
Happy Reading 😚
Seolah mengerti isi hati Deena yang penuh tanya, Rihlah menambahkan. "Selamat datang di keluarga besar Alzavier, sayang."
Deena melotot.
Apaa?! Tidaakk.
Siapa yang dapat menolongnya saat ini. Kenapa arisan emak-emak berubah menjadi arisan keluarga?
"Nyonya besar, ini dari nona Deena." Ucap Arga mengangkat bungkusan dari brand kesukaannya, Gold Leaf, membawa masuk kedalam.
Rihlah tersenyum senang. "Ih gemes.. tau aja Dee mama suka itu." Deena menanggapi dengan senyuman yang gamang.
Up to you Arga. Batin Deena malas.
Rihlah menarik paksa gadis itu untuk mengikuti langkahnya. Dengan berat hati Deena melangkahkan kakinya kedalam.
Tampak ramai orang berlalu lalang melihatnya, seorang gadis yang terlihat asing bagi mereka.
"Sini duduk Dee." Ucap Rihlah menepuk samping sofanya.
Deena menurut. Diikuti Hanska disampingnya mengusir Haidar Gautama, ponakannya, untuk pindah tempat.
"Ngalah deh sama om om." Protes Haidar, berpindah ke samping Oma buyutnya Diajeng Sukmawati, yang tak lain oma Hanska.
"Bagus sama oma buyut, yakan yut." Tambahnya lagi. Sang buyut tersenyum.
Deena menahan cengiran di samping Hanska, mendengar kata om om, tersemat untuk dirinya.
"Mengejekku dalam diam. Awas kau." Bisik Hanska di telinga Deena mengancam.
Wlee. Deena menjulurkan lidahnya kearah Hanska.
"Lho, siapa ini mbak?" Tanya Melati Jaguar, istri Reyno Jaguar, adik dari Regantara Alzavier.
"Kenalin dong sama kita Dek." Celetuk Riana Halim, satu-satunya kakak sepupu Regantara yang masih hidup.
"Calon mantuku loh ini mbakyu. Namanya Deena Prameswari." Jawab Rihlah senang. Sedangkan Deena tersedak.
"Halo tante, senang bertemu kalian semua." Ucap Deena lembut menyalami mereka satu-satu. Dengan Rihlah memboyongnya berkeliling, memperkenalkan anggota keluarga Hanska.
Mulai dari om, tante, pakdhe, budhe, adik, ponakan, sepupu-sepupu Hanska, dan yang terakhir nih, si nyonya tua.
Deena tak melihat ada keburikan sedikitpun dari keluarga itu, semuanya adalah bibit unggul. Cantik, tampan, dan satu lagi awet muda.
Oma Diajeng menoleh kearah Deena. Sadar diri, gadis itu melangkah mendekati dan langsung menyalami sang oma.
Deena berjongkok.
__ADS_1
Masih belum melepaskan tangan selembut sutra milik Diajeng. Gadis itu bergumam.
"Duh lembutnya kaya tangan anak bayi, ga nemu keburikan hiks. Kalah sama yang lebih tua." Sang oma menyadari, Ia menyeringai sadis.
Deena mendongak. "Maaf yaa oma, dateng dateng ga bawa apapun. Dee janji ntar main kerumah oma, bawa yang oma suka deh." Ucap gadis itu sopan.
"Kalau gitu kau harus di hukum." Jawab Ajeng pura-pura tak senang, mereka yang berada di ruang tamu hanya terkekeh.
Siapapun tahu kelakuan nyonya tua di keluarga itu adalah yang paling usil.
Deena mengangkat alisnya, menatap lekat Diajeng.
"Apa itu oma, Dee siap menjalankan perintah." Tanya gadis itu percaya diri. Mau di bully? sudah biasa. Di hina? apalagi.
"Saat kalian berkunjung nanti, kau harus sudah memberikanku cicit." Putus oma akhirnya. Deena tercengang kesedak air liur nya sendiri.
"Ppftt.." Tawa tertahan dari yang lain jelas terdengar. Mereka saat ini sedang mengikuti alur dari sang nyonya tua, mengerjai Deena.
"Iya ma, mama benar, jangan minta satu, minta sekaligus tiga." Tambah Medline Gautama, ibu dari Haidar menutup kipas lipat Jepang miliknya. Terdengar judes Dia berkata.
Padahal mah ga gitu, Wajahnya saja yang antagonis, namun hatinya selembut sutra.
Rihlah dan para wanita lainnya mengangguk setuju.
"Betul, biar tau rasa mereka, jangan kasih kendor oma." Tambah Dyah Musthafa, Sepupu perempuan Hanska, memanas-manasi. Dalam keluarga, Dyah sering di juluki iblis kecil berwajah malaikat.
Sikapnya yang sadis tak kenal ampun jika sudah membuat keputusan, berbanding terbalik dengan wajah imut bak malaikat itu.
Biasa hal seperti itu mereka lakukan untuk bertukar ide, memberi masukan dan lain-lain.
Wajah gadis itu pias, Ia menatap kebelakang, kearah Hanska meminta pertolongan, namun yang di mintai tolong hanya menunjukkan seringainya. Tanpa peduli.
