Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_79. Karina Sebenarnya Putri Saya


__ADS_3

Karina segera dibawa masuk ke dalam ruang operasi. Bisma yang bersikeras untuk ikut masuk menemani Karina tidak diizinkan masuk. Awalnya Bisma masih ingin berusaha diizinkan masuk, tetapi Nadia membujuknya agar mengikuti saran dokter. Akhirnya Bisma menyerah dan ikut menunggu di luar ruang operasi dengan cemas bersama dengan yang lainnya.


Andra baru saja kembali setelah mendonorkan darahnya. Dia datang bersama dengan satu gadis yang belum pernah mereka lihat. Wajah gadis itu memiliki sedikit kemiripan dengan Karina. Bisma dan yang lainnya kembali memiliki wajah penuh tanya.


"Oh...biarkan saya memperkenalkannya, ini Anita. Anita adalah keponakan jauh saya dari almarhum istri saya. Dan dia juga memiliki golongan darah yang sama. Saya sengaja memintanya datang. Karina harus menjalani operasi besar. Jadi harus disediakan banyak darah untuknya." Abimanyu melihat kebingungan mereka dan menjelaskan. Anita tersenyum dan mengangguk ringan menyapa semua orang.


"Terima kasih atas bantuan tuan Abimanyu dan keluarga. Tapi Kami masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Jika ini sebuah kebetulan, ini adalah kebetulan yang sangat menggembirakan." Nathan menatap Abimanyu yang duduk diam di kursi tunggu. Meskipun wajahnya terlihat tenang, cengkeraman tangannya yang bertumpu di atas lutut jelas menandakan bahwa dia sedang dalam keadaan tegang.


Jika Nathan adalah orang biasa yang belum melihat berbagai jenis orang, Nathan tidak akan dapat melihat bahwa pria itu  sedang khawatir. Melihat ini, Nathan akhirnya sampai pada kesimpulan jika Karina yang ada di daam ruang operasi adalah salah satu dari keluarganya. Tapi bagaimana mungkin?


Abimanyu menoleh dan menatap pada Bisma dan Nathan bergantian. Ia menarik napas dalam-dalam untuk memberanikan dirinya.


"Karina Sebenarnya putri saya yang menghilang beberapa tahun yang lalu."


"Apa?"


"Bagaimana bisa?"


"Ini adalah hasil tes paternity antara Karina dan Andra." Abimanyu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan amplop putih dari sana dan menyerahkannya pada Anita. Lalu oleh Anita diserahkan pada Nathan.


"Tapi bagaimana mungkin? Karina tinggal di Lombok bersama neneknya." Bisma tidak bisa percaya begitu saja.


"Ini kisah lama yang panjang." Abimanyu menatap jauh ke depan. Tapi pandangan matanya menerawang jauh ke belakang.


"Dua puluhan tahun yang lalu, saya dan adik saya sama-sama mencintai gadis yang sama, Maria yang merupakan mama Karina. Tapi Maria memilih saya. Sifat adik saya yang pemarah dan keras kepala membuat Maria tidak menyukainya. Sejak saat itu adik saya marah pada saya. Apalagi saat saya dan gadis itu akhirnya menikah. Dia tidak pernah mau bertemu dengan kami. Dia selalu mengira bahwa saya telah merebut Maria darinya."


Abimanyu menahan napas dalam-dalam sebelum ia melanjutkan ceritanya.


"Akhirnya, dua puluh tahun yang lalu, saat kami sekeluarga berlibur ke Lombok, sebuah skema penculikan direncanakan. Putri kami diculik dan meminta Maria sebagai gantinya. Tetapi, hal yang tidak terduga terjadi, perahu yang menyandera putri kami tenggelam. Kami tidak melihat putri kami sejak hari itu."

__ADS_1


Abimanyu melihat Bisma dengan tatapan sendu nya. "Hingga beberapa bulan lalu saat kamu membawa Karina menghadiri pesta. Aku mengira aku telah melihat istriku saat ia masih muda. Karina benar-benar mirip dengan ibunya."


"Tapi kemungkinan itu segera ditepis karena dari penyelidikan, Michel telah tiada dalam kecelakaan itu."


"Lalu, bagaimana dengan tes ini?  Apa tes ini dapat dipercaya?" Bisma masih belum percaya.


"Sebenarnya ini dilakukan oleh Andra beberapa bulan yang lalu. Namun hasilnya negatif, itu sebabnya Andra berhenti mencari tahu. Tetapi, kami akhirnya mengetahui jika ada orang yang menyabotase hasilnya, dan itu tidak lain adalah adik saya sendiri. Norman, yang juga merupakan orang yang menculik Karina dan mencelakai nya sampai seperti ini. Dan ini, adalah hasil dari tes itu sebenarnya."


Abimanyu kembali menatap Bisma. "Jika kamu masih belum yakin, kita bisa melakukan tes ulang."


"Tidak perlu. Kami percaya." Bisma menggelengkan kepalanya.


Setelah bantuan yang diberikan begitu banyak. Apalagi bantuan itu tidak bisa dianggap kecil, akan dianggap tidak sopan jika tidak percaya dengan apa yang diucapkan. Apalagi melihat ekspresi Abimanyu dan Andra yang memang terlihat cemas.


