
”Yang mulia. Anda harus memulihkan keadaan Anda. Para siluman telah kembali dengan membawa beberapa jantung manusia untuk Anda.” ucap Guju sambil menunjukkan tumpukan jantung manusia yang berada di atas sebuah meja.
Shin Yixuan terdiam dan tak menyangka ia harus memakan benda menjijikan seperti ini. Rasa manis dari sebuah roti, rasa gurih dari daging rusa yang baru saja dimasak, semuanya telah hilang dari indera perasanya. Ia merasa seperti telah membunuh ratusan nyawa tidak bersalah dan ia juga merasa bersalah karena merepotkan tempat kelahirannya sendiri.
Ia merasa tidak ingin memakannya. Ia masih belum terbiasa dengan tempat tinggal barunya dan rambut putihnya yang membuatnya terlihat seperti kakek-kakek dari belakang. ”... Aku tidak ingin memakan semua ini.” ucap Shin Yixuan yang langsung menolak.
Guju langsung berekspresi serius dan berkata, ”Yang mulia harus memakan semua ini jika Anda ingin kesadaran Anda tetap ada!”
Shin Yixuan langsung berjalan meninggalkan tempat tidurnya dan menjawab, ”Aku bisa melakukan apa saja untuk diriku sendiri. Aku mungkin akan merasa sangat senang jika seseorang datang untuk membunuhku sebelum aku membunuh yang lain.”
Guju memandangi Shin Yixuan yang terus berjalan menjauhinya. Ekspresinya nampak khawatir. Sejak Shin Yixuan tinggal di alam iblis, ia tidak pernah memakan satupun jantung manusia yang seharusnya di makan oleh para Raja Iblis. ”... Yang mulia Raja terdahulu. Aku takut tidak bisa menjaganya lebih dari ini. Kuharap sesuatu yang buruk tidak terjadi padanya.” batin Guju yang memperhatikan.
***
Tengah malam telah tiba dan Shin Furong tetap menunggu di tempat yang sama dengan penuh harap. Ia berusaha untuk tetap terjaga meskipun saat ini ia merasa sangat mengantuk dan tidak bisa menahannya lebih lama lagi.
”Kapan Ibu akan kembali? Aku sangat lapar. Paman Luu juga tidak kembali sejak tadi padahal dia sudah berjanji. Kuharap tidak terjadi sesuatu pada mereka.” gumam Shin Furong sambil menekuk lututnya dan membenamkan wajahnya di sana.
__ADS_1
Tak sampai satu menit Shin Furong tertidur, tiba-tiba saja ia mendengar suara sebuah meja yang digigit berulang kali oleh taring taring yang tajam. Ia pun langsung terbangun dan mencoba menoleh ke belakang. Suara-suara tersebut semakin terdengar dan semakin banyak jumlahnya.
Dengan perlahan, ia mencoba membuka pintu depan rumahnya dan mengintip sedikit.
Shin Furong begitu terkejut ketika ia melihat lima ekor serigala yang sedang mengacak-ngacak barang dalam rumahnya dan menggigit semua benda yang ada di sana. Dan karena keterkejutannya itu, tanpa sengaja ia langsung berlari sehingga membuat suara hentakan kaki di atas kayu yang begitu terdengar di telinga para serigala. Alhasil, langkahnya yang cepat, diikuti oleh para serigala yang kelaparan.
Di dalam hutan yang cukup gelap, Shin Furong terus berlari tanpa arah dan tanpa tujuan. Ia juga takut dengan keberadaan lubang jebakan yang sengaja disiapkan oleh para pemburu dan sebuah jurang yang akan menjatuhkannya.
Apa yang bisa dilakukan oleh anak berumur enam tahun selain berlari untuk menghindari kematian? Jelas sekali, dia sangat takut pada kematian yang sedang mengejarnya. Langkahnya mulai menapak di atas rumput basah dan perhatiannya mulai menatap ke arah seorang pemuda yang sedang berdiri tidak jauh di depannya.
