
31 Tahun Lalu, wilayah Nanxin.
”Pencuri! Tangkap anak itu!”
Seorang anak laki-laki berumur lima tahun, baru saja mencuri sebuah roti dari seorang pedagang. Semua orang mengejarnya karena bukan sekali ini saja dia mencuri makanan milik para pedagang pedagang kaya. Tubuhnya dipenuhi dengan luka memar yang tidak sedikit. Pakaiannya pun terlihat compang-camping dengan lumpur yang sudah mengering.
Akh!
Tubuh anak itu dibanting pada sebuah tembok kayu. Suara dentuman besar muncul hingga membuat perhatian semua orang tertuju pada kerumunan pemuda yang sedang menghukum seorang pencuri. Mungkin ia sudah terbiasa dipukuli setiap hari. Tetapi, bukan berarti dia tidak bisa merasakan sakit.
”Kemarikan itu! Dasar pencuri!” bentak seorang pemuda yang mencoba mengambil roti dari tangan anak itu. Tetapi, dia berusaha mempertahankannya meskipun ia tahu kalau perbuatannya ini benar-benar salah.
”Kumohon, biarkan aku pergi. Aku sangat kelaparan.” rintih anak laki-laki sambil memeluk rotinya. Tubuh kecilnya terus mendapatkan tendangan dari para pemuda yang sudah mengepungnya. Saat ini, ia tidak bisa merasakan apapun kecuali rasa laparnya yang bahkan sampai menjalar ke tenggorokannya.
”Hah?! Sudah mencuri kau masih ingin pergi dari kami?! Beraninya kau melawan! Dasar bau!” bentak pemuda yang kembali menendang tubuh anak itu dan membenturkannya ke tembok secara terus menerus.
”Berhenti! Apa yang kalian lakukan?” ucap pemuda yang kini berdiri di antara kerumunan ini dengan wajahnya yang terlihat masam karena melihat anak ini terus dipukuli hingga hidungnya mengeluarkan darah.
Mereka semua menatap laki-laki ini dengan tatapan meremehkan. Mereka seakan tidak takut meskipun dengan ekspresinya yang tampak tidak ramah ketika mereka menatapnya. Namun, mereka tidak akan pernah menduga bahwa laki-laki yang berdiri di belakangnya adalah Luo Hein!
”Hah? Jadi, kau yang sudah menyuruhnya mencuri?! Lihatlah apa yang sudah kau lakukan sehingga kami memukulinya sampai seperti ini!” ketus pemuda yang langsung menatap Luo Hein dengan wajahnya yang terlihat sok berani.
Luo Hein berjalan mendekati anak tadi dengan masih menatapnya dengan penuh kasihan. Tak sampai satu menit, ia menoleh kembali ke arah pemuda di belakangnya dan bertanya, ”Berapa harga semua roti yang diambilnya?”
”Dilihat dari pakaiannya, sepertinya dia sangat kaya. Tidak ada salahnya jika aku memeras semua hartanya.” batin pemuda sambil melipat tangannya dan mendengus sebelum ia menjawab, ”... Kau ingin tahu berapa harganya? Sampai kapanpun, kau tidak akan bisa membayarnya! Dia sudah melakukan banyak pencurian dimana-mana dan membuat rugi semua pedagang yang ada di sini!”
”Tidak perlu dijelaskan! Katakan saja berapa harganya!” bentak Luo Hein yang berhasil membuat mereka terdiam selama beberapa saat.
”Huh! Kau sangat tidak sabaran ya! Berikan aku sekantong keping emas dan aku akan memaafkan bocah pencuri ini!” ketus pemuda.
__ADS_1
Luo Hein menatapnya dengan heran seakan ia tidak puas dengan harga yang diberikannya. ”... Cih! Rendahan sekali.” gerutu Luo Hein yang mampu didengar oleh pemuda-pemuda tadi. Sedangkan anak laki-laki di belakangnya langsung menahan lengannya seolah ia mengatakan untuk tidak mengikuti ucapan mereka.
”Oh, sombong sekali kau ini! Memangnya berapa banyak uang yang bisa kau berikan untuk mengganti semua kerugian yang kami alami?” tanya pemuda dengan nadanya yang sombong.
Luo Hein menunjuk ke arah sesuatu yang ada di belakang mereka sambil berkata, ”... Ada sedikit di belakang kalian.”
Begitu mendengarnya, perhatian para pemuda ini menoleh ke belakang dan mereka langsung tercengang begitu mereka melihat satu peti besar yang dipenuhi dengan emas dan berlian! ”... Menyilaukan!!”
”Itu semua cukup untuk membayar semua kerugianmu. Sekarang pergilah dan jangan mengganggunya lagi.” ucap Luo Hein sambil menatap mereka dengan dingin seperti pemuda yang baru saja memberikan amnesti.
Pemuda itu langsung menjawabnya dengan sangat sopan, ”T- tentu saja, Tuan. Ini cukup. Hanya cukup!”
Setelah mendengar jawabannya, Luo Hein segera berbalik meninggalkan mereka tanpa membawa apapun lagi. Saat para pemuda sedang senang begitu mereka dikelilingi oleh emas, anak laki-laki itu langsung menatap ke arah perginya Luo Hein menuju suatu tempat.
Tanpa memikirkannya, ia segera berlari mengikuti langkahnya dari belakang. Luo Hein sendiri tahu kalau saat ini dia sedang diikuti dari belakang. Namun, Luo Hein sengaja membiarkannya untuk melihat sampai kapan anak ini akan terus mengikutinya.
