Pewaris Raja Iblis

Pewaris Raja Iblis
EXTRA 3 - XIU HUAN II


__ADS_3

Beberapa bulan sebelum kematian Raja terdahulu.


Pegunungan Houyuan merupakan pegunungan yang sejuk tanpa ada satupun hewan sihir yang mengganggu. Di sebuah desa terpencil, Xiu Huan tampak sedang berhenti di depan sebuah restoran luar ruangan. Dia memandangi beberapa keluarga sedang saling berbicara di depan meja makan tanpa menghiraukan apa yang terjadi di sekitarnya.


”Senang sekali bisa berbicara seperti mereka. Andai saja aku memiliki seseorang untuk diajak bicara.” gumam Xiu Huan yang memperhatikan. ”... Aku tidak mungkin lahir tanpa orang tua kan? Mereka semua pergi dan aku hidup sendiri. Tidak ada yang namanya saudara meskipun aku berharap sangat sampai-sampai menangis darah. Siapa yang bisa aku datangi sekarang?”


Xiu Huan menatap ke salah satu gunung yang ada di sana. Di tengah-tengah pegunungan itu, terdapat satu pohon emas yang begitu bersinar meskipun saat itu hari masih siang. Xiu Huan terpancing untuk segera mendatangi tempat tersebut. Ia pun mulai berjalan ke sana tanpa ada yang menghalanginya.


Sesampainya di puncak gunung, Xiu Huan tak melihat siapapun selain sebuah kuil sederhana dengan sebuah pohon emas yang tumbuh tak jauh dari kuil itu berada. Pohon itu seperti memancarkan sebuah energi yang bisa mengalahkan energi iblis di sekitarnya. Dulu, orang-orang sering datang kemari agar energi iblis tidak mempengaruhi pikiran mereka. Akan tetapi, semenjak perang berakhir, tak ada satupun orang yang berkunjung kemari dalam waktu beberapa tahun.


”Tenang sekali rasanya.” gumam Xiu Huan sambil menyentuh pohon tersebut. Ia merasakan angin berhembus pelan melewati wajahnya dan panas matahari yang saat itu terjadi, tidak lagi dirasakan olehnya.


”Sepertinya kau mulai tertarik dengan pohon itu.” ucap seorang wanita yang berjalan di belakangnya dengan menggandeng tangan seorang anak laki-laki berumur lima tahun.


Mendengarnya, sontak membuat Xiu Huan langsung menghadap belakang dan menatap wanita itu. ”... Aku datang untuk melihatnya. Jelas sekali pohon ini berbeda dengan pohon yang ada di sekitarnya.” ucap Xiu Huan.


Wanita itu berpakaian seperti pendeta pegunungan. Rambut hitam panjangnya terurai sampai di atas lutut dan pada pakaiannya terdapat sebuah corak kuning keemasan yang membentuk pola indah. Ia berjalan mendekati pohon itu dan memperhatikannya selama beberapa saat.


”Pohon ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu saat perang antara manusia dengan iblis masih terjadi. Para pendeta yang ada di sini percaya kalau pohon ini berasal dari langit yang ditanam langsung oleh seorang dewa. Pohon ini ada untuk menangkal energi iblis yang datang untuk mempengaruhi pikiran manusia. Namun, karena perang sudah berakhir, tidak ada satupun orang yang berkunjung kemari.” jelas wanita sambil menyentuh pohon tersebut sementara Putranya berlindung di belakang punggungnya.


Xiu Huan terdiam selama beberapa saat dan berkata, ”Aku mengerti. Kau adalah pendeta di pegunungan ini. Kau pasti tahu cara menghilangkan kesedihan orang lain."

__ADS_1


Wanita itu tersenyum tipis dan berhenti menyentuh pohon tersebut. ”... Kau pasti merasa kesepian setelah melihat orang-orang yang hidup di desa sana. Mereka bisa saling berbicara dan tertawa bersama sedangkan kau sangat jarang mendapatkannya.” ucap wanita.


Xiu Huan tertegun sejenak. Pandangannya kemudian menatap ke arah lain dan menjawab dengan canggung. ”... Ya. Begitulah. Aku tidak memiliki siapapun lagi semenjak aku pergi meninggalkan Guru 16 tahun lalu.”


”Kalau begitu, tidak ada salahnya bertemu dengan Gurumu. Kau mungkin tidak akan merasakan kesepian lagi. Atau, carilah seseorang yang sedang membutuhkanmu. Perasaan itu mungkin akan menghilang dengan perlahan.” lanjut wanita.


”Aku ragu.” singkat Xiu Huan sambil mengusap tengkuk lehernya. ”... Guru mungkin tidak akan mengenali wajahku lagi atau bahkan lupa padaku.”


Wanita itu tersenyum sambil menepuk pundak Xiu Huan. ”... Seorang Guru tidak mungkin bisa melupakan muridnya sendiri. Sama halnya seperti orang tuamu. Seperti apapun perubahan sikap yang kau tunjukkan dan sebesar apapun kejahatan yang kau lakukan, mereka akan tetap mengenalmu.”


