Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_70. Aksi Ibu-ibu


__ADS_3

Halaman kantor polisi pagi ini sangat ramai. Puluhan ibu-ibu yang berdandan dengan baik sedang mengadakan demo. Mereka adalah tetangga komplek teman arisan Nadia. Pagi ini mereka berkumpul dan berinisiatif untuk membantu Bisma lepas dari kasus yang menjeratnya karena mereka yakin bahwa Bisma pasti dijebak. Entah penjahat mana yang berniat buruk pada putra kebanggaan tetangga mereka yang juga merupakan kebanggaan mereka.


Nadia yang mendengar kabar dari pembantunya yang mendengarnya dari pembantu tetangga bahwa majikan mereka pergi ke kantor polisi untuk demo meminta Bisma dilepaskan sangat terkejut. Ia tidatidak menyangka para tetangganya itu mau membantunya.


Nathan yang juga mendengarnya tersenyum penuh haru.


"Bagaimana mas? Apa baik-baik  saja membiarkan mereka ke sana?" Tanya Nadia khawatir. Ia takut kalau aksi ibu-ibu itu akan membahayakan putranya. Bisa saja ada yang menambah fitnah pada Bisma yang mengatakan bahwa Bisma membayar ibu-ibu itu untuk bertemu untuknya.


"Tidak apa-apa. Mereka datang dengan niat baik. Mereka bukan sekumpulan orang bodoh yag pergi berperang tanpa senjata dan rencana. Apa kamu tidak mengingat the Power of emak-emak? Dimanapun emak-emak berada, mereka akan menang." Jawab Nathan menyesap teh hangatnya.


"Maksud papa sabun yang Bisma bagikan hari itu?" Nadia tampaknya mengerti.


"Tepat. Ada yang aneh kan? Satu pabrik dan satu produksi. Tetapi mereka memiliki banyak perbedaan. Sabun yang Bisma bawa dan bagikan pada para tetangga bahkan dipuji di lingkungan ini. Padahal lingkungan ini adalah lingkungan elit yang sangat sulit untuk mengambil hatinya. Tetapi sabun yang sama yang telah dibagikan pada para karyawan malah memiliki efek yang sangat jauh dari harapan. Bahkan berbahaya. Jadi kalau bukan disabotase, lalu apa?"


"Benar mas. Aku juga memikirkannya sejak kemarin. Tapi aku benar-benar tidak menemukan cara untuk membuktikannya." Ujar Nadia pasrah. Ia merasa sangat tidak berguna karena tidak bisa membantu putranya yang kesusahan. Ia memandang Nathan dan bertanya, "Lalu apa yang mereka bisa lakukan untuk membuktikan Bisma tidak bersalah pada?"


"Mana aku tahu? Aku tidak bisa membaca pikiran mereka. Kamu tahu sendiri kadang-kadang pikiran ibu-ibu itu tidak bisa diprediksi?" Nathan memandang Nadia yang tampak penasaran.


"Mengapa mereka tidak mengajakku ya mas?" Nadia tidak habis pikir. Teman-temannya melakukan hal untuk putranya. Tetapi ia sendiri tidak dilibatkan dalam hal ini. Ia sungguh tidak habis pikir.


"Kamu harus ingat bahwa kamu memiliki tanggung jawab lain."


"Tanggung jawab lain? Apa itu?"


"Karina. Menantumu itu. Bagaimana kamu bisa melupakan tanggung jawabmu pada menantumu? Dibandingkan mengurusi Bisma, tanggung jawab terbesarmu saat ini adalah mengurus Karina. Jangan biarkan menantu dan calon cucumu mendapat kesulitan karena hal ini.


"Uh! Papa benar. Aku sampai lupa. Karina masih sedih pagi ini. Ia hanya memakan saranpanya sedikit sekali. Apa yang harus aku lakukan mas?" Tanya Nadia. Ia benar-benar berharap Nathan bisa memberinya saran yang bagus. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi Karina. Apalagi usia kehamilan yang sudah hampir mencapai sembilan bulan.


"Sebagai ibu mertua, apa kamu tidak tahu apa yang bisa membuat Karina bahagia saat ini?"

__ADS_1


"Tentu saja aku tahu mas! Yang paling diinginkan Karina saat ini adalah melihat Bisma bebas. Tapi aku mana bisa melakukan itu begitu saja?" Dengus Nadia kesal. Pagi ini Nathan seperti mai tebak-tebakan dengannya.  Mengatakan semuanya dengan cara yang penuh misteri hingga ia harus mencoba yang terbaik untuk menebaknya. Sekarang ia sudah kesal. Kesabarannya ada batasnya.


"Cukup mas! Hentikan basa basinya. Sekarang katakan padaku apa yang harus aku lakukan?" Mendengar Nadia berteriak dengan kesal Nathan tertawa terbahak-bahak. Menggoda istrinya ini masih sangat menyenangkan seperti di masa lalu.


