Pewaris Raja Iblis

Pewaris Raja Iblis
CHAPTER. 41 - KELUARGA LUN II


__ADS_3

Malam harinya, Shu Ye tampak tak bisa tidur setelah Shin Yixuan mengatakan semua itu padanya. Lagi-lagi, rasa penasarannya ini muncul dan ia memiliki keinginan untuk pergi kembali ke kediaman Lun. Tetapi, hari sudah terlalu malam. Pastinya para hewan-hewan sihir yang berbahaya juga berburu makanannya di waktu makan malam, kan?


”Tidak! Aku harus pergi ke kediaman itu sekali lagi dan mendapatkan ingatanku kembali!” batin Shu Ye yang langsung duduk dari atas tempat tidurnya dan memakai jubahnya lagi. Lalu, saat ia baru saja membuka pintu dan melangkah keluar, ia melihat Shin Yixuan yang sedang berjalan melewati pintu kamarnya dan berhenti saat ia membuka pintunya.


”......”


”Kenapa tidak tidur? Sudah cukup malam dan aku tidak ingin kau bangun terlambat besok!” ucap Shin Yixuan sambil menatapnya dengan heran.


”Aku tidak bisa tidur dan ingin berjalan-jalan keluar. Memangnya ada yang salah dengan semua itu?” tanya Shu Ye.


”Maksudmu, berjalan-jalan ke kediaman Lun dan membahayakan dirimu lagi?” celetuk Shin Yixuan.


Shu Ye langsung terdiam dengan wajah kebingungannya. ”... Bukankah membahayakan dirimu jika kau ikut denganku? Apakah kau lupa pada ratusan kalajengking yang hidup di sana?”


Shin Yixuan menatapnya dengan aneh begitu mendengar setiap kata yang dilontarkannya. ”... Bukankah sebelumnya kau memintaku untuk tidak mengungkitnya lagi? Mengapa tiba-tiba saja kau melakukannya? Apakah itu digunakan sebagai alasan agar aku bisa melepasmu?”


Shu Ye menggeram kesal dan kemudian berkata, ”Baiklah! Aku tidak akan pergi ke sana kalau kau bisa mengejarku!” ucapnya sambil berlari meninggalkan pintu kamarnya yang masih terbuka sedangkan Shin Yixuan hanya terdiam dan menatapnya dengan heran.


”Memangnya siapa yang mau mengejarnya?” gumam Shin Yixuan yang langsung mengalihkan perhatiannya.


Sementara itu, Shu Ye yang sudah berjalan keluar akhirnya sampai di tengah hutan yang mengarah langsung ke kota Wujie. Merasa tak ada yang mengejarnya, ia pun berhenti dan berdiri di salah satu dahan pohon.

__ADS_1


Suasananya begitu sepi dan hening. Ia bahkan mampu mendengar angin yang berhembus pelan dan beberapa pemakan daging yang sedang menyantap buruannya. Selain itu, hawa dingin juga terasa di berbagai tempat. Rasanya tidak cukup jika ia melapisi tubuhnya dengan beberapa lembar kain saja.


”Ada yang sedang memperhatikan! Tetapi, sepertinya dia tidak akan mengancamku.” batin Shu Ye sambil melirik ke belakang. Setelah itu, ia pun kembali turun dari atas pohon dan berlari keluar menuju tempat yang diinginkannya. Tetapi, baru saja beberapa langkah ia meninggalkan tempatnya, sebuah lidah panjang keluar dari dalam tanah dan langsung melilit kaki kanannya. Beruntung hal itu tidak sampai membuatnya terjatuh sehingga ia bisa memotongnya dan segera berlari.


Tatapannya terlihat serius melihat ke depan. Setelah itu, dari atas telapak tangannya ia mengeluarkan sebuah pedang yang sudah ditajamkan olehnya pagi tadi. Pedang itu kemudian membelah daging dan sepasang mata yang menghalanginya dalam gelap. Mereka ini adalah sekelompok pemakan daging yang sedang berburu mangsanya.


Shu Ye berpikir bahwa musuhnya hanya ada beberapa saja. Tetapi, saat ia berlari cukup jauh, para pemakan daging itu berkumpul dalam gelap sehingga ia merasa telah mendapatkan sambutan yang cukup besar dari lawannya sendiri.


Saat pedang membelah tubuh mereka dan memberikan bekas luka yang tak pernah hilang, pakaian Shu Ye dipenuhi dengan darah yang bukan miliknya begitu juga dengan wajahnya. Beberapa hewan ada yang menggigitnya dengan racun tetapi, mereka lupa kalau racun apapun tak akan berpengaruh pada tubuhnya. Alhasil, tubuh mereka terbelah dan genangan darah tercipta dari pertarungan yang cukup singkat.


