Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_21. Langkah Pertama


__ADS_3

Mohon maaf lama tidak up😊


Apakah ada yang kangen Akoh?


Ada hal yang menjadi penyebab Akoh tidak up lamaaaaaaa


Tidak udah akoh jelaskan di sini ya.... karena di novel yang satunya sudah akoh ceritain detailnya.


Selamat membaca😍


🐰🐰🐰


Pagi harinya Karina merasa tubuhnya sangat hangat. Bukan karena suhu badanya, tetapi karena sesuatunyang besar membungkus tubuhnya dengan erat. Karina perlahan membuka matanya dan mendapati Bisma yang memeluknya dengan erat. Merasakan hembusan napas hangat yang menerpa kepalanya, ia pun mendongak dan mendapati wajah Bisma tepat berada di atasnya.


Deg...


Deg...


Karina memegang dadanya. Merasakan detak jantungnya yang terdengar sangat kencang. Namun ia juga mendengar detak jantung lain di telinganya. Tanpa sadar ia mendekatkan lagi kepalanya dan menempelkan telinganya di dada Bisma seperti saat ia bangun tadi.


Mendengar detak jantung Bisma yang teratur entah mengapa membuat Karina merasa sangat tenang. Karina rasa detak jantung Bisma sangat indah. Berbeds dengan miliknya sendiri yang sepertinya terdengar tak beraturan. Tanpa sadar Karina semakin menikmati dan menenggelamkan kepalanya di dada Bisma. Mencari kenyamanan selama ia mendengarkan lagu indah detak jantung Bisma.


Gerakannya yang terus menggesek membuat si empunya dada merasa terganggu. Kali ini Bisma tidak melipakan bahwa ia memeluk Karina semalaman. Bukan seperrti saat terakhir ketika ia mengira Karina adalah bantal guling.


Bisma mulai menggerakkan tangannya. Menarik pinggang Karina untuk merapat padanya. Ia tidak tahu jika istrinya itu sudah bangun. Jadi ia berniat membuat Karina tidur lebih nyenyak dengan memeluknya dengan erat.


Karina sudah menutup matanya sejak tadi. Ia berpura-pura tidur. Ia tidak mau ketahuan jika ia sudah bangun dan dengan sengaja memeluk Bisma. Ia pasti sangat malu jika sampai Bisma tahu.


Keduanya sama-sama bangun. Tapi sama-sama diam. Bisma yang tidak ingin mengganggu Karina. Dan Karina yang tidak ingin ketahuan mengambil kesempatan.


Keadaan ini berlangsung selama lima belas menit.


Mereka tahu bi Eni sudah datang. Suaranya sedang berperang dengan peralatan dapur terdengar sampai ke dalam kamar. Merasa suara-suara berisik itu kemungkinan akan mengganggu tidur Karina, Bisma pun memutuskan untuk memasang peredam suara di kamar mereka.


Bisma mengelus kepala Karina sebelum mendaratkan bibirnya di sana beberapa kali. Ia merasa aroma rambut Karina sangat harum. Ia pun mengulanginya beberapa kali sebelum tersadar bahwa ia bisa saja kebablasan dan menghentikan aksinya.


"Karina bangunlah. Ini sudah pagi." Bisma menarik kepalanya menjauh dari Karina. Mengulurkan tangannya untuk menepuk pelan pipi istrinya.


"Emmm... jam berapa sekarang?" Karina yang sedang berpura-pura tidur tentu saja melengkapi aktingnya dengan menguap sebelum berbicara. Tangan kirinya ia gunakan untuk menutup mulutnya.


"Jam lima. Ayo bangun dan sholat berjamaah." Ucap Bisma sambil mengelus kepala Karina.


"Em."


"Bagaimana? Apa merasa mual?" Tanya Bisma setelah mereka berdua duduk.

__ADS_1


"Tidak!" Karina baru tersadar bahwa ia tidak mual pagi ini. Ia merasa sangat bahagia. "Ini luar biasa. Terima kasih Bisma." Karina tanpa sadar memeluk Bisma.


"Emm...maaf aku tidak sengaja." Karina segera sadar dan melepaskan pelukannya. Ia menjauh. Tapi sebelum ia berhasil Bisma sudah menariknya lagi.


"A...emph." sebelum Karina bisa bertanya 'ada apa?' Bisma sudah membungkam bibirnya.


Kepala Karina seakan terasa kosong saat ia merasakan bibir hangat yang perlahan menempel dan memghisap bibirnya. Tangan Bisma menekan kepala belakang Karina agar ia bisa memperdalam ciumannya.


Mata Karina melotot saat merasa sesuatu menerobos masuk ke dalam mulutnya. Di depan Karina, Bisma memejamkan matanya menikmati keintiman itu.


Karina tidak bereaksi apa-apa. Hanya saja ia merasa di dalam dirinya ada sesuatu yang mendesaknya. Perasaan ini aneh. Tetapi membuatnya nyaman dan bahagia.


Bisma terus mengeksplor di dalam mulut Karina. Mengabesn setiap penghuninya. Ia juga menberikan gigitan-gigitan kecil di bibir bawah Karina.


Karina perlahan menikmati dan ikut membalas ciuman itu. Baru setelah kehabisan oksigen Karina mendorong dada Bisma. Bisma yang merasa mendapat perlawanan menangkap tangan Karina yang memukul dadanya.