Lihat saja nanti, akan ku balas kamu mas.
Batin Deena kesal.
Tau gitu Deena lebih memilih di bully saja deh, karna Dia masih bisa membalas. Nah jika begini gimana?
Deena menggenggam tangan Ajeng. "O..oma ga salah ngehukum?" Tanya Deena panik.
Ingin sekali rasanya mereka tertawa saat ini melihat raut panik gadis itu.
Hey, siapa bilang keluarga Alzavier bersaudara hanyalah segerombolan orang kaku dan dingin? Malah mereka sangat usil, dapat dilihat dari Diajeng.
Nenek tua namun awet muda, tingkahnya yang super usil itu adalah contohnya.
"Dee sanggup kok oma di suruh manjat pohon, maling mangga tetangga, nyari ribut sama satu komplek Dee jabani dah, suer" Nego Deena sambil menunjukkan deretan giginya. Tersenyum paksa.
"Buahahh.." Tak tahan lagi, sebagian mereka sudah melepas tawanya.
__ADS_1
Deena mewanti-wanti, masih menatap Ajeng dengan puppy eyes nya. "Kuberi dua pilihan. Kau harus menjawab dengan cepat saat hitungan kedua, jika tidak, kau harus memilih hukuman yang tadi."
Deena berbinar, mengangguk antusias. "Memberikanku cicit saat kunjungan kedua. Atau kau menikah dengan cucuku Hanska minggu depan." Ucap Ajeng cepat.
Hanska yang namanya disebut, menoleh cepat hendak perotes. Namun urung dilakukan saat mendapat cubitan kecil dari Rihlah.
Belum sempat Deena mencerna perkataannya, wanita tua itu sudah menghitung. "Satu, Du.."
"Pilihan kedua, Dee memilih pilihan terakhir." Jawabnya dengan cepat.
Sebenarnya Deena tak mendengar jelas pilihan yang di berikan Ajeng. Ia hanya mendengar cicit, dan Hanska.
Tentu saja dari pada Ia memilih memberikan cicit, lebih baik memilih yang ada nama Hanska nya. Barang kali Ia hanya di jadikan pembantu.
"Bagus. Awal yang baik, kalau begitu kalian akan menikah minggu depan."
"Haa.. Uhuk uhuk, kok jadi menikah oma? Dengan om? Oma yakin?" Tanya Deena batuk akibat tersedak liurnya lagi. Matanya membesar, alisnya terangkat.
"Om? Pprfff.." Beo Haidar meledek kearah Hanska. Diikuti tawa yang lain. Sedangkan Hanska sudah melotot garang pada ponakannya.
Deena tahu Ia melanggar, tapi kejadian ini saja sudah memojokkannya, apalagi jika Ia memanggil pria itu dengan sebutan Kangmas.
"Hahah, ku kira panggilannya untuk kak Hans adalah sayang." Ucap Baraino Musthafa, kembaran dari Dyah.
Dia mengerjabkan matanya, sebelah bibirnya berkedut.
Sepertinya gen jahil di keluarga Alzavier bersaudara ini, sudah mendarah daging dari generasi ke generasi.
"Iya itu pilihanmu, kau memilih pilihan kedua." Jawab Ajeng beralih menatap Rihlah.
"Mia, segera siapkan pesta besar untuk cucu mantuku." Tambah wanita tua itu. Menyebutkan nama panggilan yang Ia sematkan pada menantunya.
Rihlah mengangguk mantab, rencananya terkabul. Ia mendapat kode dari sang mertua, dan dibalas dengan jari membentuk oke.
"Aman ma, akan Mia laksanakan."
Deena masih mendongak menatap Ajeng memohon. "Tapi oma.. Dee ini pemalas, ga bisa masak, kerjaannya ngabisin duit, suka foya foya, matre lagi. Kasian banget si om kalau menjadi suami Dee." Tak mau kalah, Deena kembali bernego.
Bohong, itu semua bohong. Deena adalah gadis paling rajin, sejak masa pertumbuhannya suram, Deena sudah mandiri. Masak sudah menjadi hobinya sebagai tukang makan.
Masalah foya-foya, Dia sendiri pun tak yakin jika seperti itu. Secara Deena, hanya untuk membeli baju saja, Ia sampai harus berpikir berkali-kali dan berakhir dengan menjahit bajunya sendiri.
"Memang itu tugasmu, menghabiskan uangnya, menggunakan kekayaannya sesukamu." Jelas Ajeng. Membungkam kata-kata Deena.
Ingin rasanya Deena muntah darah. Golongan darahnya belum sampai pada tingkat emas. Memang ya, sulthan mah bebas, pemikiran mereka tak bisa di jangkau oleh rakyat jelata seperti dirinya.
Deena tampak lesu, Ia memanyunkan bibirnya. "Tapi Dee masih 18 tahun Agustus nanti oma, masih kuliah di Univ Angkasa juga." Jelas Deena. Saat ini Ia sudah duduk di sofa samping Ajeng.
Kali ini gikiran mereka yang tercengang. Terutama para sepupu dan saudara-saudara Hanska, yang kebanyakan adalah perempuan dan lelaki dewasa.
__ADS_1
To Be Continue >>>>