Setelah semuanya selesai, Shu Ye menyempatkan diri untuk bersandar di bawah pohon hanya sekedar mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. ”Tak ku sangka, jumlah mereka lebih dari sepuluh! Tapi, beruntungnya aku tidak membawa siapapun di sini. Jadi, aku hanya perlu memikirkan keadaanku saja.” batin Shu Ye sambil memasukkan pedangnya dan berjalan kembali ke luar.


Tak lama setelahnya, ia pun sampai di depan pintu masuk kediaman keluarga Lun. Terdapat beberapa tanaman yang merambat di gerbang kayu dan menutupi corak yang ada. Tetapi, di sana ia tidak lagi melihat satupun kalajengking yang sedang dengan santainya. Sepertinya, seseorang sudah membunuh mereka semua.


”Entah kenapa aku merasa percuma jika masuk ke dalam kediaman ini. Apakah aku benar-benar akan menemukan petunjuk yang aku inginkan?” batin Shu Ye yang akan membuka gerbangnya dengan hati-hati. Tetapi, saat pintu telah terbuka sedikit, tiba-tiba saja seseorang menariknya ke belakang dan bersamaan dengan hal itu, muncul puluhan tanaman rambat dari dalam gerbang yang langsung bergerak cepat ke arahnya.


Hampir saja. Jika orang itu tidak segera menariknya, mungkin saja ia akan diseret masuk dan tak pernah kembali.


”Apakah hanya karena kau kebal terhadap racun, kau tidak pernah waspada dengan bahaya di sekitarmu?” ketus pemuda yang sudah menariknya ke belakang.


Merasa kenal dengan pemilik suara ini, Shu Ye langsung menoleh ke belakang dan benar saja dugaannya saat ini. Orang ini adalah Shin Yixuan yang tampaknya tak tenang jika ia pergi sendirian apalagi pergi ke kediaman Lun.

__ADS_1


”Bukankah kau bilang tidak ingin mengejarku?” tanya Shu Ye sambil menatapnya dengan heran.


”Memangnya aku menginginkannya?!” ucap Shin Yixuan yang langsung menampar tangan Shu Ye. ”... Nenek yang menyuruhku untuk melakukan ini padamu! Dia bilang kalau kediaman Lun terlalu berbahaya untukmu. Dan jika kau memaksa untuk mendapatkan ingatanmu kembali, seharusnya kau pergi mengunjungi makam nenekmu yang masih berada di bukit Xieyu.”


Shu Ye tampak terkejut. ”... Mengapa tidak mengatakannya sejak awal?! Seharusnya aku tidak perlu repot-repot membunuh para pemakan daging tadi!” ketusnya.


Shin Yixuan mengalihkan perhatiannya sambil melipat tangannya. ”... Mengapa kau tidak bertanya padanya lebih dulu? Bukankah kau tahu kalau nenek adalah Guru dari Ayahmu?”


”Kau tidak bilang kalau aku bisa bertanya pada nenek Yunqing?!” ketus Shu Ye yang tak ingin kalah.


”Kau saja yang tak bertanya padaku!” balas Shin Yixuan.


BRAKK!


Keduanya langsung terdiam ketika mereka mendengar suara dentuman yang menghancurkan sebuah gerbang kayu. Tanaman rambat itu semakin menggila dan menggeliat seperti sedang mencari mangsa. Shin Yixuan langsung menarik pergi Shu Ye menjauh dari tempat tersebut. Tetapi, meskipun sudah bergerak menjauh, tanaman itu tetap bergerak cepat ke arah mereka seperti ular.


”Lagi-lagi ini semua salahmu! Aku sudah bilang tetap tidur di kamarmu dan kau malah mencari masalah di sini.” ucap Shin Yixuan sambil menatapnya dengan datar.


”Mana kutahu! Sebelumnya terlihat baik-baik saja sampai kau datang!”


Namun, setelah Shu Ye mengakhiri kalimatnya, beberapa tanaman rambat itu berhasil melilit kaki kanannya. Alhasil, langkahnya pun terhenti dan terbanting ke tanah. Shin Yixuan yang melihatnya cukup terkejut dan berniat untuk menariknya. Tetapi, tiba-tiba saja muncul puluhan anak panah yang memaksanya untuk segera bersembunyi. Tak sampai di sana, ia langsung mendapatkan sebuah cambukan keras dari tanaman rambat yang langsung membuatnya terbanting ke tanah. Sedangkan Shu Ye menghilang bersama tanaman rambat yang menyerangnya.

__ADS_1


__ADS_2