Pewaris Raja Iblis

Pewaris Raja Iblis
CHAPTER. 51 - ANGIN MALAM


__ADS_3

Suara dentuman seperti meteor jatuh terdengar dimana-mana. Tanah yang mereka injak saat ini telah terbakar oleh api hingga berubah menjadi hitam. Beruntungnya tak ada satupun penduduk yang tinggal di sana. Tetapi, kehancuran yang ada di tempat tersebut benar-benar parah dan membuat siapapun ngeri melihatnya.


Luo Hein berdiri di antara api yang sedang membakar dan hujan yang berusaha memadamkan seluruh apinya. Ia menyeka darah yang mengalir keluar dari dalam mulutnya. Perhatiannya terus menatap tajam ke arah Lu Yuan yang sudah memperparah keadaannya. Ia bahkan tidak tahu mengapa Lu Yuan begitu membencinya sampai-sampai dia melakukan hal ini padanya.


Sebuah pedang cahaya melesat ke arahnya dengan sangat cepat seperti pesawat tempur yang sedang menjatuhkan serangannya. Luo Hein segera menghindar dari serangan tersebut dan pergi menuju suatu lembah untuk beristirahat sebentar. Ia merasa lelah meskipun ia tahu kalau sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membaringkan tubuh.


Luo Hein menatap sekeliling dan mulai melihat ke atas. Benar saja, lagi-lagi pedang cahaya itu muncul kembali dan menghancurkan beberapa tebing yang berdiri mengawasinya. Luo Hein menjentikkan jarinya lalu, muncul seekor serigala hitam berkepala tiga yang langsung menghempaskan seluruh serangan tersebut menggunakan ekornya.


Sama seperti sisi tergelap Shin Yixuan, ia juga bisa meniru beberapa serangan yang datang dari lawannya tetapi, ia akan merasa sangat kesulitan jika dipaksa untuk meniru jurus milik keenam Raja Iblis yang lain.


Lu Yuan tertawa lepas dan mencibir, ”Mencoba mencari perlindungan? Kita lihat apakah kau benar-benar bisa melawan serangan ku yang satu ini?” ucapnya dengan keras dan kemudian, petir mengamuk dari atas langit dan menyambar seluruh tempat yang ada di sana lalu meledakkannya.


Luo Hein bergerak menghindar dari serangan tersebut. Tetapi, saat serigala berkepala tiga itu mencoba melawan, ia malah terkena serangannya dan kemudian hancur menjadi serpihan-serpihan daging. ”... Benar-benar berbahaya!”


Akh!!


Luo Hein langsung terbanting ke depan hingga membuat cekungan tanah dan bebatuan yang cukup dalam. Sebelumnya, ia tidak menyadari keberadaan Lu Yuan yang sudah menunggunya di sana. Jika saja bukan karena usianya yang sudah semakin tua, ia mungkin bisa mengalahkannya dengan sangat mudah.


”Tak ku sangka kau akan menjadi selemah ini. Apa yang terjadi pada Raja Iblis ketujuh yang dulu? Kau tidak beralasan kalau usiamu yang sudah sangat tua?” ucap Lu Yuan sambil menginjak-injak tubuh Luo Hein dan menyeringai karena puas melihatnya.

__ADS_1


Luo Hein terdiam seolah membiarkan tubuhnya terinjak-injak seperti ini. Tak lama setelahnya, ia kembali menjentikkan jarinya lalu, muncul tombak cahaya yang langsung menerkam Lu Yuan!


Saat itu terjadi, dengan cepat Lu Yuan segera menghindarinya dan melompat menjauhinya. Tetapi, saat serangan tombak itu menghilang, Luo Hein juga ikut menghilang bersama dengan serangannya. Ia berdecak kesal karena membiarkannya pergi begitu saja. Tetapi, memangnya apa yang bisa dilakukannya saat ini? Tubuhnya sudah melemah dan sebentar lagi, dia juga akan mati.


***


”Heh! Apa yang kau lakukan di luar sini? Ingin membuat dirimu masuk angin seperti kemarin?” tanya Shu Ye yang berjalan menghampiri Shin Yixuan ketika dia sedang duduk di halaman belakang sambil memperhatikan sebuah kolam yang tampak tenang dengan beberapa ikan koi di dalamnya.


Shin Yixuan tertegun. Dengan cepat ia langsung menatapnya sebentar dan kembali mengalihkan perhatiannya. Ia diam tak berkutik. Tatapannya terlihat sendu seperti baru saja kehilangan sesuatu yang penting baginya.


Untuk menghiburnya, Shu Ye duduk di sebelahnya dan bertanya, ”Ada apa dengan ekspresi pahitmu itu? Kau terlihat sepuluh kali lebih jelek dari biasanya.”