Tanpa jeda untuk berpikir, Shin Furong segera memeluk kaki pemuda itu dan berteriak, ”Kakak! Tolong aku!” ucapnya dengan penuh ketakutan dan kedua mata yang langsung terpejam, berharap apa yang dilihatnya ini bukanlah sebuah ilusi.
”Anak muda? Sampai kapan kau akan memeluk kakiku seperti ini?” tanya pemuda.
Shin Furong terkejut karena sosok pemuda ini bukanlah ilusi. Ia pun langsung membuka matanya dan dengan perlahan ia mencoba menatap pemuda yang jauh lebih tinggi darinya.
Mata merahnya menatap seorang pemuda berambut hitam yang dikuncir kuda dengan hanfu terang berwarna biru. Warna matanya seperti langit malam yang hanya dihuni oleh bulan saja. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah tombak yang telah berlumur darah para serigala dan di sebelah kanannya terdapat sebuah cangkul yang tertutupi tanah merah.
__ADS_1
”Kak Shu Ye?” tanya Shin Furong yang masih sangat terkejut begitu ia melihat sosoknya yang benar-benar nyata.
Pemuda itu tampak bingung. Ia melepaskan tangan Shin Furong yang masih memeluk pahanya dan kemudian ia berlutut di depannya untuk menatap wajahnya dengan jelas. ”... Kau mencoba menyamakan wajahku dengan orang lain?” tanya pemuda sambil menunjuk wajahnya sendiri. ”... Lihatlah wajah ini! Hanya aku yang bisa memilikinya dan tidak ada seorangpun yang bisa menyamainya!”
Mendengarnya berbicara, membuat Shin Furong merasa sedih dan lagi-lagi, ia menangis begitu ia mengingat kesendirian yang dialami olehnya tadi. Hal itu, tentu membuat pemuda merasa panik karena dia merasa bersalah telah membuat seorang anak kecil menangis tersedu-sedu.
”H- hei! Kenapa menangis? Aku tidak akan memukulmu.” ucap pemuda dengan nadanya yang terdengar canggung dan bingung.
Meskipun ia sudah mengatakannya, Shin Furong tetap menangis seperti bayi yang baru lahir. Ia merasa senang karena akhirnya ia bisa bertemu dengan orang lain meskipun dia bukanlah Shu Ye maupun Luu Houyi.
”Aduh,... Kenapa tangisannya semakin keras? Aku tidak berbakat mengurus anak kecil.” batin pemuda yang berpikir kemudian bertanya, ”... Dimana rumahmu? Aku akan mengantarkan mu pulang. Apakah Ibumu juga ada di rumah atau keluargamu?”
Bukannya membuatnya berhenti menangis, pemuda ini malah membuat Shin Furong semakin menangis keras karena sampai saat ini Shin Buyen belum kembali, begitu juga dengan Luu Houyi. Padahal ia berharap salah satu dari keduanya melihatnya berada dalam bahaya lalu menyelamatkannya. Namun, siapa sangka ia malah menemukan orang lain di sini.
”Bagaimana ini? Jika Ibunya melihat hal ini, dia pasti mengira akulah yang sudah membuatnya menangis dan dia akan langsung menampar wajahku berulang kali seperti kuali di dapur!” batin pemuda yang mulai ketakutan.
Pemuda itu mencoba untuk tersenyum meskipun sedikit terpaksa. Ia menggandeng tangan Shin Furong dan berkata, ”Ayo, aku akan mengantarmu pulang ke rumah. Aku pasti akan melindungimu jika sesuatu terjadi.”
__ADS_1
Shin Furong akhirnya terdiam meskipun wajahnya masih terlihat sangat sedih. Ia menatap pemuda dan bertanya, ”Paman ini bukan kak Shu Ye dan bukan paman Luu?”
Pemuda itu langsung menjawab, ”Tentu saja bukan! Aku ini hanya seorang pengelana biasa yang tak memiliki apapun dan tak memiliki tujuan. Namaku, Xiu Huan dari wilayah Nanxin.”