
”Karena Ibu pergi mengunjungi makam keluarga di kota Nanxin bersama dengan Paman Luu, aku harus mengurus rumah ini sendirian. Meskipun hanya kami bertiga, aku merasa semua ini sulit untuk dilakukan.”
Ketika Shin Yixuan sedang membersihkan barang-barang yang ada di ruang depan, ia mendengar suara Shin Furong yang sedang menangis keras di halaman depan di tambah lagi ia mendengar suara Shu Ye yang mencoba menenangkannya dengan berbagai kata.
”Aduh, jangan menangis. Laki-laki tidak boleh menangis! Aku tidak sengaja melakukannya. Aku akan memberikanmu manisan buah jika kau tidak menangis lagi.” ucap Shu Ye yang berusaha menenangkannya. Sebelumnya, ia tidak sengaja membenturkan gagang pedangnya ke kepala Shin Furong saat ia sedang berlatih di luar halaman. Alhasil, ia pun terjatuh sambil memegangi kepalanya yang lecet dan menangis keras di tempat hingga terdengar sampai ke seluruh rumah.
BUGH!!!
Sebuah buku tebal meluncur ke wajahnya hingga membuatnya terpental dan berguling-guling di tanah sampai-sampai membuat pakaiannya kotor. Wajahnya pun tak luput dari debu tanah yang sulit dihilangkan dan hidungnya mengeluarkan darah yang mengalir sampai di bawah bibirnya.
”Sudah kubilang, jangan membuatnya menangis jika nyawamu tidak ingin melayang!” bentak Shin Yixuan sambil mengangkat Shin Furong dan menatap Shu Ye dengan sangat marah.
”Aku tidak sengaja melakukannya! Lagipula, salahnya sendiri karena berada di dekatku saat sedang latihan!” balas Shu Ye yang juga membentak.
”Itu semua juga salahmu karena kau salah tempat! Apakah kau lupa kalau ada anak kecil di sampingmu?” bentak Shin Yixuan yang tak ingin kalah.
”Tapi, aku sudah terbiasa berlatih di sini! Dia saja yang tidak bisa diam!”
Mendengar alasan ini, Shin Yixuan menjadi semakin marah. Alisnya berkerut dan wajahnya pun menghitam. Shu Ye juga bisa merasakan hal itu dalam penglihatannya. Meskipun belum pernah mengalaminya, ia bisa merasakan bagaimana perasaan seorang laki-laki yang ketahuan pergi ke rumah hiburan oleh istrinya.
Hawa pertarungan yang sangat kental! Tidak bisa bergerak sama sekali!
”I- iya aku bisa mengerti. Aku akan segera pergi ke sana.” Shu Ye menjadi canggung dan perlahan, langkahnya pun menjauh darinya hingga akhirnya ia berlari pergi memasuki hutan.
__ADS_1
Keduanya hanya terdiam saat melihatnya. Lalu, beberapa saat setelahnya, Shin Furong merasakan sesuatu yang mungkin akan terjadi setelah Shu Ye pergi masuk ke dalam hutan. Ia menarik pelan pakaian Shin Yixuan sambil menatapnya, ”... Kakak harus mengejarnya. Mungkin saja sesuatu akan terjadi padanya.” ucapnya.
Shin Yixuan tertegun dan langsung menatap ke arah Shin Furong. ”Ada apa? Adakah sesuatu yang akan terjadi setelah ini?” tanyanya.
Shin Furong menggelengkan kepalanya dan menjawab, ”Kakak harus mengejarnya. Aku akan tinggal di sini. Kakak tidak bisa melakukan apa-apa jika dia menghilang begitu saja kan?”
Shin Yixuan terdiam untuk yang kesekian kalinya. Ia bingung mengapa Shin Furong mengatakan hal ini padanya. Ia ragu untuk melakukannya karena sebagian dari dirinya yakin kalau ucapan Shin Furong akan berubah menjadi kenyataan.
Ia pun menghela nafas dan menaruh Shin Furong kembali. ”... Kau akan baik-baik saja kan?” tanya Shin Yixuan.
Shin Furong tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya. Shin Yixuan melanjutkan, ”... Aku mungkin tidak akan lama. Kau jangan pergi kemana-mana.” ucapnya sambil berjalan keluar dan kemudian menghilang di tengah hutan.
GEDUBRAK!!!
