Pewaris Raja Iblis

Pewaris Raja Iblis
CHAPTER. 58 - TURUN BUKIT


__ADS_3

”Benar. Di sini tempatnya.”


Shin Yixuan berdiri di depan dua buah tiang batu yang memiliki tulisan aksara Dewa yang tidak pernah bisa diartikan oleh manusia serta gambar abstrak yang tidak ada yang tahu apa artinya.


Di antara kedua batu tersebut, terdapat sebuah dinding transparan yang menghubungkannya ke dunia manusia. Dinding ini menjadi penghalang bagi para siluman yang ingin pergi ke dunia manusia dan yang ingin kembali ke alam iblis.


Sebelumnya, dinding ini tidak pernah ada tetapi, semenjak perang antara manusia dengan iblis semakin brutal dan menghancurkan begitu banyak tempat, Luo Hein menghancurkan keenam Istana para Raja Iblis dan menarik paksa mereka untuk kembali. Setelah seluruhnya kembali, ia memasang sebuah mantra penghalang pada kedua batu ini sehingga memunculkan sebuah dinding transparan yang tak pernah bisa dilewati oleh kedua alam ini.


Setelah itu, perang pun berakhir selama ratusan tahun.


”Kuharap aku bisa menembusnya.” batin Shin Yixuan yang akan meletakkan telapak tangannya di permukaan dinding tersebut. Akan tetapi, gerakannya ini langsung terhenti begitu ia merasakan ada yang sedang mengawasinya dari belakang.


”Kau mencoba untuk kabur dari tempat ini?” tanya sebuah suara di belakangnya.


Shin Yixuan langsung menoleh ke arah suara tersebut dan melihat Lu Yuan yang sedang berdiri di sana sambil melipat tangannya. Ia pun hanya diam, tak menanggapi pertanyaannya dan kembali menatap ke depan dengan perasaan dingin.


Lu Yuan menatapnya dengan tidak suka. Ia perlahan berjalan mendekati Shin Yixuan sambil berkata, ”Sombong sekali. Aku hanya mengatakan satu pertanyaan dan kau enggan untuk menjawabnya. Sepertinya, Raja terdahulu tidak pernah mengajarkanmu cara berbicara dengan sopan, ya.” ucapnya sambil meletakkan lengannya di atas pundak Shin Yixuan dan menatapnya. ”... Sungguh kasihan. Untuk seorang anak manusia, ini terlalu kejam bahkan untukmu. Kau kehilangan segalanya. Orang tuamu, teman terdekatmu bahkan adik kesayanganmu. Kau pikir setelah mereka kehilanganmu, mereka akan baik-baik saja dan kembali ke rutinitas sehari-hari mereka?”


Shin Yixuan menggigit bibirnya. Ia menarik pundaknya dan bergerak menjauhi Lu Yuan ke samping. ”... Mereka pasti baik-baik saja! Aku tahu kau hanya mempengaruhiku saja.” jawabnya dengan khawatir.

__ADS_1


Lu Yuan menyeringai. Ia bergerak cepat ke hadapan Shin Yixuan dan langsung menarik dagunya dan menatapnya dengan kedua matanya yang merah, mirip sekali dengan hewan buas yang akan menerkam mangsanya. ”... Jiwa yang masih suci, akan menjadi pengganggu yang besar untuk alam iblis. Raja terdahulu berpikir kalau kau bisa menjaga kedua alam dengan baik? Maka, cobalah untuk menghindar dari serangan ku yang satu ini.” ucap Lu Yuan yang tak berhenti menatapnya.


***


”Heh! Pergilah! Aku sudah menemanimu tidur semalaman dan kau tidak mau melepaskan ku?” tanya Xiu Huan yang terus berjalan keluar bukit Xieyu dengan diikuti oleh Shin Furong yang terus mengejarnya sejak tadi.


Xiu Huan terus berjalan cepat meninggalkannya tetapi, Shin Furong terus mengejarnya seolah tak peduli kemana Xiu Huan akan pergi. Saat itu, Shin Furong tak mengatakan apapun padanya meskipun Xiu Huan terus melempar beberapa pertanyaan padanya. Mulutnya terkatup rapat dengan wajahnya yang tidak berekspresi.


