Pewaris Raja Iblis

Pewaris Raja Iblis
CHAPTER. 42 - WANG YE


__ADS_3

”Hei! Lagi-lagi kau berada dalam kesulitan, ya?” ucap pemuda yang menunjukkan senyum seringainya ketika kedua tangannya dirantai pada dua tiang besi yang cukup besar dan tinggi.


Shin Yixuan terbaring di alam bawah sadarnya sendiri. Ia menolak untuk berbalik dan menatap sisi tergelapnya. Semenjak pertarungannya dengan Bai Yunqing, rantai dan tiang besar ini muncul tiba-tiba dan langsung mengikatnya hingga membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.


”Kenapa tidak menatapku? Kau tidak berani melakukannya setelah aku berhasil menguasai pikiranmu?” cibir pemuda.


”Jangan menggangguku saat aku sedang berpikir.” jawab Shin Yixuan dengan pelan. Tak lama setelahnya, ia pun mengambil posisi duduk dan menatap pemuda itu tanpa ekspresi. ”... Mengapa aku bisa ada di sini? Kau mengundangku untuk acara minum teh?” lanjutnya.


”Seandainya aku bisa melakukannya.” jawab pemuda. ”... Kau pasti tahu aku selalu melihatmu dari sini dan aku tahu apa yang kau pikirkan. Kau baru saja melindungi anak laki-laki itu dengan beralasan kalau Bai Yunqing yang sudah menyuruhmu untuk melakukannya.”


Shin Yixuan terdiam dengan wajahnya yang tampak terkejut. ”... Memangnya kenapa aku melakukannya? Dia mungkin akan salah sangka jika aku mengatakan hal yang sejujurnya!” jawabnya dengan suara keras.


Pemuda itu tersenyum sinis dan berkata, ”... Tenang saja. Lagipula, apa yang bisa aku lakukan saat ini? Aku mungkin akan mengatakannya jika aku berhasil menguasai pikiranmu. Tetapi, tak ku sangka nenekmu itu memiliki kekuatan yang cukup besar. Wajar saja jika pekerjaannya adalah seorang pendeta. Sepertinya aku akan terperangkap di sini sampai jiwamu terguncang kembali. Aku mungkin akan merasa sangat senang jika kau berada dalam masalah dan bisa mempengaruhi pikiranmu untuk berbuat kejahatan.”


”Kalau begitu, aku berharap kau tidak akan pernah bisa melakukannya.” jawab Shin Yixuan.


Pemuda itu tersenyum seringai dan berkata, ”Semoga harapanmu terwujud.”


***


”Yixuan! Yixuan!” seru pemuda sambil mengguncangkan kedua pundak Shin Yixuan yang bersandar di bawah pohon setelah bahunya mendapatkan luka cambukan dan tubuhnya terbanting ke tanah berulang kali.

__ADS_1


Perlahan Shin Yixuan membuka matanya dan menatap ke arah pemuda berhanfu kuning dan hitam dengan rambutnya yang dikuncir kuda. Sorot matanya berwarna kuning seperti matahari. ”... Hei! Apa yang kau lakukan di sini sampai terluka? Kau baik-baik saja?” tanya pemuda sekali lagi.


”Wang Ye?” gumam Shin Yixuan yang memperhatikannya selama beberapa saat untuk memastikan. Benar saja, pemuda ini adalah Wang Ye, Dewa Penjaga Gerbang Kematian yang pernah ditemuinya waktu itu. ”... Bagaimana kau bisa ada di sini?” tanyanya dengan wajahnya yang masih terlihat bingung.


”Harusnya aku yang bertanya di sini! Mengapa kau bisa terluka seperti ini? Apa yang terjadi di sini?” tanya Wang Ye.


Shin Yixuan berpikir selama beberapa saat. Tak lama setelahnya, ia tampak terkejut karena ada sesuatu yang sempat dilupakan olehnya. ”... Shu Ye! Dia menghilang! Sebelumnya ada tanaman rambat yang menyerang kami. Lalu, mereka membawa Shu Ye kembali ke kediaman Lun.”


Wang Ye mulai terlihat serius begitu dia membicarakannya. ”Darimana serangan itu berasal?” tanya Wang Ye. ”... Apakah kediaman Lun yang menyerang kalian?”


Shin Yixuan tertegun. Ia tak menjawab dan hanya menganggukkan kepalanya.


Wang Ye mulai terlihat cemas seperti sedang memikirkan sesuatu. Pandangannya terus teralihkan dan tangannya mengepal begitu kuat. Pemandangan ini jelas-jelas membuat Shin Yixuan kebingungan dan penasaran. Sebelumnya ia berpikir Wang Ye hanya bekerja di alam bawah sadar seseorang saja seperti hantu yang tak terlihat. Tetapi, ternyata dia bisa terlihat nyata di dunia manusia.