Ia tak merasa ada ancaman berada di dekatnya. Samar-samar bau darah tercium dari jarak yang cukup dekat. Dan dengan cepat, Shin Furong memberanikan dirinya untuk menatap ke arah wajah seseorang yang baru saja terjatuh di sana.
Sosoknya mirip sekali dengan seorang pemuda yang memiliki rambut putih dan tudung di atas kepalanya. Selain itu, di tangan kanannya ia sama sekali tidak memegang pedang melainkan sebuah alat musik Erhu yang sudah rusak. Di balik pakaiannya, terdapat begitu banyak luka cakaran hewan-hewan buas yang sedang menggila.
Shin Furong berjalan mendekatinya dan berjongkok di sebelahnya. Ia menyentuh wajahnya seujung jari dan memperhatikannya selama beberapa saat. ”Kakek?”
***
”Uhh! Nyaris saja kepalaku terpenggal. Aku tidak tahu dia akan semarah itu.” gumam Shu Ye sambil memeluk dirinya seperti orang yang sedang menggigil kedinginan.
__ADS_1
Langkahnya nyaris tidak beraturan. Ia seperti sedang menyesatkan dirinya jauh ke dalam hutan yang cukup lebat. Tak ada satupun suara yang muncul di antara celah-celah pepohonan yang semakin besar jika ia terus melangkah jauh. Tak lama setelahnya, ia pun berhenti begitu ia menyadari sesuatu yang aneh di sini.
Seperti ada yang mengawasi.
Saat keheningan terjadi cukup lama dan dirasa sangat aneh baginya, tiba-tiba saja muncul sesosok hewan sihir yang langsung berlari ke arahnya dengan cepat. Harimau besar itu langsung menerkam dirinya menggunakan kaki depannya yang memiliki kuku-kuku cukup tajam. Lalu, dengan cepat ia pun segera melompat ke belakang dan menghindari serpihan batu kerikil yang berterbangan ke arahnya.
Kakinya menapak di atas dahan pohon yang tinggi dan memperhatikannya selama beberapa saat. Sekilas, memang tidak ada yang aneh darinya. Lalu, perhatiannya tertuju pada sebuah anak panah yang menancap di leher harimau tersebut. Meskipun tertutupi dengan bulunya yang panjang dan darah yang bukan miliknya, Shu Ye merasa yakin kalau anak panah itu telah mengendalikannya sampai seperti ini.
”Orang gila mana yang bisa mengendalikan hewan sebesar ini kecuali mereka berasal dari keluarga Shin? Eh! Tapi, apakah keluarga Shin itu masih ada sampai sekarang? Bukankah mereka sudah dibunuh sampai akar-akarnya?” batin Shu Ye yang tampak terkejut.
”Hahaha! Apa ini? Keturunan terakhir dari keluarga Lun? Tak ku sangka aku bisa bertemu dengannya langsung seperti ini.” ucap seorang wanita yang dengan suara tertawanya yang mengerikan seperti hantu yang menyerang ditengah malam.
”Orang tua? Jadi, yang menyerangku saat ini adalah seorang nenek-nenek?” batin Shu Ye yang menatapnya dengan heran.
Lalu, tak lama setelahnya, muncul sesosok wanita muda berhanfu hitam dengan corak burung merak di seluruh pakaiannya. Rambutnya tidak begitu tebal dan berwarna putih. Selain itu, ia juga memiliki bola mata berwarna kuning keemasan. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah payung yang juga berwarna hitam dan terdapat sebuah busur yang menggantung di belakang punggungnya.
Wanita itu tersenyum gila seperti sedang bertemu dengan musuh bebuyutannya. Kedua matanya melengkung seperti hewan buas yang sedang mengincar mangsanya. ”... Mengerikan. Mengapa wajahnya seperti itu? Apakah aku harus kabur saja?” batin Shu Ye.
Hahahaha!
Untuk yang kedua kalinya, wanita itu tertawa lepas dan ia tak berhenti menatap wajah Shu Ye dengan tatapan yang sama. ”Lun Heiyun! Lihatlah! Aku di sini untuk membunuh putramu!” teriak wanita yang langsung menutup payungnya dan menyerang Shu Ye menggunakan ujungnya yang tajam.
Tetapi, saat ia melakukannya dan Shu Ye akan melakukan perlawanan, Shin Yixuan muncul dengan cepat dan langsung menahan serangan tersebut menggunakan pedangnya. ”Nenek! Hentikan!”
__ADS_1