
Keesokan harinya.
”Ayah! Ajari aku cara menggunakan pedang! Ayah sudah berjanji padaku kemarin!” seru Shin Yixuan yang memaksanya dan terus mengikuti Luo Hein sejak tadi.
”Aku sibuk! Lain kali saja!” jawab Luo Hein yang terus berjalan cepat meninggalkannya.
”Tapi, Ayah sudah janji! Aku sudah membawakan telur untuk Ayah!” ucap Shin Yixuan yang langsung melompat ke arahnya dan mencoba untuk menyentuh jubah luarnya. Akan tetapi, Luo Hein langsung menghilang saat ia hampir menyentuhnya. Ia pun terjatuh ke tanah dengan wajah yang sudah dipenuhi debu.
”Hahah! Sudah kubilang, Ayahmu tak akan pernah serius untuk mengajarimu sesuatu!” seru Shu Ye yang terdengar sedang menertawainya dari belakang.
Namun, Hu Lingge yang akan pergi sore ini mencoba untuk menghiburnya sedikit. Ia berjalan menghampirinya dan menepuk pundaknya saat ia berada tepat di belakangnya. ”... Aku bisa mengajarimu sedikit. Anggaplah sebagai hadiah kecil dariku.” ucapnya.
Ji Yun yang selalu berdiri di sebelahnya tampak terkejut dan mencoba untuk berkata, ”Tapi, Yang Mulia.” namun, suaranya langsung terhenti saat Hu Lingge melirik ke arahnya seolah ia mengatakan untuk tidak mencemaskannya saat ini.
Seketika, kedua mata Shin Yixuan tampak berbinar seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. ”... Sungguh? Kakak akan mengajariku cara menggunakan pedang?” tanya Shin Yixuan.
Hu Lingge sedikit menganggukkan kepalanya dan hal itu semakin membuat Shin Yixuan tampak senang. Ia langsung menarik Shu Ye yang sejak tadi terus menertawainya dan ia pun bertanya, ”Kemana kita akan pergi sekarang? Apakah ke tempat yang berbahaya?” ucapnya dengan antusias.
”Hah? Mengapa kau mengajakku juga? Aku tidak ingin terlibat masalah denganmu apalagi pergi ke tempat berbahaya!” seru Shu Ye yang langsung menolaknya dan melepas tangannya dari Shin Yixuan.
Hu Lingge tertawa kecil dan berkata, ”Tidak jauh. Aku lihat ada hamparan rumput luas di dekat sini. Kita akan berlatih di sana.”
”Aku tidak harus ikut dengan kalian kan?” tanya Shu Ye yang tampak enggan. Sejak awal ia memang tidak suka berlatih dan melakukan hal apa saja yang membuatnya lelah. Ia bahkan berandai-andai jika saja ada cara yang bisa membuatnya jauh lebih kuat dengan bermalas-malasan di atas tempat tidur.
”Jangan banyak mengeluh! Nanti kau akan cepat tua! Sebaiknya ikut saja!” seru Shin Yixuan yang langsung menarik Shu Ye berlari mengikuti Hu Lingge yang sudah berjalan lebih dulu darinya.
Di sisi lain, Luo Hein tampak mengamati dari balik sebuah pohon yang cukup besar di sana. Di dekatnya sudah ada Guju yang juga sedang melakukan hal yang sama dengannya. ”... Kaisar Istana Zhu Selatan, Hu Lingge. Ayahnya adalah seorang pemuda yang pernah menaklukkan beberapa medan perang dan mengembalikan perdamaian dunia. Sedangkan Ibunya berasal dari keluarga Qin. Saat usianya 14 tahun, Ayahnya dibunuh oleh panglima Istana Zhu Utara yang dipimpin oleh pamannya sendiri. Lalu, menyusul ibunya yang memiliki penyakit keturunan. Bertahun-tahun memerintah rakyatnya tetapi, sebentar lagi ia menemui kematiannya karena penyakit yang diturunkan dari Ibunya. Apakah kau sudah tahu penyakit apa yang membuatnya hampir mati berkali-kali?” tanya Luo Hein.
Guju menganggukkan kepalanya dan menjawab, ”Bukan penyakit melainkan sebuah kutukan yang menimpa pemimpin keluarga Qin. Raja iblis keenam meletakkan sebuah kutukan di dalam tubuhnya saat akan mengakhiri pertarungannya. Kutukan itu akan membuat tubuh mereka melemah dan melumpuhkan beberapa organ tubuhnya hingga mereka mati secara perlahan.”
