
Saat pisau sedang bergerak ke kepalanya, Luo Hein langsung terbangun dan menahan pisau milik Luu Houyi yang bergerak ke arahnya. Kedua matanya terbelalak dengan warna merah menyala seperti darah. Wajahnya terlihat sangat marah dan saat itu terjadi, Luu Houyi segera bergerak menjauhinya sebagai perlindungan.
”Sungguh sebuah kejutan kau akhirnya datang kemari. Aku merasa kasihan pada Shin Buyen karena kau hanya datang saat membutuhkannya. Memangnya, kau pikir dia itu apa?” tanya Luu Houyi sambil mendecakkan lidahnya karena jengkel.
Luo Hein duduk di atas tempat tidurnya. Tangannya menyentuh dada kirinya yang sudah hancur berkeping-keping pada bagian dalamnya. Kristal jantungnya telah hancur. Sampai kapanpun, ia tidak akan bisa bertahan lama. Jika ia tidak segera memindahkannya ke dalam tubuh baru, ia tidak akan bisa bereinkarnasi kembali. Dan jika ia mati nanti, pembatas antara alam iblis dengan alam fana akan hancur dan keduanya akan saling berperang demi mempertahankan wilayah mereka. Itu semua terjadi karena hanya Luo Hein yang menjadi perisai sekaligus penghalang terjadinya bentrokan kedua alam.
Mungkin inilah tujuan mengapa Lu Yuan sangat ingin membunuhnya.
”Aku tak memiliki urusan denganmu! Memangnya kau siapa? Berani mencoba membunuhku.” ucap Luo Hein sambil berdiri menghadapnya. Tiba-tiba ia menyeringai dan melanjutkan, ”... Oh, ya. Sepertinya aku ingat sekarang. Kau adalah orang yang pernah kulihat 22 tahun lalu. Huh! Saat itu kau mencoba melindungi Rui, murid kesayanganmu dariku. Lucu sekali! Memangnya, orang sepertimu bisa menghalangi langkahku? Pada akhirnya, aku tetap berhasil membunuhnya di depan matamu sendiri kan?”
Luu Houyi terlihat sangat marah. Ia mengeraskan pegangan pedangnya dan tidak berhenti menatapnya. ”... Sudah berkunjung kemari dan kau seenaknya saja menggali masa laluku?! Aku benar-benar muak! Kali ini aku akan membunuhmu!” teriak Luu Houyi yang langsung berlari menyerang ke arahnya.
Akan tetapi, saat ia telah berada di jarak yang cukup dekat dengannya, dengan satu gerakan cepat Luo Hein langsung mencekik lehernya dan membantingnya ke atas lantai. Ia tak sempat menggores satupun luka di tubuh Luo Hein dan ia malah terbanting keras di atas lantai yang masih terbuat dari kayu!
”Kau saja yang mati di sini!” ucap Luo Hein sambil mengeraskan cengkraman tangannya.
***
”Sudah waktunya, ya?” batin Shin Yixuan yang merasa ada sesuatu seperti sedang memanggilnya. Saat ini ia sedang menemani Shin Furong tidur di kamarnya setelah ia selesai merapikan seluruh tempat. Akan tetapi, sudah satu jam Shin Furong tidak juga tertidur dengan mata yang masih terbuka.
”Kakak jangan pergi! Tetaplah di sini.” ucap Shin Furong sambil menahan lengan pakaiannya.
__ADS_1
Shin Yixuan terlihat cemas. Ia menyentuh kepala Shin Furong dan berkata, ”... Maaf ya. Aku harus pergi sekarang juga.”
Shin Furong langsung terbangun dan memeluk lengan Shin Yixuan seakan sedang menghalanginya untuk pergi darinya. ”... Kakak tidak boleh pergi! Tetaplah di sini! Aku tidak ingin kakak mati!” rengek Shin Furong sambil menangis untuknya.
Shin Yixuan duduk di atas tempat tidurnya. Ia mengusap wajah Shin Furong yang basah menggunakan telapak tangannya lalu, ia menutup matanya sehingga membuatnya terpejam. Shin Yixuan berbisik, ”... Aku tidak akan mati. Ingatlah, aku ini masih kakakmu. Orang yang akan selalu melindungimu.”
Beberapa detik setelah Shin Yixuan berbisik dan melepas telapak tangannya, Shin Furong mulai merasa sangat mengantuk tetapi, ia berusaha untuk tetap terjaga. Namun, penglihatannya terus menerus menghitam dan kesadarannya perlahan memudar.