"Teman-temanmu itu kan kebanyakan sosialita. Mereka pasti memiliki akun instagram kan? Dan para sosialita iuran pasti tidak akan melewatkan situasi yang bisa mereka jadikan konten. Aksi mereka pasti akan mereka upload secara live. Kenapa kamu tidak mengajaknya menonton aksi mereka saja?"


"Ah benar! Kenapa aku tidak kepikiran ya mas?" Nadia memukul keningnya.


"Itu karena kamu terlalu memikirkan banyak hal." Nathan menarik Nadia yang sejak tadi berdiri untuk duduk di sampingnya. "Duduklah dulu dan berikan ponselmu." Lanjut Nathan sambil mengelus kepala Nadia. Membuat Nadia tertipu malu ketika memberikan ponsel miliknya pada Nathan.


Nathan mengambil ponsel itu dan membukanya. Lalu membuka aplikasi instagram dan mencari akun salah satu teman Nadia yang paling aktif di sosmed tersebut. Itu adalah bu Niken. Benar apa yang dikatakan Nathan sebelumnya bahwa aksi mereka akan disiarkan secara langsung. Saat ini bu Niken baru saja mengupload perjalanan mereka menuju kantor polisi tempat Bisma diinterogasi.


"Ini. Lima menit lagi mereka akan tiba di kantor  polisi. Jadi sekitar sepuluh menit dari sekarang aksi teman-temanmu yang baik itu akan dapat kita lihat. Sebaiknya kamu mencari Karina untuk ikut melihatnya juga." Nathan menyerahkan kembali ponsel itu pada Nadia.


"Baiklah. Terima kasih mas." Ucap Nadia senang. Ia tidak tahu apa yang bisa ia lakukan jika Nathan tidak bersamanya.


"Papa ini. Kita sudah tua. Apa harus mesra-mesraan?" Nadia malu-malu memukul lengan Nathan.


"Untuk bertindak Mesra itu tidak ada batasan umur. Apalagi dengan pasangan sendiri. Kalau dengan pasangan orang lain itu baru dilarang. Ayo." Nathan mencondongkan  wajahnya. Mengetuk pipi kanannya dengan jari telunjuknya.


Cup...


"Yang kiri ngiri sayang." Nathan mengganti posisi kepalanya.


"Ish mas! Jangan ganjen." Ucap Nadia kesal tetapi tetap memberikan satu kecupan di pipi kiri Nathan.


"Terima kasih sayang." Nathan meraih kepala Nadia dia memberikan ciuman di keningnya. "Sudah. Sana cari menantumu." Nathan tersenyum puas.


Karina sedang duduk di balkon saat Nadia mengetuk pintu kamarnya. Di balkon udaranya sangat sejuk. Angin berhembus sedikit lebih kencang dari biasanya. Menyebarkan aroma harum bunga-bunga yang sedang mekar di taman yang dirawat Nadia. Suara kicauan burung juga terdengar dari burung-burung yang dipelihara Nathan satu tahun terakhir ini. Jadi suasana sangat sesuai untuk menangkan diri bagi Karina ya gak terus menerus dilanda rasa cemas saat memikirkan Bisma.

__ADS_1


"Iya ma. Sebentar." Ucap Karina sambil berdiri dan berjalan untuk membukakan pintu untuk mertuanya itu.


"Sedang apa sayang?" Tanya Nadia aku setelah melihat Karina.


"Tidak sedang apa-apa. Hanya duduk-duduk di balkon saja. Ada apa ma?"


"Ada yang ingin mama tunjukkan padamu. Boleh mama masuk?"


"Tentu saja Boleh ma." Jawab Karina sambil menggeser tubuhnya untuk mempersilahkan Nadia masuk.


Nadia memandang ranjang dengan sendu. Di atasnya ada foto Bisma. Ia tahu Karina pasti sangat merindukan suaminya. Ia menghela napas dan duduk di sana dan mengambil foto itu.


"Duduklah di sini." Nadia menepuk tempat di sebelahnya. Karina menurut dan duduk di sana. Menundukkan kepalanya saat ia melihat foto Bisma yang ada di tangan Nadia.


"Ada apa mau? Apa ada kabar tentang mas Bisma?" Tanya Karina penasaran.


Nadia menggeleng. "Belum."


"Ooh..." Karina kecewa. Ia mengira Nadia membawakan kabar baik untuknya. Nadia menyuruh gerai bahwa ia telah mengecewakan  Karina, jadi ia segera membuka mesinnya dan memperlihatkan siaran langsung oleh bu Niken.


"Lihatlah ini." Karina menatap layar ponsel itu.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir  ~《♡,♡》~

__ADS_1


__ADS_2