”Merepotkan sekali.” gumam Luo Hein yang langsung mengalihkan perhatiannya dengan dingin. ”... Jika dia mati, mungkin saja akan terjadi perang antara Istana Zhu Selatan dengan Utara. Sementara, dia sendiri belum memiliki satupun keturunan. Pamannya adalah orang yang gila harta dan tahta. Semuanya pasti akan sangat kacau seperti dulu.”
”Lalu, apa yang akan Yang Mulia lakukan?” tanya Guju.
__ADS_1
Luo Hein berbalik membelakanginya dan menjawab, ”... Kau akan melihatnya nanti.”
***
”Cobalah untuk mengerahkan seluruh tenagamu. Fokuslah dengan lawan yang akan menyerangmu sewaktu-waktu.” ucap Hu Lingge yang mencoba mengarahkan gerakan tangan dan kaki Shin Yixuan yang tidak pernah benar sejak tadi. Ia mulai ragu Shin Yixuan tidak akan berhasil karena ia memberikan pedang asli dan bukannya pedang kayu. Dalam benaknya, ia juga berpikir pedang itu mungkin akan terjatuh dan melukai kaki atau tangannya.
”Pedang ini ternyata jauh lebih berat dari kelihatannya. Ku pikir benda ini hanya lempengan logam dengan ujung berkayu.” batin Shin Yixuan yang mencoba untuk mengangkat pedangnya ke atas. Namun, tangannya tak sengaja tergelincir sehingga membuatnya menjatuhkan pedangnya.
Saat pedang tajam itu nyaris mengenai kakinya, Shu Ye dengan cepat menariknya ke belakang sehingga pedang itu tidak berhasil mengenainya.
”Lain kali berhati-hatilah! Sudah kubilang sejak awal! Kau harus melatih fisikmu lebih dulu baru kau bisa menggunakan pedang!” ucap Shu Ye dengan sedikit keras padanya.
Shin Yixuan tertawa kecil dan ia pun berkata, ”Maaf. Aku mungkin terlalu serakah. Tetapi, aku hanya ingin menghabisi hariku bersama dengan Yang Mulia Kaisar. Tapi, ternyata pedang itu lebih berat dari kelihatannya.”
Hu Lingge tampak terkejut saat mendengarnya. Menghabiskan hari dengan Yang Mulia Kaisar? Bagaimana ia bisa mengatakan itu semua? Saat semua orang mencoba menghindarinya, dia malah sengaja mendekatinya hanya untuk menghabiskan hari-harinya. ”Haha. Tidak mungkin.” batin Hu Lingge yang langsung menurunkan pandangannya.
Sadar kalau saat ini keadaan Hu Lingge semakin memburuk karena terus berhadapan dengan pedang, hal itu membuat Ji Yun harus membuat alasan agar Shu Ye dan Shin Yixuan bisa menjauh dari mereka selama beberapa saat.
”Mengapa harus kami yang melakukannya?” celetuk Shu Ye yang tampak tak menginginkannya.
Namun, Shin Yixuan langsung menarik tangannya dan berkata, ”Tentu saja! Kami akan segera melakukannya.” setelah itu ia pun langsung menarik Shu Ye kembali ke kediamannya dan melakukan apa yang Ji Yun katakan tadi.
Setelah memastikan bahwa keduanya telah pergi, Ji Yun akhirnya bisa memeriksa keadaan Hu Lingge dengan tenang. Saat ini, keadaannya semakin memburuk dari hari-hari kemarin. Tampaknya, penyakit itu telah menyerbu organ dalamnya dan merusaknya dengan perlahan. Jika terus seperti ini, ia hanya perlu menghitung hari untuk menentukan kematiannya.
”Ini salahku karena tak memperingatkan Yang Mulia ketika ingin memulai perjalanan jauh.” gumam Ji Yun yang mampu di dengar oleh Hu Lingge.
”Ini bukan salahmu. Tetapi, ini adalah keinginanku. Akhirnya aku bisa bertemu lagi dengannya meskipun hanya sesaat. Setidaknya, rasa penasaranku akan hilang setelah ini.” ucap Hu Lingge dengan suara pelan. ”... Aku akan baik-baik saja. Aku hanya ingin tidur di tempat ini.” lanjutnya sambil bersandar di bawah pohon dan langsung tertidur di sana.
