliknya.
"Terima kasih Ka." Ucapnya. Pengacara kepercayaan perusahaannya adalah Arka Angkasa yang merupakan temannya dan Alex.
"Sama-sama. Aku tidak menyangka kamu akhirnya mencintai seorang gadis." Arka menyipitkan matanya.
"Memang kamu pikir aku akan menyukai apa? Laki-laki? " Jawab Bisma tidak senang. Sejak dulu sepertinya dimuat orang meragukan orientasi seksualnya.
"Siapa tahu? Semua orang di dunia ini tahu bahwa kamu ini adalah anti wanita. Apa kamu tahu?"
"Huh! Aku memang tidak menyukai mereka. Tapi itu bukan salahku. Itu salah mereka yang tidak menarik sama sekali." Cibir Bisma. Berkata dengan nada meremehkan.
"Ha? Baiklah. Aku sungguh-sungguh tidak mengerti penilaianmu. Semua gadis yang mendekatinya selalu mendekati sempurna. Dan kamu bilang mereka tidak ada yang menarik?" Ucap Arka tidak percaya.
"Gadis-gadis itu hanya mengandalkan penampilan mereka untuk terlihat menonjol. Siapa yang tahu apa yang ada di balik punggung mereka?"
"Bukankah semua gadis itu sama? Bagi mereka penampilan adalah segalanya."
"Memang susah berbicara pada seorang pria yang memuja kecantikan."
"Apa, apakah istrimu jelek?" Tanya Arka. Berarti selama ini Bisma tidak menyukai gadis cantik. Pantas saja dari sekian banyak gadis cantik yang mendekatinya selalu berakhir dengan kegagalan. Kali ini Arka benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Bisma.
"Enak saja! Tentu saja istriku cantik." Dengus Bisma kesal. "Kalau dia tidak cantik bagaimana mungkin aku membiarkannya mengandung anakku?" Lanjutnya dengan masih kesal.
"Baik-baik aku percaya. Aku jadi penasaran bagaimana wajah istrimu itu?"
"Dia adalah gadis yang paling cantik yang oernah aku temui."
"Sepertinya tadi ada yang berkata bahwa ia tidak menyukai gadis cantik."
"Sudah-sudah pergilah sana. Aku mau tidur." Bisma menendang Arka dari sofa. Malam ini ia terpaksa harus menginap di kantor polisi. Untung saja para polisi itu mengizinkannya untuk tidur di ruang tunggu karena statusnya saat ini masih diperiksa sebagai saksi. Apalagi ia selalu kooperatif selama pemeriksaan. Jadi polisi memperlakukannya dengan baik.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ~《♡,♡》~
Maafkeun akoh yang sibuk dengan kesibukan di dunia nyata hingga mengabaikan imajinasi di dunia maya. Akoh bisa apa saat ide-ide berlarian di dalam kepala tetapi tidak ada waktu dan tenaga untuk menuliskannya. Maafkan ya☺
__ADS_1
Doakan masalah akoh cepat selesai dengan sebaik-baiknya agar semuanya bisa kembali ke keadaan normal. Terima kasih 😊