Pewaris Raja Iblis

Pewaris Raja Iblis
[S2] CHAPTER. 78 - MEMILIH BERISTIRAHAT


__ADS_3

Kota Yangzhi wilayah barat, Istana Qin.


”Siapa kau ini?! Beraninya melakukan ini terhadapku!” ucap seorang laki-laki yang meringkuk di atas sebuah lapangan besar yang dipenuhi dengan mayat-mayat para penjaga dan para anggota Istana lainnya.


Setelah Shin Yixuan memutuskan untuk menghadapi langsung para pasukan yang mengepung kediamannya, Guju langsung bergerak menyerang dan membunuh tempat asal mereka. Kini, semua orang yang ada di istana Qin telah dihabisi satu persatu. Kebanyakan dari mereka mati karena racun ular yang ada di tubuh mereka dan sebuah kutukan yang datang tiba-tiba.


”Kau pikir aku takut padamu? Kau bukanlah apa-apa dibandingkan Raja yang aku layani selama ini dan kau sudah berani memberontak dan mengganggu ketenangannya?! Tidak tahu diri!” ucap Guju dengan dingin sambil menginjak kepala Sang Kaisar yang sebelumnya telah menyusun rencana untuk menghancurkan bukit Xieyu.


Guju datang dengan sisik ular yang tumbuh di bawah matanya yang tak seperti manusia. Kuku-kuku jari tangannya memanjang dan ratusan ular beracun merayap keluar dari balik lengan pakaiannya. Saat itulah kesabarannya telah habis sehingga membuatnya menjadi liar dan membunuh para manusia tanpa izin dari tuannya sendiri.


Sebelum membunuh Kaisar mereka, Guju sempat menanyakan beberapa hal yang terjadi saat ini. Selama ini, kabar mengenai darah dan daging Huang Luo yang mujarab karena mampu menyembuhkan berbagai penyakit telah tersebar ke seluruh wilayah. Kini, semua orang sangat menginginkannya dan mereka menggunakan berbagai cara untuk mendapatkannya. Lalu, orang yang sudah menyebarkan berita ini adalah Xiu Huan yang merupakan penasehat istananya selama bertahun-tahun.


”Kacau sekali. Tidak lama lagi, semua orang pasti akan menyerbu bukit Xieyu setelah mereka mengetahui hal ini apalagi, sedang terjadi wabah penyakit yang belum diketahui obatnya. Aku harus segera membawa mereka semua pergi dari sana.” pikir Guju sambil berjalan melangkahi satu persatu mayat yang ada di sana.


Ah?!


Guju tampak terkejut setelah ia merasakan hal ini. Perhatiannya seketika tertuju ke arah bukit Xieyu berada. Langkahnya berhenti dan sorot matanya tampak tidak biasa. ”... Apa ini? Tidak mungkin! Mengapa hawa kekuatan milik pendeta pegunungan Houyuan berada di sana?!” batin Guju yang langsung mendapatkan firasat buruk.


***


Huang Luo mengeluarkan sebuah tongkat emas dari tangan kanannya. Tongkat itu memiliki ujung melengkung seperti bulan sabit dengan sebuah bola hitam kecil di ujungnya. Tongkat ini sangat penting bagi seorang pendeta. Karena ketika dia telah mencapai puncak kekuatannya, ia akan mengumpulkan seluruh energinya ke dalam tongkatnya dan akan selalu menggunakannya ketika ingin menyerang. Tetapi, jika tongkat tersebut patah, pendeta itu akan kehilangan seluruh kekuatannya dan mati dalam beberapa menit saja meskipun dia memiliki sesuatu yang membuatnya hidup abadi.


”Luo-Ge! Apa yang kau lakukan?! Hentikan itu!” seru Yun Weixian yang tampak tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Huang Luo. Baginya, Huang Luo seperti ingin membunuh dirinya sendiri setelah ia percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Xiu Huan padanya.


