
11 Tahun Lalu, kediaman Lun, Kota Wujie.
”Jangan sombong dan jangan bertindak gegabah! Kau berencana untuk menguasai wilayah Nanxin tetapi, kau tidak bisa memikirkan akibatnya jika melawan orang-orang di sana!” bentak Yu Yuanyi ketika ia sedang berhadapan dengan Lun Heiyun di kamarnya setelah ia mendengar bahwa Lun Heiyun akan menguasai wilayah Nanxin padahal, wilayah tersebut dipenuhi dengan hewan-hewan buas dan suatu kediaman terpencil yang memiliki kekuatan besar.
Lun Heiyun menunjukkan keangkuhannya di depan Ibu kandungnya sendiri. Wajahnya tersenyum sinis dan tatapannya terlihat begitu percaya diri. ”... Siapa yang akan berperang ke sana? Kau yang sekarang hanyalah wanita tua pembawa kayu bakar. Untuk apa kau menasehati ku seperti ini?” ucap Lun Heiyun dengan nada angkuh.
Yu Yuanyi mulai menatapnya dengan serius. ”... Tempat itu adalah kediaman besar keluarga Shin. Meskipun mereka sudah mati, kau tidak akan bisa menguasai wilayah mereka. Ada banyak hewan sihir yang tak kau ketahui seperti apa wujudnya dan seperti apa kekuatannya. Dan kau juga melupakan keberadaan penyihir ular yang masih hidup sampai sekarang.” ucapnya.
”Aku bisa mengatasinya. Lagipula, mereka itu hanyalah hewan sihir. Untuk apa aku takut menghadapinya?” jawab Lun Heiyun sambil menatapnya dengan sinis. Tampaknya ia tak begitu memikirkannya sampai ke akar-akarnya. Sejak dulu ia selalu bertindak terburu-buru seperti anak kecil. Hal itulah yang selalu membuat Yu Yuanyi tenggelam dalam rasa kekhawatirannya sendiri.
Keduanya terdiam selama beberapa saat. Lalu, muncul sesuatu yang berhasil membuat Lun Heiyun tampak terkejut bahkan tidak bisa mempercayainya. ”... Nenek! Apa yang nenek lakukan di sini?” tanya Shu Ye yang berjalan menghampirinya dan langsung berdiri di sebelahnya dengan tatapan bingung.
Tatapan Lun Heiyun mulai terlihat ketakutan. Ia adalah seorang pemuda yang larut dengan kekuasaan dan kekuatan yang dimilikinya. Tetapi, begitu melihat Shu Ye, ia seperti sedang melihat sesuatu yang sangat berharga dan berarti padanya. Tetapi, ia selalu menganggap Shu Ye sebagai salah satu dari pelayan yang ada di kediamannya.
”Shu Ye, bersembunyi 'lah di belakang Nenek.” ucap Yu Yuanyi sambil mendorong Shu Ye ke belakang.
Lun Heiyun tampak memperhatikan mereka dengan tatapan yang terlihat serius, seperti gunung yang akan meletus ketika ia tak sanggup menahan beban yang terkandung dalam bendungannya. Tangannya mengepal kuat dan giginya bergemeretak karena jengkel. ”... Siapa anak yang ada di belakangmu?” tanya Lun Heiyun.
Yu Yuanyi kembali menatapnya dengan serius dan bertanya, ”Apakah selama ini kau tidak menyadari perasaan itu? Apakah kau tidak tahu kalau Shu Ye adalah Putra kandungmu sendiri? Selama ini dia hidup bersamaku dan kau tidak pernah melihatnya ataupun menatap wajahnya yang sangat mirip denganmu?” ucapnya dengan nada membentak.
Lun Heiyun terdiam selama beberapa saat. Tak lama setelahnya, ia pun tertawa lepas sampai-sampai ia harus menutupi keningnya dan mendongak ke atas seolah mengatakan bahwa ini semua adalah lawakan yang sangat lucu bahkan nyaris membuat seseorang pingsan begitu mendengarnya.
__ADS_1
”Kau bilang dia putraku?” tanya Lun Heiyun sambil menatapnya dengan ekspresi seperti orang gila yang kehilangan segalanya. ”... Kau mengatakan kalau dia adalah Putra kandungku? Memangnya aku percaya?! Kau pikir, aku tidak tahu kalau selama ini Xuanlu selalu menggoda laki-laki setiap kali aku pergi keluar?!” ucapnya dengan sangat marah sehingga membuat Shu Ye sempat ketakutan.
Dia marah! Benar-benar marah bahkan sampai mengira kalau Shu Ye adalah anak haram!
Tak lama setelahnya, Lun Heiyun akhirnya terlihat jauh lebih tenang dari sebelumnya. Ia pun melangkah mendekati pedangnya dan kemudian berjalan keluar kamarnya dengan terburu-buru bahkan sampai membanting pundak Yu Yuanyi agar menjauh darinya.
”Heiyun! Kau mau kemana dengan pedang itu?!” tanya Yu Yuanyi yang terlihat khawatir.
Seketika langkah Lun Heiyun terdiam di tempat dan menoleh sedikit ke belakang. ”... Untuk membunuh wanita lac*r yang terlanjur ku nikahi.” jawabnya sambil berjalan menuju suatu tempat.
