
”Ibu! Apa yang Ayah lakukan di sana? Dia terus menerus diam di sudut ruangan.” tanya Shin Yixuan setelah ia sampai di rumahnya dan melihat Shin Buyen yang terlihat baik-baik saja tidak seperti yang sebelumnya.
”Aku hanya membuatnya berpikir. Itu saja.” jawab Shin Buyen dengan perasaan marah dalam benaknya. Setelah Luo Hein mengarang sebuah cerita pada Shin Yixuan dan membuatnya harus menyusuri hutan selama berjam-jam, hal itu membuat Shin Buyen merasa sangat kesal karena Luo Hein tak mengetahui ada banyak orang yang ingin membunuhnya di luar sana. Alhasil, ia pun menghukumnya di sudut ruangan dan membuatnya memikirkan kesalahannya.
”Hanya begitu saja dia tidak bisa melawan seorang Istri!” gumam Shu Ye sambil menatapnya dengan heran dan semangkuk sup panas di tangannya. Tetapi, setelah ia mengatakannya, tangannya terciprat kuahnya yang masih panas sehingga secara tidak sengaja ia menumpahkannya ke atas lantai.
”.....”
***
”Yixuan. Kau jangan pernah membuang-buang makanan ya.” ucap Shin Buyen yang duduk berhadapan dengan Shin Yixuan di depan meja makan.
Setelah apa yang terjadi sebelumnya, Shin Buyen terlihat sangat marah begitu ada seseorang yang berani membuang-buang makanan meskipun ia tidak sengaja menumpahkannya. Ia sangat membenci hal ini terlebih lagi jika salah satu peralatan masaknya dirusak. Semua orang pasti akan langsung tidur di luar dan tidak diizinkan masuk sampai amarahnya mereda.
Shin Yixuan menatap ke arah Shu Ye yang duduk bersebelahan dengan Luo Hein di sudut ruangan. Suasana mencekam sempat terjadi pada keduanya sehingga mereka memilih untuk tidak makan dan berdiam diri di sudut ruangan.
”Tadi itu, apa yang terjadi pada Ibu? Mengapa ibu kembali dengan penuh luka?"
Belum sempat ia mengakhiri perkataannya, Shin Buyen langsung memasukkan selembar daging tipis ke dalam mulut Shin Yixuan hingga membuatnya terdiam di sana. ”... Jangan banyak bicara saat sedang makan. Aku baik-baik saja.” ucap Shin Buyen sambil memasukkan semua lembaran daging miliknya.
__ADS_1
”Mereka berdua enak sekali. Aku juga kelaparan di sini.” gumam Shu Ye dengan kesal sambil terus menundukkan kepalanya tanpa melirik ke arah Luo Hein yang duduk di sebelahnya. Padahal saat ini, Luo Hein sedang menatapnya dengan dingin seolah ia sedang mengingat sesuatu.
”Anak muda. Bagaimana kau bisa tinggal di sini?” tanya Luo Hein sambil menatapnya.
Tatapannya yang dingin, sempat membuat Shu Ye tampak canggung. Ia seperti sedang berhadapan dengan kematiannya sendiri jika saja dia salah berbicara dengannya.
”Aku tidak ingat. Saat aku bangun, tiba-tiba saja aku sudah berada di sini. Sepertinya Yixuan yang sudah menyelamatkanku kemarin.” jawab Shu Ye dengan ragu.
”Kalau begitu, siapa nama keluargamu? Darimana kau berasal?” tanya Luo Hein kembali.
Shu Ye mengalihkan perhatiannya dari tatapan dingin Luo Hein. Selama beberapa saat, ia mencoba mengingatnya kembali sebelum akhirnya ia menjawab, ”... Aku tidak bisa mengingatnya. Yixuan hanya bilang kalau sebelumnya aku terjatuh dari atas tebing lalu merangkak ke tempat ini untuk mencari bantuan. Apakah ada sesuatu yang salah padaku atau Tuan ini tahu masa laluku dan siapa keluargaku?”