Wang Ye menghela nafasnya dan mencoba menatapnya kembali. ”... Kau tahu kalau keluarga Lun dibunuh habis-habisan oleh Luo Hein.” jelasnya. ”... Meskipun kejadiannya sudah 11 tahun lalu, jiwa mereka tetap tidak tenang. Jiwa yang kotor dan tidak suci akan menjadi lawan para manusia. Jika keinginannya belum terwujud, mereka tak akan pernah tenang dan akan selalu mengganggu semua orang. Sebelumnya, laki-laki bernama Luu Houyi mencoba untuk menenangkan kebencian mereka dengan paksa. Tetapi, hal itu tidak berhasil. Dia hanya membunuh para kalajengking yang hidup di sana. Jadi, para petinggi mengirim ku kemari untuk menenangkan jiwa mereka yang terus membuat masalah.”


”Lalu, bagaimana kau bisa menenangkannya? Apa yang mereka inginkan?”


”Mereka tidak bisa diajak berbicara. Apa yang mereka inginkan saat ini hanyalah rasa dendam yang tak berujung. Meskipun mereka berhasil membunuh Shu Ye dan Raja Iblis ketujuh, jiwanya tidak akan pernah suci dan akan terus seperti ini.” jawab Wang Ye yang terlihat cemas.


Shin Yixuan mulai menatapnya dengan serius. Seolah tak memikirkan akibatnya, ia langsung menjawab, ”... Aku akan membantu! Aku juga harus mengeluarkan Shu Ye dari sana.”

__ADS_1


Wang Ye langsung menjawab, ”Percuma! Kau tidak akan bisa! Dia mungkin sudah mati ditelan oleh kebencian mereka semua. Jiwanya pasti terjebak di dalam kediaman mereka sehingga, yang kau selamatkan nanti hanyalah sebuah cangkang kosong.”


”Soal itu, aku tidak takut.” jawab Shin Yixuan yang terlihat serius.”... Wang Ye pernah mengembalikan jiwaku satu kali. Jadi, aku yakin kau bisa melakukan hal yang sama padanya.”


***


Di waktu bersamaan, tanaman rambat yang menyerangnya kini sedang mengikat tubuh Shu Ye di dalam sebuah ruangan luas. Selama seharian penuh ia terus memejamkan matanya tanpa tahu, jiwanya telah ditarik keluar oleh seorang wanita yang juga anggota dari keluarga Lun.


Arwah wanita itu berhasil mengalahkan arwah kebencian yang bersarang di ruangan tersebut. Ia menarik jiwa Shu Ye keluar dan membawanya menuju suatu tempat.


Di hamparan rumput yang cukup luas, berdiri satu-satunya sebuah pohon yang disandari oleh seorang wanita muda berumur 30-an tahun. Wanita itu memakai hanfu berwarna putih dengan rok panjang yang memiliki corak naga berwarna emas. Rambutnya dikuncir setengah kuda menggunakan pita berwarna kuning. Di pangkuannya saat ini, ia sedang menyisir rambut Shu Ye yang sedang tertidur menggunakan jarinya yang ramping.


Tak ada satupun suara yang mengganggu mereka. Hanya ada angin yang menerbangkan beberapa kelopak bunga Peony yang bermekaran di sekitarnya. Dan karena suara-suara itu, perlahan Shu Ye membuka matanya tanpa menatap wajah wanita di belakangnya.


”Tempat apa ini?” gumam Shu Ye yang tampak kebingungan.


”Shu Ye? Kau sudah bangun?” ucap wanita di belakangnya.


Shu Ye yang mendengar suara ini langsung terkejut dan mengambil posisi duduk sambil menatap wanita tersebut. ”S-Siapa kau?” tanya Shu Ye yang terlihat heran.


Wanita itu tertawa kecil. Dengan cepat ia tersenyum menatapnya dan berkata, ”Aku rasa, sebagian kecil dari jiwamu tahu siapa aku.”

__ADS_1


Shu Ye terdiam. Secara tidak sadar, dirinya meneteskan air mata begitu mendengar wanita ini tertawa. Ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi padanya. Selama bertahun-tahun ia tak pernah merasa tersentuh seperti ini dan selalu hidup sesuai dengan kemampuannya. ”Kenapa aku seperti ini?”


Wanita itu menyentuh wajah Shu Ye dengan hati-hati dan ia pun berkata, ”... Akhirnya kau tahu, siapa aku cucuku.”


__ADS_2