Ji Yun terlihat sangat mencemaskannya. Seluruh keluarganya adalah penasehat kerajaan dan mereka juga telah menjadi saksi dari tumbangnya satu persatu anggota kerajaan dan juga Kaisar yang memimpin saat itu. Dan untuk saat ini, ia akan melihat bagaimana kematian itu akan menghampiri Kaisarnya yang sudah memimpin negaranya sejak remaja.
”Kasihan sekali. Sebentar lagi, kau akan menyaksikan kematian yang akan dialami oleh kaisar mu sendiri.” ucap pemuda yang membisikkannya di telinga Ji Yun.
Ji Yun sangat terkejut dan mencoba untuk menatap ke arah laki-laki yang ada di belakangnya. Tetapi, belum sempat melihat, laki-laki itu langsung memukul tengkuknya sehingga membuat kesadarannya menghilang secara mendadak.
__ADS_1
***
”Ji Yun! Bangunlah!” seru seorang pemuda yang sedang mengguncangkan kedua pundaknya.
Ji Yun tampak tertidur. Namun, beberapa saat setelahnya ia pun membuka matanya secara perlahan. Dan saat ia benar-benar bangun, ia langsung terduduk dari posisinya dan menatap ke arah Hu Lingge yang tampak baik-baik saja di depannya.
”Yang mulia? Bagaimana keadaanmu saat ini? Apakah ada yang terluka?” tanya Ji Yun yang tampak cemas setelah mereka kedatangan seorang laki-laki misterius.
Hu Lingge menatapnya dengan bingung. Ia seolah tak mengerti setiap kata yang diucapkan oleh Ji Yun padanya. ”... Apa yang kau katakan? Aku baik-baik saja. Tidak ada yang sakit dan bahkan aku merasa sehat-sehat saja.” ucapnya.
Ji Yun merasa heran padahal sebelumnya, Hu Lingge terlihat kesakitan bahkan sampai mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya. ”... Tapi, bagaimana dengan penyakit Yang Mulia? Apakah Anda yakin baik-baik saja.”
Hu Lingge menganggukkan kepalanya dan merasa yakin dengan perkataan yang keluar dari dalam mulutnya.
”Yang mulia? Sedang apa kalian di sini?” tanya Shin Buyen yang kebetulan melewatinya dengan membawa beberapa tanaman obat yang dikumpulkan di sebuah keranjang bambu.
”Kebetulan kau ada di sini.” seru Hu Lingge yang langsung berlari menghampirinya. ”... Ku dengar kau memiliki sedikit ilmu pengobatan. Bisakah kau memeriksa keadaan ku yang sempat memburuk karena pekerjaan?”
Shin Buyen menatapnya dengan bingung sedangkan Ji Yun tampak tak percaya Hu Lingge akan mengatakan tentang keadaannya saat ini. Karena tak memiliki pilihan lain, ia pun segera memeriksanya sebentar. Selama beberapa saat, sorot matanya tampak serius. Ia seperti tak menemukan apapun yang membuat nyawanya terancam.
”Mencoba bermain-main denganku? Keadaanmu sehat-sehat saja! Tak ada yang mengancam nyawamu!” ucap Shin Buyen yang langsung melepas tangannya.
”Tidak mungkin! Bukankah tadi, Yang Mulia sempat kritis? Bagaimana bisa penyakit separah itu akan sembuh dengan sangat cepat?” batin Ji Yun yang merasa sangat terkejut. ”... Tapi, syukurlah kalau begitu. Tak ada yang perlu aku khawatirkan setelah ini.”
”Sebaiknya cepat kembali! Orang-orangmu sudah bersiap untuk pergi. Jangan membuat mereka menunggu lebih lama.” ucap Shin Buyen yang langsung berjalan kembali ke rumahnya.
”.....”
”Ini tidak mungkin mimpi kan? Aku tidak percaya aku benar-benar sembuh! Siapa yang sudah membantuku?” batin Hu Lingge yang tampak sangat terkejut sekaligus ia merasa penasaran dengan seseorang yang sudah membantunya sembuh seperti ini.
Di waktu bersamaan, Luo Hein tampak sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. Guju yang terus berada di sebelahnya pun mulai menyadari ada sesuatu yang aneh di sini. ”... Apakah Yang Mulia yang sudah melakukannya?” tanya Guju.
Luo Hein mengalihkan perhatiannya sambil melipat kedua tangannya. Ia tersenyum sinis dan menjawab, ”Hal yang seperti itu aku tidak pernah mengetahuinya. Aku hanya memperhatikannya dari kejauhan saja.”
__ADS_1