Pewaris Raja Iblis

Pewaris Raja Iblis
[S2] CHAPTER. 73 - ILUSI MIMPI


__ADS_3

”Sudah berapa lama kau menahannya?” tanya Huang Luo ketika ia sedang memeriksa keadaan Shin Yixuan yang sedang berada di kamarnya.


Sebuah kutukan terlihat jelas di punggungnya saat ini. Sama seperti kejadian 700 tahun lalu, ketika untuk pertama kalinya, Shin Yixuan bertarung dengan Lu Yuan di desa Lanyan. Namun, kutukan ini semakin kuat dan semakin sulit dihilangkan meskipun Huang Luo menggunakan seluruh darahnya untuk menghilangkannya.


”Sudah sepuluh tahun lalu tapi, tidak bisa dihilangkan juga ya? Aku rasa Lu Yuan benar-benar dendam padaku setelah aku menghilangkan tangan kanannya.” jawab Shin Yixuan sambil meringkuk di atas kedua lututnya.


Huang Luo tidak berekspresi saat ia menjawab, ”Maaf. Seharusnya aku berada di sana untuk menghindarinya. Jika kutukan ini cepat disembuhkan dengan darahku, mungkin saja tidak akan menyebar sampai separah ini.”


”Bukan salahmu. Aku hanya ceroboh karena membiarkan Weixian bermain sendirian di hutan. Jika aku tahu sejak awal kalau Lu Yuan sedang berada di sana, aku mungkin bisa menjaganya lebih baik lagi.” jawabnya dengan suara pelan. ”... Saat aku melihatnya, aku selalu teringat Furong. Meskipun aku tidak bisa mengingat wajahnya, setidaknya aku ingat namanya.”


Huang Luo tampak sedih begitu mendengarnya. Ia menunduk sambil memikirkan sesuatu. Ia mungkin lelah karena terus bersandiwara sebagai orang lain. Sudah berlangsung selama ratusan tahun tetapi, sangat sulit baginya untuk mengatakan sesuatu yang sudah menjadi kenyataannya.


”Tapi, semua itu bukan masalah yang besar.” lanjut Shin Yixuan yang berhasil membuat Huang Luo sedikit terkejut. ”... Bersama denganmu di sini, membuatku merasakan kehangatan saat kami masih berkumpul di meja makan dan saling berbicara untuk waktu yang lama. Ada Ayah yang tegas dan Ibu yang lembut. Ada juga saudara yang selalu mendukung dan seorang adik yang selalu meminta perhatian lebih. Terkadang aku ingin semuanya kembali.”


Huang Luo terdiam dengan menyembunyikan ekspresinya. Ia kemudian memakaikan kembali pakaian Shin Yixuan dan berkata, ”Kau bukan Tuhan yang bisa melakukan segalanya dengan mudah. Karena itu, semua yang terjadi di hadapanmu saat ini, kau harus bisa menerimanya dengan baik. Semua itu takdir.”


Shin Yixuan menundukkan kepalanya sambil memakai sabuk pakaiannya kembali. ”... Ya, kau mungkin benar. Tak ada yang bisa kulakukan sekarang. Terima kasih, sudah mendengar ceritaku.” ucap Shin Yixuan sambil menatapnya dengan ekspresi senang.


Huang Luo terdiam sendu. Ia tak menatap Shin Yixuan dan perhatiannya terus teralihkan ke arah lain. Meskipun begitu, Shin Yixuan mampu mengerti kalau saat ini, Huang Luo sedang memikirkan sesuatu. Karena itu, ia pun langsung bertanya, ”... Ada apa? Ada sesuatu yang mengganjal di pikiranmu?”


Huang Luo menjawab sesaat kemudian, ”... Jika, Furong masih hidup sampai sekarang, apakah kau mampu mengenali wajahnya maupun hawa kekuatannya?”


Shin Yixuan tertegun. Ia merasa canggung karena ia tidak tahu harus menjawab apa padanya. ”... Sampai sekarang, ingatanku masih kacau dan hanya menyisakan nama mereka saja. Tapi, aku tetap berharap aku bisa mengingat wajah mereka semua. Terutama Furong dan Shu Ye.” jawabnya sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


Huang Luo tampak kecewa. Ia menundukkan kepalanya dan kemudian berdiri dari atas tempat tidurnya. ”Sudah malam. Beristirahatlah.” ucapnya sambil berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut sedangkan, Shin Yixuan hanya terdiam menatapnya dengan bingung setelah melihat sikapnya hari ini.


Saat Huang Luo telah berjalan meninggalkan ruangan tersebut, wajahnya tampak sedih dan kecewa. Perhatiannya terus menatap ke bawah dan tangannya mengepal begitu kuat. Andai saja selama ini Shin Yixuan tahu bahwa dia adalah adiknya dan jika saja kejadian itu tidak pernah terjadi, apakah dia masih bisa mendapatkan kebahagiannya lagi?


