
”Maaf aku lupa memperkenalkannya pada kalian. Laki-laki ini bernama Luu Houyi, dia adalah saudara seperguruan ku.” ucap Shin Buyen yang memperkenalkan sosok pemuda tadi di depan Shu Ye dan Shin Yixuan yang awalnya kebingungan setelah melihatnya.
Keduanya menatap Luu Houyi dengan heran. Mereka tak menyangka jika orang seperti Luu Houyi bisa menjadi saudara seperguruan Shin Buyen. Tetapi, siapa yang menjadi Guru mereka? ”... Pasangan yang cukup aneh. Aku tahu Nyonya Shin itu kuat tetapi, apakah orang ini jauh lebih kuat darinya?” batin Shu Ye yang memperhatikannya meskipun Luu Houyi sudah tahu kalau Shu Ye sedang menatapnya.
Luu Houyi menunjukkan senyum kekanak-kanakannya sambil berkata, ”Kau tidak bilang kalau kau sudah memiliki dua anak.” ucapnya sambil mencubit pipi Shin Yixuan yang berdiri di depannya. ”... Bukankah ini adalah anak laki-laki yang aku lihat sepuluh tahun lalu? Dia sudah banyak berubah ya.”
”Ah! Paman Luu! Hentikan! Aku sudah cukup besar saat ini.” seru Shin Yixuan yang langsung mencoba melepaskan tangan Luu Houyi yang masih menyentuhnya. Sementara, Shu Ye menatapnya dengan enggan dan perlahan ia pun bergerak mundur.
Luu Houyi yang melihatnya langsung menatap ke arahnya dengan tatapan yang sama. ”Jangan begitu. Tenang saja aku tidak akan melupakanmu. Kau adalah anak dari Lun Heiyun kan? Kalau tidak salah, namamu adalah Lun Shu Ye. Kau memiliki Ibu yang sangat baik dan selalu memberikanku makan lima kali sehari.” ucapnya sambil mendekap leher Shu Ye hingga membuatnya hampir tercekik.
”Eh! Bentar! Baru saja dia menyebut namaku dan nama seorang laki-laki?” batin Shu Ye dengan penasaran dan mencoba untuk menatap ke arah Luu Houyi. Tetapi, dekapannya ini sangat erat sehingga membuatnya nyaris saja tidak bisa bergerak sama sekali.
”Paman Luu! Kau akan membunuh Shu Ye jika tidak melepaskannya.” seru Shin Yixuan yang mencoba memisahkan mereka berdua.
***
”Bagaimana? Kau sudah menemukannya?” tanya Luo Hein pada Guju yang telah berdiri di belakangnya setelah keduanya terus mencoba untuk mencari salah satu dari keenam Raja Iblis yang berkeliaran bebas di dunia manusia.
__ADS_1
Saat itu, Guju menggelengkan kepalanya dan menjawab, ”Mereka sudah menyamarkan keberadaan hawa kekuatan mereka. Akan sangat sulit jika mencari sesuai dengan keberadaan hawa kekuatannya.”
”Cih!” Luo Hein berdecak kesal bahkan sampai membuatnya memukul sebuah pohon hingga pohon tersebut tumbang dan mengenai pohon yang lain. ”Aku tidak tahu apa tujuan mereka datang ke tempat ini. Jika aku berhasil menemukannya, aku tidak memiliki pilihan lain selain melempar mereka kembali ke tempatnya. Guju! Siapkan beberapa kertas mantra untukku!” pinta Luo Hein. Namun, tiba-tiba saja ia jatuh terduduk begitu ia merasa tubuhnya terbakar dengan darah yang keluar dari dalam mulutnya.
Melihat hal itu, Guju segera memberanikan diri untuk menghampiri Luo Hein yang tampak kesakitan. ”... Jangan memaksakan dirimu, Yang Mulia. Keadaan Yang Mulia yang paling diutamakan. Bukankah Anda tidak ingin salah satu dari putra Anda mengalami masalah yang besar seperti yang Anda alami saat ini?” ucap Guju sambil membantunya berdiri.
Luo Hein menatap ke tanah dan mencoba untuk bersandar pada batang pohon yang cukup besar. ”Aku tahu. Tapi, aku tidak memiliki pilihan. Aku di sini untuk melindungi mereka dari kejauhan. Tetapi, aku juga yang akan membunuh mereka jika sudah waktunya. Aku benar-benar sudah melakukan keputusan yang salah.” ucapnya dengan pelan.
