
”Kau memang kembali dengan membawa telur tapi, haruskah kau membawa pulang anggota kerajaan?” Luo Hein tampak heran setelah melihat Shin Yixuan kembali dengan gerombolan pasukan dan juga Kaisarnya yang berdiri di garis depan. Setidaknya ada 20 an orang yang ada di sini belum lagi dengan kuda kuda mereka.
”Tuan ini sudah membantuku jadi, aku pikir dia mau berkunjung sebentar kemari.” jawab Shin Yixuan dengan raut wajahnya yang terlihat senang.
”Senang bertemu denganmu. Namaku Hu Lingge dari Istana Zhu.” ucap Hu Lingge dengan wajahnya yang terlihat ramah dan senyumnya yang tak mengancam.
Luo Hein menatapnya dengan malas sambil menarik Shin Yixuan darinya. ”... Terima kasih sudah berkunjung kemari. Sekarang kau bisa pergi dari sini.” ucapnya dengan dingin.
”Mengapa Ayah mengusirnya? Tuan ini baru saja sampai. Setidaknya biarkan dia istirahat selama beberapa hari.” pinta Shin Yixuan sambil menarik jubah luar Luo Hein di depannya.
”Tidak! Rumah ini tidak cukup besar untuk menampung orang-orangnya.” jawab Luo Hein. ”... Lagipula, hidup di sini tidak seperti di istana. Kami tidak memiliki wanita-wanita cantik untuk melayani mu.”
Hu Lingge tetap mempertahankan ekspresinya saat ia berkata, ”Aku tidak begitu membutuhkan pelayan atau gadis-gadis cantik. Aku sudah memiliki selir cukup banyak tetapi, tak ada satupun yang memikat.”
”Ada apa ini? Mengapa ribut sekali?” tanya Shin Buyen yang langsung membuka pintunya dan sudah melihat ada banyak orang yang sedang berbaris di depan teras depannya. Ia pun tampak heran apalagi, saat ini ada seorang Kaisar yang juga berkunjung ke tempatnya.
Tetapi, perasaan berbeda tampak ditunjukkan oleh Hu Lingge ketika ia melihat ke arah Shin Buyen yang baru saja keluar. Dengan gerakan yang sungguh cepat, ia pun langsung berlutut di depannya sambil meraih tangan kanannya.
”Sungguh sebuah keberuntungan aku bisa bertemu denganmu, calon permaisuriku.” ucap Hu Lingge dengan wajah menawannya sambil menatap ke arah Shin Buyen dengan sorot matanya yang terlihat dingin.
”Lihat itu! Yang mulia mencoba merebut istri orang!” seru Shu Ye yang tampak terkejut sekaligus heran melihat pemandangan yang ada di depannya.
”Kau pikir kau bisa melakukan apa saja di sini?!” ucap Luo Hein yang langsung menyambar tangan Shin Buyen dan menariknya ke belakang sambil menatap Hu Lingge dengan tatapan dingin.
__ADS_1
Hu Lingge tetap tersenyum padanya dan mencoba untuk berdiri kembali di hadapannya. Ia tahu kalau hal ini tidak akan mudah baginya. Tampaknya ia sudah sangat terlambat untuk mengambilnya dari orang lain. ”... Aku hanya memberikan salam padanya. Di tempatku, wanita sangat dihormati dan seorang laki-laki harus berlutut di hadapannya.” ucapnya.
”Aku yakin dia tidak membutuhkannya. Lagipula, aku yakin dia tidak menginginkanmu.” ucap Luo Hein sambil menatapnya dengan dingin dan perhatiannya tak pernah sekalipun teralihkan pada sudut lain.
”Aku hanya terlambat mengambilnya darimu. Aku sudah mengenalnya sejak dulu dan aku tahu semua sifat-sifatnya.” ucap Hu Lingge yang tak ingin mengalah darinya.
”Oh, ya? Memangnya dia masih mengingatmu?” lanjut Luo Hein.
Hu Lingge mulai menatapnya dengan dingin dan berkata, ”Jika dia tidak mengingatnya, aku bisa membuatnya ingat kembali.”
”Kalian berdua berisik!” bentak Shin Buyen yang langsung menendang keduanya keluar dari dalam rumahnya dan menarik Shin Yixuan dan Shu Ye ke dalam rumahnya. ”... Tidurlah di luar! Aku tidak ingin mendengar kalian berbicara!” lanjutnya sambil menatap keduanya dengan dingin. Setelah itu, ia pun membanting pintunya dan membiarkan mereka di luar padahal hari sudah mulai malam.
”Yang mulia? Anda baik-baik saja?” tanya Ji Yun sambil mencoba membuatnya berdiri kembali.
”Yang mulia, bagaimana dengan obatnya? Apakah Anda belum meminumnya hari ini?” bisik Ji Yun dengan suara pelan.
”Aku akan melakukannya nanti.” jawabnya sambil menatap ke arah Luo Hein yang sedang berdiri di sana sambil menatapnya dengan dingin. Tetapi, untuk saat ini ia masih menatapnya dengan wajahnya yang tampak ramah dan lembut seolah ia tak ingin bertengkar dengannya seperti tadi. ”Setidaknya kita berada di luar sini bersama-sama. Suruh para pasukan untuk beristirahat malam ini.”
