
”Katanya hanya membuang sampah. Tapi, mengapa Ibu tidak kembali sejak tadi?” gumam Shin Yixuan yang sedang menunggu di teras halaman depan rumahnya. Ia kesal karena Shu Ye terus berbicara dengannya. Ia yang sangat jarang berbicara dengan anak seusianya, merasa canggung ketika ia harus berbicara seribu kata dalam sepuluh menit. Ia bahkan dibuat tidak bisa berkata-kata olehnya mengenai bunga mawar yang langsung mati setelah bersentuhan dengannya.
”Hei! Apa yang ada di lehermu?” tanya Shu Ye sambil menunjuk ke arah sebuah kristal berwarna ungu yang dikalungkan di leher Shin Yixuan.
”Aku tidak tahu. Ayahku yang memberikannya” jawab Shin Yixuan.
Shu Ye memperhatikannya selama beberapa saat. Tak lama setelahnya, ia merasa seperti mengingat sesuatu sebelum ia melupakan semuanya. ”... Sepertinya aku mulai ingat. Ada beberapa orang yang saling membicarakan tentang kristal berwarna ungu terang seperti punyamu. Dia bilang kalau kristal itu adalah pecahan jantung milik Raja Iblis yang akan mati. Jika seseorang menemukan salah satu pecahannya dan memakannya saat itu juga, ia akan mendapatkan keabadian dan regenerasi yang cepat! Mengapa kau tidak memakannya saja? Benda itu akan sangat mahal jika dijual!”
Shin Yixuan menatapnya dengan datar dan ia pun langsung menutupi kristalnya dengan satu tangan. ”... Tidak boleh! Bilang saja kalau kau menginginkannya! Ayahku sudah bekerja untuk mendapatkan benda langka ini!” ucapnya.
”Tentu saja aku menginginkannya! Izinkan aku mengambilnya darimu!” seru Shu Ye yang mencoba untuk mengambil kristal itu dari tangan Shin Yixuan sedangkan, Shin Yixuan sendiri mencoba untuk menjauhkan Shu Ye darinya.
Tak lama setelahnya, muncul suara langkah kaki yang kedengarannya semakin mendekati mereka berdua. Langsung saja tanpa ragu, keduanya menatap ke arah pemuda yang sedang berjalan ke arah mereka dengan membawa seorang wanita yang tampak berdarah-darah jika dilihat dari pakaiannya.
”Ayah!”
Shin Yixuan langsung berlari menghampirinya begitu ia sadar kalau mereka berdua adalah Luo Hein yang sedang membawa Shin Buyen di tangannya. ”... Ada apa dengan Ibu? Mengapa dia terluka?” tanya Shin Yixuan yang langsung menghentikan langkah Luo Hein.
”Dia baik-baik saja. Hanya tertidur.” singkat Luo Hein yang kemudian berjalan kembali dan diikuti oleh Shin Yixuan dari belakang.
Saat ia berpapasan dengan Shu Ye yang berdiri di teras depan, Luo Hein sempat menatapnya dengan dingin seolah ia sedang menduga sesuatu yang belum jelas. Namun, pada akhirnya ia tetap berjalan masuk tanpa menghiraukannya lagi.
__ADS_1
Saat ia telah masuk ke dalam kamar Shin Buyen dan Shin Yixuan mengikutinya dari belakang, Luo Hein berbalik dan menyentil dahi Shin Yixuan hingga membuatnya terdorong ke belakang. ”... Tetaplah di luar! Pergi dan carikan aku bunga bintang! Bentuknya bulat dan berwarna kuning lalu terdapat corak merah di setiap ujung kelopaknya.” setelah menjelaskannya, Luo Hein segera menutup pintunya dengan keras tanpa memberikan kesempatan bagi Shin Yixuan untuk bertanya padanya.
”Tunggu! Ayah! Darimana aku bisa mendapatkannya?!” teriak Shin Yixuan sambil menggedor-gedor pintunya dengan keras. Namun, hal itu tidak membuat Luo Hein membukakan pintunya dan menjawab pertanyaannya.
Tak lama setelahnya, Shin Yixuan akhirnya menyerah untuk membujuk Luo Hein agar mau membukakan pintunya. Ia pun pergi keluar dan bertemu dengan Shu Ye yang sedang bermain-main dengan seekor ular hitam. ”Ular itu bukan mainan! Biarkan dia pergi!” seru Shin Yixuan yang membuat Shu Ye langsung berhenti sedangkan ular itu merayap masuk ke dalam rumahnya.
”Haah,... Sayang sekali. Tadi itu sangat seru.” ucap Shu Ye dengan kecewa setelah kesenangannya berakhir.