Xiu Huan terdiam untuk memikirkannya selama beberapa saat. ”... Kau mungkin benar.” ucapnya sambil membungkuk di depannya. ”Terima kasih karena sudah memberikanku jalan keluar.”


Xiu Huan menjawab sesaat kemudian, ”Namaku, Xiu Huan dari wilayah Nanxin.”


Wanita itu tersenyum dan menjawab, ”Senang bertemu denganmu, Xiu Huan. Namaku adalah Yi Qingqi dan ini adalah Putraku, Zhou Luan. Kau bisa datang kemari kapanpun kau mau. Aku akan selalu berada di sini."


Xiu Huan langsung menjawab, “Terima kasih. Aku pasti akan berkunjung kemari.” jawabnya sambil berbalik membelakanginya. ”... Kalau begitu, aku akan pergi untuk menemuinya. Aku akan segera kembali ketika urusanku telah selesai.”


Saat melihatnya pergi, Yi Qingqi terlihat mencemaskan sesuatu. Tiba-tiba saja firasatnya menjadi buruk seakan menandakan bahwa akan ada kejadian yang tak diinginkannya. ”... Kuharap kejadian itu tidak benar-benar terjadi. Tolong, lindungilah dia yang ingin bertemu dengan Gurunya.” gumam Yi Qingqi.


Yi Qingqi mencoba untuk menoleh ke belakang. Akan tetapi, saat ia melakukannya, Zhou Luan sudah tidak berada di sana. Ia terkejut dan mencoba untuk memperhatikan sekitar. Namun, ia tidak berhasil menemukan Zhou Luan yang seharusnya masih berada di dekatnya. ”... Kemana dia pergi?"

__ADS_1


Di waktu bersamaan, Xiu Huan tengah turun gunung dengan melewati sebuah anak tangga yang terbuat dari batu. Ia sendiri sadar kalau saat ini Zhou Luan sedang mengikutinya dari belakang. Namun, karena ia tidak begitu memperhatikannya, ia terus melewati satu persatu anak tangga dan menunggu sampai anak itu berhenti mengikutinya.


Akan tetapi, setelah ia sampai di kaki gunung, Zhou Luan masih juga mengikutinya. Ia sendiri tidak tahu mengapa anak itu terus saja mengikutinya seperti ini. Mungkinkah ada sesuatu yang harus dikatakan olehnya saat ini?


Saat Xiu Huan hendak menoleh ke arah Zhou Luan, tiba-tiba perhatiannya langsung tertuju pada sebuah suara langkah kaki yang sedang mendekatinya.


Sosok laki-laki berjalan dengan kedua kaki yang terlihat timpang. Kedua matanya terlihat mendung dan terdapat beberapa luka yang ada di sekujur tubuhnya. Dia tidak bernafas dan tidak memiliki jantung. Untuk pertama kalinya, Xiu Huan melihat Luo Hein ketika dia akan sekarat karena hukuman yang diterima olehnya.


”Guru! Apa yang terjadi padamu?!” ucap Xiu Huan yang langsung berlari menghampiri Luo Hein di saat ia akan kehilangan kesadarannya.


Saat sedang berlari menghampirinya, Zhou Luan tampak tak melakukan apapun dan hanya menontonnya dari kejauhan saja. Namun, saat Xiu Huan telah berada di dekatnya dengan ekspresinya yang terlihat cemas, tangan Luo Hein menembus dada kirinya dan menarik jantungnya perlahan.


Xiu Huan merasa sangat terkejut setelah Luo Hein melakukan semua ini padanya. Kedua matanya terbelalak dan bibirnya terkatup rapat seolah sedang menahan darahnya agar tidak keluar.


”G~ Guru? Apa yang kau lakukan?” tanya Xiu Huan dengan nadanya yang kesulitan sebelum akhirnya, jantungnya benar-benar dikeluarkan oleh Luo Hein sehingga membuatnya jatuh ke belakang.


Luo Hein langsung memakan jantungnya dengan lahap seperti seorang pemuda yang tidak pernah makan selama berhari-hari. Namun, beberapa detik setelahnya, ia pun sadar kalau ia telah membunuh muridnya sendiri! Padahal saat itu Xiu Huan berniat untuk mengunjunginya akan tetapi, dia malah membunuhnya sampai seperti ini?!


”Bodoh! Apa yang sudah kulakukan?!”


Luo Hein tampak putus asa dan merasa sangat sedih ketika memandangi wajah Xiu Huan yang terbaring di atas tanah. ”... Kumohon, maafkan aku. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Maaf.” ucap Luo Hein dengan penuh penyesalan sebelum akhirnya ia mengeluarkan pecahan kristal miliknya lalu, meletakkannya di dada kiri Xiu Huan yang berlubang.

__ADS_1


__ADS_2