”Kau memutuskan untuk bertarung denganku?” tanya Xiu Huan sambil menatapnya dengan sinis. ”... Bagaimana kau bisa menang dariku sedangkan aku tahu semua kemampuan yang kau miliki? Mengalahkan seorang pendeta sepertimu, mungkin adalah sesuatu yang sangat mudah bagiku. Ah! Mungkinkah kau akan membunuh dirimu sendiri setelah tahu bahwa kaulah yang sudah menyebar wabah penyakit ini?”

__ADS_1


Huang Luo menatapnya dengan serius. Tongkatnya mulai memberontak seakan ingin menyerang Xiu Huan sekarang juga. Jika perkataan Xiu Huan benar mengenai wabah penyakit ini, seharusnya dia bisa membunuh dirinya sendiri untuk mengakhiri semua ini. Tetapi, hal yang mudah diucapkan tentu tidak mudah untuk dilakukan.


”Kalau ucapanmu benar, seharusnya aku juga bisa mengangkat kutukan itu dan menaruhnya ke dalam tubuhku. Tetapi, jika bukan aku yang melakukannya, aku pasti tidak akan bisa mengangkatnya dan hanya bisa membantu menyembuhkannya saja.” ucap Huang Luo sambil menancapkan tongkatnya di depan.


Xiu Huan menyeringai dan berkata, ”Cobalah untuk menghilangkannya. Tetapi, aku rasa kau berharap apa yang aku katakan ini benar. Karena jika benar kalau kaulah yang sudah menyebar kutukan itu, kau tidak perlu repot-repot mencari pelakunya lagi kan? Aku yakin, setelah ini kau akan mematahkan tongkatmu sendiri.”


Huang Luo menggigit bibirnya dan berusaha untuk tidak terpengaruh dengan perkataan Xiu Huan padanya. Saat cahaya kuning itu menyelimuti tubuhnya dengan kedua tangan yang akan direntangkan, tiba-tiba saja ia merasa jatuh di dalam kedua tangan seseorang yang ada di belakangnya.


”Jangan lakukan, Furong.” ucap Shin Yixuan sambil memeluk Huang Luo dari belakang. Pegangannya begitu kuat seperti tak ingin kehilangannya lagi. Ia akhirnya tahu kalau selama ini, Huang Luo yang muncul dalam kehidupannya selama bertahun-tahun adalah adiknya sendiri, Shin Furong!


Huang Luo terdiam menunduk dengan ekspresinya yang terlihat sendu. Ia menyentuh punggung tangan Shin Yixuan yang memeluk lehernya dan berkata dengan pelan, ”... Aku sudah pulang, kakak.”


CRAANG!


Sebuah lempengan besi memotong sebuah tongkat logam yang sedang menancap di atas tanah. Bersamaan dengan hal itu, muncul seorang pemuda berlumuran darah yang telah memotong tongkat tersebut menggunakan sebuah pedang yang telah patah.


Cahaya kuning yang sebelumnya menyelimuti tubuh Shin Furong seketika menghilang. Tongkatnya berubah menjadi abu yang terbang terbawa angin. Tanpa sadar, hidungnya mengeluarkan darah dan mulutnya memuntahkan seteguk darah yang tidak sedikit. Seketika, kedua matanya terbelalak dan kedua kakinya tidak lagi sanggup menopang tubuhnya sendiri.


”Furong!” teriak Shin Yixuan yang langsung menahan tubuh Shin Furong ketika dia tumbang ke belakang. Wajahnya langsung terlihat sedih padahal, dia baru saja mengingat wajah adiknya kembali.


”Luo-Ge!” Yun Weixian langsung berlari menghampiri Shin Furong setelah ia melemparkan pedang Shurui ke arah pemuda tadi. Ia merasa sangat terkejut setelah melihat darah terus mengalir keluar dari dalam hidung Shin Furong dengan kedua matanya yang terus terpejam.


