Pewaris Raja Iblis

Pewaris Raja Iblis
CHAPTER. 18 - PERMINTAAN


__ADS_3

Tiga hari setelahnya.


”Ayah! Ajari aku cara menggunakan pedang!” seru Shin Yixuan yang berlari menghampiri Luo Hein saat sedang mencabut beberapa bunga mawar yang tumbuh liar di halaman belakangnya.


Saat Shin Yixuan memanggilnya, Luo Hein menoleh ke belakang dan langsung menjawab, ”Tidak.” singkatnya.


Shin Yixuan yang mendengar jawaban tersebut merasa sangat terkejut dan langsung berkata kembali, ”Tapi, Ayah! Aku ingin bisa melindungi diriku sendiri! Ajari aku agar aku bisa tumbuh kuat seperti Ayah!” ucapnya dengan wajah serius.


Luo Hein menatapnya dengan malas dan berkata, ”Sudah kubilang aku tidak menginginkannya. Berlatihlah dengan Ibumu. Aku sibuk!”


”Cih!” Shin Yixuan langsung mengalihkan perhatiannya dan menggerutu, ”... Yang aku lihat, Ayah hanya mencabut bunga mawar yang tumbuh di sini lalu merusaknya padahal, mereka terlihat indah. Apakah Ayah tidak memiliki pekerjaan lain? Ayolah! Ajari aku cara menggunakan pedang!”


Luo Hein tak sengaja tertusuk duri mawar saat sedang mencabutnya. Hal itu sempat membuat ujung jarinya berdarah namun, tak lama setelahnya luka kecil itu pun menutup dengan cepat. ”... Baiklah, aku akan mengajarimu.” ucap Luo Hein yang langsung membuat Shin Yixuan tampak senang ketika mendengarnya. ”Tapi,... Aku perlu kau mencarikan sesuatu untukku.”


Seketika, raut wajah senang Shin Yixuan berubah menjadi heran sekaligus tak percaya dengan perkataannya. ”... Ayah tidak akan mengarangnya lagi kan? Terakhir kali, aku hampir saja terjatuh dari atas tebing yang cukup tinggi.”


”Salahmu sendiri karena memanjat tebing. Aku tidak pernah menyuruhmu melakukan itu kan?” celetuk Luo Hein yang membuat Shin Yixuan memasang ekspresi datarnya. ”... Kalau begitu, sebagai syaratnya aku ingin kau mencari sebuah telur yang bisa kau temukan di dalam hutan.”


Shin Yixuan menatapnya dengan heran dan bertanya kembali, ”Telur apa yang Ayah maksud?”


Luo Hein menjawab, ”Telur apa saja yang ada di dalam hutan. Aku tidak peduli apakah itu telur burung atau telur ular, yang terpenting kau kembali dengan membawa telur.”

__ADS_1


”Kalau aku berhasil membawanya, apakah Ayah akan langsung mengajariku?” tanya Shin Yixuan dengan antusias.


Luo Hein mengangguk dan menjawab, ”Tentu saja.”


”Aku akan langsung mencarinya!” seru Shin Yixuan yang langsung berlari membelakanginya. Dan saat ia akan berlari keluar, secara kebetulan ia bertemu dengan Shu Ye yang baru saja menapak di atas teras. Dengan cepat ia pun langsung menyambarnya dan membawanya pergi bersamanya.


Setelah melihatnya pergi, Luo Hein tampak sedikit tenang. Namun, perasaannya sangat marah saat ia melihat puluhan mawar ini tumbuh di sekitar halaman belakangnya. ”Jangan kira aku tidak tahu kalau kau sedang mengawasiku, Raja ketiga A-Ling.” batin Luo Hein yang langsung membakar seluruh tanaman mawar yang ada di sekitarnya.


***


”Tidak biasanya. Bukankah kau selalu pergi sendirian dan tidak ingin mengajakku? Apa yang merasukimu kali ini? Apakah kau mulai berpikir dua kali mengenai keberadaan ku di sebelahmu?” tanya Shu Ye yang terus berbicara dengannya di sepanjang perjalanan bahkan sampai membuat Shin Yixuan bosan mendengarnya.


”Jangan banyak tanya. Aku di sini untuk mencari telur apa saja. Tapi, aku merasa hutan ini bukanlah tempat yang tepat untuk mencarinya.” jawab Shin Yixuan yang memikirkannya.


