Pewaris Raja Iblis

Pewaris Raja Iblis
CHAPTER. 56 - PERGI II


__ADS_3

Luu Houyi berdiri di depan makam Rui yang lagi-lagi tertutupi oleh kelopak bunga tabebuya yang berhamburan ke tanah. Ia terdiam, memandangi kayu pusara yang ada di sana. Sesekali, ia menangkap kelopak bunga yang jatuh di atas kepalanya. Tak berapa lama setelahnya, ia pun duduk berlutut di depannya.


”Aku sudah melanggar janjiku. Aku mungkin tidak pantas mendapatkan satupun murid. Aku telah gagal melindungi semua orang. Aku putus asa. Aku tidak tahan lagi!” gumam Luu Houyi sambil menunduk dan mencengkram kepalanya sendiri dengan kedua tangan.


”Apakah Guru sudah menyerah?” ucap sebuah suara yang mirip sekali dengan suara Rui di telinganya.


Luu Houyi langsung mengangkat kepalanya. Ia merasa sangat terkejut setelah melihat keberadaan Rui yang sedang duduk di hadapannya sambil menunjukkan senyum kekanak-kanakannya seperti saat ia masih hidup. Luu Houyi sempat mengira kalau semua ini hanyalah ilusi. Tetapi, setelah ia menyentuh wajah Rui, semuanya tampak nyata sekali.


”Rui? Bagaimana kau bisa ada di sini?” tanya Luu Houyi yang masih sangat terkejut.


Rui tertawa. Wajah dari pemuda ini selalu mengingatkan Luu Houyi tentang masa mudanya. Rambut hitam dengan kedua mata berwarna ungu, membuatnya ingat pada wajah Putranya yang harus mati saat usianya 12 bulan bersama dengan istrinya setelah kereta kuda yang ditempati mereka terperosok ke jurang.


”Aku selalu ada di sini. Aku bisa melihat Guru setiap hari datang mengunjungi makam ku dan melatih dua murid barumu. Aku juga bisa mendengar kesedihan yang Guru alami saat ini.” jawab Rui. ”... Guru baru saja kehilangan muridmu kan? Guru merasa sangat sedih karena tidak bisa melindunginya dan ragu untuk membunuh iblis yang akan membunuhnya. Ah! Mungkin lebih tepatnya dia itu adalah Ayahnya sendiri. Memang sangat menyedihkan, ya. Ayah membunuh putranya sendiri lalu membangkitkannya menjadi Iblis.”


”Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?” tanya Luu Houyi sambil menundukkan kepalanya karena putus asa dan hampir menyerah.

__ADS_1


Rui menyentuh pundak Luu Houyi. Masih dengan ekspresinya yang sama, Rui berkata, ”... Kenapa tidak pergi bersamaku? Aku bisa membuat Guru melupakan semua itu. Guru pasti bisa melakukannya.” ucapnya sambil menaruh pisau belati di tangan kanan Luu Houyi dan tidak berhenti menatapnya.


Luu Houyi terdiam ragu. Pisau belati yang sudah ada di tangan kanannya membisu, tak melakukan apapun. Rui membantu dengan memegang tangan kanannya dan menggerakkannya tanpa ragu. Tepatnya, ia mengarahkannya ke leher Luu Houyi agar ia mau menggorok lehernya sendiri. ”... Guru harus pergi dan melupakan semua ini.” ucap Rui diakhiri dengan senyum seringai sebelum akhirnya ia berhasil menggorok leher Luu Houyi hingga darah pun berceceran di sekitar makamnya.


Tak sampai satu menit, orang-orang yang melihatnya melakukan itu mungkin akan mengira kalau Luu Houyi sudah membunuh dirinya sendiri. Mayatnya pun terjatuh tepat di depan makam muridnya sendiri.


Di waktu bersamaan, Shin Buyen duduk di bibir jurang sambil menekuk lututnya dengan sedih. Angin berhembus cukup kencang tetapi, ia tidak pernah merasakannya. Perasaannya hancur berantakan. Padahal sudah sebulan tetapi, ia tidak pernah bisa melupakannya. Kejadian yang merenggut nyawa putranya dan perkataan yang membuatnya merasa terkhianati.


Ia merasa bodoh karena sudah dimanfaatkan.