Tak sampai semenit, Shin Furong akhirnya mendarat di atas tempat tidurnya.
Shin Yixuan yang melihatnya mulai merasa sedih. Ia kemudian berbisik kembali di telinga Shin Furong dan berkata, ”... Maaf.”
Saat Shu Ye memeriksa kamar Shin Furong, ia merasa terkejut karena saat ini Shin Furong tengah tertidur. Tetapi, dari aliran spiritual yang melapisi tubuhnya, ia seperti ditidurkan dengan paksa oleh seseorang menggunakan kata-kata.
Dengan cepat, ia langsung melepas seluruh sihir tersebut darinya sehingga Shin Furong bisa terbangun dari tidurnya kapanpun dia mau. Tetapi, untuk sekarang ia langsung membuka matanya begitu Shu Ye selesai melepasnya. ”Kakak!” teriak Shin Furong yang langsung mencemaskannya.
Shu Ye mencoba menenangkannya dengan berkata, ”Tenanglah, Furong! Apa yang sudah terjadi di sini?”
Shin Furong langsung menatap Shu Ye dengan ekspresinya yang terlihat sedih. ”Tolong selamatkan kakak. Ayah,... akan membunuhnya sekarang.” ucap Shin Furong sambil menangis di depannya.
Di tengah kecemasan yang terjadi, mereka mendengar teriakan Shin Buyen yang berasal dari kamar milik Luo Hein. Dengan cepat, Shu Ye langsung membawa Shin Furong menuju Shin Buyen yang tampaknya memerlukan bantuan.
__ADS_1
Ketika sampai di sana, pemandangan tak terduga akhirnya bisa dilihat oleh mata mereka. Saat ini, mereka menatap Luu Houyi yang tak sadarkan diri berada di atas lantai dengan lingkaran merah yang ada di lehernya seperti bekas cengkraman seseorang. Shin Buyen menghampiri untuk melihat keadaannya saat ini. Ia memeriksa detak jantung dan nafasnya. Beruntungnya, semua itu masih berfungsi seperti orang yang masih hidup.
”Apa yang sebenarnya sudah terjadi di sini?” gumam Shin Buyen yang memperhatikan sekitar setelah tahu kalau Luo Hein tidak ada di sini. Kemungkinan besar, dialah yang sudah membuat Luu Houyi seperti ini.
Dalam diamnya yang sedang memperhatikan, Shin Furong berlari menghampirinya dengan wajahnya yang terlihat sedih. Ia duduk di sebelahnya dan berkata dengan memohon, ”Ibu! Selamatkan kakak! Hari ini, Ayah akan membunuhnya.”
Mendengar hal ini, tentu membuat Shin Buyen merasa sangat terkejut. Tidak mungkin Luo Hein akan membunuh Putranya sendiri! Bukankah ia sangat menyayanginya sampai sekarang? Tetapi, apa yang menjadi masalah di sini?
”Tenang, Furong. Bisa katakan padaku apa yang sudah terjadi di sini?” tanya Shin Buyen yang mencoba menenangkannya.
Shin Furong mengusap matanya yang berair dan menjawab, ”Ayah dan kakak pergi ke kuil Tanhua untuk bertarung. Aku sudah menghalangi kakak untuk melakukannya tetapi, aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi.”
Karena cemas, Shin Buyen segera pergi dari sana untuk mencari Shin Yixuan dan Luo Hein di depan kuil Tanhua. Ia langsung mempercayai apa yang dikatakan oleh Shin Furong meskipun ia tidak tahu kalau Shin Furong memiliki kemampuan melihat kematian seseorang.
Kuil Tanhua berada cukup jauh dari rumahnya. Karena itu, ia berusaha berlari secepat mungkin untuk sampai ke tempat itu.
Tampak jelas, di sepanjang jalan ada beberapa pohon yang tumbang setelah terlibat dalam suatu pertarungan singkat. Hal itu membuat Shin Buyen bertambah cemas dan mempercepat langkahnya. Tetapi, saat ia sampai di depan kuil Tanhua, pemandangan yang tak diinginkannya ternyata telah terjadi di depan matanya.
Bukan sebuah pemandangan hamparan rumput tinggi dengan sebuah bangunan kuil di tengah-tengahnya. Melainkan, sebuah kilat yang menyambar tubuh seseorang lalu mengeluarkan jantungnya secara paksa.
Ia mungkin tidak akan menduga bahwa Luo Hein yang telah membunuh Shin Yixuan dengan kedua tangannya sendiri!
__ADS_1