”Tunggu! Heiyun! Jangan melakukannya!” teriak Yu Yuanyi yang mencoba mengejarnya. Tetapi, langkahnya ini terhenti ketika Shu Ye menarik lengan pakaiannya dan menatapnya dengan ekspresi sedih.
”Apakah dia membenciku? Kenapa dia terlihat sangat marah?” tanya Shu Ye.
”Tuan besar! Musuh datang!” teriak seorang pemuda bersamaan dengan datangnya suara dentuman besar yang menghancurkan sebuah bangunan kecil sampai yang besar. Dan karena hal itu, tiba-tiba saja langit tertutup mendung bahkan matahari seolah enggan untuk menyinari kediaman tersebut.
Suara ini jelas berasal dari halaman depan. Yu Yuanyi kemudian berlari kesana untuk melihat apa yang terjadi. Benar saja, saat ini ada sesosok pemuda yang berdiri di tengah mayat manusia yang mengelilinginya. Pemuda itu terlihat sedang memakan sesuatu yang ada di tangannya. Dan begitu ia melihat darah bermunculan dimana-mana, Yu Yuanyi langsung mendapatkan sebuah firasat yang sangat buruk.
Dengan cepat ia pun langsung berlari ke arah Shu Ye dan membawanya ke suatu tempat sebelum kejadian buruk itu menimpanya.
Saat keduanya mencoba melarikan diri dari kediaman tersebut, suara teriakan terdengar dimana-mana dan bahkan dari jarak yang cukup jauh, keduanya mampu mendengar suara teriakan Lun Heiyun yang begitu tersiksa.
__ADS_1
”Nenek! Mengapa kita pergi dari sini? Kenapa teriakan itu terus terdengar?” tanya Shu Ye yang berdiam di pelukan Yu Yuanyi saat ini.
Yu Yuanyi langsung menjawab, ”Tidak ada waktu untuk bertanya, Shu Ye. Saat ini kita harus pergi meninggalkan tempat ini.” ucapnya sambil berlari melewati tumpukan mayat yang sudah mati sejak tadi.
Tetapi, saat keduanya telah sampai di gerbang belakang dan mereka hanya perlu berlari melewatinya, tiba-tiba sosok pemuda itu muncul dan menghalangi jalan mereka berdua.
Laki-laki itu datang dengan membawa kepala milik Lun Heiyun yang sudah mati di tangannya. Lalu, setelah ia melihat keberadaan Yu Yuanyi dan Shu Ye yang langsung berhenti di hadapannya, ia melemparkan kepala tersebut hingga berhenti di depan kedua kakinya. Hal itu tentu membuat Shu Ye mengalami sebuah tekanan yang sangat besar bahkan nyaris membuatnya muntah.
Pemuda itu tak mengatakan apapun padanya. Tetapi, gerak-geriknya seolah seperti bergerak untuk membunuhnya. Dan saat itu juga, Yu Yuanyi langsung berlutut di hadapannya dan berkata, ”Kumohon, biarkan anak ini tetap hidup! Kau boleh mengambil nyawaku saat aku berhasil membawanya ke tempat aman.” ucapnya dengan penuh ketakutan.
Laki-laki itu terdiam selama beberapa saat dan mulai berjalan melewatinya lalu berhenti kembali di belakangnya. Ia sedikit menoleh ke arahnya dan berkata, ”... Aku akan memberikanmu kesempatan. Pergilah selagi aku masih berbaik hati padamu. Ku pikir kalian akan sangat senang jika melihat orang ini mati lebih dulu dari kalian.”
Kata orang ini pasti mengacu pada Lun Heiyun yang mati di tangannya.
Begitu ia mendengar jawabannya, Yu Yuanyi langsung berlari pergi dari kediaman tersebut dengan masih membawa Shu Ye yang terus memeluknya. Ia terus berlari tanpa arah dan ia tidak tahu kalau ia sedang berlari menuju sebuah jurang yang cukup dalam.
Saat sampai di bibir jurang, Yu Yuanyi tampak bimbang. Teriakan itu terus terdengar di telinga mereka seperti tidak ada habis-habisnya sedangkan Shu Ye masih terlihat sangat ketakutan karenanya.
”Jangan menangis, Shu Ye. Nenek ada di sini untuk melindungimu.” ucap Yu Yuanyi dengan lembut.
Tetapi, karena aroma darah yang melekat di pakaian mereka, membuat para hewan buas yang hidup di dalam hutan terbangun dan langsung berjalan menghampirinya. Meskipun aromanya sangat kental dengan kediaman Lun, para hewan buas ini tidak berani pergi ke sana karena mereka tahu kalau saat ini Raja Iblis ketujuh sedang menyantap hidangannya.
__ADS_1
”Berbahaya sekali! Bagaimana aku bisa pergi melewati ini semua?!” batin Yu Yuanyi yang mulai cemas. Ia tak bisa berharap pada siapapun dan hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Ia semakin menguatkan pegangannya pada Shu Ye yang masih memeluk dirinya sambil berkata, ”Shu Ye, tahan nafasmu.” beberapa detik setelah mengatakannya, Yu Yuanyi akhirnya menjatuhkan diri dari atas jurang bersama dengan Shu Ye hingga akhirnya tenggelam bersama dengan arus air.