Pewaris Raja Iblis

Pewaris Raja Iblis
CHAPTER. 13 - SHIN BUYEN


__ADS_3

”Yixuan! Yixuan! Lihatlah! Mawar yang tumbuh di sana!” seru Shu Ye yang sambil menunjukkan sebuah bunga mawar berwarna merah menyala yang telah dipetik olehnya dan sebelumnya juga sudah dilihat oleh Shin Yixuan.


Takut jika kejadian kemarin akan terulang, Shin Yixuan menolak untuk menyentuhnya dan berkata, ”Aku sudah melihatnya kemarin. Kau tidak perlu menunjukkannya lagi padaku.”


Shu Ye menatapnya dengan bingung. Sekilas, ia memperhatikan wajahnya yang tampak murung seperti sedang mengingat kejadian buruk yang baru saja menimpanya. ”Setidaknya lihatlah sebentar!” ucap Shu Ye sambil memberikan bunga itu padanya. Akan tetapi, mawar yang ada di telapak tangannya tiba-tiba saja terjatuh dan mengenai kepala Shin Yixuan yang sedang duduk di teras halaman belakang rumahnya.


”Eh?”


Shu Ye tampak heran setelah ia melihat bunga mawar yang dibawanya langsung mati ketika bersentuhan dengan kepala Shin Yixuan. Ia terdiam dan tak tahu harus mengatakan apa padanya. ”Rasanya mustahil ini terjadi kan?” batin Shu Ye yang terus memperhatikannya sedangkan, Shin Yixuan hanya diam sambil mengalihkan perhatiannya dan berpura-pura tidak tahu kejadian yang baru saja terjadi.


Sedetik kemudian, Shu Ye berlari ke belakang untuk mencabut beberapa bunga mawar yang tumbuh di sana. Setelah itu, ia berlari kembali ke arahnya dan melemparkan semua bunga yang ada di tangannya ke arah Shin Yixuan. Benar saja, sedetik kemudian bunga itupun mati dan berubah menjadi hitam setelah bersentuhan dengan Shin Yixuan. Tentunya, hal itu membuatnya semakin penasaran dan bertanya-tanya.


”Malang sekali hidupmu! Bunga saja enggan untuk bersentuhan denganmu! Apa mungkin aku juga akan langsung mati jika bersentuhan denganmu?” tanya Shu Ye sambil menunjuk ke arah Shin Yixuan.


”Aku, juga baru mengetahuinya.” jawab Shin Yixuan dengan ragu.


Shu Ye tetap menatapnya dengan curiga. ”Jangan berbohong! Kau pasti melakukan semacam jurus untuk melakukannya kan?! Kau ini berguru pada siapa?!” ketus Shu Ye.

__ADS_1


Shin Yixuan menatapnya dengan bingung. Ia seolah sedang berbicara dengan seekor kera yang bermulut tajam. ”... Kau ini mengatakan sesuatu yang tak pernah aku mengerti.” ucap Shin Yixuan dengan suara pelan.


Beberapa saat setelahnya, ia pun menoleh ke arah samping dan melihat Shin Buyen yang akan meninggalkan rumah dengan menyeret sebuah karung besar di belakangnya. Tetapi, ada yang berbeda dari karung tersebut dan membuat Shin Yixuan penasaran, mengapa di karung itu terdapat bercak darah yang tidak sedikit?


”Ibu akan pergi kemana?” tanya Shin Yixuan yang langsung berlari menghampirinya dan meninggalkan Shu Ye yang masih melontarkan pertanyaannya.


Awalnya Shin Buyen menunjukkan ekspresi dinginnya saat sedang menyeret karung tersebut. Namun, saat ia menoleh ke arah Shin Yixuan, seketika ia langsung tersenyum padanya dan menjawab, ”Aku hanya akan pergi untuk membuang sampah dan membereskan yang lain. Kau tetap di sini saja. Jangan biarkan siapapun masuk ke dalam rumahmu.”


”Apakah aku tidak boleh ikut?” tanya Shin Yixuan.


Shin Buyen sedikit melunakkan ekspresinya. Ia kemudian menyentuh kepala Shin Yixuan dan menjawab, ”Aku tidak ingin membuatmu dalam masalah lagi. Ikuti apa yang aku katakan tadi. Melindungimu adalah kewajibanku saat ini.”