”Bagaimana dengan keluarga Lun? Apakah kau tidak tahu mereka itu seperti apa?”
”Kenapa aku bisa merasakannya tetapi, aku tidak bisa mengingatnya? Sangat aneh! Aku tidak bisa berhenti merasakannya?” batin Shu Ye sambil menutupi kedua matanya.
”Kenapa dia malah menangis? Apakah yang aku katakan ini benar? Jika tujuannya adalah untuk membunuh mereka berdua, aku pasti tidak akan membiarkannya hidup lebih lama.” batin Luo Hein yang terus memperhatikannya dengan kepalan tangan yang semakin kuat.
”Maaf. Aku tidak bisa mengingatnya tetapi, aku hanya bisa merasakannya. Sebuah tempat yang hangat dan bisa ku sebut sebagai rumah.” jawab Shu Ye beberapa saat setelahnya.
__ADS_1
Luo Hein tampak terkejut setelah mendengarnya. Seketika ia terdiam selama beberapa saat. Ia kesal karena ia tak memiliki alasan untuk membunuhnya saat ini juga. Setelah kematian keluarga Shin, keluarga Lun mulai menunjukkan taringnya. Mereka membunuh para penduduk desa yang tidak bersalah dan belum lama ini, mereka berencana untuk menyerbu bukit Xieyu dan membakar seluruh hutannya.
”Sepertinya aku bisa membiarkannya hidup selama beberapa tahun asalkan tidak ada masalah yang terjadi di sini.” batin Luo Hein yang memikirkannya sebelum ia berkata, ”... Sebaiknya jangan melihat kebelakang atau mencoba mencari tahu siapa keluargamu. Jika kau ingin tinggal lebih lama di sini.”
Shu Ye terkejut setelah mendengarnya dan ia pun mulai penasaran dengannya. Wajahnya pun mendekat padanya dan bertanya, ”Apakah Tuan benar-benar tahu masa laluku? Lalu, siapa keluarga Lun itu? Apakah ada hubungannya denganku?”
Luo Hein mengalihkan perhatiannya sambil melipat tangannya. ”... Sudah kubilang! Jangan pernah melihat ke belakang atau kau akan tahu apa yang akan aku lakukan padamu.” ketusnya.
”Curang! Jangan membuatku penasaran! Mengapa kau mengatakan sesuatu yang pada akhirnya tidak selesai seperti ini?!” ucap Shu Ye dengan keras sambil menunjuk ke arahnya.
Luo Hein langsung menampar tangannya dan berkata, ”Apakah tak ada yang mengajarimu cara berbicara dengan orang yang lebih tua darimu?!”
”Kalian akan tidur di luar jika tidak bisa diam.” ancam Shin Buyen yang memperhatikan keduanya dari belakang dengan senyum mencekam yang membuat mereka terdiam seketika.
”.....”
***
Malam harinya, saat suasana sepi terjadi. Di dalam sebuah kediaman yang cukup besar, ada setumpuk mayat yang berkumpul di tengah-tengah sebuah halaman besar. Semua orang yang mati di sana sengaja dikumpulkan di sana oleh sosok pemuda yang berdiri di dekatnya dengan memegang sebuah obor di tangannya.
__ADS_1
”Ternyata tak ada satupun yang mengurus mayat mereka sampai sekarang. Atau mungkin, mereka memang tidak menyadarinya dan berpura-pura tidak mengetahuinya. Kasihan sekali.” ucap pemuda. ”... Pasti Raja ketujuh yang sudah membunuh kalian. Aku bisa merasakan perasaan dendam yang sangat besar terlebih lagi, salah satu anak kalian berada di dekatnya. Tapi, tenang saja. Aku akan bantu membalasnya.”
Setelah mengatakannya, pemuda itu langsung membakar tumpukan mayat menggunakan obor yang ada di tangan kanannya. Setelah itu, ia pun pergi meninggalkan tempat tersebut dengan diikuti sosok pemuda lain yang ada di belakangnya.