
Warning!! Hati" keinjek typo^-^
Happy reading ♥️
________________
"Dee! Sini sini." Panggil Aleta, melambaikan tangannya agar Deena mendekat.
"Sorry, ada masalah tadi." Ucap Deena mengatupkan kedua tangannya meminta maaf.
Aleta mengangguk. "Iye gue maafin. Nih ada titipan dari Joan." Sambil menyodorkan buket cokelat besar kearah Deena. "Gue ambil satu batang yaa, asli selera banget anj*r." Tambah gadis itu memamerkan sampah bekas makanannya.
"Iyee nih aku tambahin dua batang." Jawab Deena, memetik dua batang coklat.
Aleta menerimanya dengan girang, persis seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.
"Lo tau ga, si Joan sibuk banget neror gue dari tadi pagi nanyain lo doang. Begitu dia tau gue mau jumpa lo, Dia langsung kasiin nih buket, mana berat banget." Jelas Aleta panjang disertai dengusan kasar.
Deena menggeleng lucu melihat sahabatnya yang satu ini. "Mau di buang sayang banget." Ucap gadis itu.
Aleta menaikkan alisnya. "Gasalah denger gue? Ini dari pujaan hati lo nih yang ngasih." Jelas Aleta sambil mereka memesan makanan.
Deena menggeleng cepat. "Aku ga suka tuh sama dia. Nanti suatu saat aku bakal cerita semua sama kamu." Jelas Deena. Aleta mengangguk paham, Ia cepat atau lambat pasti akan tahu, dan Aleta tak mau memaksakan sahabatnya, Ia menghargai Deena.
"Oke, gue tunggu itu. Terus tadi lo kenapa matiin panggilan gue?" Ingat Aleta pura-pura kesal.
Deena menyengir. "Jadi tuh sebenernya.." mengalir lah cerita dari awal saat dirinya bertemu Hanska di rumah sakit, lalu lanjut saat diatas podium, dan sampai tadi saat Deena menerima dua hukuman dari Hanska.
"Bwuahahah..gila" Tawa Aleta ngakak, melihat kemalangan nasib sahabatnya.
"Bayangin coba, aku di suruh manggil si om tengil itu kangmas, kangmas." Cibir gadis itu mencebikkan bibirnya.
"Lidah ku lama lama keseleo tau ga." Rengek Deena ngeri. "Udah gitu, tega banget si om nyuruh aku, milah berkas setinggi tinggi gunung ihh.." Deena menampilkan wajah memelas, rengekan, dan tampang tertindas.
Aleta tambah ngakak. "Hahah Asli anj*m, Dee muke lo itu tolong kondisikan ngakak gue."
Deena sewot menyerobot sepiring steak miliknya. "Udah nih ah, makan dulu laper." Diikuti Aleta.
Krik krik sebentar.
"Hahahah.. ga kebayang gue anj*r bener dah, makin ditahan makin mo ketawa, pengen banget gue liat ekspresi muke lo itu, kesel campur tak berdaya."
"Dasar bangsul, karma baru tau rasa." Balas Deena manyun.
"Secara kan, Nofan Dirgantara Al adalah seorang tuan muda yang dominan." Tambahnya meledek.
"Ehemm." Terdengar deheman dari arah samping meja. Entah mereka yang keasikan berbicara, atau sosok yang menginterupsi kegiatan mereka dengan deheman itu, memiliki ilmu kanuragan. Muncul tiba-tiba.
__ADS_1
Uhukk uhukk.
Aleta tersedak, sangkin pedihnya di hidung dan tenggorokan, gadis itu sampai mengeluarkan air mata.
"Minum." Ucap singkat, lelaki yang saat ini sedang mengusap-usap punggungnya, setelah menyodorkan segelas air.
"Shh.. eheem eheem." Aleta berdehem demi mengurangi ganjalan di tenggorokan nya. "Sakit.." Ucapnya serak.
Tampak Dirga membungkuk melihat wajah Aleta, masih dengan tampang datarnya.
"Kalau makan itu ngapain?" Tanya lelaki itu menatap Aleta.
"Le.. lebih baik diem, jangan bicara yang ga penting." Jawab gadis itu tergagap.
"Lalu apa itu tadi? tertawa lebar sekali, jika sebiji nasi masuk ke paru-parumu bagaimana? hem." Omel Dirga menarik kursi kosong di sebelah Aleta. Ia duduk.
"Jangan tertawa seperti itu lagi saat mengunyah." Peringat Dirga lagi menambahkan.
Sedangkan gadis di sampingnya terlihat memanyunkan bibir, persis seperti anak kecil yang sedang diomeli oleh ibunya.
Deena yang melihat interaksi keduanya, spontan menerbitkan senyum lucu. Dia terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya.
