Pewaris Raja Iblis

Pewaris Raja Iblis
[S2] CHAPTER. 77 - SEPERTI ORANG MATI


__ADS_3

Xiu Huan menoleh ke arah Huang Luo dengan tatapannya yang terlihat dingin. Ia melepaskan cengkraman tangannya dari leher Yun Weixian dan memutuskan untuk berdiri menghadap ke arah Huang Luo yang sedang menunggunya.


”Kau berani melukaiku, Rong'er?” tanya Xiu Huan dengan matanya yang melotot tanpa ekspresi.


Huang Luo menggigit bibirnya dengan wajahnya yang terlihat kesal. ”... Jangan menyebut namaku lagi!” singkatnya sambil mengeluarkan sebuah pisau belati dari balik pakaiannya.


Xiu Huan menurunkan pandangannya. Kini, ekspresinya terlihat sedih seperti orang yang baru saja kehilangan sesuatu. ”... Begitu, ya? Rong'er sudah tidak membutuhkanku lagi. Setelah kau memaksaku untuk terus menjagamu, sekarang kau mau membuangku begitu saja?” ucap Xiu Huan dengan nadanya yang terdengar sendu.


Huang Luo nampak waspada sambil memegang belatinya dengan cukup kuat. Kali ini, firasatnya benar-benar buruk meskipun ia belum bisa meramalkan apa yang akan terjadi setelahnya.


Langkahnya tampak waspada dan terus menatapnya tanpa pernah teralihkan sedikitpun. Xiu Huan mulai mendongakkan kepalanya dan menatap Huang Luo tanpa ekspresi. ”... Kalau begitu, aku harus membunuhmu.” ucapnya sambil menjentikkan jarinya. Lalu, muncul ratusan benang putih dari dalam tanah yang langsung menyerang ke arah Huang Luo secara bersamaan.


Xiu Huan tahu kalau Huang Luo tidak bisa berkultivasi sejak kecil. Karena itu, ia sengaja melakukan serangan jarak jauh agar Huang Luo tidak bisa menghindarinya dengan gerakannya yang sangat lambat.


Namun, sebuah penghalang muncul tiba-tiba sehingga membuat benang-benang itu tidak dapat menyentuh Huang Luo. Justru kebalikannya, penghalang itu menghisap benang-benang putih hingga menghilang dari pandangan mereka berdua.


”Ah? Kekuatan ini? Apakah dia juga berguru pada seorang pendeta?” batin Xiu Huan yang tampak terkejut setelah serangannya berhasil dikalahkan hanya dengan menggunakan sebuah kertas mantra.


Huang Luo muncul kembali setelah penghalang tersebut menghilang. Tangan kanannya memegang sebuah kertas mantra yang memiliki tulisan aksara Dewa yang seharusnya tidak bisa dipelajari oleh manusia. ”... Sudah sepantasnya aku berterima kasih pada semua orang dan bukan hanya kau saja yang mendapatkannya. Aku tidak akan menyerang dan tidak akan membunuhmu tapi, bukan berarti aku akan membiarkanmu membunuhku.” ucap Huang Luo.

__ADS_1


Xiu Huan memiringkan kepalanya dan bertanya, ”Lalu, apa yang kau inginkan? Mengapa tidak ingin menyerangku maupun membunuhku? Apakah karena kau memiliki hutang budi padaku?”


”Aku lihat kau sama sepertiku. Seorang anak manusia yang mati lalu, dihidupkan kembali dengan bergantung pada sebuah benda kecil yang berasal dari pecahan kristal iblis.” ucap Huang Luo.


”... Sebulan sebelum Ayah membunuh kakak, dia sudah mengambil jantungmu lebih dulu ketika kau berniat untuk berkunjung ke bukit Xieyu. Kau mungkin tak akan menduga, Iblis yang pernah menyelamatkanmu saat itu dan iblis yang sudah mengajarkanmu beberapa jurus agar kau bisa melindungi dirimu sendiri, ternyata dialah yang akan membunuhmu di masa depan. Dan karena rasa bersalahnya itu, Ayah menaruh pecahan kristalnya ke dalam tubuhmu sehingga kau bisa hidup kembali meskipun tanpa jantung, layaknya manusia normal kebanyakan.” lanjutnya.


