Pewaris Raja Iblis

Pewaris Raja Iblis
[S2] CHAPTER. 74 - WABAH PENYAKIT


__ADS_3

”Kau baru saja bertemu dengan siapa?” tanya Huang Luo sambil memegang sebuah jarum di tangan kanannya. Jarum itu, ditusukkan pada beberapa bagian tubuh Yun Weixian untuk membangunkannya dengan paksa setelah jiwanya ditarik keluar oleh arwah pendendam.


”Sudah pagi?” gumam Yun Weixian sambil menatap keluar jendela lalu duduk kembali di atas tempat tidurnya. Ia tampak bingung dan terus memperhatikan sekitar. Ia tidak menyangka kalau semua yang dialaminya tadi termasuk laki-laki itu ternyata hanyalah mimpi.


”Luo-Ge? Kenapa aku bisa ada di sini? Bukannya tadi, aku sedang berbicara dengan seseorang?” ucap Yun Weixian yang terlihat bingung.


Huang Luo menaruh jarumnya lagi pada sebuah kotak kayu kecil dan berkata, ”Justru itulah yang aku tanyakan sekarang. Kau baru saja berbicara dengan siapa dan mengapa kemarin malam kau tidur di bawah patung batu?”


Yun Weixian tertegun. Wajahnya tampak tak percaya kalau kemarin ia telah tidur di bawah patung batu. ”... Tidak mungkin! Semalam aku tidur di kamar ini! Bagaimana bisa aku berjalan keluar dan tidur di bawah patung batu?” ucap Yun Weixian yang mencoba membantah.


”Kau pikir aku berbohong?” tanya Huang Luo yang langsung menatapnya dengan serius. ”... Katakan saja padaku, dengan siapa kau berbicara tadi?”


Yun Weixian bingung. Ia terdiam untuk memikirkannya. ”... Aku baru saja berbicara dengan Luo-Ge. Lalu, kenapa?” jawabnya dengan wajah yang tampak tidak bersalah sama sekali.


Huang Luo mengeluarkan sebuah pisau bedah dari dalam kotaknya dan ia melakukannya seperti sedang mengancam akan membunuhnya setelah ini. ”... Katakan saja atau aku terpaksa merobek mulutmu.” ucapnya dengan dingin.


”I- iya aku akan langsung menjawabnya.” ucap Yun Weixian sambil memperhatikan pisau bedah di tangan kanan Huang Luo dengan waspada. ”... Dia tidak menyebutkan namanya karena waktunya sangat singkat. Katanya dia ingin mengatakan sesuatu yang penting padaku tetapi, saat dia akan mengatakannya, tiba-tiba aku terbangun lagi di sini.”


”Oh, begitu ya.” jawab Huang Luo dengan pelan sambil menyimpan kembali pisaunya. Ia kemudian beranjak dari atas tempat tidurnya dan langsung membelakanginya. ”... Sepertinya, kau memiliki hubungan dengan Raja terdahulu.” lanjutnya sambil sedikit menoleh ke arahnya sebelum akhirnya dia benar-benar pergi meninggalkan ruangan tersebut.


”Hah? Dia itu suka sekali membuat seseorang merasa penasaran.” gumam Yun Weixian yang langsung menatapnya dengan bingung. Perhatiannya kembali teralihkan pada patung batu yang berada tak jauh dari jendela kamarnya. Ia masih merasa penasaran dengan laki-laki yang muncul di dalam mimpinya dan mengapa rasanya ia begitu tertarik pada patung batu di sana.


”Apakah aku harus menyentuhnya lagi untuk memastikannya?” batin Yun Weixian.


WAHH!

__ADS_1


Suara teriakan Shin Yixuan terdengar jelas di balik pintu kamarnya. Yun Weixian sedikit terkejut dan langsung berjalan keluar. Saat ia baru saja membuka pintunya, Yun Weixian menatap datar pada Shin Yixuan yang terjatuh tepat di depan pintu kamarnya dengan sebuah ember kayu penuh air yang berada di atas kepalanya.


”Xuan-Ge! Jika tubuh besarmu terlalu berat, mengapa tidak menggunakan tubuh kecilmu saja agar tidak terjatuh?” tanya Yun Weixian.


Shin Yixuan tertegun dan langsung mengambil posisi duduk. Ia melepas ember kayu yang masih berada di atas kepalanya. Dari atas kepala sampai ujung kaki, semuanya basah setelah ia tak sengaja menginjak pakaiannya sendiri hingga membuatnya terjatuh.


”Tapi, jika aku melakukannya, aku tidak bisa membawakan seember air untuk memadamkan api di dapur.” jawab Shin Yixuan.


”Hm, ada yang aneh.” Mendengar jawaban ini, tentunya membuat Yun Weixian memikirkannya dan merasa bingung. ”... Maksudmu, kau baru saja membakar dapur?!”


Baru saja ia mengatakannya, tiba-tiba saja api mulai membesar dan membakar seluruh dapur hingga api merangkak keluar dari pintu. Luar biasa! Dapur benar-benar terbakar! Apa yang dilakukannya sampai-sampai membuat api mengamuk seperti itu?!


