Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_46. Terlambat


__ADS_3

Di rumahnya, Bisma, Bima, Fania dan Tora mencari cara untuk menemukan Karina. Mereka awal ya berpikir jika Karina pasti diculik demi uang tebusan. Tetapi sekarang mereka sudah mencoret kemungkinan iu. Nyatanya, sampai sekarang penculik itu tidak menghubingi Bisma. Alat penyadap yang disiapkan Bima menjadi tidak berguna.


Fania sempat memberitahu kemungkinan Karina diculik oleh pak Herman, kemungkinan besar mereka menuntut balas pada Karina karena telah menyelamatkannya saat itu. Tetapi setelah diselidiki mereka tidak terlibat. Anak dari pak Herman juga sudah menikah dengan gadis lainnya. Mereka sudah mengerti jika Bisma tidak bisa dilawan. Jadi sudah melupakan gagasan untuk menjodohkan Fania dengan anak mereka.


"Bima bagaimana ini?" Tanya Bisma kalut.


"Mobil di daerah sini cukup jarang kan?"


"Ya." Bisma, Tora dan Fania mengangguk bersama.


"Aku punya cara." Bima tiba-tiba memiliki ide briliant. Ia segera membukan sistem di laptop yang sebelumnya disiapkan untuk menyadap.


Jari-jari besar Bima menekan tombol-tombol di atas keyboard dengan lincah. Gerakannya sangat cepat dan tepat. Bima dengan mudah menerobos ke dalam sistem yang ingin dia retas.


Di layar laptop tiba-tiba muncuk gambar koordinasi tempat mereka saat ini. Bima menyadap satelit untuk mengetahui rekaman dari satelit tersebut.


Mata Bisma terpaku saat melihat mobil yang keluar dari kampung saat Bima memutar waktu rekaman saat Karina diculik.


"Ketemu!" Bima menjentikkan jarinya saat titik koordinat ditemukan.


"Kalian berdua tunggu di sini. Beritahu kami jika ada sesuatu yang mencurigakan." Bisma memgintruksikan pada Fania dan Tora yang langsung mengangguk menyetujui.


Bisma dan Bima segera pergi dengan mobil Bisma diikuti anak buah Bima yang datang beberapa saat yang lalu. Ada sepuluh orang yang datang untuk membantu.


Dalam hal seperti ini, Bima lebih berpengalaman. Laki-laki itu mengemudikan mobilnya dengan lihai mengikuti jalur yang sudah dia kunci di ponselnya. Bisma duduk di sampingnya dengan cemas. Jari-jari tangannya mengetuk lututnya.


Mobil yang dikendarai Bima berhenti tak jauh dari lokasi yang digunakan untuk menyekap Karina. Bima segera turun setelah ia memastikan Bisma tidak bertindak impulsif. Sementara anak buah Bima yang ada di mobil satunya sudah turun menuju lokasi untuk memindai keadaan.


Bisma dan Bima baru saja akan maju saat anak buah Bima melaporkan bahwa mereka sudah terlambat. Karina sudah tidak berada di sana. Tapi mereka berhasil membekuk dua orang yang menunggu rekan mereka kembali dengan membawa uang yang banyak.

__ADS_1


"Bagaimana bisa? Ini belum ada tiga jam dan mereka sudah berpindah tempat lagi?" Teriak Bisma dengan marah.


"Tidak ada gunanya untuk marah sebaiknya kita tanyakan pada mereka Karina dibawa kemana." Bima menepuk pundak Bisma. Bisma segera sadar. Bima segera masuk ke dalam bangunan dan menghampiri anak buahnya yang sedang menahan dua pria. Ia segera menarik kerah salah satu pria yang ditangkap anak buah Bima.


"Katakan! Dimana Karina?" Teriak Bisma.


"Kami tidak tahu." Pria yang dicengkeram kerahnya oleh Bisma segera panik.


"Kalian benar-benar setia kawan. Apa kalian pikir rekan kalian akan datang menyelamatkan kalian?" Bisma bertanya lagi. Ia menarik kerahnya semakin kencang.


"Katakan! Kemana mereka pergi?" Bima tidak sabar lagi. Ini baru tiga jam dan mereka sudah membawa Karina berpindah tempat lagi. Tidak tahu akan dibawa kemana Karina jika mereka lebih lama di sini.


Kedua pria itu menggigil melihat ujung pistol yang ditujukan di pelipisnya. Meskipun mereka sudah lama menjadi penjahat, mereka hanya perampok rumahan dan juga bandit jalanan, mereka hanya menggunakan senjata tajam dalam menjalankan aksinya. Jad mereka belum pernah berhadapan dengan yang namanya senjata api.