”Tidak! Kali ini dia pasti bersungguh-sungguh akan mengajariku sesuatu! Mencari telur itu tugas yang sangat mudah daripada harus mencari tanaman langka di sekitar sini.” jawabnya dengan wajah serius.


”Benarkah?” tanya Shu Ye dengan raut wajah tidak percaya. ”... Kalau itu tugas yang mudah, mengapa sampai sekarang kau belum menemukannya?”


Seketika, Shin Yixuan langsung terdiam dan menghentikan langkahnya. Melihat wajahnya yang menunduk, membuat Shu Ye memikirkan perkataannya untuk kedua kalinya. ”Rasanya tidak ada yang salah dalam perkataanku? Atau dia saja yang terlalu mudah tersinggung?” batin Shu Ye yang memikirkannya.


Karena terus terdiam dan tak merubah posisinya sejak tadi, Shu Ye mulai merasa cemas dan mencoba menyentuh pundaknya. ”... Kenapa diam saja? Kau tidak sedih kan?” tanya Shu Ye yang berdiri di belakangnya.

__ADS_1


”Itu dia!” seru Shin Yixuan yang langsung mengangkat kepalanya hingga menabrak wajah Shu Ye yang ada di belakangnya. Ia tak mempedulikan Shu Ye yang sedang meringis kesakitan karena wajahnya. Ia menunjuk ke atas pohon besar yang di atasnya terdapat sebuah sarang burung besar dan di sana, ada beberapa telur yang belum menetas.


”Aku akan mengambilnya!” seru Shin Yixuan yang langsung berlari ke arahnya dan memanjat pohonnya dengan perlahan.


”Bisa-bisanya dia melihat hal yang sekecil itu. Apakah dia tidak ingin meminta maaf padaku lebih dulu?” gerutu Shu Ye dalam benaknya sambil menonton Shin Yixuan yang sedang memanjat pohonnya. ”Pohon sebesar itu, apakah dia bisa memanjatnya sendiri? Sepertinya ada yang sedang bergerak-gerak di atas sana.”


Saat ia mencoba memanjatnya hingga ia berada cukup tinggi dari atas tanah, tiba-tiba saja ada sesuatu yang membuatnya sangat terkejut. Secara tidak sengaja, tangannya memegang mulut seekor ular raksasa berwarna hijau yang sedang melilit pohon tersebut. Saat ia menyadarinya, ia merasa sangat terkejut dan langsung melepaskan kedua tangannya. Alhasil, ia pun langsung terjatuh dari atas pohon tanpa ada aba-aba.


Tetapi, sebuah tangan langsung menangkapnya dari bawah sana dan ular besar yang berada di atasnya langsung bersembunyi ke dalam dedaunan lebat. Ia seperti melihat sekelebat bayangan senja yang tak pernah dilihatnya selama ini. Wajahnya pun sangat jarang terlihat dan bola matanya pun tampak terlihat seperti ombak di dasar laut.


”Yang mulia! Anda baik-baik saja?” tanya beberapa pasukan istana yang muncul di belakang mereka.


Pemuda yang baru saja menyelamatkannya, menoleh ke arah pasukan tersebut dan menjawab, ”Aku baik-baik saja. Tetaplah di belakangku.”


Mendengarnya membuat Shin Yixuan tampak terkejut dan langsung menatapnya dengan heran. Wajah pemuda ini belum bisa dilihatnya dan ia hanya bisa melihat wajah sampingnya saja. Ia pun mencoba menyentuh wajahnya sedikit sehingga membuat pemuda itu tertegun dan langsung menatapnya. ”... Kakak ini siapa?” tanya Shin Yixuan.


”Hei! Kau baik-baik saja di sana?” seru Shu Ye yang sedang berlari menghampirinya begitu mereka kedatangan beberapa tamu.


Shin Yixuan mengangguk dan menatap kembali ke arah pemuda di depannya. Rambut berwarna oranye seperti senja dan bola matanya yang berwarna laut, membuatnya sempat merasa nyaman dengannya. Tetapi, ia tetap merasa penasaran siapa nama pemuda ini.


”Kakak ini siapa dan mengapa kakak datang bersama orang banyak?” tanya Shin Yixuan yang masih menatapnya.

__ADS_1


Pemuda itu tertegun. Tak lama setelahnya, ia pun menunjukkan senyumnya yang terbilang lembut saat ia berkata, ”... Aku dari Istana Zhu. Namaku, Hu Lingge.”


__ADS_2