”Aku harus mencari cara agar bisa pergi darinya!” batin Xiu Huan yang memikirkan sesuatu. Ia pun menatap ke arah beberapa dahan pohon yang menggantung di atas kepalanya. Ia tersenyum sinis saat akan menoleh ke arah Shin Furong. Dan beberapa detik setelahnya, Xiu Huan langsung melompat ke atas dahan pohon dan bergerak cepat meninggalkannya di sana.


Shin Furong yang melihatnya begitu terkejut. Sebelum sosoknya menghilang, ia langsung berlari mengejarnya hingga akhirnya, ia tersandung dan terjatuh setelah bertabrakan dengan akar pohon yang keluar dari dalam tanah.


Hal ini tentu membuat Shin Furong semakin sedih. Semua orang mencoba menghindar darinya. Apakah dia menjadi satu-satunya yang paling dibenci di dunia?


Shin Furong mengusap matanya yang berair. Ia kemudian berjalan kembali ke depan dengan lututnya yang terluka. Tanpa menatap ke belakang, pandangannya terus melihat ke tanah. Ia memegang perutnya yang kelaparan sejak kemarin sore. Perhatiannya mulai memperhatikan sekitar, seperti sedang mencari sesuatu yang tersembunyi di dalam hutan.


Ia berlari ke depan, menuju suara keramaian yang terjadi di sana. Beberapa saat setelahnya, ia pun sampai di luar hutan dan melihat sebuah keramaian desa yang sedang terjadi di sana.


Ada begitu banyak anak-anak serta orang tua yang saling berbicara dan bermain di sana. Melihat suasana yang tak biasa, membuat ketenangan sempat terjadi dalam benak Shin Furong. Ia tidak lagi merasa kesepian. Tetapi, beberapa saat setelahnya, sebuah batu berukuran sedang melayang ke arah kepalanya dengan cukup keras hingga membuatnya terjatuh ke samping dan mendapatkan luka di pelipisnya.

__ADS_1


”Mata merah! Iblis!” teriak seorang pemuda yang baru saja melemparkannya batu.


Shin Furong yang mendapatkannya begitu terkejut dan tidak percaya orang itu menyebutnya iblis. Para penduduk desa yang lain juga ikut berkumpul mengelilinginya dan mereka, menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.


”Makhluk terkutuk! Pembunuh! Pembawa petaka bagi semua manusia!”


”Iblis! Beraninya kau datang kemari!”


”Iblis pembunuh! Mau apa kau datang kemari?!”


Shin Furong mengusap darah yang mengalir di pipinya dan berusaha berkata, ”Aku bukan iblis dan aku bukan pembunuh!” ucapnya dengan raut wajahnya yang terlihat sedih. Ia seakan tak percaya dengan ucapan dan tatapan mata yang diberikan oleh semua orang. Jika pada akhirnya ia akan diperlakukan seperti ini, ia mungkin tidak akan pernah pergi keluar rumah.


Salah satu pemuda yang memegang batu seukuran tangannya membentak, ”... Jangan menghindar! Kami tahu kaulah yang sudah membunuh keluarga kami! Ayo! Kita rajam saja dia!”


Shin Furong sudah merasa sangat ketakutan ketika semua orang mengangkat batu yang akan dilemparkan ke arahnya. Ia hanya bisa menutupi kepalanya dengan telapak tangan sebelum akhirnya, beberapa batu melayang ke arahnya.


Tetapi, saat itu terjadi, muncul hembusan angin cukup kencang yang menghempaskan bebatuan tersebut. Selama beberapa saat, Shin Furong merasa sangat terkejut karena tak merasakan apapun. Ia langsung membuka matanya dan menatap ke depan.


Sosok pemuda yang pernah dilihatnya dengan hanfu terang berwarna putih dan biru. Meskipun tampak dari belakang, Shin Furong mampu mengenalnya dengan sangat jelas. Pemuda ini adalah Xiu Huan yang secara tidak sadar datang mengunjunginya ketika ia berada dalam masalah.

__ADS_1


”Kasihan! Kasihan sekali! Kau pasti sangat kesepian, ya?” ucap Xiu Huan sambil berlutut di depannya dan menatapnya dengan sedih.


__ADS_2