Pewaris Raja Iblis

Pewaris Raja Iblis
CHAPTER. 22 - MEMBAWA KAYU BAKAR


__ADS_3

Saat laki-laki itu menarik keduanya pergi dari kejaran para hewan sihir, wajah mereka tampak terkejut seolah tak percaya mata mereka saat ini sedang bertatap-tatapan dengan seekor beruang raksasa di belakang mereka. ”Aku seperti bertatapan dengan kematianku sendiri. Seharusnya aku tahu hewan tetaplah hewan. Dia tidak mungkin mengerti bahasa manusia.” batin Shu Ye yang tampak mual setelah melihat air liur beruang tersebut menetes ke tanah.


”Shu Ye! Kau baik-baik saja saja di sana?” tanya Shin Yixuan yang tampak penasaran dengannya.


”Pegangan yang kuat!” seru pemuda yang langsung menceburkan diri ke dalam danau yang cukup dalam bersama dengan Shu Ye dan Shin Yixuan yang masih dibawa olehnya.


Selama beberapa saat, mereka terus berdiam diri di dalam air sambil memperhatikan beruang raksasa yang tampak kebingungan setelah ia kehilangan sosok pemuda tadi. Lalu, tak lama setelahnya beruang itu pun memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa membawa apapun. Dan begitu mereka tahu kalau keadaan sudah semakin membaik, pemuda itu segera menarik Shu Ye dan Shin Yixuan kembali ke daratan dengan pakaian mereka yang basah.


”Syukurlah dia sudah pergi.” gumam pemuda sambil mengatur nafasnya yang sempat tertahan di tenggorokannya.


”Heh! Apa-apaan kau ini?! Datang pada kami lalu membawa masalah yang sangat besar! Bagaimana jika kami juga ikut dimakan dan berubah menjadi kotoran nantinya?!” bentak Shu Ye yang terlihat marah namun, mulutnya yang tak bisa diam ini langsung ditutup oleh telapak tangan Shin Yixuan yang menghampirinya.


”Maaf Tuan muda. Sebelumnya, kami tidak tahu apa yang membuatmu dikejar-kejar oleh kawanan hewan sihir seperti tadi.” ucap Shin Yixuan yang mencoba menjadi penengah di antara keduanya.


Pemuda itu melipat tangannya dan langsung mengalihkan perhatiannya saat ia menjawab, ”Sepertinya ini adalah salahku. Aku juga tidak tahu mengapa kalian berdiri di depanku dan menghalangi jalanku. Tetapi, jika aku tidak menarik kalian pergi, kalian mungkin akan hancur berkeping-keping dan suasana juga malah jadi mencekam.”


”Dia ini berniat meminta maaf atau membangga-banggakan dirinya?” batin Shu Ye yang menatapnya dengan heran. ”... Heh! Katakan saja apa yang membuatmu dikejar-kejar oleh kawanan hewan sihir tadi?! Karena kau, kayu bakar yang sudah kami kumpulkan jadi terbuang sia-sia!” celetuk Shu Ye sambil menunjuknya.


”Aku rasa kau tidak perlu mengetahuinya. Bisa saja itu adalah sebuah rahasia besar untuk menyelamatkan dunia.” ucap Shin Yixuan yang menjadi penengah. Tetapi, tampaknya ia tidak bisa melakukannya karena sifat Shu Ye yang jauh berbanding terbalik dengannya.


”Kau pikir aku pengecut? Aku pasti akan memberitahu kalian hal besar apa yang baru saja aku temui di sarang para hewan sihir tadi.” ucap pemuda yang tak ingin kalah. Ia pun mengeluarkan dua gigi taring seukuran pedang yang sebelumnya diambil dari seekor beruang raksasa yang mengejarnya tadi.


”.....”

__ADS_1


”Hah? Apa-apaan kau ini? Kau langsung mencabutnya dari gigi beruang tadi? Pantas saja kau membuat semua hewan sihir yang ada di sana terbangun karena teriakannya.” ketus Shu Ye yang sambil menatapnya dengan heran.


”Sudahlah, Shu Ye. Dia pasti memiliki alasannya.” ucap Shin Yixuan yang berusaha menenangkannya.


”Tentu saja aku memiliki alasannya.” celetuk Pemuda. ”... Kedua taring ini, akan aku gunakan untuk membuat pedang pusaka yang sangat kuat dan tidak terkalahkan! Kalian berdua pasti akan berusaha mati-matian untuk mendapatkannya.” lanjutnya dengan antusias.


”Cih! Menghayal saja!” gumam Shu Ye yang langsung mengalihkan perhatiannya sementara Shin Yixuan hanya tersenyum padanya meskipun ia juga berpikiran sama dengannya.


Pemuda itu memasukkan kembali dua gigi taringnya ke dalam kantong spiritualnya dan berkata, ”... Baiklah. Masalah kita sudah selesai sampai di sini. Aku akan pergi.” ucapnya sambil berjalan meninggalkan mereka berdua.


