Pewaris Raja Iblis

Pewaris Raja Iblis
CHAPTER. 38 - MENGUJI


__ADS_3

Shin Yixuan yang memiliki darah Ibunya, mulai menggerakkan seluruh hewan sihir yang berada di sekitarnya. Bukan hanya ular yang muncul dari dalam kegelapan, melainkan hewan-hewan sihir lainnya juga ikut muncul dalam pertarungannya. Alhasil, tanah yang mereka injak mengeluarkan suara dentuman yang cukup keras dan bahkan hawa kekuatannya mampu membelah awan hitam yang menggulung di langit.


Para hewan-hewan sihir ini bertarung dengan Zhuyue, seekor rubah yang memiliki bulu merak di belakang lehernya. Sedangkan Shin Yixuan sendiri sibuk melawan Bai Yunqing dengan pedangnya yang seperti menari-nari di udara.


Bai Yunqing menghindar dengan payungnya yang tertutup. Ia sengaja tak melakukan perlawanan dan memutuskan untuk mengamatinya selama beberapa saat. ”... Gerakan pedangnya sangat mudah terbaca. Tetapi, kemampuannya dalam mengendalikan hewan sihir bisa melebihi Ibunya.” batin Bai Yunqing yang memperhatikannya.


Saat Bai Yunqing mendarat di atas tumpukan batu yang cukup tinggi, Shin Yixuan memberikannya waktu untuk beristirahat sejenak. Tetapi, tak lama setelahnya, Shin Yixuan menghentakkan kedua telapak tangannya di atas tanah sehingga memunculkan ratusan benang putih yang sangat sulit terlihat tetapi, jika sudah mengenainya sedikit saja, bagian tubuh dari orang itu langsung terpotong!


Bai Yunqing yang melihatnya sangat terkejut seolah tak percaya. ”... Dia juga menuruni kemampuan Keluarga Bai? Cih! Berapa jurus yang bisa dilakukannya?” batinnya. Beruntungnya, kedua mata Bai Yunqing mampu melihat benang-benang putih yang sulit terlihat. Dan jika saja dia bukan berasal dari keluarga Bai, mungkin saja tubuhnya sudah terpotong potong.


Bai Yunqing menghindar dari semua serangan yang dilakukan oleh Shin Yixuan padanya. Benang-benang itu sudah membelah tumpukan batu yang diinjak olehnya dan puluhan pohon yang masih sanggup berdiri. Sebenarnya, ia masih ingin melanjutkan pertarungan ini. Tetapi, pertarungan ini akan terus berlanjut sampai ada salah satu dari mereka yang mati dan mungkin saja, bukit Xieyu akan hancur dan membunuh mereka semua yang tinggal di sana.


”Zhuyue juga tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Jika dia sampai mati, Lujian pasti akan membunuhku juga. Tapi, dia masih membuatku penasaran. Jurus apa lagi yang akan dikeluarkan olehnya setelah melihatku berhasil menghindari semua serangannya.” batin Bai Yunqing sambil menghindari semua serangan benang putih.


Bai Yunqing mendarat kembali di atas tanah. Tetapi, secara tidak sadar ia telah menginjak tumpukan salju yang begitu dingin padahal seharusnya salju ini tidak pernah muncul selama pertarungan. ”... Benang putihnya menghilang?! Jadi, dia mengganti serangannya lagi?” batin Bai Yunqing yang mencoba menggerakkan kakinya. Tetapi, ia begitu terkejut setelah tahu kalau kedua kakinya telah membeku di dalam salju yang begitu dingin.


”......”


”Masalah besar untukku.”

__ADS_1


Sedetik kemudian, Shin Yixuan akhirnya bergerak menyerangnya dengan pedang yang terangkat ke atas. Dengan kedua kaki Bai Yunqing yang terjebak di dalam es, ia berpikir pertarungan ini akan cepat selesai. Tetapi, suara yang berasal dari Erhu begitu memekakkan telinganya hingga membuatnya langsung terjatuh dan berhenti menyerang Bai Yunqing.


Ia jatuh berlutut sambil memegangi kepalanya yang terasa ingin meledak. Begitu ia tahu kalau suara ini berasal dari Shin Lujian yang sedang berada di dekatnya, ia segera membantu Shin Yixuan untuk mendapatkan kesadarannya kembali. Ia meletakkan telapak tangannya di dahi Shin Yixuan hingga memunculkan cahaya kuning keemasan yang menenggelamkan dirinya.


Tak lama setelahnya, cahaya itu pun hilang dan hanya menyisakan Shin Yixuan yang sedang bersandar di pundak Bai Yunqing. Bai Yunqing memegangi kepalanya agar ia tidak terjatuh ke tanah. Ia mengalirkan kekuatan spiritualnya agar tubuh Shin Yixuan bisa tetap bertahan setelah dipaksa untuk melakukan berbagai serangan yang berbahaya.