"Ke bandara. Mereka meminta kami mengantarkan wanita itu ke bandara."Akhirnya dibawah ancaman senjata api itu mereka pun membuka mulut mereka.


"Mereka? Siapa yang menyuruh kalian?" Bisma bertanya dengan marah.


Bisma melayangkan tinjunya mengenai perut pria itu. Ia marah. Mereka bahkan tidak mengenalnya dan terlebih mengenal Karina. Mereka tidak memiliki masalah dengan istrinya. Tetapi mereka benar-benar berani menargetkan istrinya yang sedang mengandung. Mereka benar-benar tidak memiliki hati nurani.


"Sudahlah jangan menghabiskan waktu di sini. Biarkan anak buahku menangani mereka. Sebaiknya kita segera ke bandara sebelum terlambat." Bima menghentikan Bisma yang akan kembali memukul pria yang satunya.


"Awas kalian. Aku tidak akan melepaskan kalian. Tunggu saja!" Bisma mengancam sebelum berbalik pergi meninggalkan rempat itu.


***


Sementara itu, Karina yang sudah diberi pakaian hitam untuk menyamarkan diri dibawa keluar. Satu orang laki-laki berjalan di sampingnya dengan menempelkan pisau di sebelah perut Karina. Mulut pria itu juga tidak berhenti mengancam agar Karina tidak melawan atau mereka akan bertindak kejam.


Jika dalam keadaan normal, Karina bisa saja melawan mereka dan melepaskan diri dengan mudah. Apalagi Karina tidak melihat mereka mengeluarkan senjata api sama sekali. Mereka hanya memiliki pisau yang mereka sembunyikan.

__ADS_1


Tapi sekarang kondisinya lain, di dalam perutnya ada bayi yang sedang tumbuh. Ia saja berusaha untuk bertindak dengan tenang agar tidak sampai menyakiti bayi di perutnya itu. Sedangkan untuk melawan lima orang yang menculiknya ini pasti memerlukan banyaj upaya dan gerakan. Dan ia tahu betul itu berbahaya bagi bayinya. Jadi Karina melewati opsi yang bisa membahayakan bayinya dan hanya bisa menunggu diselamatkan.


"Sebenarnya kalian disuruh siapa untuk menculikku?" Tanya Karina saat ia baru saja dimasukkan ke dalam mobil.


"Tidak perlu terburu-buru. Sebentar lagi kamu akan tahu." Jawab seorang laki-laki yang duduk di kursi penumpang depan.


"Pikirkan sekali lagi, jika kalian melepaskanku, aku akan meminta suamiku memberi kalian uang yang lebih banyak dari orang yang menyuruh kalian." Karina harus bisa meyakinkan mereka sekarang. Jika sampai mereka berhasil menyerahkannya pada bos mereka seperti rencana mereka, semua akan terlambat. Bisma mungkin tidak akan bisa menemukannya.


"Sudah diputuskan itu tidak dibutuhkan." Jawab orang itu santai. Meskipun ia menyukai uang sebanyak apapun, tapi yang ditawarkan Karina ini memiliki banyak resiko.


"Kumohon pada kalian. Lepaskan aku. Hiks hiks hiks." Karina tidak menyerah, jika ia tidak bisa meyakinkan mereka untuk melepaskannya dengan cara ini, ia bisa mencoba untuk menggunakan jurus rahasia setiap perempuan, menangis.


"Apa kalian tidak kasihan padaku. Aku sedang hamil sekarang...hiks hiks hiks." Lanjutnya sambik terus erisak dibalik cadar besarnya.


"Jangan menangis. Jangan buat kain itu basah." Pemimpin kelompok iu frustasi. Namun Karina tidak menghuraukannya dan masih terus menangis. Suaranya bahkan semakin keras. Membuat lima orang pria di mobil itu bingung.


"Bos bagaimana ini?"


"Mana kutahu. Aku hanya bisa merayu wanita. Bukan menenangkan wanita." Jawab bos itu frustasi. Ia kembali meminta Karina untuk diam.


"Kamu buat dia diam!" Bos itu meminta pria yang ada di sebelah Karina bertindak. Kedua orang yang duduk di kiri dan kanan Karina juga tidak mengerti bagaimana cara menghentikan wanita menangis. Keduanya saling memandang.


"Berhenti menangis! Atau kamu mau pisau ini menembus perutmu?" Ancam orang itu. Karina membeku. Ia menghentikan tangisnya seketika. Awalnya ia sudsh senang karena merasa berhasil mengecoh mereka semua. Tapi ia tidak menyangka keadaan akan dapat diatasi dengan cepat.


"Mas tolong istri dan anakmu ini." Gumam Karina dalam hati. Ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang.


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih sudah mampir 😊


__ADS_2