
Ketika tangan Shin Yixuan nyaris menembus kulit dan dagingnya, Shu Ye memejamkan matanya dan melepas pedang yang menancap di bahu Shin Yixuan. Dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah dan ekspresinya yang seperti sedang menahan sakit, ia menjatuhkan pedangnya yang sudah patah.
Shin Yixuan berekspresi sedih saat ia bertanya, ”S- Shu Ye? Kenapa seperti ini?” tanyanya dengan tidak percaya dan langsung melepas tangannya yang berdarah-darah.
Shu Ye terbatuk pelan sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Memejamkan matanya sebentar untuk beristirahat, beberapa detik setelahnya ia menatap kembali ke arah Shin Yixuan dengan bibir yang melengkung sedikit.
”Aku datang hanya untuk mencarimu karena aku percaya kalau kau masih hidup.” ucap Shu Ye dengan suaranya yang serak sambil memegangi lukanya yang cukup dalam. ”... Tetapi, tak disangka waktu berjalan lebih cepat dari yang aku kira. Kuharap aku tahu hal ini akan terjadi ketika aku mencarimu. Andai saja aku bisa datang lebih cepat untuk membawamu keluar dari bukit Xieyu. Ini semua salahku karena tak melakukan apa yang Paman Luu katakan untuk melindungimu. Tolong maafkan aku.”
Shin Yixuan tak tahu harus mengatakan apa. Ia merasa sangat sedih bahkan tak percaya ia sudah melukainya sampai separah ini. Mengapa ia harus terpengaruh dengan perkataan yang diucapkan oleh Lu Yuan jika saja ia tahu kalau semuanya akan berakhir seperti ini.
”Kau yang datang tanpa permisi, mengapa repot-repot mencariku sampai sejauh ini padahal kau tahu kalau aku sudah mati? Mengapa tidak lari dan menyelamatkan dirimu sendiri? Kalau kau tahu ini semua adalah kesalahanmu, mengapa kau masih berani muncul di depanku?” tanya Shin Yixuan dengan sedih.
Dari telapak tangannya, Shu Ye memunculkan sebuah pedang dengan pegangan yang memiliki corak biru dan sebuah garis biru yang berada di tengah-tengah lempengan besinya. ”... Untuk memberikanmu ini. Paman Luu yang membuatnya untukmu. Dia sangat ingin memberikannya sebagai hadiah ulang tahunmu. Tetapi, keadaan sedang tidak berpihak padanya. Dia tahu kalau aku akan mencarimu jadi, Paman Luu menitipkan ini untukmu— UHUKK!”
Belum sampai ia mengakhiri perkataannya, Shu Ye jatuh berlutut sambil memuntahkan seteguk darah yang tidak sedikit. Lukanya semakin terasa perih dan menguras tenaganya bahkan berbicara saja sudah membuat nafasnya terengah-engah. Ia menaruh pedang di depannya dan terus meringkuk menghadap tanah.
Shin Yixuan jelas tidak berani menyentuhnya. Kedua tangan dan kakinya gemetar seakan tidak kuat untuk menahan berat badannya sendiri. Ia hanya bisa menatapnya dengan penuh kesedihan, berharap semua ini hanyalah ilusi yang diberikan padanya.
Dia takut semua orang akan membencinya.
Beberapa detik setelahnya, Shu Ye mengangkat kepalanya kembali dan menatapnya. Lengkungan bibirnya masih terbentuk diantara nafasnya yang mulai terengah-engah. ”... Aku tidak akan membencimu. Aku tahu kau tidak bisa mengatakan apapun saat ini. Kau pasti sangat terkejut melihatku berdiri di sini kan?” ucapnya. ”... Aku sudah berjanji untuk mengatakan ini padamu ketika aku akan pergi nanti. Dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengatakannya.”
__ADS_1
”....” Shin Yixuan terdiam dan mendengarkannya bicara meskipun suaranya terdengar serak.
Dengan perlahan, mulut Shu Ye mulai bergerak dan mengatakan di sesuatu padanya. ”... Maaf sudah masuk tanpa permisi dan terima kasih sudah mengizinkanku untuk tinggal.” sedetik kemudian Shu Ye terjatuh ke tanah dan tidak bergerak sama sekali.
Shin Yixuan yang melihatnya sangat terkejut dengan kedua matanya yang terbelalak karena tak percaya. Perlahan, ia berjalan mendekati Shu Ye dan jatuh berlutut di depan mayatnya. Shin Yixuan menundukkan kepalanya dan memandangi kedua tangannya yang berlumuran darah.
Sangat menyedihkan!