”Tunggu sebentar! Bagaimana dengan kayu bakar yang sudah kau hancurkan?!” ucap Shu Ye sambil berlari menghampirinya.


Pemuda itu menjentikkan jarinya lalu, di hadapan mereka, muncul setumpuk kayu bakar yang sudah dipotong-potong dengan sangat rapi. Jelas-jelas kalau kayu bakar ini bukanlah kayu yang mereka potong-potong tadi. ”Sudah selesai kan? Aku bahkan membuatkannya lebih baik daripada yang kalian lakukan.” cibir pemuda yang kemudian menghilang dari pandangan mereka berdua.


”Huh? Orang itu menyusahkan saja. Kita malah berada lebih jauh dari rumah apalagi, setumpuk kayu bakar itu harus dibawa di atas punggung sampai ke rumah.” gumam Shu Ye sambil memperhatikannya.


”Kau sungguh akan berjalan dengan membawanya?!” tanya Shu Ye yang tampak heran seolah ia tak ingin melakukannya.


Shin Yixuan menatapnya dengan tanpa ekspresi dan bertanya, ”Memangnya apa yang bisa kau lakukan sekarang? Sudahlah jangan banyak bicara. Kita harus kembali sebelum matahari terbenam.” ucapnya sambil berjalan mendahuluinya.


***


Di sebuah kediaman kecil yang dihuni oleh beberapa puluh orang, saat ini sosok pemuda terlihat sedang berdiri di sana dengan dikelilingi oleh mayat tanpa jantung. Rambutnya dikuncir kuda dengan pakaian hitamnya yang telah berlumuran dengan darah yang bukan miliknya. Kedua tangannya yang memiliki kuku yang cukup tajam, telah mencabik-cabik tubuh mereka hingga hancur.

__ADS_1


”Tak ku sangka rasanya akan semanis ini. Tidak terlalu buruk. Pantas saja Raja ketujuh selalu berkunjung kemari untuk makan malam.” ucap pemuda sambil tersenyum seringai menatap bayangan dirinya yang terpantul di permukaan darah.


”Apakah Yang Mulia sudah cukup puas dengan semua ini?” tanya pemuda lainnya yang sedang berdiri di belakangnya saat ini.


”Tidak. Ada satu lagi yang aku inginkan.” jawabnya sambil menatap ke atas langit yang mulai gelap. ”... Putra dari Raja ketujuh itu sendiri. Aku dengar Raja ketujuh sangat melindunginya dan bahkan memasang begitu banyak mantra penghalang di sekitar tempatnya. Aku hanya merasa penasaran. Apa yang akan dilakukan olehnya jika Putranya berada dalam bahaya.”


***


Sore harinya, Shu Ye dan Shin Yixuan akhirnya sampai di rumahnya dengan membawa setumpuk kayu bakar di belakang punggungnya. Keduanya tampak lelah setelah terus berjalan selama seharian penuh ditambah lagi dengan beban yang ada di belakang mereka.


”Ahh! Lelah sekali! Rasanya aku ingin melepas kakiku.” batin Shu Ye yang langsung membaringkan tubuhnya di atas teras halaman depan.


”Kau merasa lelah karena kau terus menggerutu di sepanjang jalan.” ucap Shin Yixuan sambil menaruh kayu bakarnya.


”Kalian berdua sudah kembali? Mengapa sore sekali?” tanya Shin Buyen yang langsung berjalan menghampiri keduanya begitu ia melihatnya.


Shin Yixuan langsung menatap ke arah Shin Buyen dan menjawab, ”Tadi, ada sedikit masalah tapi, kami bisa menyelesaikannya dengan mudah.”


”Cih! Apanya yang mudah?” batin Shu Ye yang masih terlihat kesal.


”Kalau begitu, bersihkan diri kalian dan masuk ke dalam. Aku akan menyiapkan makanan untuk kalian.” ucap Shin Buyen sambil berbalik dan berjalan meninggalkan mereka berdua.


Saat akan masuk ke dalam, Shin Yixuan sempat mendengar suara tawa Shin Furong yang tampaknya sedang bersama dengan seseorang padahal sebelumnya Shin Buyen baru saja pergi keluar. Ia pun mulai merasa penasaran dengan seseorang yang berada di sana.

__ADS_1


Ketika langkahnya berhenti tepat di depan pintu masuknya, ia melihat seorang pemuda berjubah putih yang tampaknya terlihat sangat familiar dengannya. Pemuda itu seperti sedang bermain-main dengan Shin Furong yang sedang tertawa bersamanya.


Shin Yixuan mencoba untuk memperhatikannya sebentar lalu, disampingnya Shu Ye akhirnya datang menghampirinya. Begitu ia melihat pemuda yang sedang berada di depannya itu, Shu Ye langsung berseru, ”Ah! Dia adalah pemuda aneh tadi!”


__ADS_2