Pewaris Raja Iblis

Pewaris Raja Iblis
CHAPTER. 24 - LUU HOUYI II


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya.


”Cih! Keterlaluan! Mengapa ingatan itu muncul kembali?!” gumam Luu Houyi yang terlihat kesal. Ia berdiri di depan mejanya sambil mencengkram kepalanya cukup kuat. Giginya bergemeretak dan kedua matanya tertutupi oleh rambut poninya. Saat ini ia kesal karena Shin Yixuan yang memintanya untuk menjadi Gurunya padahal, ia sama sekali tidak menginginkannya. Tujuannya datang ke bukit Xieyu adalah untuk mencari seseorang. Namun, siapa sangka perjalanannya tidak akan semulus yang ia bayangkan.


Ia memperhatikan bayangan wajahnya yang terpantul melalui sebuah cermin perunggu. Sebuah pisau belati yang ada di atas mejanya, diambil perlahan olehnya. Ia menatap pisau tersebut dan meletakkannya di samping lehernya sendiri.


”Aku tak pantas hidup lebih lama dari ini. Apakah aku harus mengakhirinya sekarang juga?”


Lagi-lagi Luu Houyi memperhatikan wajahnya. Ia tampak ketakutan dan kedua tangannya bergetar saat ia akan membunuh dirinya sendiri. Namun, ia sangat tahu batasan yang dimiliki olehnya. Ia tidak bisa menyiksa dirinya lebih dari ini. Masalahnya tak akan pernah berakhir jika ia mati di titik ini.


”Ah!”


Luu Houyi tiba-tiba tersadar begitu ia merasakan sesuatu yang sedang menunggunya di luar sana. Seketika, tatapannya langsung mengarah pada pintu kamarnya dan memperhatikannya selama beberapa saat. Tanpa menaruh pisaunya, ia berjalan menghampiri pintunya dan berhenti di depannya untuk waktu yang cukup singkat. Ia mengeraskan kepalan tangannya dan menatapnya dengan ekspresi serius.


”Kau mencoba menunjukkan sesuatu padaku? Aku tahu dia adalah anak dari Raja Iblis ketujuh dan aku tahu apa yang terjadi padanya saat usianya menginjak 16 tahun. Apakah kau ingin aku mengabulkan permintaannya agar aku menjadi Gurunya?”


Luu Houyi terlihat sedang berbicara dengan seseorang yang ada di kamarnya. Akan tetapi, saat itu tak ada seorangpun yang berada di sana selain dirinya sendiri. Lalu, tak lama setelahnya, ada sesuatu yang membuatnya langsung membuka pintu kamarnya sedikit dan ia pun akhirnya segera melangkah keluar.


Dengan pisau belati yang masih menggantung di tangan kanannya, ia menatap Shin Yixuan yang sedang tertidur di sebelah pintunya. Tatapannya terlihat dingin dan menyala di tengah malam. Kepalan tangannya begitu kuat sehingga nyaris saja melukai telapak tangannya sendiri.

__ADS_1


”Jika aku membunuhnya, apakah ingatan ini akan menghilang?”


Luu Houyi menggigit bibirnya karena kesal. Ia menatap Shin Yixuan dengan dingin dan sebuah pisau yang akan diangkatnya ke atas. Saat melakukannya, Luu Houyi sempat bergumam, ”Ini semua salahmu! Benar-benar salahmu!”


***


”Ah! Akhirnya aku menemukannya.” ucap pemuda yang berdiri di tengah-tengah hutan sambil menatap ke arah langit yang tampak gelap gulita. Di tangan kanannya saat ini, ia sedang memegang kepala seorang pemuda yang tersesat di dalam hutan. Sorot matanya merah menyala seperti hewan buas yang mengincar mangsanya.


Pemuda itu tersenyum seringai dan ia pun mulai melangkahkan kakinya ke depan. ”Raja ketujuh! Tunggu saja hadiah dariku.”


***


Perlahan, Shin Yixuan mencoba untuk membuka matanya yang tampak lelah. Begitu ia menatap Shin Buyen yang sedang berada di depan wajahnya, ia pun mencoba mengingat sesuatu mengapa ia bisa berada di sini.


”Ah! Benar juga! Dimana Paman Luu? Aku harus berguru padanya!” ucap Shin Yixuan yang langsung menyadarinya.


