Pewaris Raja Iblis

Pewaris Raja Iblis
CHAPTER. 26 - JEBAKAN


__ADS_3

Guju berlari mengelilingi bukit Xieyu begitu ia kehilangan Luo Hein saat keduanya sedang berjalan menuju wilayah Qinwu. Tiba-tiba saja ia menghilang begitu saja tanpa mengatakan apapun padanya dan bahkan jejaknya sangat sulit dirasakan.


Namun, saat menginjakkan kakinya di depan sebuah pohon tua, ledakan itu pun terjadi secara tiba-tiba sehingga ia pun harus bergerak menjauhinya dengan cepat. Tetapi, saat ia mencoba menghindar, sosok laki-laki muncul di belakangnya dengan sebuah tombak besi yang akan menebas punggungnya.


Dengan cepat, Guju segera mengeluarkan pisau besarnya dan kemudian menepis serangan tersebut. Kedua kakinya menapak di atas sebuah pohon begitu juga dengan pemuda yang baru saja menyerangnya.


”Musuh?!” batin Guju sambil memperhatikannya.


”Lama tidak bertemu, Guju.” ucap pemuda yang kini berdiri di depannya dengan senyum seringai dan wajahnya tertutupi oleh tudung kepalanya yang cukup besar.


Guju tampak terkejut begitu ia mendengar suaranya. Ia kemudian menatapnya dengan serius dan mengeraskan kepalan tangannya. ”... Ternyata ini benar-benar kau, Guxun.” ucap Guju dengan dingin. ”... Kau datang kemari untuk menghancurkan Yang Mulia?”


Guxun akhirnya membuka tudungnya dan memperlihatkan sebuah bola mata yang berwarna oranye mirip sekali dengan yang dimiliki oleh Guju. Rambutnya dikuncir kuda dan berwarna ungu kehitaman. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah tombak dengan mata pisau yang bahkan bisa membelah tanah. Ia adalah kakak laki-laki Guju. Tetapi, saat klan ular dihancurkan, keduanya berpisah sebelum akhirnya mereka bertemu dengan para Raja Iblis.


”Merepotkan. Aku tidak ada hubungannya dengan mereka berdua. Justru, aku datang kemari untuk menyapamu dan memberikanmu sedikit pelajaran.” ucap Guxun sambil mengalihkan perhatiannya dan dengan cepat, ia menatap kembali ke arah Guju dengan sinis.


Guju menatapnya serius dan berkata dengan tegas, ”Aku tidak memiliki waktu untukmu!” ia segera bergerak maju dan meninggalkannya. Namun, tampaknya Guxun tak akan membiarkannya pergi dengan mudah.


Sebuah pisau mendarat tepat di depan kakinya sehingga membuat langkahnya terhenti seketika. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat sambil menggigit bibir bawahnya. Ia kesal karena tak dibiarkan pergi dan hal ini benar-benar sudah membuang waktunya.


Guju menoleh ke arah Guxun dan memberikannya tatapan dingin. ”Jangan menggangguku!” ucapnya.

__ADS_1


Guxun tersenyum seringai dan berkata. ”Kita lihat saja apakah kau bisa menghindari ku atau tidak?” ucapnya sambil bergerak ke arahnya dengan tombak besi yang mengarah padanya dengan sekuat tenaga.


***


JLEBB!


Sebuah pisau menancap di sisi kiri perut Shin Yixuan! Darah pun memuncrat ke tanah dan mengotori pakaian putihnya. Kedua matanya sempat menatap Luo Hein yang masih berdiri di depannya dengan ekspresi yang sangat terkejut karena tak menyadari datangnya serangan tersebut. Dan saat itu juga, tubuhnya jatuh ke belakang dan membiarkan semuanya terjadi.


Lu Yuan tersenyum seringai setelah ia melempar pisau tersebut. ”Sungguh disayangkan, Raja ketujuh datang lebih dulu padahal aku belum menyiapkan hadiah besar untukmu. Tapi, setidaknya kau bisa melihat bagaimana aku menyiapkan hadiah untukmu. Sangat bagus, bukan?.” ucapnya


Saat melihatnya, Luo Hein merasa bimbang. Ia merasa sangat marah tetapi, di samping itu semua ia juga merasa sangat sedih. Ia pun berhenti menatap Shin Yixuan yang membuat amarahnya semakin meluap-luap. Hawa kemarahan berkumpul dan bahkan arwah tanpa tubuh juga ikut membantunya. Saat itu terjadi, tubuh mereka akan terasa sangat berat seperti ditimpa oleh ratusan batu di atas kepala mereka.


