Pewaris Raja Iblis

Pewaris Raja Iblis
EXTRA 1 - MONSTER KESEPIAN


__ADS_3

Dulu kala, di dalam sebuah lembah yang gelap dan sunyi. Datanglah Monster berwujud manusia yang selalu merasa lapar. Ada begitu banyak mayat manusia yang terjebak di dalam lembahnya dan dengan berani, mereka menodongkan pedangnya ke arah Monster yang sedang kelaparan. Alhasil, mereka pun berakhir menjadi tulang belulang yang nanti akan terkubur di dalam tanah dengan sendirinya.


Akan tetapi, monster itu selalu merasa kesepian dalam diamnya. Kerjaannya hanya makan dan terus makan seluruh makhluk hidup yang berani menerobos tempatnya. Setiap kali ia mendengar suara langkah kaki yang berjalan mendekatinya, ia akan langsung memakan makhluk itu dan menyisakan tulang belulangnya saja.


Tak ada satupun yang mengerti perasaan kesepian yang dialaminya saat ini. Terus menerus diam dan menunggu mangsanya datang, hal itu membuatnya merasa bosan dan sangat ingin berada di luar lembah miliknya.


Namun, suatu saat ketika ia akan berjalan kembali ke singgasananya yang terbuat dari tulang manusia dan hewan sihir, hal yang tak pernah disangka olehnya akhirnya terjadi. Tanpa sadar, seorang anak laki-laki berumur enam tahun menggenggam tangannya yang kesepian. Selama ratusan tahun, ia tak pernah merasakan perasaan ini. Terasa sangat hangat seolah ia sedang merasakan kasih sayang dari seorang anak manusia.


Tak menyangka dengan hal yang baru saja dialami olehnya, Monster itu langsung menatap ke arah seorang anak kecil yang berdiri di sebelahnya. Ia merasa terkejut sekaligus marah karena untuk pertama kalinya ia membiarkan seorang anak laki-laki berkeliaran di lembah miliknya. Ia bahkan tak menyadari kedatangannya dan dengan santainya, anak itu berjalan menyusuri lembahnya.


”Kau! Beraninya kau berada di lembah milikku! Aku pasti akan memakanmu!” ucap Monster itu yang langsung mendorong anak laki-laki ke belakang hingga terjatuh dan memunculkan kuku-kukunya yang tajam di hadapannya.


Namun, anak itu terlihat biasa saja seolah ia tak takut dengan ancaman yang ada di hadapannya. Ia terus menatap monster itu tanpa ekspresi, seolah ia telah memberikan seluruh hidupnya. ”Jika kakak ingin memakanku, lakukan saja. Lagipula, aku tak memiliki keinginan untuk bertahan hidup lebih lama.” ucap anak laki-laki.


Monster itu tertawa dan bertanya, ”Apakah kau hanya mengujiku saja? Mungkin saja kau datang untuk membunuhku dan membawa sekelompok pasukan mu sendiri. Kau pikir aku percaya dengan perkataan manusia?”


Anak itu tetap diam dan menatapnya tanpa ekspresi. ”... Mengapa tidak langsung membunuhku untuk membuktikannya?”


Monster itu melipat tangannya dan bertanya, ”Memangnya kenapa? Apa yang membuatmu sangat ingin mati? Apakah hidupmu sudah tidak berarti lagi?”


”Hidupku lebih tidak berarti lagi.” jawab anak laki-laki. ”... Aku melakukan ini karena aku sangat kesepian dan hidup dalam kesunyian yang tiada akhir. Aku bahkan berharap tidak pernah dilahirkan. Seandainya aku tahu kalau aku akan berakhir seperti ini, mungkin saja aku sudah memutuskan untuk mati sejak dulu.”

__ADS_1


Mendengar hal itu, tentunya membuat Sang Monster merasa sangat terkejut. Ia tak menyangka kalau ada seorang anak manusia yang merasa kesepian seperti dirinya. Anak ini bisa masuk ke dalam lembahnya, bukan karena dia tidak mengetahuinya. Melainkan, anak ini juga merasakan perasaan yang sama sepertinya. Rasa kesepian yang tak berakhir ini, tak disangka juga bisa dialami oleh anak manusia seperti dia.


”Memangnya, kejadian apa yang baru saja menimpamu sampai-sampai berniat ingin mati di tanganku?” tanya Monster.


