Pewaris Raja Iblis

Pewaris Raja Iblis
CHAPTER. 29 - MIMPI


__ADS_3

”Yang Mulia, mengapa Anda tidak mengambil alih tubuhnya sekarang? Keadaanmu sudah semakin parah.” ucap Guju saat ia menyandarkan tubuh Luo Hein di sebuah rumah tua yang ada di kaki bukit.


Saat ini, Luo Hein tak bisa menyembunyikan keadaannya. Luka bakar itu tidak kunjung menutup karena kemampuan regenerasinya tidak bisa bekerja dengan baik. Seluruh organ dalamnya seperti diremas sedangkan darahnya seperti mendidih. Matanya semakin terlihat mendung dan tidak biasanya. Setelah ia meminum darah milik Shin Yixuan, keadaannya malah bertambah parah! Luka yang ada di tubuhnya semakin melebar seolah mereka sedang mengisyaratkan untuk tidak lagi meminum darah atau memakan jantung manusia jika ingin tubuhmu tetap utuh.


”Tidak bisa. Aku tidak bisa mengambil tubuhnya sekarang.” jawab Luo Hein dengan suara pelan. ”... Aku tahu dia ketakutan dan sangat membenciku saat ini. Aku telah membuat kesalahan dengan mengatakan kalau aku ingin mengambil adik kesayangannya. Tetapi, dia malah terpancing dan bersikeras untuk menggantikannya. Meskipun begitu, tubuh ini tidak akan bisa bertahan lama. Dalam beberapa tahun, mungkin saja tubuhku sudah hancur dan perang antara alam iblis dengan alam manusia kembali terjadi.”


Guju terdiam dan terus memperhatikannya. Demi menghindari perang yang berkepanjangan, Luo Hein sengaja memasang sebuah mantra penghalang yang sangat kuat agar para iblis tidak bisa menyerang alam manusia secara membabi-buta. Mantra itu jelas menghabiskan hampir seluruh tenaganya dan belakangan ini, mantranya mulai melemah hingga membiarkan beberapa iblis seperti Lu Yuan mampu keluar dari tempatnya. Belum lagi mantra yang dipasang olehnya di bukit Xieyu. Mantra itu juga melemah dan sebagai bukti, Guanyun mampu keluar masuk bukit Xieyu padahal dia salah satu yang tidak diizinkan.


”Tidurlah untuk beberapa tahun ke depan. Aku akan menjaga Yang Mulia.” ucap Guju sambil membaringkan Luo Hein di atas lantai yang terbuat dari kayu halus yang sudah lapuk. Ia menjadikan pahanya sendiri sebagai bantalan untuknya agar ia bisa tidur dengan nyaman.


Sementara itu, berbeda dengan kejadian yang terjadi di alam iblis. Saat ini, Guxun sedang berdiri di sisi sebuah kolam yang cukup luas seperti sedang menunggu sesuatu yang akan muncul keluar dari permukaan. Lalu, tak lama setelahnya muncul sosok laki-laki bertelanjang dada yang keluar dari dalam kolam.


Rambut hitam yang panjang dan mata merah yang mempesona, semua Raja yang ada di sana sangat tahu kalau Lu Yuan memiliki kemampuan yang sangat istimewa yaitu, bisa membangkitkan dirinya sendiri dari kematian dalam waktu yang sangat singkat.


”Selamat datang kembali, Yang Mulia.” sambut Guxun sambil membungkuk di depannya.

__ADS_1


Lu Yuan tak bergerak sedikitpun. Ia memperhatikan telapak tangannya sendiri dan mencoba mengartikan keadaannya saat ini. Tak lama setelahnya, ia pun tahu kalau ia baru saja menghadapi sebuah kematian yang sangat singkat setelah Luo Hein menusuknya menggunakan pedang. Ia bahkan ingat bagaimana rasa sakitnya meskipun di saat-saat terakhirnya, ia menyempatkan diri untuk menertawai Luo Hein yang akan dijatuhkan hukuman.


”Bagaimana dengan keadaan yang terjadi saat ini?” tanya Lu Yuan sambil menatap ke arah Guxun yang langsung berdiri tegak dan menjelaskan.


”Raja ketujuh sudah mendapatkan hukumannya. Hingga sampai saat ini, ia masih mempertahankan tubuhnya dan belum menggantinya dengan yang baru. Dia akan mengambil alih tubuh putra pertamanya jika kematiannya sudah bisa ditentukan.”


