Pewaris Raja Iblis

Pewaris Raja Iblis
CHAPTER. 55 - PERGI


__ADS_3

Dia sudah tidak ada.


Shu Ye membawa kembali Shin Furong yang sudah terlanjur melihat pemandangan tadi. Ia menangis cukup keras sambil memeluk leher Shu Ye. Shu Ye sendiri juga tidak menyangka hal ini akan terjadi begitu cepat dan begitu menyakitkan untuk siapapun yang melihatnya. Ia tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa terdiam karena menyaksikannya saja.


”Jangan menangis. Aku yakin semua akan baik-baik saja.” ucap Shu Ye yang berusaha menangkan Shin Furong.


”Bagaimana bisa baik-baik saja?” ucap Shin Furong saat ia membenamkan wajahnya di pundak Shu Ye. ”... Ayah sudah membunuh kakak. Ibu pasti tidak akan tinggal diam. Dia pasti sangat sedih atas kepergiannya. Apalagi, hal yang sama juga dialami oleh Paman Luu. Sesuatu pasti akan terjadi nanti.”


Shu Ye menyentuh punggung Shin Furong dan berkata, ”Tidak perlu takut itu akan terjadi. Aku pasti akan mengubahnya menjadi lebih baik.”


***


Luo Hein meletakkan mayat Shin Yixuan di atas sebuah meja batu yang dikelilingi oleh tujuh batu pusaka. Kedua tangannya dipenuhi dengan darah yang bukan miliknya. Saat ia menatap mayat tersebut, air matanya pecah dan ia pun langsung terduduk di sebelahnya sambil menangisi dirinya yang tidak bisa melindungi keluarganya sendiri.


”Maaf. Maafkan aku. Aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Kau pasti ketakutan saat aku mengancam akan mengambil alih tubuh adikmu. Meskipun hal ini bukanlah hal yang kau inginkan tapi, kau tetap harus melakukannya untuk Shin Furong dan Shin Buyen. Aku yakin, suatu saat mereka akan mengerti.”


Luo Hein menarik keluar jantungnya yang telah mati sejak dulu. Ia menyatukan kembali pecahan-pecahan kristal yang telah hancur menggunakan kekuatan terakhirnya. Kristal itu kemudian diletakkan di dalam lubang, bekas ia menggali jantung Shin Yixuan keluar.


Seketika, tubuh Shin Yixuan dirasuki oleh ribuan energi kebencian yang ada di tempat tersebut. Perasaan dingin dan mencekam turut dirasakan oleh Luo Hein yang sedang berada di sana. Lalu, tak lama setelah seluruh energi kebencian berkumpul di dalam tubuhnya, rambut Shin Yixuan seketika berubah menjadi putih. Bola matanya perlahan terbuka dan menunjukkan warna merah darah yang menyala di tengah kegelapan.

__ADS_1


Seakan tahu kalau saat ini Shin Yixuan telah mendapatkan kehidupannya kembali, Luo Hein yang akan sekarat sempat bertanya, ”Bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah menjadi lebih baik?”


Shin Yixuan menjawab beberapa saat kemudian sambil menutup matanya, ”Tidak bisa lebih baik dari sebelumnya. Aku rasa ini akan menjadi kematianku yang kedua.”


Luo Hein tersenyum tipis. Ia mengusap dahi Shin Yixuan yang berkeringat dan menjauhkan rambut putihnya agar tidak basah. ”... Maaf. Aku harus membuatmu menderita. Kau pasti sangat ketakutan. Aku sangat menyesal dan kecewa pada diriku yang selalu bertindak gegabah. Maaf. Maafkan aku.” ucap Luo Hein dengan sedih sambil memegang tangan Shin Yixuan dengan erat. ”... Aku berjanji. Suatu saat, aku akan mengambilnya lagi. Aku akan bereinkarnasi kembali. Entah itu adalah manusia atau iblis, ku harap kau bisa menyadarinya.”


Shin Yixuan tak menjawab. Sudah sejak tadi ia terus memejamkan matanya tanpa melakukan apapun yang menjadi kebiasaannya. Bernafas. Kristal itu sedang menyesuaikan dengan kondisi tubuhnya saat ini. Jika saja tubuhnya tidak kuat untuk menahan kekuatan yang begitu besar dan kebencian milik semua orang, tubuhnya akan hancur.


”Aku punya satu permintaan.” ucap Shin Yixuan dengan suaranya yang terdengar pelan. Dengan sigap, Luo Hein segera mendengarkan perkataannya. ”... Lindungi Furong sama seperti kau melindungiku. Aku ingin dia tetap hidup dan tumbuh menjadi pemuda yang kuat. Ku harap dia tidak sedih saat ini.”


