Pewaris Raja Iblis

Pewaris Raja Iblis
CHAPTER. 52 - TAMU


__ADS_3

Kedatangan Luo Hein yang terluka dan tiba-tiba, benar-benar membuat mereka terkejut. Bukan hanya mengenai Shin Buyen yang akhirnya bertemu kembali dengannya tetapi, ini juga mengenai Shin Furong yang sebelumnya tak pernah bertemu dengannya.


Sejak Shin Yixuan pulang bersama dengan Luo Hein yang terluka, Shin Furong terus memeluk pinggangnya seakan esok adalah hari kematiannya. Ia tidak tahu mengapa Shin Furong begitu melekat padanya hari ini. Ia bahkan tidak bisa melakukan apapun saat Shin Furong berada di dekatnya.


”Furong? Adakah sesuatu yang ingin kau katakan saat ini?” tanya Shin Yixuan ketika ia sedang merapikan benda-benda yang berserakan di ruangan depan.


Shin Furong terdiam sambil menatapnya dengan sendu. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu yang tidak bisa dikatakan olehnya meskipun ia mengerahkan seluruh kekuatannya. Kedua matanya yang bisa melihat masa depan memang masih berfungsi sampai saat ini. Dan saat ia terus menatap Shin Yixuan, bayang-bayang mengerikan itu muncul kembali di penglihatannya.


”Kakak jangan pergi tanpaku. Aku ingin berjalan-jalan ke kota bersama dengan Kakak.” ucap Shin Furong sambil menatapnya dengan ekspresi yang sama.


Shin Yixuan melemaskan ekspresinya. Ia menyentuh kepala Shin Furong dan menjawab, ”Pergilah bersama Shu Ye. Dia sedang tidak melakukan apapun di sana.”


Shin Furong langsung menggelengkan kepalanya dan berkata, ”Aku hanya ingin pergi bersama kakak! Kakak jangan mencoba menghindar dariku! Aku tidak ingin kakak menemui masalah.”


Shin Yixuan tersenyum. Ia berlutut di depan Shin Furong sambil menggenggam tangan kanannya. ”... Aku berjanji tidak akan terjadi apapun. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku. Aku akan baik-baik saja.”


***


”Shu Ye!” seru Luu Houyi yang berjalan menghampiri Shu Ye ketika dia sedang berlatih pedang di sebuah lapangan rumput yang tak jauh dari rumahnya.

__ADS_1


Shu Ye langsung menghentikan gerakan pedangnya dan menatap ke arah Luu Houyi yang sudah berdiri di sebelahnya. ”... Ada apa memanggilku?” tanya Shu Ye.


Sebelum menjawabnya, Luu Houyi mengalihkan perhatiannya seperti sedang memikirkan sesuatu. Wajahnya terlihat cemas begitu ia mengingatnya kembali. ”... Aku ingin kau melakukan sesuatu.” ucap Luu Houyi yang langsung menatapnya dengan serius. ”... Aku ingin kau menjaga Yixuan dan jangan biarkan dia bersama dengan Iblis Luo Hein. Jangan pernah! Sekalipun jangan!”


Shu Ye tak mengerti mengapa Luu Houyi memintanya untuk melakukan ini. Sifatnya jauh berbeda dengan Luu Houyi yang dulu. Selalu tertawa meskipun terkadang ia bertindak ceroboh. Tetapi, untuk saat ini, ia menunjukkan sebuah perubahan yang sangat besar. Perubahan yang membuat siapapun merasa kalau dia bukanlah Luu Houyi yang asli.


”Memangnya kenapa? Apakah ada sesuatu yang akan terjadi setelah ini?” tanya Shu Ye yang juga terlihat mencemaskannya.


Luu Houyi menggigit bibirnya dan langsung berbalik membelakanginya. Kepalanya terus menunduk dan menjawab, ”... Aku hanya memintamu untuk menjaganya dengan baik. Aku tidak ingin menyesal dan kau juga seperti itu. Aku hanya khawatir. Jadi, aku memohon padamu untuk segera melakukannya.” jawabnya sambil berjalan meninggalkannya.


Shu Ye terdiam membisu. Meskipun ia merasa tak mengerti dengan apa yang diucapkannya, ia merasa harus melakukannya segera bahkan sampai harus membawanya pergi jauh dari rumahnya sendiri. ”Sebenarnya, apa yang akan terjadi? Apakah Iblis itu juga akan membunuhnya?”