Saat Luo Hein berjalan memasuki pegunungan Luan, langkahnya berhenti sampai sana. Ia kemudian menoleh ke belakang dan menatap anak laki-laki yang sedang bersembunyi di balik sebuah pohon. ”... Sampai kapan kau akan terus mengikutiku? Jika ada sesuatu yang ingin kau katakan, ada baiknya kau mengatakannya sekarang.”
”T- terima kasih sudah menolongku tadi. Maaf sudah merepotkan Tuan.” ucapnya dengan sopan sambil membungkukkan badannya.
Luo Hein terdiam selama beberapa saat sambil melipat tangannya. Wajahnya tampak tak begitu mempedulikan tentang kejadian tadi. ”... Aku rasa kau memiliki sesuatu yang lain. Aku sudah bilang, katakan semuanya padaku sekarang.” ucapnya.
Anak itu mengalihkan perhatiannya sebentar seolah ia memikirkan akibatnya jika ia benar-benar mengatakannya pada Luo Hein saat ini. ”A~ aku tahu ini bukan waktu yang tepat tapi, apakah Tuan bisa membawaku pergi?” jawab anak laki-laki dengan ragu.
Luo Hein menatapnya dengan tatapan menilai. Anak ini jelas-jelas seperti anak biasa kebanyakan. Dia meminta untuk ikut dengannya karena ia ingin ada orang dewasa yang menemaninya. Namun, ia tidak akan pernah tahu kalau ia sedang meminta tolong pada sosok Iblis.
”Carilah orang lain saja! Aku sibuk!” ketus Luo Hein yang langsung berbalik membelakanginya.
Anak itu terkejut dan langsung berkata, ”Tapi, hanya Tuan yang mau menolongku tadi! Selain Tuan, tidak ada lagi yang mau melakukannya. Nenek baru saja meninggal dan orang tuaku juga sudah mati saat usiaku masih sangat kecil. Jadi, aku tidak tahu harus pergi kemana lagi.”
__ADS_1
Luo Hein tersenyum sinis dan berkata, ”Semua itu, bukan urusanku kan? Aku hanya sekedar lewat di depanmu saja dan tidak berniat untuk membawamu pergi.”
Anak itu terdiam dengan wajahnya yang tampak menahan sesuatu. Dia kemudian menatap ke arah beberapa wanita yang sedang membawa kayu bakar dari dalam hutan dan menatap kembali ke arah Luo Hein dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
Dia menarik nafasnya dalam-dalam lalu berteriak, ”Huaaa!!! Ayah mau membuangku! Huaa!!” teriaknya sambil menangis sehingga membuat perhatian keempat wanita itu tertuju padanya.
”Kasihan sekali!” bisik wanita yang melihatnya dengan tidak suka. ”... Laki-laki sampah mana lagi yang mau membuang anaknya sendiri!”
”Iya, jahat sekali!”
Mendengar bisikan keempat wanita ini, membuat Luo Hein merasa risih apalagi mendengar anak ini terus-menerus menangis seperti ini. Ia pun merasa kesal dan terpaksa menarik anak tadi untuk ikut bersamanya. Keduanya berjalan memasuki hutan dan saat tak ada seorangpun yang berada di sana, Luo Hein mulai melepaskan pegangan tangannya.
”Kau ini apa-apaan! Siapa yang menyuruhmu menangis di sana? Laki-laki tidak boleh menangis hanya karena dia hidup sendirian!” ketus Luo Hein yang langsung berdiri menghadapnya dengan perasaan kesal.
Sambil mengusap matanya, anak tadi menjawab, ”Habisnya, jika aku tidak ikut bersama dengan Paman, aku akan dipukuli lagi seperti tadi. Aku juga masih kelaparan. Setiap hari, aku hanya memakan sisa makanan dari para keluarga kaya dan terkadang, aku juga tidak makan sama sekali.”
Luo Hein sendiri tahu kalau ucapannya ini tidak bohong. Ia juga merasa kasihan jika anak ini terus dipukuli seperti tadi apalagi, ia harus mencuri dan membuat beberapa pedagang rugi. Ia pun berbalik membelakanginya dan bertanya, ”... Siapa namamu?”
Anak itu langsung terlihat sangat senang ketika Luo Hein menanyakan namanya. Ia pun langsung menjawab, ”Namaku, Xiu Huan, Tuan!” jawabnya dengan antusias.
Luo Hein terdiam selama beberapa saat seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu, tak lama setelahnya ia pun langsung menjawab, ”... Baiklah, kau yang memaksaku untuk melakukan ini. Aku akan mengizinkanmu untuk ikut denganku. Tapi—
BRUKKK!!!
Xiu Huan langsung memeluk kaki Luo Hein dengan ekspresinya yang terlihat sangat senang. ”... Terima kasih Tuan! Terima kasih! Aku sangat senang!” ucapnya dengan antusias.
”Jangan senang dulu!” ucap Luo Hein yang langsung melepas Xiu Huan dari kakinya. ”... Tidak selamanya kau akan terus mengikutiku. Saat putra pertamaku lahir nanti, kau harus pergi. Jangan tanyakan padaku apa alasannya. Tetapi, kau bisa datang berkunjung lagi saat kau merasa harus berkunjung ke tempatku. Mengerti?”
Xiu Huan langsung menganggukkan kepalanya dan menjawab, ”Aku sangat mengerti! Ayah!”
__ADS_1
Luo Hein langsung menatapnya dengan tidak suka dan berkata, ”Jangan seenaknya saja memanggilku Ayah!”