Baru juga di singgung, udah nongol aja orangnya. Batin Deena.
"Iya janji." Jawab Aleta. "Kalau melanggar, nanti janji lagi." Tambahnya pelan, yang si*lnya masih terdengar di telinga Dirga.
Lelaki itu mengernyitkan alis. "Pulang dari sini, kamu di hukum ga boleh keluar dari apartemen tanpa izinku."
Tak ingin terlibat terlalu jauh, Deena melirik jam yang melingkar ditangannya. Sudah waktunya kembali berkutat dengan berkas-berkas itu
"Ehem, aku pamit dulu ya Al kak Dirga. Kalian lanjut aja. Permisi." Ucap Deena berdiri.
Sebelum pergi, gadis itu berkata sambil terkekeh. "Karma is real hahah. Kak Dirga jangan kasih kendor. Al cayo."
Aleta terlihat semakin memanyunkan bibirnya, tak ada baper sedikit pun, Ia tahu, sahabatnya sedang menggoda mereka dengan nada meledek.
Deena sedikit kesulitan membawa buket besar di pelukannya. Memang, jarak antara kantor Alz dengan cafe yang mereka duduki tadi lumayan dekat.
Bahkan bisa di jangkau hanya dengan berjalan kaki.
Deena melirik buket itu sambil berpikir, bila di ingat-ingat, Ia tak pernah menerima hadiah seperti ini dari Joan, di kehidupan lamanya.
Memang garis takdir berubah, endah apa yang menanti dihadapannya kelak. Yang pasti, Ia sudah mempersiapkan diri. Begitu lah pikirnya.
"Hufftt nyampe juga." Ucap Deena berdiri di dekat pintu kantor. Ia menarik napas dalam melangkah masuk, berjalan kearah meja resepsionis.
"Mbak, mbak Tamara mau?" Tawar Deena menunjukkan buketnya.
__ADS_1
"Eh kamu.."
"Deena mbak, anak magang." Jawabnya cepat. "Nih mbak, banyak banget dikasih, takut gendutan akunya." Kekeh Deena mencopot tiga bungkus cokelat berbentuk piramid, Ia menyodorkan kearah Tamara.
"Seringin dapet gini, lumayan baikin mood, thanks dek." Canda Tamara berterima kasih.
"Santuy mbak. Eh mbaknya yang satu lagi belum. Nih mbak." Tiga batang lagi Deena copot.
"Terserah mbaknya dah, mau kasih siapa kalau kelebihan."
"Thanks ye dek, eh btw namaku Beliza, kalau perlu bantuan bilang aja." Terlihat Beliza mengulurkan tangannya, Deena menjabat tangan itu dengan senang hati.
"Iyaa mbak salam kenal." Jawab Deena.
"Wih dari cowoknya ya dek? Sweet banget, gede gini buketnya." Puji Beliza dan diangguki setuju oleh Tamara.
Deena hanya menunjukkan cengiran khasnya. "Umm mbak aku naik dulu ya, ntar bos killer marah lagi, liat karyawannya pada main hihiih." Canda Deena pamit.
"Dasar kamu, awas loh kedengeran bos tau rasa." Kekeh Tamara menggeleng maklum.
Deena membagikan masing-masing satu batang cokelat, setiap berpapasan dengan karyawan wanita. Setelah dihitung, total ada 35 yang sudah terbagi.
Sisa ditangan Deena, yang berukuran besar 1 batang dan 10 batang berukuran sedang berbentuk piramid. Sungguh royal sekali Joan. Batin deena malas.
Deena keluar dari lift, terlihat Arga sedang sibuk berkutat dengan berkas dihadapannya.
"Selamat siang nona." Sapa Arga menyadari kehadiran Deena.
Gadis itu membalas sapaannya. "Panggil aku Deena saja." Ralatnya.
Arga mengangguk. "Baik nona."
"Hadeeh.." Ia menepuk jidat.
"Oyah ini ada coklat, aku bagi kamu 2 batang." Tambah Deena memberikan batang coklat kearah Arga. Pria itu menerima.
"Terimakasih nona." Ucap Arga.
"Bisa kamu kasih ke yang lain kok, aku cuma gatau habiskannya gimana."
"Kalau gitu aku masuk." Pamit gadis itu.
"Silahkan nona."
Deena mengetuk pintu sebagai sopan santun, Ia masuk kedalam dan meletakkan buket coklat itu keatas sofa, sementara dirinya lesehan di bawah.
"Yok bisa yok." Ucapnya menghibur diri. Ia melirik jam ditangan, menunjukan pukul satu lewat lima menit.
__ADS_1
Menarik napas. "Cayo." Ucapnya, mengambil lembar demi lembar berkas.
To Be Continue >>>