"Bis...emp."


"Nap...pas..." Karina berkata dengan susah payah.


Bisma tersadar. Melepaskan bibir Karina yang kini bengkak.


"Maafkan aku Karina." Ucap Bisma saat melihat Karina yang menghirup udara dengan rakus di sampingnya.


"Lain kali aku akan lebih lembut."


"Ini namanya morning kiss Karina. Setiap pasangan melakukannya di pagi hari. Katanya kamu ingin melakukan kebiasaan yang dilakukan suami istri?" Ini juga baru ia ketahui dari Andi kemarin. Ia bertanya pada Andi bagaimana membuat wanita jatuh cinta. Dan sekretarisnya itu berkata untuk memulaimya dari sebuah ciuman.


Karena Bisma dan Karina sudah menikah, jadi morning kiss adalah momen ciuman yang paling sempurna.


"Benarkah?"


"Iya." Bisma menganggukkan kepalanya.


"Baiklah jika ini memang sebuah kebiasaan." Karina mengangguk setuju. "Tapi jika setiap hari aku kehabisan napas aku akan mati." Lanjutnya setelah berpikir sebentar.


"Makanya bernapaslah saat berciuman."


"Aku tidak bisa."


"Aku akan mengajarimu nanti."


"Benarkah?" Tanya Karina antusias.


"Iya. Semakin kamu banyak berlatih, kamu tidak akan kehabisan napas lagi." Bisma diam-diam tersenyum dalam hatinya. Ia tidak menyangka wanita yang lama tinggal di lingkungan yang vulgar bisa sepolos istrinya ini. Bisma benar-benar tidak menyangka Karina akan dengan mudah dapat ia kelabuhi.

__ADS_1


"Baiklah aku mau." Karina mengangguk dengan patuh.


"Baguslah. Sekarang kamu pergilah ke kamar mandi. Wudlu dan kita sholat bersama. Aku akan mandi di luar." Ucap Bisma setelah mengelus kepala Karina.


Setelah Karina masuk ke dalam kamarnya, Bisma menggelengkan kepalanya sambil tersenyum bangga. Ia tidak menyangka ia berhasil melakukan langkah pertamanya untuk menaklukkan Karina.


***


Hari ini suasana hati Bisma sangat baik. Ia bahkan memaafkan salah satu peserta rapat evaluasi mingguan yang terlambat hampir lima belas menit. Jika ini terjadi di hari biasa, peserta yang terlambat itu akan langsung menerima surat peringatan.


Sepanjang berjalannya rapat, ia juga banyak tersenyum. Hal ini bukan membuat peserta rapat yang merupakan kepala dan wakil dari setiap di perusahaan cabang merasa tenang. Justru mereka merasa tertekan.


Anggota rapat merasa senyum Bisma menakutkan.


Karena itulah banyak dari mereka yang merasa canggung saat melakukan presentasi dan melakukan kesalahan karena gugup. Namun Bisma menanggapi kesalahan-kesalahan yang terjadi dengan mengabaikannya saja. Dan hal itu membuat orang yang merasa membuat kesalahan semakin takut.


Rapat selesai satu jam kemudian. Bisma keluar ruang rapat dengan mempertahankan senyum di sudut bibirnya. Andi yang mengikuti di belakangnya adalah satu-satunya orang yang tidak heran melihat itu karena ia sudah menduga apa yang terjadi pada atasannya.


"Tuan, ada tuan Alex yang sedang menunggu di ruangan." Ucap Sera, salah satu staf sekretaris yang membantu pekerjaan Andi.


Bisma memganggukkan kepalanya sebelum membuka pintu dan masuk ke dalam. Andi meminta Sera untuk membuatkan kopi untuk tuannya dan juga Alex.


"Ada apa? Tumben sekali kamu datang kemari." Tanya Bisma tanpa basa basi saat melihat Alex duduk di sofa sambil membaca koran.


"Nara yang memintaku datang." Jawab Alex sambil meletakkan koran yang sudah ia lipat rapi.


"Nara? Ada apa lagi dengannya?"


"Dia ingin mengajak kamu dan istrimu pergi baby moon."


"Tidak bisa. Usia kandungan Karina masih sangat muda. Masih sangat rawan. Aku tidak mau mengambil resiko."


"Tak perlu jauh-jauh. Nara sudah berkonsultasi dengan dokter Kania juga. Dan dokter Kania berkata jika tidak masalah jika Karina menempuh perjalanan dekat." Alex menyatukan tangannya. Berkata dengan serius. "Sekarang Nara sedang menjemput istrimu untuk memeriksakan keadaannya."


"Sepertinya semua sudah kalian rencanakan jauh-jauh hari. Kalian ini bertindak semaunya." Bisma memicingkan matanya. Sedikit kesal dengan adik dan adik iparnya ini.


"Tidak juga. Tapi kamu sendiri tahu bagaimana sikap adikmu itu jika memiliki keinginan." Bisma mengangguk paham dengan penjelasan Alex. Siapa yang lebih mengerti sikap adiknya dibandingkan dirinya?


"Memangnya kemana kita akan pergi nantinya?"


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir 😊


Jangan lupa letakkan jempol pada tempatnya πŸ˜‰


__ADS_2