”Begitu, ya?” gumam Lu Yuan yang langsung tersenyum seringai dan berjalan menuju pinggiran kolam. ”... Bodoh sekali! Dia pikir kemampuan bertahan manusia dan iblis itu sama? Apakah karena dia adalah Iblis sedangkan istrinya adalah seorang anak manusia, dia berani melakukan percobaan yang akan meremehkan Raja yang lain?!”


Lu Yuan tertawa lepas dan duduk di atas pinggiran kolam. ”Aku masih kesal padanya dan tidak akan pernah puas! Posisi Raja ketujuh harus segera disingkirkan! Aku ingin perang kembali terjadi.”


***


Luu Houyi perlahan membuka matanya begitu ia mendengar suara Rui yang samar-samar terdengar di telinganya. Kesunyian sempat terjadi begitu suara ini menghilang. Semuanya tampak gelap dan ia bisa melihat setitik lilin yang menyala tidak jauh di depannya. Ia merasa bingung dan tidak tahu apalagi yang harus dilakukannya sekarang ini. Ia hanya perlu bangun dari tempat tidur lalu pergi meninggalkan tempat ini. Akan tetapi, ia merasa kesulitan untuk mendapatkan kesadarannya kembali.


”Paman Luu!”

__ADS_1


Luu Houyi langsung terbangun dan membuka matanya secara tiba-tiba. Perasaan terkejut itu muncul karena lagi-lagi ia mendengar suara yang sedang memanggilnya. Dengan cepat, perhatiannya langsung tertuju pada seorang anak muda yang sedang berdiri di sebelah dipannya dengan khawatir.


”Paman Luu. Akhirnya paman sadar. Aku merasa cemas karena Paman selalu menyebut Rui dalam mimpi paman.” ucap anak muda yang ternyata adalah Shin Yixuan. Dia terus menunggu di sini bahkan sampai malam telah menjemputnya.


”Kenapa aku bisa ada di sini?” gumam Luu Houyi yang tampak kebingungan. Setelah itu, ia pun langsung ingat kalau sebelumnya ia sudah mencekik leher Shin Yixuan dan nyaris membunuhnya. ”... Kau baik-baik saja? Apakah aku menyakitimu kemarin? Bagaimana dengan keadaanmu sekarang?” tanya Luu Houyi yang langsung menyambar tangan Shin Yixuan hingga membuatnya terkejut.


Shin Yixuan tertawa kecil dan menjawab, ”Aku baik-baik saja. Paman tidak menyakitiku sama sekali. Aku sudah bilang kalau Paman baru saja terjatuh dari atas tebing. Tapi, untungnya Paman Serigala bisa menemukanmu lebih cepat.”


”Tidak! Bukan itu! Aku sangat Ingat kalau sebelumnya aku hampir saja membunuhmu! Kau pasti tidak mungkin melupakannya, kan?” ucap Luu Houyi.


Shin Yixuan tertegun dan wajahnya terdiam selama beberapa saat. ”Sampai saat ini aku baik-baik saja. Mungkin paman salah melihat. Jika memang itu benar terjadi, mengapa aku harus membawa Paman kembali pulang? Apalagi, Ibu sama sekali tidak membenci Paman.” jawabnya.


Luu Houyi merasa bingung karena hanya itu yang diingatnya saat ini. Otaknya sudah dibuat berputar-putar bahkan nyaris sakit kepala. Shin Yixuan kemudian memberikan Luu Houyi semangkuk bubur daging yang diletakkan di atas meja.


”Ibu yang membuatkan ini untuk Paman. Dia tahu kalau Paman sangat membenci kacang-kacangan. Jadi, dia tidak memasukkannya ke dalam makanannya.” ucap Shin Yixuan sambil memberikannya.

__ADS_1


Setelah Luu Houyi mengambil mangkuk itu darinya, Shin Yixuan melanjutkan, ”Aku akan pergi sebentar untuk mengambil air. Kuharap Paman menghabiskannya.” Shin Yixuan langsung berjalan keluar dari ruangan tersebut dengan terburu-buru setelah ia mengakhiri kalimatnya.


Saat sampai di depan pintu yang sudah ditutup olehnya, Shin Yixuan menyempatkan diri untuk bersandar di sana. Ia meraba lehernya sendiri yang memiliki garis merah melingkar dan juga dua lubang bekas gigitan. Pertanyaan yang selalu diajukan Luu Houyi selalu membuatnya mengingat kejadian yang tak pernah ingin diingat lagi olehnya. Sebentar, ia memejamkan matanya dan kemudian ia pun berjalan pergi dari tempat tersebut.


__ADS_2