Pewaris Raja Iblis

Pewaris Raja Iblis
CHAPTER. 12 - SHU YE


__ADS_3

”Dia terluka di dalam hutan dan karena kasihan, kau membawanya kemari?” tanya Shin Buyen setelah ia mendengarkan seluruh penjelasannya.


Shin Yixuan kemudian menganggukkan kepalanya dan berkata, ”Izinkan dia tinggal di sini untuk sementara waktu. Shu Ye tidak bisa mengingat kejadian yang dialaminya tadi. Dan juga, dia tidak memiliki tempat tinggal.”


Shin Buyen menghela nafasnya. Ia merasa kalau keberadaan Shin Yixuan selalu membawa orang lain dalam hidupnya. Belum lama ini, ia membawa pulang seekor siluman Serigala ke dalam rumahnya. Dan sekarang, dia malah membawa anak laki-laki yang mengalami hilang ingatan. Shu Ye beralasan kalau dia lupa dengan kejadian yang menimpanya. Tetapi, alasan itu tidak membuat Shin Buyen berhenti waspada dan terus memperhatikan gerak-geriknya mengingat kejadian yang juga baru-baru ini menimpa Shin Yixuan hingga membuatnya hampir mati.


”Baiklah. Dan pastikan kali ini tidak ada masalah yang membuatku khawatir. Jangan pernah pergi keluar bersama anak itu. Kau paham?” ucapnya.


Shin Yixuan kemudian menganggukkan kepalanya lagi dan setelah itu, Shin Buyen akhirnya pergi meninggalkan kamarnya bersama dengan Shu Ye yang masih terlihat kebingungan.


”Maaf. Apakah aku sudah merepotkanmu sampai-sampai Ibumu seperti melarangku untuk tinggal di sini?” tanya Shu Ye yang terlihat merendah.


”Tidak masalah. Ibu memang orang yang tegas tapi, dia orang yang cukup penyayang. Mungkin Ibu takut kejadian buruk akan menimpaku lagi.” jawab Shin Yixuan.


Shu Ye terdiam dengan pandangannya yang terlihat bingung. Tak lama setelahnya, ia pun melengkungkan senyum di bibirnya dan berkata, ”Kau baik sekali. Meskipun aku belum pernah melihatmu, aku sudah tahu kalau kau tidak akan menjadi jahat walau keadaan mendesakmu.”


Shin Yixuan terkejut dan mematung selama beberapa saat. Karena tak pernah berbicara dengan orang yang seumuran dengannya, Shin Yixuan bingung bagaimana harus menjawabnya dan jawaban apa yang biasanya dijawab oleh anak seusianya. Ini juga pertama kalinya ia melihat seorang anak manusia yang berada di dalam hutan padahal hutan ini terkenal sangat berbahaya dan sangat jarang ada orang yang mau berkunjung kemari.

__ADS_1


”Kenapa diam saja? Ada apa denganmu?” tanya Shu Ye.


Shin Yixuan tersentak kaget dan langsung menatapnya sambil tertawa kecil. ”... Aku hanya tidak tahu harus menjawab apa. Aku tidak pernah berbicara dengan manusia manapun.” jawab Shin Yixuan.


Shu Ye tampak terkejut dan langsung bertanya, ”Sungguh? Kau tidak pernah berbicara pada siapapun? Jadi, selama ini kau hanya berbicara dengan Ibumu saja?”


”Tidak juga. Belum lama ini aku pernah berbicara dengan seekor serigala dan Dewi peramal yang hidup di danau Shoyu. Selain itu, aku juga pernah mengkritik anggota kerajaan hingga aku mendapatkan luka tamparan keras di wajahku.” jawab Shin Yixuan.


Mendengarnya, membuat Shu Ye bertambah bingung padanya. Ia tak mengerti setiap bait yang dikatakan oleh Shin Yixuan padanya. Siluman Serigala? Dewi peramal yang hidup di air? Lalu, anggota kerajaan? Bisa dibilang, Shin Yixuan pernah berbicara dengan orang-orang yang tidak biasa dan melampaui batas manusia normal kebanyakan.


”Kau berani sekali mengkritik anggota kerajaan. Jelas saja kalau mereka akan marah jika kau mengatakannya di depan mereka. Lagipula, aku juga tidak menyukai seluruh anggota kekaisaran. Mereka itu selalu menganggap diri mereka mulia dan memerintahkan para orang yang dibawahnya untuk tunduk di hadapan kakinya. Mengapa di dunia ini harus ada orang congkak seperti mereka sedangkan dulunya mereka setara dengan rakyat jelata.” ucap Shu Ye yang membuat Shin Yixuan kebingungan.