Luo Hein tak menjawab dan berekspresi sendu. Sayang sekali ia tidak bisa melakukan keinginannya saat ini. Sebentar lagi, ia juga akan mati. Tidak mungkin dia kembali lagi dengan wujud sebagai hantu yang bergentayangan menakut-nakutinya.


***


Sebulan kemudian.


”Kemana kak Shu Ye akan pergi? Jangan tinggalkan aku di sini.” ucap Shin Furong yang mencoba menahan Shu Ye ketika ia akan pergi dari rumahnya.


Shu Ye terkejut dan terdiam selama beberapa saat. Wajah Shin Furong terlihat sangat sedih seperti saat ia kehilangan Shin Yixuan sebulan lalu. Ia sendiri juga tidak tahu harus melakukan apa. Untuk sekarang, ia tidak bisa membawa Shin Furong pergi bersamanya. Ia mungkin takut sesuatu yang buruk terjadi pada Shin Furong jika ia lengah sedikit saja.

__ADS_1


”Tetaplah di sini. Aku akan mencari Yixuan dan membawanya kembali kemari. Aku yakin dia masih hidup sampai sekarang.” jawab Shu Ye sambil berjalan pergi meninggalkannya.


Shin Furong tampak sedih. Namun, ia juga tidak bisa melakukan apapun selain menunggunya di sini. Setelah satu jam, ia terus berdiam di tempat yang sama sambil menatap ke arah perginya Shu Ye seolah berharap ia akan kembali, di waktu yang sama, Shin Buyen berjalan keluar rumah tanpa menatapnya padahal ia berada tepat di sebelah pintunya.


”Kemana Ibu akan pergi? Jangan tinggalkan aku di sini.” ucap Shin Furong dengan wajahnya yang terlihat sendu sambil menahan tangan Shin Buyen.


Shin Buyen menoleh ke arahnya. Ekspresinya terlihat kosong, sama sekali tak memikirkan apapun. Hanya berlangsung beberapa detik, Shin Buyen kembali menatap ke depan dan menarik paksa tangannya kembali. Ia menjawab dengan dingin, ”Bukan urusanmu!” setelah mengatakannya, Shin Buyen segera berjalan pergi dari tempat tersebut.


Lagi-lagi Shin Furong sendirian di sana. Ia duduk termenung dan memikirkan keadaan Shin Buyen saat ini. Untuk pertama kalinya, Shin Buyen terlihat seperti itu apalagi ia seperti sedang membencinya. Shin Furong semakin sedih. Bukan hanya tentang kematian Shin Yixuan di depan matanya melainkan, satu persatu orang yang pergi meninggalkannya.


Lalu, tak lama setelah Shin Buyen pergi meninggalkannya, kini giliran Luu Houyi yang melangkah pergi. Dan begitu melihatnya berjalan keluar pintu, Shin Furong langsung memeluk pahanya seakan ia tidak ingin Luu Houyi pergi meninggalkannya.


”Tolong jangan tinggalkan aku. Aku tidak ingin sendirian.” ucap Shin Furong dengan pelan.


Luu Houyi sangat terkejut ketika Shin Furong melakukan hal itu padanya. Ia tersenyum sambil menepuk kepalanya yang kecil. ”... Tenang saja. Aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku hanya akan mengunjungi makam Rui di dekat sini.” jawabnya.


Shin Furong langsung menunjukkan wajah sedihnya di depan Luu Houyi dan berkata, ”Kalau begitu, aku ikut! Aku tidak ingin tinggal di sini sendirian.” ucapnya dengan ekspresinya yang terlihat memohon.


”Tidak bisa. Aku harus pergi mengunjunginya sendiri. Rui tidak senang jika ada orang asing berada di dekat makamnya.” jawab Luu Houyi sambil melepaskan pegangan tangan Shin Furong. Ia pun berjalan ke depan dan beberapa langkah setelahnya, Luu Houyi menolehkan kepalanya ke arah Shin Furong. ”... Jaga dirimu baik-baik, ya. Pada akhirnya, semua orang akan pergi sendirian. Kau jangan membuang energimu untuk menangis. Sebagai hadiah pertemuan, aku sudah membuatkanmu sebuah panah. Ambilah dan gunakan energimu untuk berlatih.”

__ADS_1


Setelah mengatakannya, Luu Houyi segera berjalan pergi untuk meninggalkannya. Kini, rumah itu tidak lagi dihuni oleh siapapun selain Shin Furong yang masih berusia enam tahun. Ia duduk di tempat yang sama dan berharap ketiganya akan kembali dengan selamat.


__ADS_2