
5 Tahun setelahnya.
”Wah! Apakah dia ini bayi sungguhan? Dia lebih mirip dengan boneka hidup.” ucap Shu Ye yang tampak sedang mengagumi sosok bayi laki-laki yang sedang tertidur di atas kasurnya.
”Jangan menyentuhnya! Kalau jarimu tidak ingin remuk!” ucap Shin Yixuan yang datang dengan membawa beberapa pakaian yang belum tersimpan di dalam lemari.
”Hah? Apa maksudmu? Bayi tidak mungkin bisa meremukkan tangan orang dewasa!” celetuk Shu Ye yang tampak tak percaya. Namun, beberapa saat setelahnya, saat jari telunjuknya mencoba untuk menyentuh wajah lembutnya, bayi laki-laki itu langsung memegang jarinya dan mencengkramnya dengan sangat kuat hingga nyaris saja meremukkannya. Rasanya seperti digigit oleh ratusan semut merah sehingga hal itu langsung membuat Shu Ye mengambil jarinya kembali.
”Bayi macam apa dia? Mau jadi apa dia jika saat bayi sudah berani meremukkan tangan orang yang lebih tua darinya!” gumam Shu Ye yang langsung mengelus-elus jari telunjuknya dan menatap bayi laki-laki itu dengan heran.
”Jangan ganggu dia! Cepat bersihkan tempat tidurmu yang berantakan!” seru Shin Yixuan sambil berjalan menghampirinya.
”Tidak mau! Biarkan saja seperti itu. Aku lebih nyaman dengan kamarku yang berantakan!” jawab Shu Ye yang masih memperhatikan dan bermain-main dengan bayi laki-laki itu.
Beberapa saat setelahnya, Shin Buyen mendatangi kamar tersebut dan melihat Shu Ye yang sedang bermain-main dengan bayinya yang belum lama ini lahir. Ia belum memutuskan siapa namanya dan menunggu Luo Hein untuk berkunjung ke tempatnya. Tetapi, sudah sebulan ini, ia tidak juga datang kemari.
”Shu Ye! Kamarmu terlihat berantakan. Aku rasa kau harus membersihkannya sekarang.” ucap Shin Buyen sambil berjalan menghampirinya.
Shu Ye langsung menjawab, ”Tentu saja aku akan melakukannya!” ucapnya dengan antusias dan langkahnya pun langsung bergerak keluar menuju kamarnya.
”Apa maksudnya ini?” batin Shin Yixuan yang tampak heran setelah melihatnya seperti itu padahal sebelumnya ia menolak untuk membersihkan kamarnya.
__ADS_1
Shin Buyen berjalan mendekati tempat tidurnya dan mengambil bayi laki-laki miliknya. Ia mengangkatnya dan memperhatikan wajah kecilnya yang sedang tertawa. Ia mencium keningnya dan menyentuh tangan kecilnya dengan jari jemarinya.
”Kapan Ibu akan menamainya? Usianya sudah menginjak satu bulan. Tetapi, Ayah tidak juga mengunjunginya untuk memberikannya nama.” ucap Shin Yixuan sambil berjalan menghampirinya. Sekilas, ia memperhatikan raut wajah sedih Shin Buyen yang nyaris tak terlihat sama sekali. Ia mengerti kalau saat ini, Shin Buyen merasa sangat sedih karena Luo Hein tak bisa menyaksikan putra keduanya lahir dan bahkan tak menemaninya saat itu. Beruntung saja, ShuYuzhu datang berkunjung dan mencoba membantunya sedikit. Semua yang pernah ditemui olehnya hadir terkecuali, Luo Hein yang tak diketahui keberadaanya.
”Aku rasa aku hanya bisa menundanya. Aku juga belum memikirkan nama apa yang cocok dengannya.” jawab Shin Buyen dengan pelan.
”Bagaimana jika aku yang menamainya? Lagipula, aku sudah memikirkannya sejak dulu bahkan sebelum dia lahir.” ucap Shin Yixuan dengan antusias.
Shin Buyen tersenyum padanya dan ia pun bertanya, ”Benarkah? Nama apa yang menurutmu cocok dengannya?”
Shin Yixuan langsung menjawab, ”... Furong! Aku akan menamainya Furong yang berarti kebahagian. Aku ingin adikku ini bahagia dan selalu tersenyum setiap hari. Dia mungkin akan melewati berbagai kesulitan dan kesedihan yang akan ada dalam hidupnya. Semua itu memang sudah pasti terjadi. Tetapi, dengan nama itu, aku berharap dia akan segera melupakan kesedihan yang pernah dialaminya sehingga ia bisa tetap tersenyum lagi seperti biasanya.” jawabnya dengan perasan senang.