Xiu Huan mendengus dingin dan berkata, ”... Darimana kau mengetahuinya? Apakah mantan manusia itu yang sudah memberitahukannya padamu?” tanyanya dengan senyum sinis.


”Bukan.” jawab Huang Luo. ”... Pendeta wanita dari pegunungan Houyuan yang menceritakannya. Putranya sendiri melihat kejadian yang kau alami saat itu. Lima tahun setelah kau meninggalkan bukit Xieyu, aku mendatangi pegunungan Houyuan untuk berguru dan mereka berdua menceritakannya.”


”Hahaha!” Xiu Huan langsung tertawa lepas setelah ia mendengar semua ceritanya. Lalu, dengan cepat ekspresinya berubah kesal dan perhatiannya tertuju ke arah berlawanan. ”... Cih! Menjengkelkan! Orang seperti mereka, seharusnya dihabisi sejak dulu.” ucapnya sambil mengeluarkan sebuah tombak dari tangan kanannya.


”Jangan menyerangnya lagi!” seru Huang Luo yang mencoba memperingatkannya.


Xiu Huan berhenti menatap ke arah Yun Weixian dan menoleh kembali ke arah Huang Luo. ”... Kalau begitu, mengapa tidak kau saja yang menyerangnya?” ucapnya.


Huang Luo terdiam tak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Xiu Huan. Tidak mungkin ia akan menyerang Yun Weixian padahal, dia sendiri yang sudah memperingatkannya untuk tidak menyerangnya.


”Kau tidak mengerti?” tanya Xiu Huan yang memberi jeda sejenak. ”... Ah, benar juga. Selama sepuluh tahun itu, kau pasti tidak tahu apa yang sudah kulakukan pada tubuhmu. Tak ku sangka, kau tak akan menyadarinya selama itu.” lanjutnya sambil menjentikkan jarinya.

__ADS_1


Argghh!


Suara teriakan itu, tiba-tiba saja terdengar dari segala arah bahkan Yun Weixian juga ikut berteriak kesakitan, seperti ada sesuatu yang sedang menggerogoti tubuhnya. Dari balik semak dan pepohonan yang ada di sekitarnya, satu persatu pasukan dari Istana Qin terjatuh dan tewas dengan mata melotot ke atas. Mereka semua mati karena kutukan yang menyebar di tubuh mereka.


Huang Luo langsung berlari menghampiri Yun Weixian begitu ia melihat mayat pasukan yang bersembunyi, muncul mengelilinginya.


”Apa yang terjadi di sini?” Huang Luo tampak terkejut begitu melihat sebuah tanda hitam yang nyaris menutupi seluruh tubuh Yun Weixian dan juga dimiliki pada setiap mayat di sekitarnya.


”Cih! Apa yang kau lakukan padanya?!” ucap Huang Luo yang terlihat sangat marah pada Xiu Huan.


Xiu Huan tersenyum seringai dan menatap Huang Luo dengan sinis. ”... Bukan aku yang melakukannya tapi, kaulah yang sudah membuat mereka seperti itu. Aku hanya melepaskan sebagian dari kekuatanmu. Tapi, aku tak menyangka ternyata sudah sekuat ini. Kau pikir, wabah penyakit yang terjadi selama bertahun-tahun itu karena apa? Padahal kau sudah mencarinya ke seluruh tempat apa yang menjadi penyebab wabah penyakit ini sering terjadi. Tetapi, kau tidak pernah menemukannya karena wabah itu, disebabkan karena keberadaanmu sendiri.”


Huang Luo tampak sangat terkejut bahkan sampai tak bisa berkata apapun. ”... Tidak mungkin!”


”Luo-Ge! Jangan mendengarnya! Ini semua bukan salahmu! Dia tidak memiliki bukti untuk menyalahkan mu!” ucap Yun Weixian dengan suara pelan. Dan beberapa detik setelahnya, ia pun memuntahkan seteguk darah setelah tanda kutukan itu telah menyentuh lehernya.


Huang Luo terdiam selama beberapa saat. Ia menggigit jarinya sampai berdarah dan memasukkannya ke dalam mulut Yun Weixian agar ia bisa meminumnya. Perlahan, kutukan yang ada di tubuhnya menghilang dan nafasnya yang tersengal-sengal mulai terdengar normal.


”Ini yang terakhir. Maaf.” ucap Huang Luo dengan suara pelan.

__ADS_1


__ADS_2