”Jangan bermain-main dengan ular! Bagaimana jika kau digigit nantinya? Mungkin saja ular itu memiliki racun yang sangat berbahaya.” ucap Shin Yixuan sambil berjalan menghampirinya.
”Huh! Tenang saja! Tubuhku kebal dengan racun apapun. Belum lama ini ada seekor kalajengking yang menyengatku dan sampai sekarang aku baik-baik saja.” jelas Shu Ye sambil membanggakan dirinya.
Shin Yixuan diam tak meresponnya. Ia kemudian berjalan menuju hutan tanpa membawa apapun dan hal itu berhasil membuat Shu Ye merasa penasaran padanya. ”... Kau ingin pergi kemana? Aku harus ikut denganmu!” seru Shu Ye sambil berlari menyusulnya.
Di waktu bersamaan, Luo Hein tampak sedang mengawasinya dari balik pintu yang sedang terbuka. Tatapannya terlihat dingin dan kepalan tangannya terlihat semakin erat. Di belakangnya, sudah ada Guju yang melayaninya sejak dulu. Tampaknya, mereka sudah mendengar semua perkataan yang dikeluarkan oleh Shu Ye mengenai dirinya.
”Kau sudah mengujinya? Dia bilang, racun apapun tidak mempan di tubuhnya.” ucap Luo Hein pada Guju di belakangnya.
”Ya. Sebanyak apapun aku menggigitnya, racun itu tidak akan bekerja di tubuhnya. Yang mulia mungkin tahu anak itu berasal dari keluarga apa.” jawab Guju.
Sorot matanya seketika berubah merah saat ia merasa sangat marah. Perhatiannya pun tak henti menatap ke arah Shu Ye pergi. Bahkan kepalan tangannya sendiri sudah membuat telapak tangannya berdarah-darah.
__ADS_1
”Tentu saja aku mengetahuinya. Jadi, aku telah bertindak ceroboh dan melewatkan yang satu ini. Benar begitu, Lun Shu Ye?”
***
”Sudah kubilang jangan mengikutiku dan kau masih saja melakukannya?” ucap Shin Yixuan sambil memanjat sebuah tebing untuk menemukan bunga bintang yang dikatakan oleh Luo Hein padanya.
”Sudah kubilang aku akan mengikutimu kan? Lagipula, laki-laki tidak akan pernah melanggar janjinya!” jawab Shu Ye yang juga ikut memanjat tebing dan sekarang, keduanya saling berpapasan.
”Berhentilah menjawab ku. Aku benar-benar tidak tahan denganmu dan menyesal karena telah menyelamatkanmu.” ucap Shin Yixuan sambil menatapnya dengan kesal.
”Kau bilang kau sedang mencari bunga bintang? Aku rasa ada yang aneh dari perkataanmu. Tapi, hari ini aku sangat kesepian dan ingin berjalan-jalan. Jadi, aku ikut saja.” ucap Shu Ye yang tak mendapatkan jawaban dari Shin Yixuan. ”... Hei! Tak sembarang orang bisa mengabaikanku seperti ini! Aku baru tahu ada seseorang yang sifatnya berubah-ubah sepertimu.” lanjutnya sambil memanjat dan menghampiri Shin Yixuan yang sudah berada di atasnya.
”Jangan banyak bicara. Kau akan kehabisan tenaga dan tidak sanggup memanjat lagi.” ucap Shin Yixuan.
”Akan sangat sepi jika kita tidak saling berbicara. Aku juga akan lupa bagaimana aku harus berbicara denganmu dan perkataan apa yang pantas aku katakan padamu.” ucap Shu Ye sambil menatapnya.
”Entah kenapa aku tidak mengerti setiap kata yang kau ucapkan. Lain kali, katakan itu pada selembar kertas dan aku akan membacanya sendiri agar aku tidak perlu mendengar ucapanmu yang percuma.” ucap Shin Yixuan.
”Hah? Jadi, kau tidak ingin mendengarkan ku bicara?” celetuk Shu Ye yang tak sengaja meraih kaki Shin Yixuan hingga membuatnya terkejut.
”Apa yang kau lakukan? Kita akan jatuh jika tidak berhati-hati!” seru Shin Yixuan yang mencoba melepaskan tangan Shu Ye dari pergelangan kakinya.
__ADS_1
”Jangan seperti itu! Aku akan jatuh!”
Tak berapa lama setelahnya, Shin Yixuan mendadak kehilangan pegangannya karena ia tak sengaja meraih batu yang sudah rapuh. Saat itu juga, kedua tangannya pun terlepas dan mereka berdua akhirnya terjatuh dari atas tebing yang cukup tinggi.