Guju terdiam sebentar dan memperhatikan ekspresinya yang tertutupi oleh rambut hitamnya yang panjang. Ia tampak sedih. Namun, dalam sesaat ia mampu memperbaiki keadaannya dengan berkata, ”Yang Mulia hanya mencoba untuk hidup seperti manusia. Tidak ada salahnya jika Yang Mulia ingin mencintai dan dicintai oleh manusia.”
***
”Hah?” Luu Houyi hanya menatapnya dengan bingung saat pertanyaan itu mengena dalam pikirannya. Saat gelas keramiknya masih penuh dengan teh dan pemandangan malam hari yang belum dinikmati olehnya, Shin Yixuan tiba-tiba saja mengunjunginya saat ia berada di halaman belakang.
”Ajari aku cara menggunakan pedang, Paman Luu! Aku ingin menjadi lebih kuat dari Ayah!” ucap Shin Yixuan sekali lagi.
”Tidak, tidak, tidak!” jawab Luu Houyi. ”... Aku tidak berbakat menjadi seorang Guru. Aku ini hanya seorang pengelana yang selalu menggali informasi orang lain.”
__ADS_1
”Tapi, aku ingin Paman Luu yang mengajariku!” seru Shin Yixuan dengan wajahnya yang terlihat serius dan dengan sangat ia meminta padanya.
”Aku sudah bilang kalau aku tidak ingin melakukannya!” jawab Luu Houyi dengan malas sambil menyeruput tehnya dengan perlahan.
”Kalau Paman tidak mau, aku bersumpah akan menghantui kehidupan paman selamanya!” celetuk Shin Yixuan yang masih menatapnya.
Luu Houyi menghela nafasnya dan kemudian ia pun berdiri sehingga membuat Shin Yixuan berpikir kalau Luu Houyi akan mengatakan sesuatu padanya. Tetapi, dalam beberapa detik setelahnya, Luu Houyi malah berjalan memasuki kamarnya tanpa mempedulikan Shin Yixuan yang masih menunggunya.
”Paman tidak mendengarku? Ajari aku sesuatu agar aku bisa pergi dari Paman!” seru Shin Yixuan yang berjalan menyusulnya meskipun saat ini, pintu kamar Luu Houyi sudah terkunci rapat. ”... Aku akan tetap di sini sampai Paman keluar! Paman mendengarnya kan?!” teriak Shin Yixuan dari balik pintu kamarnya.
”Kau ini berisik sekali! Hari ini sudah malam! Apakah kau tidak lelah atau apakah kau ingin mengganggu tidur adikmu yang masih bayi?” tanya Shu Ye yang memperhatikannya di dinding kayu yang sama dengannya.
”Paman Luu itu sangat kuat! Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktunya selama ia masih berada di sini.” jawab Shin Yixuan yang langsung mengambil posisi duduk, tepat berada di sebelah pintunya meskipun saat ini, ia juga merasa mengantuk.
”Jadi, kau ingin berada di sini semalaman? Kau tidak ingin kembali ke kamarmu? Aku lihat kantung matamu sudah cukup besar sejak kemarin.” ucap Shu Ye yang masih melihatnya dan ia mulai menduga kalau kantung mata itu terbentuk karena Shin Yixuan yang terkadang tidak bisa tidur setelah mendengar Shin Furong terus-terusan menangis.
Sambil mengusap matanya yang terasa berat, Shin Yixuan menjawab, ”Aku akan tetap di sini! Menunggu Paman Luu membukakan pintunya!”
__ADS_1
Shu Ye mulai menatapnya dengan malas. Ia pun akhirnya berbalik membelakanginya dan berkata, ”Terserah kau saja. Aku akan pergi tidur. Selamat menunggu.” ucapnya sambil berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut.
Saat malam benar-benar tiba dan akhirnya Shin Yixuan tak sengaja tertidur di depan pintu kamarnya, Luu Houyi akhirnya berjalan keluar kamarnya dan langsung menatap Shin Yixuan yang sedang terduduk di sana. Ia menatapnya dengan bola matanya yang berwarna coklat keemasan dan sebuah pisau belati menggantung di tangan kanannya.