***


”Ahh, lelah sekali.” batin Yun Weixian sambil meringkuk di atas meja duduk dengan wajahnya yang tampak kelelahan setelah terus menimba air untuk memadamkan api yang membara di dapur.


”Maaf, seharusnya aku tidak melakukan apapun tadi pagi.” ucap Shin Yixuan dengan nadanya yang terlihat sendu sambil mengusap matanya dan ditemani oleh Guju yang mencoba menghiburnya agar tidak sedih.


”Yang mulia sudah melakukan apa yang kau bisa. Itu hanya dapur. Bisa dibangun kembali.” ucap Guju yang duduk di sebelah Shin Yixuan saat tubuhnya menyusut kembali.


Yun Weixian memperhatikannya dengan tatapan menilai. ”... Seperti Ibu dan anak padahal, hanya majikan dan pelayannya.” batinnya.


”Tolong! Siapapun yang ada di dalam! Tolong selamatkan Putriku!” seru seorang wanita yang berteriak di depan pintu sambil membawa seorang anak perempuan berumur lima tahun. Dengan menangis, ia berharap seseorang ada yang bisa menyembuhkan penyakit putrinya ini.


Dari dalam, Yun Weixian langsung membukakan pintunya dan menatap wanita itu. ”... Ada apa ribut-ribut di sini?” tanya Yun Weixian.

__ADS_1


Wanita itu tampak terkejut dan langsung menatap ke arah Yun Weixian. ”... Tuan! Tolong, selamatkan Putriku! Dia sedang sakit!” ucap wanita sambil meletakkan kepalanya di lantai seolah ia sangat memohon.


”Nyonya! Tolong jangan seperti itu. Katakan apa yang terjadi.” ucap Yun Weixian sambil membantu wanita itu mengangkat kepalanya.


Dengan ekspresinya yang terlihat sedih sambil memeluk kembali Putrinya, wanita itu melanjutkan, ”... Di desa kami, sedang terjadi wabah penyakit dan hanya beberapa orang yang tidak tertular oleh penyakitnya. Ku dengar, di bukit Xieyu ada seorang tabib yang sudah hidup selama ratusan tahun. Jadi, aku kemari untuk menyembuhkan penyakit Putriku. Kumohon, sembuhkan dia!” ucapnya dengan memohon sambil berlutut di depannya.


”Oh, tidak. Luo-Ge baru saja dibuat tak bisa berkata-kata setelah dapurnya hangus. Apakah dia masih mau menyembuhkan orang asing seperti dia?” batin Yun Weixian yang memikirkannya sambil mengalihkan perhatiannya.


”Taruh Putrimu di sana. Aku akan segera memeriksanya.” ucap Huang Luo yang langsung datang dari arah pintu belakang sambil berjalan menghampiri wanita tadi.


Yun Weixian menghela nafasnya begitu ia melihat Huang Luo yang tampak baik-baik saja. ”Sepertinya dia sudah bisa melupakannya tetapi, mengapa dia mengeluarkan hawa membunuh yang membuatku terancam?” batin Yun Weixian yang memperhatikan.


Huang Luo memperhatikan anak gadis yang dibawa wanita tadi. Di wajah dan tubuh anak ini, terdapat sebuah bintik merah yang tidak sedikit dan mengeluarkan bau. Nafasnya terdengar sesak dan suhu tubuhnya begitu panas. Kedua matanya berwarna merah dan lidahnya tampak pucat. Dia mungkin memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyembuhkan satu orang saja. Apalagi, wanita ini bilang kalau di desanya terdapat sebuah wabah penyakit yang sama seperti anak ini.


Dia sedang sekarat!


”Bagaimana kau bisa melawan hewan sihir yang ada di hutan?” tanya Huang Luo yang memperhatikan.


”Aku datang bersama dengan suamiku. Kami berpisah saat seekor serigala menyerang kami.” jawab wanita dengan sendu.


”Oh,...”


Huang Luo langsung mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisikan jarum kecil miliknya. Dia menancapkan satu jarum di dada atas anak itu lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Tak sampai di sana, ia juga menusukkan jarumnya ke pergelangan tangannya hingga menembus dan mengeluarkannya lagi. Bersamaan dengan hal itu, anak gadis ini langsung terbangun dengan dengan nafasnya yang tidak lagi terhambat.


”Putriku! Syukurlah kau sudah sadar!” ucap wanita yang langsung memeluk Putrinya.

__ADS_1


Huang Luo merapikan barang-barangnya kembali dan berkata, ”Aku hanya menghilangkan sesak nafasnya. Penyakitnya masih belum disembuhkan. Untuk sementara, pastikan dia meminumnya setiap hari.” ucapnya sambil mengeluarkan sebuah kantong yang dipenuhi dengan pil buatannya sendiri. ”... Penyakitnya akan menghilang secara perlahan meskipun waktunya sangat lama.”


Wanita itu langsung menyentuh tangan Huang Luo dengan sangat kuat dan menatapnya dengan senyum seringai. ”... Tapi, aku ingin Putriku sembuh sekarang juga.” ucapnya dengan tatapan sinis. ”... Tuan, tolong berikan sedikit darahmu.”


__ADS_2