Ia sudah menyaksikan begitu banyak kematian tetapi, hanya satu ini yang membuatnya merasa sangat menyesal.


Ah?


Huang Luo mulai menatap ke depan dan melihat ke arah patung batu yang berada di sana. Tepatnya, saat ini ia tengah memperhatikan Yun Weixian yang sedang tertidur di bawahnya. Entah karena dia tidur sambil berjalan atau sengaja pergi ke sana. Huang Luo langsung berjalan menghampirinya.


”Patung ini? Hadiah dari paman pemahat. Ternyata masih ada di sini.” gumam Huang Luo yang menatap patung berwajah Luo Hein dan setelah itu, ia baru menatap ke arah Yun Weixian yang tertidur di sana. ”... Kenapa dia tidur di sini? Apakah dia bosan tidur di kamarnya?”


Huang Luo menepuk pundak Yun Weixian dan mencoba membangunkannya. Tetapi, berulang kali ia mencobanya, tetap saja Yun Weixian tertidur lelap dan tidak bisa dibangunkan. ”... Dia ini sedang bermimpi apa? Repot sekali jika aku harus membawanya ke kamar.” batin Huang Luo yang mulai berpikir untuk meninggalkannya begitu saja di sini. Akan tetapi, jika Yun Weixian demam setelah tidur di luar, bisa-bisa dia juga yang akan repot.


”Shin Furong!”


Huang Luo tampak sangat terkejut begitu dia mendengar suara ini menggema di telinganya. Ia pun mencoba menoleh ke belakang namun, ia tidak berhasil menemukan siapapun di sana. Seharusnya tidak ada seorangpun yang tahu siapa Shin Furong yang sebenarnya dan bahkan beberapa ada yang mengira bahwa Shin Furong sudah mati sejak kecil. Lalu, siapa yang memanggilnya dengan nama aslinya?


”Ilusi? Ayah?”


***


Yun Weixian terbangun di sebuah ruangan putih dengan air yang menggenang di sana. Ia terbangun tiba-tiba dan sudah menatap ratusan batang pohon rindang yang tumbuh di atasnya. ”... Heh? Apa ini? Semuanya putih?” gumam Yun Weixian yang tampak kebingungan.

__ADS_1


”Oh? Kau sudah bangun rupanya?” ucap laki-laki yang kini berdiri di atas kepalanya sambil menunduk sehingga, wajah keduanya saling menatap satu sama lain.


Yun Weixian tampak kebingungan setelah melihat laki-laki berambut hitam ini. Ia berkedip beberapa kali lalu, memejamkan matanya selama beberapa saat untuk memastikan bahwa semua ini hanyalah mimpi. Tetapi, setelah memejamkan matanya, ia masih melihat sosok laki-laki yang berdiri di sana.


”Bangunlah! Ini semua bukan ilusi! Aku yang memanggilmu kemari!” ucap laki-laki yang langsung menendang kepala Yun Weixian hingga menimbulkan suara dentuman yang cukup keras.


”Akh! Apa salahku?! Apakah kau harus menendang kepalaku seperti itu?! Masih untung aku lahir dengan kepala!” teriak Yun Weixian yang langsung bangkit sambil memegangi kepalanya.


”Hei! Kau lumayan juga. Darimana asalmu?” tanya laki-laki sambil melipat tangannya.


Yun Weixian menatapnya dengan heran dan langsung bertanya, ”Seharusnya aku yang menanyakan hal itu padamu! Darimana kau berasal dan mengapa aku bisa ada di sini? Kau ini sedang menculik ku atau apa?”


Laki-laki itu menatapnya dengan heran. ”Memangnya, siapa yang mau menculik orang yang tidak berguna sepertimu? Keluarga tak punya harta pun tak ada. Hanya orang bodoh yang mau melakukannya!” ucapnya sambil menatapnya dengan menilai.


”Hah? Apaan sih!” batin Yun Weixian yang mulai kesal.


Laki-laki itu kembali berucap, ”Baiklah. Waktuku tidak begitu lama. Aku hanya ingin mengatakan beberapa kata untukmu. Aku tidak perlu mengenalkan diriku karena waktunya sangat tidak banyak.”


”Apa maksudmu, waktunya sangat singkat? Sebenarnya ini dimana?” celetuk Yun Weixian yang langsung memotong pembicaraan laki-laki tadi.


Eh?


Penglihatan Yun Weixian mulai terlihat buram seperti orang yang akan kehilangan kesadarannya. Tak lama setelahnya, penglihatannya mulai menjadi gelap selama beberapa saat. Kemudian, ia mendengar sebuah suara yang memanggilnya berulang kali. Yun Weixian langsung membuka matanya perlahan dan menatap ke arah Huang Luo yang sedang duduk di atas tempat tidurnya bersama dengan dirinya!

__ADS_1


”Kau baru saja bertemu dengan siapa?” tanya Huang Luo.


__ADS_2