”Aku akan segera melakukannya dan segera menyiapkan tempat tidur Yang Mulia.” jawab Ji Yun.
”Tidak perlu melakukannya.” ucap Hu Lingge. ”... Aku akan tidur dimana saja. Sebaiknya kau juga beristirahatlah.” ucapnya sambil berjalan menuju suatu tempat.
Ji Yun terdiam selama beberapa saat dengan ekspresinya yang tampak terkejut walaupun wajahnya saat ini sedang menunduk. ”... Yang mulia tidak memikirkan keadaannya sendiri. Jika saja permaisuri terdahulu tidak menuruni penyakitnya, mungkin sampai saat ini Yang Mulia akan baik-baik saja.” batin Ji Yun yang memikirkannya.
__ADS_1
Di waktu yang bersamaan, di dalam sebuah celah rumah sempit, saat ini Hu Lingge sedang bersembunyi di dalamnya. Hidungnya berdarah dan batuk yang tidak bisa berhenti untuk sementara waktu. Dahinya mengeluarkan keringat berlebih dan tangannya terus mencengkram kuat dinding bangunan. Pandangannya sempat menghitam selama beberapa saat namun, ia bisa mengendalikan dirinya sehingga ia tak kehilangan kesadarannya.
”Jika aku mati sekarang, entah siapa yang akan memimpin rakyatku saat ini. Ayah harus mati di medan perang dan Ibu harus pergi selamanya karena penyakitnya. Apakah mereka akan baik-baik saja jika aku pergi nanti?” gumam Hu Lingge yang tak bisa berhenti dari batuknya yang perlahan mengeluarkan darah.
Di sisi lain, ia tak mengetahui kalau saat ini Luo Hein sedang berada di luar celah bangunan tersebut dan sudah mendengar seluruh perkataannya sejak tadi. Ia melipat tangannya sambil menyembunyikan ekspresinya saat ini.
Saat malam benar-benar muncul, semua pasukan Istana tengah beristirahat di setiap halaman yang berada di dekat rumah. Mereka semua tertidur pulas seperti tak ada yang bisa mengganggu mereka. Namun, seluruh senjata tetap berada di tangan mereka demi melindungi Kaisar yang memimpin negara tempat kelahiran mereka.
Hu Lingge tertidur di teras halaman belakang karena sebelumnya, ia terpancing oleh sebuah suara aliran air yang sempat membuatnya tenang dan tertidur selama beberapa saat. Namun, ada sesuatu yang membuatnya terbangun secara tiba-tiba. Ia mendengar suara langkah kaki yang sedang berjalan mendekatinya. Dan saat orang itu telah muncul di hadapannya, ia langsung tahu kalau dia adalah Shin Yixuan yang datang dengan membawakannya sebuah selimut.
”Mengapa kakak tidur di sini? Apakah tidak dingin jika Kakak tidur bersebelahan dengan kolam?” tanya Shin Yixuan sambil menatapnya.
Hu Lingge tersenyum padanya dan kemudian menjawab, ”Aku kemari karena mendengar suara air.”
Shin Yixuan tertegun. Ia duduk di sebelahnya dan bertanya, ”Memangnya ada apa dengan suara air? Apakah itu bisa membuat pikiran kakak menjadi tenang?”
”Ya.” jawab Hu Lingge. ”... Istana tak senyaman hidup di antara penduduk desa. Aku tak bisa menghirup apapun selain aroma dupa dan aku tak bisa mendengar apapun selain keluhan-keluhan yang disampaikan oleh para pejabat. Semua itu akan berbeda jika aku berada di sini. Ada banyak suara dan ada banyak aroma yang berbeda. Tetapi, yang paling kusukai adalah aroma dan suara air yang mengalir. Aku merasa lebih tenang ketika berada di sini.”
”Tapi, mengapa tiba-tiba saja kakak berkunjung ke bukit Xieyu? Apakah ada sesuatu yang kakak cari atau kakak ingin menjadikan Ibuku sebagai permaisuri untukmu?” tanya Shin Yixuan.
Hu Lingge terdiam selama beberapa saat dan menahan wajahnya yang tampak tak percaya dengan ucapannya sendiri. ”... Ahh, aku rasa aku sudah memikirkannya dua kali. Aku tidak bisa menang dari Ayahmu. Aku akan pergi sampai pikiranku membaik.”
Shin Yixuan menatapnya dengan ekspresi yang terlihat senang saat ia melanjutkan, ”Kakak boleh berkunjung kemari sesekali. Ada banyak orang yang mau menerima kakak di sini.”
__ADS_1
Hu Lingge tampak terkejut setelah mendengar ucapannya. Ia pun kembali menunjukkan senyumnya sambil menepuk pundak sempit Shin Yixuan dan berkata, ”Terima kasih. Kau itu mirip sekali dengan Ibumu. Sangat baik dan menenangkan.”