Shin Buyen yang mendengarnya juga ikut senang. Ia menyentuh kening Shin Yixuan dan berkata, ”Nama yang sangat bagus. Mulai sekarang, adikmu bernama Shin Furong. Kau akan bisa bermain dengannya saat usianya sudah cukup besar.”
***
”Tidak biasanya, ya? Langit mendung seperti ini bukan pertanda hujan maupun badai.” ucap Luo Hein yang sekarang ini berada di antara kerumunan penduduk desa terpencil yang begitu ramai dan seperti biasa, di belakangnya sudah ada Guju yang menemaninya berjalan-jalan di sekitar sini.
”Ya, Yang Mulia. Tampaknya salah satu dari Raja Iblis telah merangkak keluar dari sarangnya bersama dengan pelayan pribadinya.” jawab Guju sambil menundukkan pandangannya.
”Kau benar.” jawab Luo Hein. ”... Kira-kira, masalah apa yang akan mereka perbuat untukku? Jangan bilang kalau mereka ingin mencelakaiku sehingga membuat kematianku selangkah lebih dekat.”
__ADS_1
”Aku di sini, Yang Mulia. Aku akan selalu melindungimu.” ucap Guju dengan suara pelan.
Luo Hein terdiam selama beberapa saat dan sempat mengamati kejadian yang ada di sekitarnya. Angin pun berhembus cukup kencang dan menerbangkan beberapa keranjang bambu yang terpajang di setiap kedai makanan. Tetapi, ia tampak tak mempedulikan apa yang terjadi pada mereka.
”Kali ini akan jauh lebih sulit. Kau juga, sebaiknya berhati-hatilah dengan apa yang ada di sekitarmu.” ucap Luo Hein sambil berjalan mendahuluinya dengan memakai sebuah topi bambu yang ditemukannya di jalanan.
***
”Kau menamainya Furong? Apakah nama itu tidak terdengar aneh dan terlalu sulit untuk mengatakannya?” celetuk Shu Ye yang tampak heran setelah mendengar cerita yang keluar dari mulut Shin Yixuan saat keduanya sedang memotong beberapa kayu bakar di dalam hutan.
”Nama itu tidak sulit sama sekali. Kau saja yang malas untuk mendengarkan ku bicara.” ucap Shin Yixuan sambil mengumpulkan beberapa kayu bakar yang sudah dipotong-potong olehnya.
”Heh! Aku ini sudah berbeda dari lima tahun lalu! Saat ini usiaku sudah sepuluh tahun! Dan tujuh tahun lagi, aku akan beranjak dewasa lalu pergi dari tempat ini! Aku yakin, dengan perlahan aku bisa merubah sifatku yang menurutmu meresahkan ini.” ucap Shu Ye yang tampak tak mempedulikannya padahal ia tak bersungguh-sungguh dalam mengatakannya.
”Bicara hanya akan menguras energimu lebih cepat! Masih ada beberapa kayu yang harus dipotong di sana!” ucap Shin Yixuan sambil menunjuk ke arah potongan-potongan besar kayu yang berada di dekat mereka.
”Bicara tidak akan mempengaruhi energi yang aku keluarkan! Aku berbicara hanya untuk memecah keheningan saja! Lagipula, aku sangat tidak nyaman jika terus menerus diam tanpa ada yang mengajakmu bicara.” ucap Shu Ye sambil memotong kayu tersebut satu persatu.
”....”
Kesunyian sempat terjadi selama beberapa saat ketika mereka mendengar suara langkah kaki raksasa yang sedang berlari ke arah mereka dengan gerakan yang cukup cepat. Suaranya, mirip sekali dengan puluhan hewan sihir yang sedang melaju kemari dengan amarah mereka yang meluap-luap.
__ADS_1
”Kalian semua! Minggir dari sana!” teriak seorang pemuda yang sedang berlari ke arah mereka.
Namun, meskipun pemuda ini sudah berteriak sekeras mungkin, Shu Ye dan Shin Yixuan tak juga menyingkir dari tempat tersebut. Lalu, karena waktu yang sudah sangat sedikit ditambah lagi dengan amarah para hewan sihir yang meluap-luap, pemuda ini pun terpaksa harus membawa pergi mereka untuk menghindari serangan yang akan dilakukan oleh para hewan sihir ini!