”Shu Ye? Kau sedang berlatih di sini?” tanya Shin Buyen yang berjalan menghampirinya setelah ia mengambil beberapa tanaman obat yang ada di dalam hutan.


”Tidak biasanya kau berlatih sendirian di sini. Kenapa Yixuan tidak bersamamu?” tanya Shin Buyen sambil berjalan di sebelahnya.


”Dia menolak. Dia bilang kalau ia harus melakukan sesuatu yang penting. Tetapi, aku tidak pernah mengerti apa yang dikatakannya.” jawab Shu Ye sambil memikirkannya. Memang tak seperti biasanya. Kemarin malam, wajahnya juga terlihat sendu dan ia bahkan tidak bisa menghiburnya. Dan hal itu, benar-benar membuatnya tidak bisa tidur semalaman.


”Apakah Yixuan membuatmu repot karena dia tidak pernah menceritakan keadaannya?” tanya Shin Buyen yang memperhatikannya.

__ADS_1


Shu Ye tertegun. Dengan cepat perhatiannya langsung tertuju pada Shin Buyen sebelum menjawab, ”... Ya, begitulah. Yixuan membuatku penasaran. Aku bahkan tidak bisa menghiburnya dan merubah suasana pikirannya.”


Shin Buyen terdiam selama beberapa saat. Ia tersenyum dan berkata, ”Aku juga tidak bisa. Meskipun aku adalah Ibunya, aku tidak pernah mengetahui apa yang selama ini dipikirkannya. Saat usianya lima tahun, dia selalu kembali dengan membawa seseorang. Seumur hidupnya Yixuan tidak pernah sendiri dan tahu-tahu, kau datang dalam hidupnya, untuk merubahnya menjadi seseorang yang memiliki kehidupan. Kuharap dia memiliki kehidupan yang panjang.” ucapnya sambil menatap Shu Ye dengan ekspresi yang sama.


Mendengar hal itu, membuat Shu Ye mulai merasa cemas. Ia khawatir dengan firasatnya yang buruk. Ia merasa tidak enak dan perhatiannya terus tertuju ke depan berharap, ia bisa berjalan lebih cepat dari ini. ”... Nyonya Shin. Kita harus cepat kembali.” ucap Shu Ye setelah ia merasa sangat yakin dengan firasatnya saat ini.


Shin Buyen tampak bingung dan bertanya, ”Kenapa?”


Shu Ye menatap Shin Buyen dengan ekspresinya yang terlihat khawatir. Ia berkata, ”Aku tidak tahu tapi, sepertinya kita harus cepat.”


Melihat ekspresi Shu Ye, membuat Shin Buyen tampak yakin. Dengan cepat, perhatiannya langsung tertuju ke depan setelah itu, keduanya berlari kembali ke rumahnya yang tampaknya sudah tidak aman.


***


”Terluka di saat seperti ini? Dia tidak seperti Raja Iblis ketujuh yang banyak dibicarakan orang-orang.” batin Luu Houyi yang mengawasi ketika Shin Buyen sedang mengambilkan beberapa tanaman obat di tempatnya.


Iblis yang sudah membunuh muridku. Aku bersumpah akan membunuh diriku sendiri jika kejadian ini terulang kembali.


Luu Houyi memegang sebuah pisau belati yang diangkat di atas kepala Luo Hein yang masih tak sadarkan diri karena lukanya. Wajahnya terlihat sangat marah dan sangat ingin membunuhnya saat ini juga. Tetapi, kedua tangannya gemetar seperti memiliki pemikiran yang berbeda.

__ADS_1


Luu Houyi berdecak kesal karena tangannya tidak juga bergerak untuk membunuhnya. Memangnya apa yang sedang ditunggu olehnya saat ini? Bukankah ia ingin membalaskan dendam atas kematian Rui, murid pertamanya? Mengapa sekarang ia ragu untuk membunuhnya? Mungkinkah ia sudah memaafkan Luo Hein yang telah membunuh muridnya demi menyelamatkan putra pertamanya yang selama ini menjadi murid keduanya?


”Meskipun muridku sendiri akan membenciku, setidaknya itu akan lebih baik daripada harus membuatnya terbunuh!” ucap Luu Houyi yang langsung menjatuhkan pisaunya ke atas kepala Luo Hein!


__ADS_2