
Hanya ada sedikit waktu yang bisa dimanfaatkan untuk menemani Karina unuk menghadiri acara pernikahan Fania. Andi hanya bisa mengatur tiga hari untuk itu. Mengurus dua perusahaan dalam datu waktu membuat Bisma sedikit kualangan. Tetapi niatnya untuk membangun perusahaannya sendiri adalah impiannya sejak dulu. Satu bulan setelah pernikahannya dengan Karina juga tepat saat peluncuran produk miliknya sendiri yang berupa sabun mandi dan sampo yang diberi nama B-Healt.
Itulah mengapa Bisma baru bisa mengantar Karina satu hari sebelum acara pernikahan sahabatnya itu. Dan satu hari strlahnya mereka juga harus segera pulang. Meskipun sebenarnya waktu tiga hari sangat kurang, tetapi Karina harus mengerti dan memahami suaminya.
Sore hari sebelum acara, Karina meminta Bisma untuk mengantarkannya mengunjungi makam nenenknya dan langsung pergi ke rumah Fania untuk melihat persiapan. Itu alasan yang diberikan Karina pada Bisma, kenyataannya, Karina ingin mengurung Fania dan memintanya untuk membeberkan cerita tentangnya dan Tora yang selama ini tidak diketahuinya.
Kedatangan Bisma dan Karina disambut hangat oleh keluarga Fania dan juga warga kampung yang sedang berkumpul untuk membantu persiapan acara pernikahan. Ya begitulah hidup di kampung, gotong royong dan tolong menolong.
Bisma langsung dikerubungi ibu-ibu yang sudah menjadikan Bisma sebagai contoh menantu teladan. Bisma hanya bisa duduk di tengah ibu-ibu sambil tersenyum canggung saat mereka mulai menghitung sifat baik yang menurutnya sudah dilebih-lebihkan dengan keterlaluan.
"Nak Bisma, apakah ada lowongan pekerjaan di ibu kota?" Tanya seorang ibu-ibu dengan antusias.
"Bu, sebenarnya kerja di desa maupun di kota itu sama saja. Memang benar gaji yang diterima di kota lebih besar. Ttapi pengeluarannya juga besar. Apalagi belum bisa menjamin akan mendapatkan pekerjaan yang bagus di ibu kota. Jadi jika memang harus pergi ke kota untuk bekerja, tidak perlu sampai pergi ke ibu kota, tetapi cukup pergi bekerja di kota sekitar sini saja." Jawab Bisma.
"Katanya nak Bisma ini memiliki perusahaannya sendiri? Apa tidak bisa memberikan beberapa pemuda di sini pekerjaan?" Tanya seorang ibu-ibu yang lain.
"Saya memang bisa memasukkan mereka bu. Tapi saja tidak berani menjamin kehidupan mereka di sana. Tetapi jika ada yang berminat, di perusahaan cabang kami yang ada di Ketapang sepertinya bisa menerima beberapa."
"Benarkah?"
"Iya. Tapi saya tidak bisa menjamin semuanya akan dapat. Karena perusahaan menerima berdasarkan kemampuan."
"Itu juga sudah bagus."
__ADS_1
Bisma kembali harus meladeni ibu-ibu yang masih semangat mewawancarainya. Tapi kebanyakan mereka akan menanyakan kehidupan pribadinya.
Sedangkan di dalam kamar calon pengantin, Karina sama sekali sudah melupakan suaminya yang ia tinggal masuk kamar begitu saja. Ia juga tidak mengtetahui sama sekali kesusahan yang sedang dialami suaminya itu.
Karina saat ini sedang berperan sebagai wartawan yang sedang mendengarkan dengan serius apa yang diucapkan oleh narasumbernya. Beberapa kali Karina juga bertanya dengan antusias dan menanyakan kebenaran dari apa yang diceritakan sahabatnya itu.
"Aku tidak menyangka jika Tora bisa sekonyol itu." Karina berdecak kagum pada sahabatnya yang pantang menyerah itu.
Dari cerita yang dikatakan Fania, pada awalnya Tora selalu menolak perhatian yang diberikan oleh Fania padanya. Pemuda tampan itu juga selalu menghindar jika Fania berusaha mendekatinya. Fania juga sempat hampir putus asa untuk mengejar Tora dan lebih memilih untui kembali merantau ke kota.
Saat itu, Fania sudah berkemas dan akan berangkat. Meskipun sebenarnya ia merasa sayang jika harus kembali ke kota dan meninggalkan kampung serta keluarganya. Apalagi saat Karna ke sana terakhir kali, Karina menyarankan dirinya untuk membuka usaha sendiri. Masakan Fania enak, pasti jika gadis itu menjual makanan matang pasti akan laku.
