
Karina, tolong percayalah pada kak Bisma."
Karina dan Bisma menoleh. Mereka memandang Vera dengan kaget.
Malam tadi, Andi mengunjungi Jihan setelah ia lulang dari kantor. Itu sudah larut malam karena ia harus lembur. Tapi lagi-lagi Bisma tidak databg. Vera ingin bertemu dengan Bisma untuk mengucapkan terima kasih padanya karena telah membantunya dan juga Jihan. Namun telepon darinya tidak diangkat akhir-akhir ini. Bahkan pesan pun sering tidak dibaca. Apalagi dibalas.
Meskipun awalnya kondisi Jihan sudah sangat buruk, saat ini sudah berangsur-angsur membaik. Dan itu semua berkat bantuan dari Bisma. Jadi dia masih harus berterima kasih pada penolongnya itu.
Sejak Karina pergi, Bisma tidak pernah datang je rumah sakit lagi. Hanya Andi yang datang untuk menanyakan perkembangan keadaan Jihan. Vera kemudian mulai curiga jika ada sesuatu yang terjadi setelah Bisma tidak pernah datang. Bahkan ia jarang mengangkat teleponnya. Jadi, Vera akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada Andi.
Awalnya Andi memang tidak mau memberitahunya, tetapi setelah dipaksa, Andi akhirnya bercerita bahwa sebenarnya istri Bisma, yaitu Karina sudah pergi dari rumah karena kesalahpahaman. Lalu Vera menanyakan ciri-ciri istri Bisma.
Saat itu, saat Karina melihat Bisma di ruangan Jihan, Vera melihat seorang wanita yang melihat ke dalam ruangannya dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan. Awalnya Vera berpikir jika itu mungkin kerabat dari salah satu pasien yang sedang mencari kamar kerabatnya, jadi ia mengabaikan meskipun ia melihat air mata yang menetes dari wanita itu. Sudah menjadi pemandangan umum melihat seseorang yang menangis di rumah sakit.
Tetapi setelah mendengar ciri-ciri yang disebutkan itu sesuai dengan wanita yang ia lihat hari itu, Vera jadi berpikir jika itu adalah orang yang sama. Yang artinya, istri Bisma mungkin salah paham padanya.
"Apa anda memiliki potonya?" Tanya Vera. Ia butuh poto untuk memastikan.
"Foto siapa?" Tanya Andi bingung.
"Istri kak Bisma. Saya harus memastikan sesuatu." Jawab Vera. Andi mengangguk paham dan mulai mencari foto Karina.
Andi hanya memiliki foto Karina saat pernikahan itu. Jadi ia menunjukkan foto itu pada Vera.
Vera memperhatikan foto itu dan segera mengangguk. Ia sudah memastikan dugaannya. "Tuan Andi bisakah anda mengantarkan saya menemui kak Bisma sekarang?"
"Ini sepertinya tidak bisa. Tuan saat ini sedang berusaha menemui nyonya dan mengajaknya pulang. Semoga saja tuan bisa segera membawa nyonya pulang. Sejak nyonya pergi pekerjaan di kantor jadi kacau." Keluh Andi.
"Apa? Sudah pergi. Itu artinya tidak bisa ditunda lagi. Tolong antar saya pergi ke sana. Ini penting." Vera memegang lengan Andi dengan serius. Andi yang tidak mengerti menjadi bingung.
"Penting bagaimana? Jangan bilang kalau kamu mau menghalangi tuan bertemu dengan nyonya. Jangan jadi serigala bermata putih." Andi memelototi Vera begitu ia menemukan alasan yang mungkin sesuai saat ini.
__ADS_1
Manusia kadang seperti itu. Ia akan memiliki ambisi suatu saat nanti saat ia memiliki pandangan yang berbeda. Jika mengingat masa lalu Vera, tidak mustahil jika muncul ambisi untuk mendapatkan Bisma karena kebaikannya. Jadi Andi merasa harus menghalangi Vera untuk menjalankan niatnya itu.
"Tidak. Saya bukan orang seperti itu. Saya hanya menganggap kak Bisma seperti seorang kakak. Bahkan sebagai penolong. Saya tidak mungkin memiliki niat tercela seperti itu." Ucap Vera panik.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" Andi menatap tajam Vera. Mencoba menilai kejujuran kata-kata wanita itu.
"Saya menduga jika mungkin istri kak Bisma salah paham terhadap saya dan kak Bisma. Sekitar satu bulan yang lalu, saya melihar istri kak Bisma ada di luar ruangan ini. Dia menangis."
"Apa? Menangis? Lalu kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu tidak mengatakannya?"
"Saya mengira dia kerabat salah satu pasien di sini. Lagi pula saya juga belum pernah melihat wajah istri kak Bisma."
"Huh... aku tidak menyangka semuanya jadi seperti ini." Andi menghela napas. Ini lebih buruk dari yang ia kira. "Sebenarnya nyonya awalnya kami me gira jika nona lergi hanya karena mendengar kalau tuan mengakui pada tuan Fian jika tuan tidak mencintai nyonya. Padahal tuan mengatakan itu karena terpaksa karena dendam masa lalu. Aku tidak menyangka ternyata nyonya juga salah paham tentang masalah ini." Lanjut Andi.