Aaaahhhh!!!!
Shin Yixuan berteriak keras sambil mencengkram kedua kepalanya seperti ingin menghancurkannya. Kedua matanya menangis darah dan energi kebencian yang ada di sekitarnya mulai berkumpul di tubuhnya.
Beberapa detik setelah suara itu muncul, tubuh Shin Yixuan mulai dikendalikan oleh sisi tergelapnya yang berubah jauh lebih kuat semenjak ia berubah menjadi iblis. Sorot matanya merah menyala tanpa ekspresi seperti boneka yang dikendalikan oleh seseorang. Ia mengambil pedang yang dibawa oleh Shu Ye untuknya dan menggunakannya.
Shin Yixuan menyeringai dan menatap ke depan. ”... Ternyata di sana ya. Kau sengaja memancing kemarahanku, Raja Iblis pertama, Lu Yuan.”
***
UHUKK!!
Shin Furong mendadak tersedak kuah panas saat hal itu terjadi di tempat lain. Ia langsung berfirasat buruk sambil memandangi wajahnya yang terpantul di atas kuah makanan. ”... Kak Shu Ye, kuharap dia baik-baik saja. Jika dia berada dalam bahaya, siapapun tolonglah dia.” batin Shin Furong dengan penuh harap.
__ADS_1
”Ada apa? Kau tersedak?” tanya Xiu Huan yang berada di sebelahnya saat keduanya beristirahat di sebuah restoran kota Wujie.
Shin Furong tak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya. Selama beberapa saat ia mencoba berpikir sebelum akhirnya ia berkata, ”... Paman Xiu! Apakah Paman Luu dan Ibu sudah mati? Bukit Xieyu terasa sangat sunyi dari biasanya. Jika Paman mengetahui sesuatu, bisakah Paman merasa terbuka untukku?” ucapnya sambil menatap Xiu Huan tanpa ekspresi.
Xiu Huan tertegun dan dirinya terdiam selama beberapa saat. Dengan cepat, ia langsung mengalihkan perhatiannya dan berpikir sejenak. ”... Kau tidak akan sedih ketika mendengarnya?” tanya Xiu Huan sambil menatapnya dengan serius.
Shin Furong langsung menjawab, ”Tidak. Aku justru merasa senang karena Paman mau mengatakannya padaku. Setidaknya, Rasa penasaranku ini akan menghilang terbawa angin.”
Xiu Huan lagi-lagi terdiam sambil menatapnya. Ia ragu. Takut jika Shin Furong akan sedih ketika mendengarnya dan akan menangis lagi seperti pertama kali mereka bertemu. Disisi lain, ia juga tidak bisa merahasiakan ini selama-lamanya dan membuatnya terus berharap mereka berdua akan kembali dengan selamat.
”Mereka berdua, sudah tidak ada.” singkat Xiu Huan yang langsung dimengerti oleh Shin Furong.
Beberapa detik setelahnya, Shin Furong menunduk seakan sudah menduga bahwa hal ini pasti terjadi. Kedua tangannya mengepal kuat karena tak bisa menduganya. Sesekali, ia mengusap kedua matanya yang tertutupi oleh rambut depannya.
”Kau berjanji kau tidak akan sedih. Mengapa kau menangis sekarang?” celetuk Xiu Huan yang memperhatikan.
Shin Furong menjawab beberapa saat setelahnya, ”Tidak. Aku tidak benar-benar menangis. Aku sudah menduga kalau hal ini pasti terjadi. Paman Luu tidak pernah melanggar janjinya dan Ibu selalu datang saat aku membutuhkannya. Jika hal itu tidak sampai terjadi, aku sudah sangat yakin kalau terjadi sesuatu pada mereka.”
Xiu Huan berekspresi sedih seakan makanan yang ada di atas mejanya berubah menjadi asin. Ia menyentuh kepala Shin Furong hingga membuatnya terkejut. ”... Sekarang kau tidak memerlukannya lagi. Aku sudah ada di sini dan kau terus memaksa untuk ikut denganku. Aku tidak memiliki pilihan selain tinggal bersamamu. Aku juga tidak ingin kejadian tadi terulang kembali.”
Shin Furong menduga kalau Xiu Huan tidak ingin ada penduduk desa yang mengira kalau dirinya adalah iblis dan merajamnya seperti tadi. Dalam benaknya, muncul beberapa pertanyaan yang membuatnya penasaran. ”... Bagaimana paman melihatku? Setelah melihat mataku, apakah Paman juga mengira kalau aku adalah Iblis pemakan jantung manusia?”
__ADS_1