Shin Buyen tampak terkejut dan mencoba untuk menenangkannya. ”... Houyi sudah pergi sejak tadi pagi. Dan mengapa kau bisa tidur di tempat ini? Apakah Yixuan terus membujuknya agar ia mau menjadi Gurumu?” tanya Shin Buyen.


”Ya! Paman Luu harus menjadi Guruku karena Ayah tidak pernah mau mengajariku!” jawab Shin Yixuan dengan wajahnya yang terlihat serius.

__ADS_1


Shin Buyen menghela nafasnya dan menatapnya dengan tidak tega. Ia seperti menyimpan sesuatu yang mungkin akan mengecewakannya nanti. ”... Aku rasa kau tidak akan bisa membujuknya. Dia tidak akan pernah mengajari siapapun lagi.” ucap Shin Buyen sambil meraih pundaknya.


Shin Yixuan langsung menatapnya dengan kecewa dan bertanya, ”Mengapa Ibu mengatakan hal itu padaku? Paman Luu pasti mau mengajariku.”


Shin Buyen langsung mengalihkan perhatiannya selama beberapa saat. Ia tampak ragu untuk mengatakan sesuatu yang tidak mungkin bisa dirahasiakan oleh siapapun. ”... Aku tahu kalau ini bukanlah waktu yang tepat tapi, sepertinya kau harus mengetahuinya sekarang.” ucapnya.


”... Dulu, Houyi pernah memiliki seorang murid yang seumuran denganmu. Dia melatihnya selama dua tahun dan mereka selalu pergi mengelana di jalan yang sama. Tetapi, hal itu tidak bisa berlangsung lebih lama. Ayahmu membunuhnya setelah dia mendapat kabar dari Dewi peramal kalau dia akan membunuhmu ketika kau lahir. Tak banyak yang bisa dilakukan Houyi saat itu. Setelah semuanya terjadi begitu cepat, Houyi hanya bisa memandangi mayat muridnya yang sudah tidak memiliki jantung. Setiap malam, dia selalu datang berkunjung kemari dan menceritakan semuanya. Dia selalu mencoba mengakhiri hidupnya tetapi, ia terlalu takut untuk melakukannya. Pada akhirnya ia pun pergi dan memutuskan untuk menjadi seorang pengrajin pedang pusaka. Sekarang, kau tahu mengapa dia tidak ingin mengangkat seorang murid?”


Shin Yixuan yang mendengarkan ceritanya mulai merasa sangat sedih. Matanya sembab dan mulutnya tidak bisa berkata-kata. ”Mengapa Paman Luu memendamnya sendirian? Dia pasti tidak akan sanggup menahannya lebih lama lagi! Aku akan pergi mencarinya!” ucap Shin Yixuan yang langsung berlari pergi meninggalkannya.


”Tunggu! Yixuan!” seru Shin Buyen yang mencoba mengejarnya. Tetapi, tangisan Shin Furong yang semakin keras, membuat Shin Buyen akhirnya tidak pergi menyusulnya.


Sementara ini, di dalam hutan tepatnya di bawah sebuah pohon bunga tabebuya, terdapat sebuah kayu pusara yang tak memiliki nama. Gundukan tanah itu sudah tertutupi oleh rumput liar dan beberapa kelopak bunga yang berjatuhan di atasnya. Harum embun membuat suasana berubah menjadi lebih tenang dari sebelumnya.


Saat ini, Luu Houyi tengah tertidur di depan makam tersebut dengan lutut yang ditekuk semalaman. Tak ada seorangpun yang berdiri di sana. Hanya ada dirinya dan juga seseorang yang terkubur di dalamnya.


Saat itu terjadi, Luu Houyi mendengar suara seorang pemuda yang seperti sedang berdiri di belakangnya. Pemuda itu terus menyebutnya ”Guru.” berulang kali seperti sedang membangunkannya. Hal itu sempat mengganggunya dan membuatnya membuka matanya secara perlahan. Ia menatap seorang pemuda yang sedang duduk di sebelahnya dengan raut wajah yang terlihat senang.


”Rui!”

__ADS_1


Luu Houyi langsung meraih tangan pemuda tersebut dengan ekspresinya yang tampak terkejut dan mengira kalau pemuda ini adalah muridnya. Tetapi, setelah ia berkedip beberapa kali, sosok pemuda itu menghilang dan berubah menjadi sosok Shin Yixuan yang tampak terkejut karena Luu Houyi menahan tangannya secara tiba-tiba.


__ADS_2