Baik Fania maupun Karina sudah berpengalaman tinggal di kota, keduanya tahu jika usaha kuliner akan menguntungkan jika pintar mendapatkan koneksi. Fania juga seroang gadis yang gesit, gadis itu nekat membuka warung makanan yang akan dijual baik secara langsung maupun online. Untuk mendukung, Fania juga harus merogoh modal lebih banyak untuk memasang Wifi di warungnya.
Sekarang, usaha Fania sudah berkembang pesat. Konsumen Fania berasal dari kampung sekitar sampai kita terdekat. Untuk jasa pengantaran, Fania meminta bantuan lada teman-teman di kampungnya. Tentu saja dengan upah ongkir yang akan diberikan pada mereka.
Namun takdir masih memihak padanya, tepat saat ia sudah naik mobil yang akan membawanya ke kota, Tora tiba-tiba datang dan menghadangnya.
"Fania jangan pergi." Ucap laki-laki itu dengan napas tersengal-sengal.
"Minggir Tora! Jangan menghalangi jalan." Fania mengeluarkan kepalanya dan menatap laki-laki yang sempat dikejarnya dengan sepenuh hati itu dengan kesal.
"Aku mohon jangan pergi Fania." Ucap Tora dengan tulus.
__ADS_1
"Ini tidak ada hubungannya denganmu." Dengus Fania dengan kesal. Namun di dalam hatinya hanya ia yang tahu bahwa ia bahagia. Dia dapat melihat jika Tora akhirnya memiliki dirinya di hatinya. Namun dia sudah berjuang cukup lama, jadi dia harus memberi pelajaran pada pemuda tampan yang berdiri di depan mobil itu dengan pantas.
"Ada. Ada hubungannya denganku. Karena...karena..." Tora berkata dengan gugup. Wajahnya bahkan sudah memerah akrena malu. Sebagai seorang pemuda desa, ia sudah terbiasa bergaul dengan gadis desa lainnya. Tetapi ia hanya menganggap mereka sebagai teman dan tidak memiliki rasa canggung di dalam hatinya. Kecuali saat ia harus berhadapaan dengan Karina. Itupun Tora tidak pernah berani mengunggapkan perasaannya. Jadi, ini adalah kali pertamanya menembak seorang gadis. Jadi dia gugup adalah hal yang wajar.
"Karena apa?" Tanya Fania menyembunyikan senyumnya di balik tatapa matanya yang tajam.
"Karena... aku mau kamu menikah denganku." Ucap Tora dengan tegas. Dan hal ini ia ucapkan dengan berteriak sangat keras. Bahkan semua orang yang ada di sekitar mereka dapat mendengar dengan jelas. Mereka sudah dari tadi memperhatikan mereka, jadi setiap kata-demi kata yang diucapkan pemuda dan pemudi di desanya itu dapat mereka dengar dan mereka pahami.
"Fania, apakah kamu mau menjadi istriku?" Suara Tora kembali terdegar dan membuat Fania tersadar dari kekagetannya. Tora bukan memintanya menjadi pacar, ttapi menjadi istri. Apa dia sedang bermimpi?
"Aku tahu mungkin sudah terlambat. Tapi aku tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya karena aku tidak mengungkapkan perasaanku pada gadis yang aku cintai. Jadi jika kamu menolakku, aku tidak akan menyesal." Tora menatap Fania yang kemudian turun dan menghampirinya dengan perlahan.
"Apa kamu serius? Bukankah kamu..." Tanya Fania begitu sampai di depan Tora. Namun Tora langsung memotong kalimat yang akan diucapkan Fania padanya.
"Awalnya aku juga tidak menyadarinya. Tetapi saat kamu mulai memberikan perhatianmu, aku mulai menyadari jika sebenarnya aku juga memiliki perasaan padamu. Tetapi aku belum yakin saat itu. Jadi aku berusaha untuk mengelaknya. Tapi saat kemarin seminggu terakhir ini kamu menjauhiku dan kemarin aku mendengar kabar bahwa kamu akan pergi dari kampung ini, aku menyadari jika aku tidak akan bisa hidup tanpamu." Ucap Tora serius. Sedangkan Fania yang ada tepat di depannya mencoba mencerna apa yang dikatakan pemuda tampan di depannya itu.
"Aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Aku akan mengatakan sekali lagi, Fania aku mencintaimu. Aku ingin menikah denganmu. Maukan kamu menjadi istriku?" Tora tiba-tiba berlutut di depan Fania dan tiba-tiba saja membuka kaos hitam yang dipakainya. Semua orang spontan berteriak.
Fania hampir tidak percaya melihat apa yang ada di depannya. Tora dengan bangga memperlihatkan tulisan yang ada di dada terbukanya. Di sana, ada tulisan Tora ❤ Fania dengan warna merah.
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih sudah mampir 😊