”Paman Luo! Sadarlah!” seru Shu Ye yang mencoba menyadarkannya. Namun, untuk saat ini Luo Hein tidak bisa dihentikan sampai kemarahannya habis. Sementara itu, Lu Yuan tampak senang karena akhirnya semua berjalan sesuai dengan rencananya meskipun ada sedikit gangguan.


”Cih! Kalau seperti ini terus, bisa-bisa aku juga akan mati!” batin Shu Ye yang menahan kesal dan mencoba untuk menatap ke arah Shin Yixuan yang ada di sebelahnya. Lalu, saat melihatnya ia langsung merasa terkejut karena ada sesuatu yang aneh di sana. ”... Ah! Apa yang terjadi? Darah dan pisaunya menghilang? Bukankah tadi itu terlihat nyata sekali? Atau mungkin, semua itu hanya ilusi yang dibuat-buat olehnya?!” batin Shu Ye yang mulai curiga.


Di sisi lain, Lu Yuan meregangkan kedua tangannya dan tak melakukan perlawanan saat Luo Hein benar-benar marah padanya. Tatapannya terlihat sangat meremehkan apalagi saat ia berkata, ”Lakukan apa yang kau bisa untuk membunuhku! Kau pasti sangat menginginkannya, kan?!” ucapnya sambil berteriak padanya.


Luo Hein yang sudah tidak bisa berpikir jernih dan tenggelam dalam amarahnya sendiri, mulai mengeluarkan sebuah pedang logam dari tangan kanannya. Sebuah pedang yang tak pernah dikeluarkan oleh para Raja Iblis, akhirnya muncul dengan amarah.


”Paman Luo! Berhenti! Ini jebakan!” Shu Ye berseru dan berharap Luo Hein akan berhenti. Tetapi, ia mengatakannya saat Luo Hein telah bergerak cepat ke arahnya. Alhasil, pedang logam itu pun menembus jantung Lu Yuan dan menghancurkannya.

__ADS_1


Dan begitu sadar dengan apa yang sudah dilakukannya, Luo Hein tampak terkejut dan tak percaya ketika melihatnya. Ia merasa sangat marah meskipun begitu, ia tidak perlu sampai membunuhnya hingga seperti ini.


”Baguslah! Kau benar-benar membunuhku sekarang! Hadapilah hukumanmu saat ini!” teriak Lu Yuan sebelum akhirnya tubuhnya hancur dan berubah menjadi gumpalan darah yang berserakan di tanah.


Setelah hal itu terjadi begitu cepat, tiba-tiba langit berubah menjadi mendung dengan awan petir yang muncul di sekitarnya. Angin berhembus begitu kencang, menerbangkan beberapa ranting pohon yang terjatuh.


”Hawa kemarahannya berhenti. Lalu, apa yang akan terjadi lagi sekarang?” batin Shu Ye yang memperhatikan. Ia kemudian berlari ke arah Shin Yixuan dan mengamati keadaannya saat ini. Ia terlihat baik-baik saja bahkan masih bernafas hingga detik ini. ”Jadi benar? Semua itu hanya ilusi saja.”


”Yixuan! Bangunlah! Yixuan!” ucap Shu Ye sambil mengguncangkan kedua pundak Shin Yixuan.


Sementara itu, di dalam sebuah ruangan yang terasa seperti di atas awan, Shin Yixuan mencoba membuka matanya perlahan meskipun ia tidak yakin kalau ia bisa kembali ke tubuhnya. Ia tak bisa menghirup aroma apapun. Semua terasa sunyi dan tenang tanpa adanya gangguan.


Dan saat itu juga, ia pun membuka matanya dan langsung mengambil posisi duduk sambil memperhatikan sekitar yang tampak kosong. ”... Tempat apa ini? Mengapa aku bisa ada di sini? Apakah aku benar-benar mati?” batinnya.


”Kau sudah sadar rupanya, anak muda.” ucap pemuda yang berdiri di belakangnya.


Shin Yixuan langsung menoleh ke belakang dan menatap pemuda berambut hitam legam dan bola matanya yang juga berwarna hitam. Pakaiannya pun berwarna hitam dengan corak merah yang membentuk sebuah pola yang indah. Kedua matanya seperti sedang menyorotinya dengan tatapan kasihan. Di tangan kanannya saat ini, ia memegang dua buah gulungan yang bertuliskan hidup dan mati.


”Paman ini siapa dan tempat apa ini?” tanya Shin Yixuan yang terlihat bingung dan langsung berdiri menghadapnya.


Pemuda menatapnya dengan tatapan menilai lalu menjawab, ”... Wang Ye, Dewa Penjaga Gerbang Kematian. Saat ini kau berada di ruang antara hidup dan mati. Dan di ruang inilah, kau yang akan menentukan apakah kau ingin kembali hidup atau mati.”

__ADS_1


__ADS_2