Anak itu menatapnya kembali dan menjawab, ”Saat semua orang pergi dan hanya tinggal kau sendiri yang berdiri di sana atau, saat semua orang bersikap aneh terhadapmu sehingga kau merasa terbuang oleh mereka. Tentu, perasaan hanya muncul dalam hatimu dan kemudian perasaan itu artikan oleh otak yang memberi sinyal bahwa saat ini kau sedang kesepian. Aku mungkin bisa menghadapinya jika mereka datang satu persatu. Akan tetapi, mereka semua datang secara bersamaan sehingga hal itu membuatku berpikir untuk mengakhirinya saja.”


Monster yang berdiri di depannya merasa pilu setelah mendengarnya. Jawaban yang ditunggu-tunggu olehnya akhirnya datang dan keluar dari mulut seorang anak laki-laki yang menyelinap masuk ke dalam lembahnya.


”Apakah ceritaku ini tak begitu menarik untuk kakak? Atau, apakah kakak ingin aku mengatakan jawaban yang lain?” tanya anak laki-laki sambil menarik pelan pakaian bawahnya.


Monster itu berlutut di hadapannya. Dengan pandangan yang terlihat kasihan karena menatap matanya yang terlihat putus asa, Monster itu menyentuh kedua pundaknya. ”Apakah kau baru saja mengatakan hal yang sebenarnya?” tanya Monster.


Anak laki-laki itu kemudian menganggukkan kepalanya karena yakin kalau perkataannya ini benar.


Anak itu menggelengkan kepalanya dan menjawab, ”Aku tidak tahu. Seingatku, aku terjatuh dari atas jurang yang ada di sana.” ucapnya sambil menunjuk ke arah sebuah tebing yang disinari oleh matahari yang akan tenggelam.


Monster itu tertegun dan berkata dalam benaknya, ”Di sana adalah tempat tinggal para manusia! Jadi benar! Dia ini adalah anak manusia.” batinnya sambil menatap anak itu kembali.


Monster itu kemudian mengulurkan tangannya dan berkata, ”Kemarilah! Aku akan mengantarmu pulang.”


Anak laki-laki itu tampak terkejut dan langsung bertanya, ”Bukankah kakak ingin memakanku? Mengapa tidak melakukannya sekarang? Aku sudah sangat yakin ingin memberikan nyawaku untuk kakak!”

__ADS_1


Monster itu kemudian memukul pelan kepalanya dan berkata, ”Kau pikir, dengan memakanmu aku akan kenyang untuk selama-lamanya? Lebih baik aku memakan monster yang lebih kecil dariku daripada memakan anak manusia sepertimu.”


Anak itu merasa terkejut setelah mendengarnya. Tak lama, ia pun segera menggenggam tangan monster itu dan berkata, ”Kakak mengatakan seperti itu karena, kakak ingin aku hidup lebih lama? Padahal, aku sudah mengatakan semuanya pada kakak kalau aku sangat kesepian.”


”Kematian itu lebih menyakitkan dari yang kau kira meskipun kejadiannya hanya sebentar saja.” ucap Monster sambil membawa anak itu di atas kedua tangannya. ”... Aku akan mengantarkanmu pulang sekarang. Aku harap kau bisa memanfaatkan kehidupanmu lebih lama lagi.” lanjutnya sambil mendaki tebing yang sebelumnya berada tak jauh darinya.


”Mengapa kakak sangat baik dan melepasku begitu saja? Bukankah Monster akan sangat marah jika tempatnya dikunjungi makhluk lain?” tanya anak laki-laki.


Monster itu mendengus dan berkata, ”Jadi, sejak awal kau sudah tahu kalau aku ini adalah Monster?”


Anak laki-laki itu terdiam dan hanya menganggukkan kepalanya.


Monster itu tersenyum tipis dan berkata, ”Jadi itu, alasan mengapa kau sangat ingin mati di tanganku?”


”.....”


Tak lama setelahnya, mereka akhirnya sampai di atas tebing dan untuk pertama kalinya, monster itu melihat ada begitu banyak cahaya yang menerangi setiap rumah yang berada di dalam hutan. Ia merasa takjub dengan pemandangan seperti itu. Akan tetapi, dengan datangnya malam, wujudnya pun perlahan berubah menjadi Monster yang sangat mengerikan.


”Kakak! Tanganmu terlihat aneh.” ucap anak laki-laki yang telah berdiri di depannya sambil menatap Monster itu dengan bingung.


Tak ingin anak itu mengetahui wujud aslinya, Monster itu segera turun dari atas tebing. Namun, sebelum ia benar-benar pergi, monster itu sempat bertanya, ”Siapa namamu, anak muda?”

__ADS_1


Anak itu terkejut dan terdiam selama beberapa saat. Tak lama, lengkungan bibirnya mulai terbentuk secara perlahan dan ia pun menjawab, ”Namaku, Shin Furong Tuan Monster.”


__ADS_2