Tidak mungkin! Tongkatnya sudah hancur dan dia kehilangan semua kekuatannya.


Tampaknya, bukan hanya mereka berdua yang merasa terkejut dengan kejadian yang datang tiba-tiba. Xiu Huan begitu terbelalak saat menyaksikan kematian ada di depan matanya. Xiu Huan menyeringai sambil mengeluarkan sebuah pisau belati dari balik pakaiannya.

__ADS_1


Sementara itu, semua orang yang berada di luar bukit Xieyu dibuat tidak bisa berkata-kata setelah kutukan yang ada di tubuh mereka menghilang secara perlahan. Semua orang menganggapnya sebagai sebuah keajaiban namun, mereka tidak pernah tahu kalau ternyata Shin Furong lah yang sudah membuat wabah penyakit ini menyebar setelah Xiu Huan mencoba memperalatnya.


”Furong! Aku mohon, bangunlah!” ucap Shin Yixuan dengan ekspresinya yang terlihat sangat sedih bahkan sampai membuatnya menangis.


Shin Furong membuka matanya sedikit tanpa melihat ke arah Shin Yixuan dan Yun Weixian yang juga sedang menatapnya.


Dia tidak berani melihatnya.


”Aku rasa aku sudah mencapai batasnya. hahh,... rasanya sakit sekali.” ucap Shin Furong dengan nafasnya yang terengah-engah.


”Kumohon bertahanlah! Aku akan mencari cara untuk menyembuhkanmu!” ucap Shin Yixuan sambil menatap sekeliling dengan wajahnya yang terlihat sangat khawatir.


Shin Furong menampar wajah Shin Yixuan. Namun, karena ia telah kehabisan seluruh kekuatannya, Shin Yixuan merasa kalau Shin Furong hanya menepuk pipinya dan tidak berniat untuk menamparnya dengan keras.


”Jangan lakukan apapun. Biarkan aku seperti ini sebentar. Sudah saatnya aku beristirahat untuk waktu yang sangat lama.” ucap Shin Furong dengan pelan.


”Jangan katakan itu! Kau pasti kuat! Furong tidak akan kalah begitu saja!” ucap Shin Yixuan sambil memegang tangan Shin Furong dengan kuat seakan tak ingin kehilangannya. Sementara, Yun Weixian dibuat tidak bisa berkata-kata setelah melihat keadaannya yang membuatnya mendapatkan sebuah tekanan.


”Maaf, karena sudah menyembunyikan namaku. Seharusnya, aku tidak pernah melakukannya karena saat itu, aku benar-benar membencimu. Tapi, pada akhirnya aku sadar. Kalau kau tetaplah kakak yang dulu dan tidak pernah berubah.” ucap Shin Furong yang perlahan mulai kehilangan kesadarannya.


Shin Yixuan tak berhenti menggigit bibirnya bahkan sampai membuatnya berdarah. Ini adalah kedua kalinya dia menangis seperti ini setelah dia menyaksikan kematian Shu Ye di depan matanya sendiri. ”... Furong, kumohon bertahanlah sebentar! Aku tidak ingin kau pergi lagi.” ucapnya.


Shin Furong menyempatkan diri untuk menatap ke arah Yun Weixian yang ada di sebelah kirinya. Meskipun pandangannya semakin menghitam, ia mampu melihat dengan jelas ekspresi yang ditunjukkan oleh Yun Weixian. Sangat mirip dengan Ayahnya yang tidak pernah menangis untuknya.


”A~ Ayah,... Tolong lindungi kakak.” ucap Shin Furong dengan samar-samar sebelum akhirnya ia memuntahkan seteguk darah yang didalamnya terdapat pecahan kristal iblis yang sudah menjadi hitam. Lalu, tak berapa lama setelahnya, kedua matanya menutup sedikit dan terlihat mendung. Tubuhnya tak bergerak sama sekali seperti membeku dalam es.

__ADS_1


”Tidak! Dia,... Mati?”


__ADS_2