Ia melepaskan topeng iblisnya dan memperhatikannya selama beberapa saat. ”... Aku sudah melihatnya. Terima kasih karena sudah memperlihatkannya padaku dan maaf sudah membuatmu ketakutan.” ucapnya.


Hewan-hewan sihir yang sebelumnya saling menyerang juga ikut menghilang dan meninggalkan bekas pertarungan yang cukup merusak. Di depannya, sudah ada Shin Lujian yang menjemputnya bersama dengan Shu Ye yang baru saja menemukan Shin Furong yang bersembunyi di dalam kuil. Sebelumnya, Shin Furong memang sudah tahu kalau wanita itu sebenarnya adalah Bai Yunqing sehingga ia tidak begitu takut ketika Bai Yunqing menyuruhnya untuk bersembunyi.


”Xuan'er? Apakah dia baik-baik saja? Apakah kau menyerangnya secara brutal dan memaksa tubuhnya untuk melakukan segala jenis serangan yang berbahaya?” tanya Shin Lujian setelah ia berdiri melihatnya.


Shin Furong turun dari atas pundak Shu Ye dan berjalan mendekati Shin Yixuan yang duduk bersandar di pundak Bai Yunqing. ”... Kakak baik-baik saja?” tanya Shin Furong sambil menatapnya.


Bai Yunqing tersenyum dan kemudian menyentuh kepala Shin Furong. ”... Dia baik-baik saja. Dia hanya tertidur karena lelah.”


Shu Ye memperhatikan sekitar dan ia sempat terkejut setelah melihat tempat tersebut ternyata lebih hancur dari perkiraannya. Bau darah karena pertarungan para hewan sihir terasa begitu menyengat sedangkan di bawah kakinya sudah ada setumpuk salju yang seharusnya tidak turun di musim ini.


”Kacau sekali. Nenek Yunqing! Kau yang melakukan semua ini?” tanya Shu Ye.

__ADS_1


Bai Yunqing menatapnya sambil tersenyum senang. ”... Bukan aku. Xuan'er yang sudah melakukannya. Sejak tadi, aku hanya menghindari semua serangannya dan aku tidak tahu kalau dia bisa membabi-buta seperti tadi.” jawabnya.


Shu Ye tak berekspresi dan berkata dalam benaknya, ”Ku rasa aku tahu kenapa firasat ku buruk saat akan bertemu dengan nenek ini.”


”Jadi, bagaimana? Urusanmu sudah selesai sampai sini?” tanya Shin Lujian.


”Sepertinya kau benar juga.” jawab Bai Yunqing. ”... Dia memiliki dua jiwa yang baik dan jahat. Sepertinya, amarah membuat jiwa yang satunya menguasai pikirannya sehingga dia bisa bertindak seperti ini. Tapi, untungnya aku bisa menghentikannya dan mengunci jiwanya yang lain. Tapi, jika ada seseorang yang sengaja memancing kemarahannya hingga dia menimbulkan masalah yang melebihi ini, Yixuan yang kita kenal dulu tidak akan pernah kembali lagi.” lanjutnya sambil memberikan tatapan dingin.


***


Aula Istana Alam iblis. Guju tengah menunggu di depan sebuah tirai merah yang terpasang di dalam sebuah ruangan yang mirip seperti kamar. Ia berdiri tanpa memejamkan matanya hanya untuk tidur. Ruangan itu, dipenuhi dengan tirai berwarna merah dan hitam serta terdapat satu tempat tidur yang sengaja ditutupi. Jendelanya masih tertutup sedangkan suara ketukan antara bambu sudah terdengar sejak tadi.


”Yang Mulia. Anda telah tertidur selama lima tahun. Bagaimana dengan keadaan Anda yang sekarang?” tanya Guju setelah mengetahui Luo Hein telah duduk di atas kasurnya meskipun bayangannya tertutupi oleh tirai berwarna merah.


Luo Hein menjawab sesaat kemudian, ”Seharusnya bisa lebih baik lagi.”


”Pelayan ini berharap Yang Mulia panjang umur.” ucap Guju dengan sopan. ”... Anda harus mengganti pakaian dan membasuh tubuh Anda lebih dulu. Beberapa siluman sebelumnya telah datang dengan membawakan beberapa jantung manusia untuk Yang Mulia.”


Lagi-lagi Luo Hein terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Ia menurunkan kakinya di atas lantai yang terasa dingin kemudian berjalan keluar dari balik tirai dan melewati Guju yang masih berdiri di tempat yang sama. Ia berbisik, ”Dalam beberapa bulan kedepan, aku bukan lagi Rajamu.”

__ADS_1


__ADS_2