"Tolong maafkan saya. Bagaimanapun, musibah yang dialami Karina secara tidak langsung disebabkan oleh saya." Abimanyu meminta maaf dengan tulus.


Ia merasa sangat bersalah. Jika dia mengenali Karina sejak awal, Ia tentu bisa ikut menjaga Bisma. Apalagi Ia tahu pergerakan Norman. Berbeda dengan Bisma yang tidak mengetahui siapa musuhnya.


"Tidak. Kamu melakukannya dengan sangat baik. Kamu sudah menjadi suami yang terbaik untuk Karina. Aku seharusnya berterima kasih karena kamu dan keluargamu telah menjaga Karina selama ini. Jika tidak ada kalian, Karina mungkin tidak akan baik-baik saja sekarang setelah Apa yang dilakukan Norman padanya." Abimanyu melihat Nathan sekeluarga dengan rasa terima kasih.


"Bagaimanapun, Karina adalah anggota keluarga kami sekarang. Jadi sudah tanggung jawab kami menjaganya." Nathan mengangguk samar.


"Karina adalah istri saya. Tentu saja itu sudah seharusnya menjaganya tetap aman." Bisma menatap Abimanyu.


"Karina beruntung mendapatkan suami dan keluarga yang menyayanginya."


Setelah itu semua orang diam. Mereka larut dalam pemikiran mereka sendiri sampai pintu ruang operasi terbuka dan seorang perawat dengan jubah khusus operasi berwarna hijau muda mengeluarkan separuh tubuhnya.


Tanpa peringatan, semua orang yang menunggu di depan ruang operasi maju untuk mengetahui perkembangan kondisi Karina.

__ADS_1


"Suaminya pasien dipersilahkan masuk. Bayinya sudah lahir dengan selamat." Bisma hampir meneteskan air matanya. Saat ia mendengarnya. Ia bahagia, tetapi dia masih khawatir mengenai keadaan Karina.


"Bagaimana istri saya?" Tanya Bisma.


"Pasien masih ditangani oleh dokter." Jawab perawat itu ambigu. Dia hanyalah seorang perawat. Jadi tidak mungkin baginya untuk mengetahui kondisi pasien. Selebihnya, kondisi pasien sebelumnya dalam kondisi kritis, jadi tidak nyaman baginya untuk memberi tahu kondisi pasien pada keluarganya.


Bisma mengangguk. Nadia menepuk pundaknya untuk memberi putranya kekuatan. Kemudian Bisma pun mengikuti perawat itu masuk ke dalam ruang.


Setelah melakukan sterilisasi dan memakai perlengkapan untuk masuk, Bisma akhirnya dapat masuk ke dalam ruang operasi. Di dalam ruangan, Bisma tidak bisa melihat Karina secara langsung. Ruangan tempat Karina berada di ruangan terpisah yang dipisahkan dengan kaca. Bisma berada di luar dan hanya melihat dari jauh Karina yang terbaring di atas meja operasi. Beberapa dokter mengerumuni nya dengan berbagai alat yang digunakan.


Melihat keadaan Karina, Bisma merasakan sakit di hatinya. Ia semakin menyalahkan dirinya karena tidak bisa menjaga Karina dengan baik sehingga kejadian ini bisa terjadi. Jika dapat, ia ingin sekali menggantikan posisi Karina dengan dirinya. Ia tidak tega melihat Karina merasakan sakit seperti itu.


Seorang perawat lain menggendong bayi yang baru saja dilahirkan Karina yang sudah dibersihkan dan memberikannya padanya.


"Ini bayi nyonya Karina. Laki-laki dan sehat." Ucap perawat itu saat ia meletakkan bayi kecil itu ke dalam tangan Bisma yang tampak kaku.


Bisma menengadah hati-hati mengangkatnya dan mengumandangkan adzan dan iqomah di telinga bayi yang masih menutup matanya itu.


Setelah selesai, Bisma mencium kening bayi laki-laki itu dengan hati-hati sambil matanya menatap Karina yang masih berada dalam perawatan dokter. Operasi yang pertama adalah untuk mengeluarkan bayi di dalam kandungan. Baru setelah itu, tindakan selanjutnya bisa dilakukan.


"Sayang, bertahanlah demi kami. Lihatlah bayi kita sangat tampan." Bisma meneliti putranya. Hidungnya yang kecil, bibirnya yang kecil mengerucut dengan lucu. Matanya yang terpejam dengan damai. Semua membentuk fitur yang menarik.


Pada dasarnya, setiap bayi yang baru lahir akan terlihat hampir sama. Namun selalu ada bagian dari mereka yang berbeda dari yang lain yang mereka warisi dari orang tua mereka. Dan, semua orang tua akan merasa bahwa bayi merekalah yang terbaik dari semuanya.


"Sayang, mamamu pasti akan senang saat bertemu denganmu. Mamamu sedang berjuang di sana. Berdoalah agar mamamu bisa berkumpul bersama kita." Tanpa Bisma duga, bayi itu tersenyum mendengar ucapan Bisma. Bisma terdiam beberapa saat melihat senyum putranya. Ia merasa hal ini sangat luar biasa.


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih sudah mampir ☆~(^,^)~♡


__ADS_2