"Ini salah saya. Jika saya tidak melarang Kak Bisma untuk memberitahu siapapun, pasti kak Bisma sudah memberitahu istrinya sejak awal dan tidak akan menimbulkan kesalahpahaman seperti ini." Sesal Vera.
"Jangan menyalahkan dirimu. Kita semua tidak ada yang menyangka hal ini akan terjadi."
"Baiklah kalau begitu aku akan mengantarmu. Tapi bagaimana dengan Jihan?"
"Jihan akan mengerti. Saya akan meminta suster untuk membantu menjaganya."
"Baiklah kalau begitu."
Vera mengangguk sebelum masuk ke dalam ruangan. Membangunkan Jihan yang sedang tidur dan berbicara pada nya. Vera mengatakan pada gadis kecil itu bahwa ia harus pergi untuk mengurus beberapa hal. Jihan adalah anak yang baik dan pengertian, jadi ia segera mengangguk dan setuju.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, mereka akhirnya sampai. Andi belum pernah pergi ke desa itu, jadi ia mengandalkan GPS untuk datang ke sana. Jadi membutuhkan waktu lebih banyak.
Andi juga tidak mengenal keluarga Bisma di desa itu satupun. Jadi ia juga tidak tahu tujuan mereka setelah sampai di desa. Tapi Andi juga bodoh, ia segera bertanya pada warga tempat tinggal orang yang baru datang dari kota. Tentu saja semua orang langsung tahu.
"Kalian mencari bi Eni dan mbak Karina?" Tanya tetangga rumah yang melihat Andi dan Vera di depan rumah itu. Itu adalah seorang ibu-ibu yang sedang menyapu halaman menggunakan sapu lidi. Dia menghentikan aktifitasnya dan bertanya.
__ADS_1
"Iya bu. Mereka ada kan?" Tanya Andi.
"Kalau pagi-pagi seperti ini biasanya mereka sedang berjalan-jalan."
"Jalan-jalannya kemana ya?"
"Ke sana. Tadi saya lihat mereka berjalan ke arah sawah." Ibu-ibu itu menunjuk satu arah.
"Baiklah. Terima kasih ya bu." Andi dan Vera tersenyum penuh terima kasih sebelum mereka kembali masuk ke dalam mobil dan melaju ke arah yang ditunjukkan ibu-ibu itu.
Andi menghentikan mobilnya begitu melihat dua orang yang ia kenali tak jauh di depan mereka. Berdiri di pinggir jalan yang berbatadan langsung dengan swah yang luas adalah orang yang mereka cari. Bisma terlihat memegang tangan Karina sambil berbicara. Dari yang terlihat, jelas Karina tidak ingin mendengar apa yang dikatakan oleh Bisma.
Vera segera turun diikuti Andi di belakangnya. Keduanya samar-sama mendengar dengan samar apa yang coba dikatakan keduanya. Sama seperti yang diperkirakan Karina sebelumnya bahwa Karina tidak mempercayai apa yabg coba dijelaskan oleh Bisma.
Keduanya saling memandang dan setuju untuk menyela percakapan mereka.
"Kamu dengar sendiri kan Karina?" Bisma memandang Karina. Matanya memancarkan harapan yang besar. Karina mencoba mengamati situasi. Memandang Bisma, Andi dan Vera bergantian.
"Karina, kamu begitu beruntung mendapatkan suami seperti Kak Bisma. Dulu, aku mengenal kak Bisma adalah sosok yang sangat dingin. Kami, hem... aku, Nara dan dua temanku lainnya sampai memberinya sebutan balok besi. Kami semua mengaguminya, tapi takut untuk mendekat." Vera menjeda. Ia menarik napas sebelum mulai berbicara lagi.
"Beberapa tahun yang lalu, aku menjauhkan diriku dari semua orang. Aku tidak ingin orang-orang yang aku sayangi melihatku yang terpuruk. Aku ingin kembali di saat aku sudah bahagia. Jadi tidak ada yang akan melihatku menderita. Tapi aku tidak menyangka jika aku akan bertemu dengan kak Bisma. Dan, kak Bisma menemukanku saat aku dalam keadaan yang paling buruk dalam hidupku. Kak Bisma juga membantuku sampai aku bisa melalui segalanya Aku egois. Aku meminta kak Bisma untuk menyembunyikannya dari semua orang. Aku tidak menyangka keinginan egoisku ini akan memperburuk hubungan kalian." Vera menatap Bisma dan Karena penuh penyesalan.
"Tapi percayalah Karina, kak Bisma hanya mencintaimu. Aku bisa melihat saat dia menatapmu. Kak Bisma tidak pernah memperlakukan wanita lain sebaik dia memperlakukanmu. Dia juga tidak pernah memandang wanita lain seperti dia memandangmu. Sedangkan aku, aku menganggap kak Nisma seperti kakakku. Bahkan penolongku." Vera merasa lega setelah mengucapkan segalanya.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😊
__ADS_1