Kenapa aku tidak mati sejak dulu, bersama dengan keluargaku sendiri? Mengapa aku harus bertahan hidup sampai sekarang? Semuanya berubah gelap. Apakah ini adalah hukumanku karena sudah membunuh ratusan nyawa tidak bersalah?


”Nama itu bahkan bukan aku yang memberikannya. Melihat dan mendengar namanya saja, membuatku teringat dengan kejadian kemarin.”


Saat Shin Buyen berbalik membelakangi bibir jurang, seketika wajahnya tampak terkejut begitu ia melihat keberadaan Luo Hein yang sedang berdiri di sana. Dan yang lebih lucu lagi, Luo Hein sedang tersenyum ramah seolah tidak pernah terjadi apapun sebelumnya.

__ADS_1


”Beraninya kau menunjukkan wajah itu padaku!” bentak Shin Buyen yang langsung terlihat sangat marah. Ia mengeluarkan sebuah belati dari saku kirinya lalu berlari ke arah Luo Hein dan menusuk dada kanannya. Tetapi, anehnya Luo Hein tidak melakukan perlawanan sama sekali apalagi untuk menghindari serangan yang dilakukan Shin Buyen padanya.


Alhasil, Luo Hein menjadi berdarah-darah setelah Shin Buyen menusuk tubuhnya berulang-ulang kali. Shin Buyen merasa heran karena Luo Hein hanya diam mematung seperti tumpukan beras yang tumpah karena ditusuk berulang kali.


”Kenapa tidak melawan?! Apakah ini jebakan?” tanya Shin Buyen.


Luo Hein tertawa kecil. Ia memegangi luka yang ada di dada kanannya dan menjawab, ”Aku sengaja melakukannya. Kupikir kau marah dan ingin melampiaskan semuanya padaku.” jawabnya sambil merentangkan kedua tangannya dan tersenyum padanya. ”... Lakukan sesukamu. Kau ingin membunuhku, menyiksaku atau memotong satu persatu tubuhku, silahkan saja. Aku akan menanggung semuanya untukmu.”


Shin Buyen merasa sangat terkejut. Ia terdiam sambil mencengkram pisaunya dengan sangat kuat. Ia menggigit bibirnya sampai berdarah dan tanpa sadar, ia menangis begitu mengingat masa lalunya. ”Kenapa kau harus membunuh Yixuan? Apa kesalahannya? Dia itu masih putramu dan putraku. Mengapa kau harus melakukannya?!” tanya Shin Buyen dengan membentak.


Luo Hein terdiam sendu. Ia mengalihkan perhatiannya ke tanah dan langkahnya perlahan mendekatinya. Darahnya masih menetes sehingga membuat sebuah jejak yang mampu dilihat oleh siapapun. ”... Aku tidak bisa mengatakan alasannya padamu. Aku hanya ingin kau mengerti. Harus ada yang menjadi pembatas antara alam iblis dengan alam manusia dan menjadi pelindung bagi alam manusia yang fana. Xuan'er, sudah melakukan sesuatu yang benar untukku dan untuk semuanya.” ucapnya sambil memeluk Shin Buyen saat keduanya sudah berada di jarak yang cukup dekat.


Shin Buyen terdiam sambil menundukkan kepalanya. Ia memegang belatinya dengan sangat kuat. Namun, tak lama setelahnya ia pun menjatuhkannya ke atas tanah. ”... Kenapa harus dia? Kenapa tidak yang lain saja?” tanyanya.


”Karena dia berbeda. Aku sudah menduganya sejak awal. Jiwanya tidak ternoda oleh kejahatan. Semua akan baik-baik saja selama dia yang menjadi penggantiku.” jawab Luo Hein dengan pelan.

__ADS_1


”Kau benar-benar penjahat!” ucap Shin Buyen sambil memegang punggung Luo Hein dengan kuat. Setelah itu, langkahnya berjalan mundur ke bibir jurang dan menarik Luo Hein bersamanya. Beberapa detik setelahnya, keduanya terjatuh ke dasar jurang dan hanya menyisakan sebuah belati serta jejak darah di tempat tersebut.


Sementara ini, di rumahnya yang sekarang. Shin Furong tengah menunggu mereka semua kembali di tempat yang sama bahkan sampai sore menjemputnya. Ia terus menatap ke arah perginya mereka bertiga. ”... Kapan Paman Luu dan Ibu akan kembali?” gumam Shin Furong yang terus menunggu.


__ADS_2