”Sepertinya, Nyonya Shin baru saja berpesta besar. Apakah dia hobi memotong-motong daging?” tanya Shu Ye yang berjalan menghampiri Shin Yixuan.


”Aku tidak tahu.” Shin Yixuan berpikir selama beberapa saat dan kemudian menjawab, ”... Yang aku tahu, Ibu bisa melakukan segalanya. Ia bisa menampar wajah bangsawan yang dihormati, ia juga bisa melawan puluhan laki-laki yang menyerangnya seorang diri. Kalau soal memotong daging, sepertinya dia tidak bisa. Saat aku meminta sup jantung rusa, Ibu lupa untuk membersihkannya sehingga rasanya menjadi pahit.”


Shu Ye tampak gemetar saat mendengarnya dan ia pun berkata, ”Sepertinya, Ibumu bukan orang biasa. Aku turut bangga.” ucapnya dengan ragu.

__ADS_1


Di sisi lain, seekor beruang raksasa tengah dilahap oleh seekor ular yang ukurannya dua kali lebih kecil darinya. Ular itu meremuk tulangnya lalu memakannya dari atas kepala dengan perlahan. Lalu, di depan sebuah gua besar juga terdapat beberapa ekor ular yang sedang melahap tiga ekor serigala. Saat itu terjadi, Shin Buyen berjalan memasuki gua yang tampak gelap dan tak dipenuhi oleh cahaya manapun.


Namun, saat ia sengaja berhenti di tengah-tengah gua, sebuah pedang melesat ke arahnya dengan sangat cepat. Akan tetapi, Shin Buyen mampu menghindarinya hanya dengan melangkah mundur sesaat, sebelum pedang tersebut menembus kepalanya.


”Sepertinya kita kedatangan tamu perempuan.” ucap sebuah suara yang sedang melangkah ke arahnya. Lalu, beberapa saat setelahnya, muncul beberapa obor yang dinyalakan secara tiba-tiba dan semua obor itu sedang berjalan ke arahnya.


Kini, ia sedang dikepung oleh tujuh orang pemuda berjubah hitam yang tak pernah mengetahui hal buruk apa yang terjadi pada rekan-rekan mereka. Orang-orang ini hanya ditugaskan untuk menunggu di dalam gua sampai mereka menyampaikan kabar untuk segera pergi keluar.


”Wajahmu terlihat sangat familiar. Apakah kau datang kemari untuk memohon belas kasihan agar kamu tidak membunuh Putra kesayanganmu?” tanya pemuda yang terus berjalan menghampirinya hingga wajah mereka saling berhadapan.


Shin Buyen terus terdiam sambil menyembunyikan ekspresinya saat ini. Diam-diam, ia telah melancarkan serangannya sejak tadi dan mereka hanya perlu menunggu sampai waktunya tiba.


”Mengapa hanya diam saja dan tidak bersujud di depanku?” pemuda itu mencoba untuk menyentuh Shin Buyen dengan tangannya yang kotor. Lalu, tanpa di duga sebuah pisau melesat ke arahnya sehingga membuat tangan pemuda itu terpotong dan tubuhnya ditendang hingga terhempas cukup jauh.


Ia menggunakan serangan tak terlihat yang belum lama ini diajarkan oleh Luo Hein setelah Shin Yixuan mengalami kematian pertamanya.


”Majulah. Aku tidak akan segan memberikan putraku jika kalian berhasil mengalahkan ku.” ucap Shin Buyen.

__ADS_1


”Cih! Mencoba bermain curang rupanya!” salah satu pemuda berdecak kesal padanya dan mencoba untuk melangkahkan kakinya. Akan tetapi, tiba-tiba seluruh pergerakannya membeku seolah ia sedang terjebak dalam es. Hal yang sama juga terjadi pada keenam pemuda lainnya yang hanya diam di tempat dengan ekspresi wajah yang sangat tidak percaya.


Shin Buyen menyiapkan pisau belati yang sudah dibersihkan olehnya dan berkata pada para pemuda dengan tatapan dingin, ”... Begitu? Jika kalian tidak ingin maju maka, aku saja yang menyerang kalian!”


__ADS_2