”Ya! Itu semua membuat wajahmu terlihat tua karena banyak berpikir!” celetuk Shu Ye. ”... Sejak dulu kau begitu misterius dan menyimpan banyak rahasia. Memangnya, kau sanggup menahan sebuah gunung hanya dengan kedua tanganmu saja tanpa mengandalkan tangan orang lain atau mungkin kau bisa membuat jembatan dengan hanya mengandalkan kekuatanmu saja? Meskipun berhasil, kau akan merasa sangat kelelahan. Berbeda jika ada beberapa orang yang bergerak bersamamu. Kau pikir, untuk apa diciptakan begitu banyak manusia jika pada akhirnya kau akan menahannya sendiri?”


Shin Yixuan tertegun dan membisu selama beberapa saat. Ia sempat menatapnya sebentar dan kembali menatap ke arah kolam. Sesekali ia menghitung ada berapa banyak ikan koi yang sedang berenang bebas.


”Ada beberapa hal yang memang harus ku rahasiakan dari dunia. Aku tidak harus menceritakan semuanya karena hanya aku yang mengerti. Saat ini, aku tidak memiliki sesuatu untuk diceritakan padamu. Jika ada sesuatu yang mengganjal pikiranku, sudah sejak tadi aku mengatakannya.” jawab Shin Yixuan sambil menunduk.


Shu Ye terdiam dengan wajahnya yang terlihat heran. Tak lama, ia pun menghela nafasnya dan berkata, ”... Lihat ke arahku!”

__ADS_1


Shin Yixuan tertegun. Dengan gerakan lambat, ia langsung menatap ke arah Shu Ye dan mendapatkan sebuah sentilan jari yang mendarat di dahinya. ”Heh! Apa yang kau lakukan?” tanya Shin Yixuan yang langsung menatapnya dengan heran sambil memegang dahinya.


Dan dengan santainya, Shu Ye menjawab, ”Membuat pikiran meresahkan itu rontok dari kepalamu. Cepatlah masuk ke dalam jika kau tidak ingin sakit seperti kemarin! Jika itu terulang kembali, aku yang akan repot!” jawabnya sambil berjalan memasuki ruangan.


Shin Yixuan dibuat membisu olehnya. Biasanya hanya Luo Hein yang sering menyentil dahinya saat ia berumur lima tahun. Tetapi, mengapa Shu Ye juga melakukan hal yang sama padanya? Apakah kebiasaan menyentil dahi adalah suatu penyakit menular?


Saat Shu Ye masuk semakin dalam dan meninggalkannya di tengah kesunyian malam yang masih bertiup, Shin Yixuan mulai merasa ada sesuatu yang sedang mendekatinya. ”... Hawa kekuatannya sangat lemah! Orang itu pasti sedang terluka!” batin Shin Yixuan yang memperhatikannya.


Langkahnya bergerak sendiri menuju seseorang yang sedang berjalan menghampirinya dengan langkah tertatih-tatih. Ia melangkah memasuki hutan yang cukup gelap dan sulit dilihat dengan mata telanjang ketika bulan tertutup mendung. Dan saat bulan muncul kembali beberapa detik setelahnya, ia melihat sosok Luo Hein yang sedang berpegangan pada sebuah pohon.


Begitu sadar, ia langsung berlari menghampirinya karena takut sesuatu sudah terjadi padanya. Tetapi, saat baru sampai setengah jalan, tiba-tiba saja ia berhenti begitu merasakan adanya sesuatu yang aneh dalam diri Luo Hein.


”Jangan mendekatinya!” ucap sebuah suara yang berdengung di telinganya.


Akan tetapi, peringatan itu sudah sangat terlambat untuk di sampaikan padanya. Saat ia berhenti tak jauh di depannya, tiba-tiba saja Luo Hein melesat ke arahnya dan langsung mencekik lehernya hingga membuatnya terbanting ke belakang.


Dengan sekuat tenaga, Shin Yixuan mencoba melepaskan cengkraman tangan Luo Hein yang begitu kuat seperti ingin membunuhnya dalam beberapa detik. Nafasnya mulai tersendat dan wajahnya perlahan membiru. ”Ayah! Sadarlah!” teriak Shin Yixuan yang langsung menampar wajah Luo Hein dengan kuat.


Wajahnya dipenuhi dengan darah yang tidak sedikit dan kedua matanya bersinar seperti lampu merah di perempatan jalan dan hewan buas yang akan menerkam mangsanya. Beberapa detik setelah menerima tamparan itu, Luo Hein langsung tersadar dan kedua matanya berubah kembali menjadi biru seperti langit siang. Tetapi, bersamaan dengan hal itu, ia langsung terjatuh dan menimpa Shin Yixuan yang ada di bawahnya.

__ADS_1


__ADS_2