”Sebenarnya aku hanya tidak tahu jawaban apa yang harus aku siapkan untuknya. Mengapa Shu Ye begitu lancar berbicara sampai-sampai membuatku kebingungan seperti ini?” batin Shin Yixuan yang akhirnya memutuskan untuk mendengarnya bicara saja.


Malam harinya, suasana sepi kembali terjadi. Shin Yixuan berjalan keluar kamarnya untuk membasuh wajahnya. Tampaknya hari sudah sangat gelap dan Shin Buyen juga sudah tertidur di kamarnya begitu juga dengan Shu Ye yang menumpang sebentar di rumahnya.


Semenjak Luo Hein tidak ada untuk menemaninya, ia selalu terbangun di tengah malam dan membasuh wajahnya agar ia mendapatkan ketenangan sedikit. Ia tidak mungkin takut dengan hewan-hewan buas yang bisa saja keluar dari dalam hutan. Ia hanya takut pada pembunuh yang selalu bergerak di tengah malam.

__ADS_1


Saat ia berdiri di depan kolam dan memperhatikan cahaya bulan yang terpantul di sana. Suara ranting kayu yang diinjak mulai terdengar di telinganya. Seharusnya tak ada siapapun di luar sana dan tidak mungkin orang itu adalah Shu Ye. Karena sebelumnya, Shin Yixuan melihatnya sedang tidur di kamarnya. Akan tetapi, jika dia adalah seekor hewan buas, seharusnya dia bisa mengeluarkan suara lebih dari ini kan?


Shin Yixuan mencoba untuk tidak mempedulikan suara tersebut dan memutuskan untuk berbalik membelakanginya. Akan tetapi, saat ia telah berbalik, muncul beberapa orang yang memakai jubah dan tudung hitam yang menghalangi jalannya.


Saat melihatnya, Shin Yixuan merasa khawatir. Di tangan ketiga pemuda ini terdapat sebuah pisau bergerigi yang sudah berdarah-darah bersama dengan jubah hitam mereka.


”Anak iblis! Cukup sampai sini kehidupanmu!”


Salah satu dari pemuda ini mengangkat pisaunya ke atas dan hendak membunuh Shin Yixuan dengan satu gerakan cepat. Akan tetapi, seekor ular beracun langsung menggigit lehernya dan ia pun terjatuh dengan tubuh yang kaku dan mulut berbusa.


Mereka yang melihatnya sangat terkejut begitu melihatnya tak terkecuali Shin Yixuan yang tak menyangka dengan kemunculan puluhan ular beracun yang datang dari dalam tanah.


”Beraninya kalian menginjakkan kaki di rumahku!” teriak Shin Buyen yang langsung bergerak cepat ke arah dua pemuda yang tersisa. Namun, saat kedua pemuda ini ingin melancarkan serangannya, gerakan mereka seketika terhenti dan membeku saat seekor ular lainnya menggigit kakinya.


Pada akhirnya, sebilah pedang menyayat daging dan kulit mereka hingga darah pun tak berhenti berceceran dimana-mana. Shin Yixuan yang berdiri di tempat yang sama juga terkena cipratan darah mereka. Meskipun begitu, ia masih terlihat tenang-tenang saja karena ia sudah terbiasa dengan semua ini.


”Bagaimana Ibu tahu kalau aku sedang berada dalam bahaya?” tanya Shin Yixuan yang tampak penasaran.

__ADS_1


Shin Buyen tersenyum ketika menatapnya. Ia pun meletakkan telapak tangannya di atas kepala Shin Yixuan dan berkata, ”... Firasat yang aku alami lebih tajam dan selalu diuji saat aku memiliki sesuatu untuk dilindungi. Lain kali jangan pernah pergi keluar sendirian seperti ini.” ucapnya sambil menarik Shin Yixuan masuk ke dalam rumahnya.


Disisi lain, tak jauh dari dalam hutan tempat rumah mereka berada. Terdapat puluhan mayat yang mati karena ratusan ular beracun yang menggigit mereka. Bahkan mereka semua langsung dimakan oleh ular ular tersebut dan kemudian, mayat mereka menghilang seolah tak pernah terjadi apapun di sini. Begitu juga dengan mayat yang ada di rumah mereka. Semuanya menghilang dan hanya tersisa bekas darah mereka.


__ADS_2